
Sudah terhitung tiga hari status Nico berubah, dari bodyguard kini menjadi kekasih Nona Jennie. Wajahnya semakin bersinar tampan kala pria itu terus mengulas senyum tipis. Tetapi meskipun mereka sudah menjadi sepasang kekasih, keduanya tetap profesional jika berada di sekitar para karyawan, tidak mengumbar kemesraan di perusahaan. Terkecuali jika Nico hanya berdua saja dengan Nona Jennie-nya, ia akan menjelma menjadi sosok pria yang pintar menggombal. Dan keduanya tentunya masih merahasiakan hubungan mereka dari sang kakak juga sang bos serta asisten yang bernama Jack itu. Nico tidak ingin gegabah, ia sangat mengenal perangai bos, memang akan sulit mendapat izin darinya, tetapi perlahan Nico akan mendapatkan restu itu.
Langit sudah gelap, gemerlap bintang di langit memenuhi di atas sana. Ditambah dengan cahaya penerangan lampu menerangi sekitar pelataran gedung perusahaan Romanov Ent yang menjulang tinggi. Nico menghentikan mobil begitu tiba disana dan kemudian turun lalu bergegas masuk ke lobby. Karena malam ini tidak banyak yang bekerja lembur, sehingga Nico hanya mendapati beberapa para staf yang belum pulang. Lantas Nico melesat memasuki lift menuju lantai atas dimana ruangan Nona Jennie-nya berada.
Tok
Tok
Tok
Nico masih bersikap sopan sehingga ia mengetuk pintu ruangan Jennifer terlebih dahulu. Ketika mendengar sahutan dari dalam sana, Nico membuka pintu dan masuk ke dalam. Senyumnya tersemat karena Jennifer terlihat fokus, bahkan sepertinya kekasihnya itu tidak menyadari bahwa yang baru saja masuk adalah dirinya.
"Ada apa, Jane?" Ternyata benar, Jennifer menduga jika Jane-lah yang mengetuk pintu.
"Apa aku terlihat seperti Jane?" Nico masih menyematkan senyumnya. Lihatlah, betapa ia terpesona akan sosok kekasih kecilnya yang nampak menggemaskan jika sedang fokus bekerja.
Jennifer tertegun, ia segera mendongak. Ternyata ia salah menduga, yang memasuki ruangannya adalah bodyguard yang kini telah menjadi kekasihnya. "Nico, kau disini...."
"Iya Nona...." Entah kenapa Nico terbiasa memanggil Jennifer dengan sebutan Nona, meskipun mereka sudah menjadi sepasang kekasih.
"Tapi aku belum mengirim pesan untuk menjemputku sekarang." Jennifer kemudian beranjak berdiri. Ia berjalan mendekati Nico.
"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu Nona disini," jawabnya. "Kemarilah....." Nico sedikit merentangkan kedua tangannya, kemudian mendekap tubuh mungil Jennifer. "Aku merindukan Nona...." bisiknya lalu membenarkan wajahnya di pundak Jennifer, Nico menghirup dalam-dalam aroma tubuh kekasihnya. Apakah tindakannya kurang ajar? Tentu saja tidak mengingat kini ia bebas melakukan kontak fisik dengan Nona tercintanya.
"Kita baru saja tidak bertemu selama satu hari, kau benar-benar sudah merindukanku. Bagaimana kalau kau tidak bertemu denganku selama satu bulan atau satu tahun." Jennifer benar-benar dibuat heran dengan Nico, ia baru mengenal sisi Nico yang seperti ini. Ia mengira jika Nico akan tetap bersikap seperti biasa meskipun mereka sudah menjadi pasangan kekasih.
"Aku tidak akan biarkan itu terjadi, aku bisa menyusul kemana pun Nona pergi." Entahlah, untuk saat ini dan kedepannya Nico hanya tidak ingin berjauhan dengan wanita yang nyaris membuatnya gila.
Seharian mereka tidak bertemu karena Nico disibukkan dengan pekerjaannya di dunia bawah. Belum lagi ia harus membagi waktu menyambangi perusahaan.
"Iya, baiklah. Lepaskan pelukanmu terlebih dulu. Aku benar-benar sesak napas." Nico terkesiap, terkadang ia melupakan tubuhnya yang lebih besar.
"Maaf...." ucapnya begitu melepaskan dekapannya.
"Kalau begitu aku akan membereskan dokumen-dokumenku." Jennifer hendak melangkah menuju meja kebesarannya tetapi Nico menahan pergelangan tangan Jennifer, sebelum kemudian menarik tengkuk leher kekasihnya itu. Nico membenamkan ciuman di bibir merah ranum Jennifer, hingga membuat wanita itu membeliak karena terkesiap.
Nico memberikan lumatann-lumatann pada bibir Jennifer, menyesap dalam agar Jennifer membuka mulutnya. Akhirnya Jennifer membuka mulutnya, wanita itu masih saja payah jika harus mengimbangi permainan bibir Nico. Padahal itu adalah ketiga kalinya mereka beciuman. Sadar jika dirinya membuat Jennifer kehabisan napas, Nico menjeda permainannya sejenak, memberikan ruang untuk Nona kecilnya itu menghirup oksigen dan kemudian kembali menyesap dengan dalam, mengobrak-abrik rongga mulut kekasihnya dengan sapuan lidahnya. Ciuman itu berlangsung cukup lama sekitar 10 menit hingga Jennifer benar-benar kehabisan napas, ia menepuk dada bidang Nico, hingga akhirnya Nico mengakhiri ciuman mereka.
Dengan menggunakan ibu jarinya, Nico mengusap sudut bibir Jennifer yang basah. "Kenapa menahan napas?" Memang Jennifer masih teramat kaku untuk mengimbangi permainan bibirnya tetapi bibir mungil itu sudah telanjur membuatnya candu.
Wajah Jennifer merona malu, semakin hari Nico semakin agresif. Akan tetapi ia sangat menyukai perlakuan Nico yang lembut itu. "Ak-aku belum terbiasa." Tentu saja, bahkan dengan Billy uang sudah bersama dengannya selama satu tahun saja mereka baru melakukan ciuman sebanyak satu kali.
Nico terkekeh gemas. "Kalau begitu aku akan sering melakukannya supaya Nona terbiasa."
Mendengar perkataan Nico, kedua mata Jennifer membola. "Kau benar-benar mesum." Menepuk dada bidang Nico yang kekar. Nico menangkap pergelangan tangan kekasihnya itu, diciumnya punggung tangan Jennifer berulang kali.
__ADS_1
Tubuh Jennifer berdesir, dadanya bergemuruh. Bagaimana ia tidak jatuh cinta dengan bodyguardnya itu jika perilaku pria raksasanya itu membuatnya serasa melayang.
"Sudah, hentikan Nico." Jennifer menarik tangannya, ia kemudian berjalan menuju meja kebesarannya untuk membereskan beberapa dokumen yang berserakan di atas meja.
Sungguh Nico benar-benar senang menggoda kekasih kecilnya dan membuatnya menjadi salah tingkah, Nico menyadari itu.
Begitu mejanya sudah kembali rapi, Jennifer menyambar tas kecil miliknya, tidak lupa ia memasukkan ponselnya dan kembali mendekati Nico. "Ayo pulang," ajaknya.
Nico mengangguk tetapi sebelum itu ia mencuri ciuman di wajah Jennifer. "Ciuman terakhir malam ini." Ya, karena tidak mungkin Nico mencium Nona Jennie-nya begitu tiba di Mansion. Bisa saja terdapat cctv berjalan yang akan melaporkan perbuatannya kepada si bos. Dan Nico menghindari itu untuk sementara.
Jennifer hanya menggelengkan kepalanya. Nico benar-benar pria yang pandai memperlakukan wanitanya dengan baik, pikirnya.
Keduanya meninggalkan gedung perusahaan begitu Jennifer menyuruh Jane pulang di antar oleh supir perusahaan. Perusahaan milik Keluarga Romanov memang memiliki beberapa supir yang siap mengantarkan para karyawan yang bekerja lembur.
Nico mengantarkan Jennifer dengan selamat, hingga mobilnya kini berhenti di pelataran Mansion.
"Beristirahatlah. Aku akan sibuk sampai malam, jadi tidak bisa menghubungi Nona."
Jennifer memberikan jawaban dengan mengangguk, kemudian wanita itu segera turun dari mobil. Begitu kekasih kecilnya lenyap dari pandangannya masuk ke dalam Mansion mewah itu, Nico melajukan kembali mobilnya menuju The Cavern Club.
***
Mobil merah Nico terparkir sempura di parkiran The Cavern Club. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi Club milik mereka. Keil serta Daniel sudah menunggu dirinya di tempat biasa. Nico berjalan membelah kerumunan, terlihat di ujung meja sana Keil dan Daniel menatap ke arahnya. Para pengunjung wanita saling berbisik ketika ketiga pria Cassanova itu sudah berkumpul, pasalnya ketiga pria Cassanova itu kembali menunjukkan batang hidungnya disana. Kedatangan Nico, Keil serta Daniel terdengar oleh Chole, Mia dan Emma. Wanita yang pernah singgah menjadi wanita kesayangan mereka, namun posisi mereka sudah tergantikan oleh wanita-wanita pujaan mereka.
"Mereka belum datang." Daniel menyahut, sementara Keil bersikap seperti biasa, diam mengamati sembari menyesap minuman.
"Nico...." Perhatian ketiganya tersita kala ketiga wanita menghampiri mereka.
"Hai, Daniel." Kini Emma menyapa. Wanita itu terlihat begitu senang dapat bertemu lagi dengan pria pujaan hatinya setelah sekian lama.
"Hai...." Daniel membalas sapaan Emma, meskipun sebenarnya ia malas.
Sementara Mia ragu untuk menyapa Keil karena hubungan mereka menjadi tidak baik semenjak kejadian beberapa bulan lalu. Meskipun ia tidak ada sangkut-pautnya dengan pria yang bernama Jerome tetapi Keil benar-benar menjauhi dirinya.
"Kami sedang sibuk, sebaiknya kalian menyingkir dari sini." Sungguh Nico sedang malas, terlebih lagi ia tidak minat dengan Chole ataupun wanita lainnya karena hatinya sudah terisi penuh oleh Jennifer.
"Tapi...."
"Bos Nico, mereka sudah datang."
Chole terpaksa menelan kembali kalimat yang belum sempat meluncur, karena salah satu anak buahnya menghampiri dan memberikan laporan mengenai beberapa pria yang tengah mereka tunggu.
Keil dan Daniel mengangguk, keduanya meneguk minuman hingga habis. "Bawa mereka ke dark room," seru Keil. Ia kemudian beranjak dan berlalu lebih dulu melewati Mia begitu saja. Tatapan wanita itu penuh kekecewaan.
Nico serta Daniel menyusul, keduanya mengabaikan Chole juga Emma. Benar-benar tidak peduli akan keberadaan ketiga wanita yang pernah menjadi wanita kesayangan mereka. Tatapan Chole dan Emma serupa dengan Mia yaitu penuh kekecewaan.
__ADS_1
Kini ketiganya sudah berada di dark room. Kedua pria tengah bernegosiasi dengan mereka.
Brrakk
Nico menggebrak meja dengan keras lantaran tidak terima dengan ucapan mereka.
"APA KALIAN INGIN MATI, HAH?!" Darah Nico tiba-tiba mendidih. Ingin rasanya ia menghabisi kedua pria di depannya itu.
"Kedatangan kami bukan untuk menerima kematian, tetapi menyampaikan pesan Tuan kami yang ingin bertukar dengan teman Nona Alice."
Bug
"BAJINGAN!!!"
Tidak hanya Nico, bahkan Keil serta Daniel juga tersulut emosi karena berani-beraninya mereka menginginkan Nona Jennie.
.
.
To be continue
.
.
Babang Nico
Babang Keil
Babang Daniel
Btw cover barunya diganti sama MT langsung, jadi kalo mau ganti cover lagi agak susah di acc. Padahal pengennya cover ketiga bastard itu hihi jadi biasain aja sama cover baru ya ðŸ¤
Jangan lupa like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih.
Biar lebih akrab follow me on Instagram @rantyyoona
Always be happy 🌷
__ADS_1