Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Siapa yang sudah membantu?


__ADS_3

Derap langkah kaki tergesa-gesa menapaki tanah di sekitar bangunan tua. Seketika membuat langkah mereka terhenti, tubuh keduanya mematung di tempat pada saat melihat pemandangan di atas sana. Sosok yang mereka kenali seperti Daniel juga wanita pria itu terjatuh dari lantai lima bersamaan dengan api yang melahap dua lantai di bangunan itu.


"Shiitt!"


Nico juga Keil saling mengumpat lantaran mereka terlambat datang, dikarenakan para anak buah David menghambat perjalanan mereka. Keil serta yang lain sudah menyandra salah satu dari anak buah David untuk mengorek informasi mengenai Golden Dawn yang bersembunyi entah dimana dengan membawa Emely.


Keil berulang kali meruntuki dirinya yang bodoh karena tidak bisa menemukan keberadaan istrinya itu. Jika saja Nico tidak menemaninya mungkin Keil akan selalu menyiksa diri dengan tidak tidur dan hanya mencari keberadaan Emely hampir 24 jam. Dan begitu keduanya menerima kabar mengenai Ashley yang diculik seseorang, lantas Nico serta Keil tidak tinggal diam. Menyusul untuk membantu Daniel, sialnya perjalanan mereka tidak berjalan mulus dan harus menghadapi para anak buah David yang berjumlah puluhan.


Nico serta Keil berlari menuju bangunan itu, secepatnya mereka harus mengetahui keadaan Daniel juga Ashley. Sementara di sisi lain, apa yang harus saja dilihat oleh Howie membuat pria paruh baya itu menyalahkan dirinya. Karena kebodohannya yang percaya dengan David, ia sudah mencelakai dua orang yang saling mencintai. Tubuhnya yang rentan hanya bisa termangu di tempatnya, menyaksikan putri serta kekasih dari putrinya terjatuh sesaat setelah David terjun terlebih dahulu.


"Ashley... putriku... Semoga kalian baik-baik saja...." lirihnya. Tangan serta kakinya bergetar hebat. Ia berharap Ashley juga Daniel akan baik-baik saja. Dengan begitu ia bisa meminta maaf dengan cara yang benar. Pikiran Howie hanya dipenuhi dua orang itu, ia tidak peduli bagaimana keadaan David, mantan calon menantunya.


Sejak tadi Howie menatap nanar bangunan di hadapannya, dimana api itu masih melahap bangunan yang nyaris hancur hingga kepulan asap menjadi serupa dengan awan hitam bergerak bebas di udara. Pria tua itu tidak berani memastikan kondisi mereka dengan kedua matanya sendiri. Berbeda dengan tiga anak buah Black Lion, ketika melihat Bos Daniel mereka terjatuh dari tempat ketinggian, lantas mereka segera menghampiri dan berharap masih ada waktu untuk membantu menyelamatkan Bos Daniel juga Nona mereka.


Namun sayangnya ketiga anak buah datang terlambat, bertepatan dengan Nico juga Keil yang baru saja menghentikan langkah kaki ketika berada di bawah bangunan itu. Terkejut? Tentu saja, karena pemandangan di sana yang membuat mereka terkejut tidak percaya, baik Daniel serta Ashley, mereka baik-baik, tidak kehilangan anggota tubuh dan bahkan tidak terluka. Keil serta Nico mendapati sebuah matras besar yang telah menopang tubuh Daniel juga Ashley bahkan David. Hanya saja David tidak sadarkan diri dengan sekujur luka di tubuhnya. Keduanya bisa dapat menebak jika itu adalah hasil karya dari Daniel.


"Daniel?!"


Mendengar suara dua orang yang memanggil namanya tentu saja Daniel menoleh, ia sudah tidak heran lagi jika Nico serta Keil sudah berada di tempatnya saat ini, karena memang tidak ada yang mereka tidak ketahui satu sama lain. Kedua sahabatnya itu menghampiri dirinya yang masih membantu Ashley beranjak berdiri.


"Kalian baik-baik saja?" Keil menepuk bahu Daniel. Menelisik tubuh Daniel yang masih tampan tanpa cacat. Kemudian beralih pada Ashley yang juga tidak nampak luka.


"Ya, kami baik-baik saja." Daniel menyahut dengan tangan yang merangkul posesif wanitanya.


"Kau membuatku dan Keil terkejut. Kami mengira kau dan juga Ashley terluka parah," sambung Nico. Mengingat bangunan itu cukup tinggi dan mereka terjun bebas tanpa pengamanan, siapapun akan terluka parah jika jatuh dari ketinggian seperti itu.


"Hem, Aku dan Ashley mengira tidak akan selamat dan untung saja kalian menyiapkan benda berguna ini untukku dan juga Ashley." Daniel menendang matras tebal tersebut. Ia serta sang kekasih selamat karena benda yang terbentang luas tepat di bawah bangunan. Begitu luasnya bahkan David yang terjatuh cukup jauh, jatuh tepat berada di atas area matras.


Kedua alis Nico serta Keil bertaut bingung mendengar penuturan Daniel. Karena mereka tidak menyiapkan matras atau alat apapun untuk membantu. Terlebih mereka datang terlambat.


"Tapi kami berdua baru datang. Aku dan Nico tidak menyiapkan matras besar itu untukmu!" terangnya dan itu membuat Daniel bergantian menautkan kedua alisnya.


"Keil benar. Kami datang terlambat karena para anak buah David menyerang dengan jumlah puluhan." Nico menimpali, karena baik dirinya juga Keil tidak melakukan apapun, bahkan keberadaan Daniel baru saja diketahui oleh beberapa anak buah yang langsung bergegas ke lokasi.


Hah?

__ADS_1


Keterangan kedua sahabat bastardnya membuat Daniel kian berkerut bingung. "Apa salah satu di antara kalian yang menembak David?" tanyanya kemudian.


Keduanya kompak menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Daniel. Dan hal itu sukses membuat kepala Daniel berkedut bingung. Lalu tatapannya beralih pada tiga anak buah yang masih setia mematung di tempat.


"Apa kalian melihat jika ada orang lain selain kita di tempat ini?" tanyanya pada tiga anak buah tersebut.


"Tidak ada siapa-siapa selain kita, Bos Daniel," sahut mereka bersamaan. Karena memang yang mereka lihat hanya ada anak buah David saja yang berhasil mereka tumbangkan.


"Lalu apa yang akan kita lakukan padanya?" Sorot mata Keil terarah pada sosok David yang masih tergeletak di atas matras. Sejak tadi mereka tidak mempedulikan pria bajingan itu.


"Hanya perlu periksa denyut nadinya. Jika dia masih hidup kita bawa ke Markas. Sudah pasti dia mengetahui keberadaan Jonas dan Golden Dawn. Jika sudah mati, hanya perlu membuang mayatnya di laut atau hutan," sahut Daniel santai. Keil mengangguk setuju, ia juga tidak sabar ingin mengintrogasi anak buah David yang berhasil mereka tangkap dan berharap jika David masih hidup, pria bajingan itu bisa menjadi senjata untuknya.


Daniel masih saja menyelam dengan pikirannya, tanpa sadar ia melepaskan rangkulan tangannya dari Ashley. Entahlah, sebenarnya siapa yang sudah membantu dirinya. Ashley hanya mendengarkan tanpa turut mengeluarkan suara, ia sendiri tidak begitu paham apa yang sebenarnya terjadi.


"Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini sebelum polisi datang kemari," ujar Nico memecah lamunan Daniel.


"Kau benar Nic. Tapi sebelum itu aku harus memastikan keadaan ayah mertuaku terlebih dulu."


"Ayah mertua?" Lagi-lagi Keil serta Nico kompak menyahut.


"Ya, dia akan menjadi ayah mertuaku. Begitu saja kalian heran!" Daniel mendengkus kesal dan menghampiri Ashley yang tampak mengulum senyum. Siapa yang tidak berbunga-bunga jika pria yang dicintai memanggil Daddy-nya sebagai ayah mertua.


***


Disinilah Daniel dan Ashley berada. Mereka sedang menunggu Daddy Howie di ruangan perawatan, menunggu seorang dokter pria menyelesaikan tugasnya memeriksa kondisi pria setengah baya itu. Sementara Nico serta Keil kembali ke Markas, mereka tidak ingin mengulur waktu untuk mengintrogasi tangkapan mereka.


"Bagaimana kondisi Daddy, Dokter? Daddy baik-baik saja, bukan?" Ashley memboyong pertanyaan begitu Dokter tersebut menyelesaikan tugasnya.


Dokter muda itu menatap Ashley dan Daniel bergantian. "Pasien baik-baik saja. Kelelahan dan banyak pikiran yang membuatnya tidak sadarkan diri seperti ini. Sebentar lagi Tuan Howie akan tersadar." Keterangan Dokter membuat Ashley dan juga Daniel mengangguk paham. Lantas dokter muda itu pamit undur diri setelah mereka mengiyakan.


"Duduklah....." Daniel kemudian menggiring Ashley menuju sofa. Wanita itu mengangguk dan membenamkan tubuhnya, Daniel melakukan hal yang sama. Entahlah, Daniel hanya ingin berlama-lama memandangi wajah cantik wanitanya itu. Nyaris kehilangan wanita itu membuatnya tersadar jika ia sudah jatuh terlalu dalam pada sosok wanita polos yang cantik, tentunya mampu memporak-porandakan hatinya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Wajah Ashley merona merah, pasalnya tatapan Daniel berbeda dari yang biasanya.


"Apa aku tidak boleh menatap wanitaku? Bukankah kau sudah terbiasa di tatap olehku?" Daniel tersenyum, semakin gencar menggoda. Sungguh wanitanya nampak menggemaskan dengan rona merah di wajahnya.

__ADS_1


Cup


Kecupan singkat mendarat di bibir Ashley. Jangan salahkan dirinya karena wanitanya selalu bisa membangkitkan gairahnya. Jika ia tidak menahan sekuat tenaga, mungkin ia akan menerjang wanitanya itu.


"Ba-bagaimana jika ada yang melihatnya?!" Ashley menepuk dada Daniel.


Pria itu hanya terkekeh, lalu mengulangi aksinya kembali. Namun kecupan singkat berubah menjadi ciuman penuh hasrat. Runtuh sudah pertahanan diri Daniel untuk tidak mencium wanitanya itu. Terlebih Ashley membalas ciumannya dan mengikuti permainan bibirnya yang sungguh liar. Mereka sungguh tidak tahu malu, beciuman dan mengabaikan Daddy Howie yang masih terbaring lemah di ranjang. Melakukan aksi panas yang membuat sekujur tubuh mereka berdesir hebat. Tangan Daniel menggapai satu buah dada Ashley dan meremasnya sehingga wanita itu sedikit mendesahh.


Drrtt


Drrtt


Dering ponsel membuat Daniel mengakhiri ciuman mereka lalu mengumpat kesal. "Sialan! Siapa yang berani menggangguku?!" Berbeda dengan Ashley yang tertunduk malu, Daniel merogoh ponselnya yang berada di saku celana sembari menggurutu.


"Ada apa?" tanyanya pada anak buahnya di seberang sana. Mendengar sahutan dari sana lantas Daniel segera mengakhiri panggilan tersebut. "Baby, aku harus pergi mengurus sesuatu. Kau tidak masalah aku tinggal sebentar disini?" Daniel menatap Ashley, ia tidak tega meninggalkan Ashley menjaga Daddy Howie seorang diri, tetapi ia juga harus menemui seseorang.


"Iya, tidak apa-apa. Pergilah." Ashley tidak mungkin melarang Daniel pergi mengurus sesuatu. Ia tahu selama ini Daniel selalu disibukkan dengan segala urusannya. Dan mengingat jati diri yang sudah terungkap tanpa di sengaja itu, Ashley tidak ingin membahasnya. Biarlah semua berjalan dengan semestinya.


Tangan Daniel mengusap rambut Ashley dengan lembut diiringi senyuman. "Dua anak buahku akan berjaga diluar." Ashley mengangguk, membiarkan Daniel beranjak berdiri dan melangkah keluar dari ruangan. Ia masih menatap punggung Daniel yang sudah lenyap di balik pintu.


Wanita itu berharap setelah ini tidak akan ada kekacauan yang terjadi dan hubungannya bersama Daniel akan semakin membaik. Terlebih lagi kebahagiaannya bertambah karena Daddy-nya sudah terbebas.


Sementara Daniel, sejak keluar dari ruang perawatan, pria itu nampak mengeraskan rahangnya. Ia harus memberikan pelajaran kepada Emma, wanita yang berani-beraninya mengabaikan peringatannya untuk tidak menampakkan diri, baik di depannya maupun mengganggu wanitanya.


To be continue


.


.


Babang Daniel



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2