
Nico, Keil serta Daniel bergegas menuju Edinburgh. Masing-masing mengenakan jaket dengan penutup kepala, lalu secara bersama-sama keluar dari Markas diikuti oleh banyak anak buah memasuki mobil masing-masing. Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk mereka tiba di wilayah perbatasan Black Lion, begitu turun dari mobil bergegas berpindah pada helikopter hitam. Setelah semuanya sudah berada di helikopter, mereka menerbangkan helikopter itu dan membiarkan mengudara selama dua jam lamanya.
Kini beberapa mobil milik Black Lion terlihat membelah keramaian jalan raya pusat kota setelah tiba di Kota Edinburgh. Mobil Jeep hitam Mercedez Benz G-Class hampir memenuhi jalan raya siang itu. Melaju dengan gagah, membuat para pengendara lain memilih menyingkir karena para pengemudi lain mengetahui jika beberapa pemilik mobil Jeep hitam itu bukanlah orang-orang sembarangan. Beberapa mobil Black Lion melaju dengan kecepatan tinggi saling berjajar lalu saling mendahului satu sama lain.
Sementara di perbatasan pegunungan Pentland Hills, nampak puluhan anak buah Golden Dawn diberikan arahan oleh Jerome. Mereka baru saja mendapatkan uang puluhan milyar dari hasil penyeludupan senjata dan juga pencucian uang.
"Kalian berjaga di sekitar sini. Jangan biarkan siapapun menginjakkan kaki di wilayah Golden Dawn," ujar Jerome pada beberapa anak buah. Johan diam memperhatikan, akan tetapi tatapan tajamnya mampu membuat mereka semua merasa tertekan dan harus menyanggupi perintah Johan serta Jerome.
Mereka yakin jika Black Lion sewaktu-waktu akan menyerang, karena cepat atau lambat salah satu kelompok terkuat itu mengetahui Markas mereka yang sebenarnya berada di perbatasan pegunungan Pentland Hills, Edinburgh.
"Cepat masuk, waktuku tidak banyak!" Jonas menepuk lengan Jerome, menyadarkan temannya itu akan waktunya yang terbatas. Karena hari ini ia memiliki janji dengan Resse kekasihnya.
Jerome mengangguk. Setelah memberikan perintah sekaligus peringatan kepada para anak buah, Jonas serta Jerome berjalan menuju ruangan bawah tanah yang terhubung dengan sebuah ruko otomotif milik Jonas. Selama ini pria itu memang memiliki beberapa cabang usaha otomotif, salah satunya di Edinburgh. Ruang bawah tanah yang cukup luas itu dijadikan salah satu Markas Golden Dawn selama ini. Para musuh mereka tidak mengetahui Markas mereka yang berada di Edinburgh, karena para anak buah mereka selama ini hidup layaknya seorang rakyat biasa. Menjalani kehidupan sehari-hari secara sederhana, jauh dari kata Markas yang mewah.
Jonas mengekori Jerome memasuki Markas, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, hanya melirik singkat pada Jerome yang menepuk-nepuk bahu salah satu anak buahnya karena terlelap disaat sedang berjaga. Beruntung Jerome hanya menegurnya, tidak menembak mati seperti biasanya.
Keduanya masuk ke dalam ruangan, Jerome kemudian mempersilahkan Jonas masuk terlebih dahulu. Karena bos Golden Dawn adalah Jonas dan sudah sewajarnya jika Jonas yang memimpin serta memberikan perintah. Dan selama ini Jerome hanya mengikuti perintah dan selalu menjadi tangan kanan Jonas.
Jonas menghampiri Bone, salah satu anak buah kepercayaan yang ditugaskan menjalankan bisnis otomotif miliknya. Selama ini anak buahnya juga melakukan tindak kriminal lain atas perintahnya, seperti merampok beberapa tempat usaha.
Bugh
Kepalan tangan Jonas melayang tepat di wajah Bone. "Lain kali jangan ceroboh. Kau hampir saja membahayakan Golden Dawn!" Sorot matanya itu begitu tajam dan mengerikan, sehingga membuat siapapun tidak ingin berlama-lama berada di dalam satu ruangan dengan Jonas, termasuk Bone.
Bone hanya mengangguk ketika Jonas menegurnya. Ia memang salah karena telah lalai dan nyaris saja ia serta anak buah yang lain berurusan dengan pihak berwajib karena pemilik usaha tersebut diam-diam memasang cctv di sudut lemari.
"Lain kali aku akan berhati-hati bos."
"Ck, tidak akan ada lain kali. Jika kau mengulangi kesalahan yang sama, saat itu juga hari terakhirmu!"
"Baik bos." Bone menyahut pasrah, memang Jonas tidak akan membiarkan anak buahnya melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
"Dimana uangnya?" Jonas bertanya kepada dua anak buahnya yang lain.
Dua anak buah mengeluarkan satu kantung plastik besar, uang hasil merampok mereka tadi malam. Jonas serta Jerome menyunggingkan senyum penuh kepuasan. Sebelum kemudian Jerome mengambil uang tersebut dan menyimpannya di tas pribadi miliknya.
Salah satu anak buah memasuki ruangan, ia membisikkan sesuatu kepada Jonas. Sontak saja membuat perubahan pada raut wajah pria itu setelah mendengarkan laporan dari anak buahnya. Rahangnya mengeras diiringi tatapannya yang kian menajam.
"Serang mereka sebelum sampai di perbatasan pegunungan! Habisi mereka tanpa ada yang tersisa!" perintahnya, hingga di angguki oleh anak buah tersebut. Mereka akan bersiap menyerang sebelum mobil-mobil itu memasuki perbatasan.
"Ada apa?" Jerome berjalan mendekati Jonas, ia menduga jika terjadi sesuatu yang tidak beres.
"Black Lion sudah berada di Edinburgh menuju perbatasan," sahutnya.
"What?!" Mereka memang sudah yakin jika Black Lion akan menyerang, tapi tidak menduga akan menyerang secepat ini. "Kalian semua, jangan biarkan mereka menginjakan kaki disini!" Jerome memerintahkan mereka yang berada dalam sana untuk menyebar.
"Baik!" Tanpa mengulur waktu lagi mereka berjaga di beberapa tempat dengan senjata masing-masing.
Jonas serta Jerome bermaksud menghindari diri dengan masuk semakin dalam ke dalam ruangan bawah tanah.
Namun siapa yang menduga jika sniper sudah mengarahkan posisinya untuk menyerang secara sembunyi-sembunyi dari jarak jauh.
"Shiitt!!"
Jonas dan Jerome merunduk, menghindari serangan yang bertubi-bertubi datang ke arah mereka. Jerome berguling, lalu mendekati Jonas yang terduduk di lantai.
"Bangun. Kita tidak memiliki pilihan, sudah pasti salah satu di antara kita akan mati. Entah kau atau aku." Jerome mengulurkan tangan. Jonas terdiam sejenak, lalu mendongakkan wajah menatap Jerome. Memang inilah hasil yang mereka dapatkan jika bermain-main dengan Black Lion.
Jonas menerima uluran tangan Jerome. Mereka kemudian seling berpelukan untuk saling menguatkan, sebelum kemudian bergegas untuk menghadapi Black Lion yang tengah murka.
***
__ADS_1
Dari arah dekat, anak buah Black Lion menembaki bangunan ruko tersebut. Yang langsung di balas serangan oleh Golden Dawn. Para anak buah Golden Dawn menyerang dari lapangan terbuka sehingga kelompok berbeda itu saling menyerang tanpa henti.
Di dalam bangunan lain yang berjarak dua bangunan dari posisi Markas Golden Dawn, Keil terus membidikkan senjata kepada beberapa anak buah Golden Dawn di bawah sana. Sementara Nico serta Daniel berada di luar gedung menghabisi beberapa anak buah Golden Dawn yang mengetahui persembunyian mereka.
Keil menggila, ia tidak peduli berapa nyawa anak buah Golden Dawn yang sudah dihantam dengan senjata miliknya.
"Tunggu aku Love, aku pasti akan membawamu kembali dari pria bajingan itu."
Krek
Keil kembali mengisi beberapa peluru, dan kemudian secara membabi buta menghabisi siapa saja yang berada di dalam bangunan Markas Golden Dawn.
Sejenak pergerakan tangan Keil terhenti, ia tidak bisa diam saja berdiri disini. Kemudian menuruni tangga dan kembali menghantamkan peluru ketika dua anak buah Golden Dawn menghadang jalannya.
Nico serta Daniel belum kehabisan tenaga, mereka berdua terlibat baku hantam dengan beberapa anak buah Golden Dawn. Di sisi lain Jonas dan Jerome nyaris kewalahan karena banyaknya pasukan Black Lion yang menyerang mereka. Bahkan Jerome mau tidak mau keluar dari bangunan dan menyerang balik dari jarak dekat sehingga beberapa anak buah Black Lion tumbang akan serangannya.
"Shitt!!" Ketiga bastard saling mengumpat ketika mendapati anak buah Black Lion semakin berkurang. Terlebih kini Jonas serta Jerome berhasil keluar dari bangunan itu dan terus menyerang mereka.
Keil dan Daniel saling pandang, mereka berjalan berlawanan arah menghadapi anak buah Golden Dawn yang lain. Sementara Nico, tangannya terlihat mengeluarkan sesuatu dan melemparkannya ke arah Markas dan kemudian,
Duaarr!!
Letupan bom rakitan meledakkan halaman bangunan tua itu, banyaknya mobil menambah api semakin menjalar ke segala sisi. Akibat ledakan tersebut, Jonas dan Jerome terpelanting cukup jauh.
"Sialan!" Jonas meninju tanah, ia berjalan merangkak. Kepalanya mulai mengucurkan darah segar karena sempat terkena bongkahan mobil yang mengenai kepalanya. Pandangan Jonas menyapu sekitar, mencari keberadaan Jerome tetapi sayang temannya itu entah berada dimana.
Jerome mengalami luka yang tidak berbeda jauh dari Jonas. Pria itu juga terluka di beberapa bagian tubuhnya. Tetapi Jerome tidak ingin mengalah begitu saja. Ia membalas serangan Black Lion, untung saja senjata miliknya masih di genggam eratnya olehnya.
Dua kubu berbeda saling menyerang kembali. Keil dapat melihat keberadaan Jonas. Kemudian ia menghampiri pria bajingan itu dengan tatapan membunuh.
Bugh
Ketika Jonas lengah, Keil berhasil menendang punggung Jonas hingga membuat senjata milik Jonas terpental dan tubuh Jonas pun tersungkur di tanah.
Grep
Keil menarik kerah pakaian Jonas. "Dimana Eme-ku? Dimana dia, hah?!"
Semula wajah Jonas nampak bingung, kepalanya begitu sakit dan baru saja ia menerima tendangan dari Keil pada punggungnya.
"Kenapa kau mencari wanita itu padaku? Bukankah kau kekasihnya?!" Jonas tersenyum, senyum penuh ejekan.
"Cih...."
Bugh
Keil meninju wajah Jonas. Ini adalah kali pertama mereka saling berhadapan. "Jangan berpura-pura bodoh dan hilang ingatan. Kau dan anak buahmu menyerang apartemenku!"
Bugh
Lagi. Pukulan itu mengenai sudut bubur Jonas hingga mengeluarkan bercak darah.
Sial! Tenaganya benar-benar luar biasa.
Sialnya Jonas tidak dapat menghindari serangan Keil yang begitu cepat.
"Jika aku berhasil membawanya sudah pasti wanita itu berada disini!" seru Jonas mengusap sudut bibirnya.
Kening Keil berkerut dalam, mengurungkan serangannya kembali hingga tangannya hanya mengambang di udara. "Apa maksudmu?!" sahutnya menuntut penjelasan.
__ADS_1
"Carilah wanitamu sampai ketemu. Aku pastikan kau tidak akan bisa menemukannya seperti aku yang gagal membawanya!" ujar Jonas tersenyum tipis. Ia sadar jika Keil penasaran akan perkataannya.
Dada Keil naik turun karena amarahnya yang memuncak. Ia merasa di permainkan. Langkah panjangnya kembali mendekati Jonas dan kemudian,
Bugh
Bugh
"Katakan dengan jelas dimana wanitaku! DIMANA DIA?!!" Tidak mampu mengeram amarah, Keil melayangkan pukulan bertubi-tubi. "Jika terjadi sesuatu dengannya, kau tidak akan kubiarkan mati dengan mudah!"
Sebenarnya Jonas cukup terganggu akan ancaman Keil tetapi ia berpura-pura tidak gentar, justru semakin tertarik menantang emosi Keil. "Aku tidak tau, karena aku tidak berhasil membawanya!"
"Bohong!" teriak Keil tidak mudah percaya begitu saja.
"Terserah kau. Aku memang menyerangmu dan membawa pergi wanita itu tapi saat di perjalanan dia melompat dari mobil. Aku mengejar wanita bodoh itu, tapi ada mobil yang menyerangku. Sial, mereka bahkan berhasil melukaiku!" serunya. Ingatannya kembali pada beberapa minggu yang lalu.
Ya, itulah alasan Jonas bersembunyi. Pada saat berhasil menyerang Keil justru ia dikejutkan akan kabar jika kapalnya yang mengangkut anak buah serta beberapa senjata meledak di perairan. Ia yang panik tidak pedulikan Emely yang mungkin saja terluka lalu pergi begitu saja. Jonas yakin jika Emely tidak mungkin selamat karena terjatuh di antara semak-semak curam.
Untuk sesaat Keil termangu di tempat, tubuhnya mematung, sulit sekali ia mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh Jonas. Namun Keil bisa melihat sorot mata Jonas, ia tidak menemukan kebohongan disana.
"Keil....." Nico datang dan menepuk bahu Keil, menyadarkan sahabatnya itu yang seperti seseorang kehilangan jiwanya tanpa menyahut.
Kemudian bergantian menatap Jonas. Nico memberikan serangan pukulan untuk Jonas. Jonas yang sudah terluka cukup parah hanya bisa menangkis satu serangan saja, sedangkan Nico menyerangnya berkali-kali.
"Katakan dimana Emely, hah!!" Nico gelap mata dan menghajar Jonas.
Grep
Namun Keil mengambil alih tubuh Jonas. Kesadaran yang sempat hilang sudah kembali menguasainya. "Aku tidak akan pernah mengampunimu! Jika Eme-ku mati karenamu, kau juga harus mati!"
Nico yang baru saja mengetahui fakta itu terkejut bukan main. Mati? Apa Emely mati? batinnya tidak percaya.
Keil kemudian mengambil senjata di balik pakaiannya, mengarahkan senjata itu pada kaki Jonas.
Timah panas itu berhasil menembus kaki Jonas hingga pria itu memekik kesakitan. Mata Keil mengembun, ia sungguh tidak terima jika Emely mati begitu saja meninggalkan dirinya.
Keil yang penuh amarah sekaligus kesedihan kembali mengarahkan senjatanya.
Namun sial, peluru yang lain justru lebih dulu mendarat di punggung tegap Keil. Daniel yang baru saja ingin menghampiri kedua sahabatnya seketika menghentikan langkahnya secara paksa. Apa yang dilihatnya membuat matanya melebar bersamaan dengan tubuh yang terguncang tidak percaya. Seseorang dari arah berlawanan ternyata berhasil menembak Keil hingga membuatnya limbung.
To be continue
.
.
Babang Keil
Babang Nico
Babang Daniel
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...