Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Umpan sudah termakan


__ADS_3

Usai percakapan manis, keduanya memang sudah mulai saling membuka diri. Lebih tepatnya Ashley, wanita itu mencoba untuk bersandar pada Daniel, meskipun tidak begitu yakin sosok pria itu sebenarnya, akan tetapi selama beberapa bulan ini bersama dengannya, Daniel tidak melakukan sesuatu yang melukai dirinya. Kecuali pada saat menginginkan tubuhnya, hingga tenaganya benar-benar dibuat terkuras habis.


Kini Daniel dan Ashley berada di sebuah Cafe yang bernama Ace Cafe. Cafe tua yang terletak di Wembley, London Barat Laut. Mereka memilih tempat duduk di outdoor, karena cafe itu bersebelahan dengan North Circular Road, tempat bersejarah bagi para biker. Daniel tidak mengalihkan pandangannya dari para pemuda yang disebut The Ton Up Boys, sekumpulan anak muda yang cerdik mengotak-atik mesin sepeda motor di industri otomotif.


"Sepertinya kau tertarik dengan motor seperti mereka?" Ashley memberanikan diri membuka suaranya. Yang ia perhatikan sejak tadi Daniel selalu memandang ke arah sana. Padahal jelas-jelas ia ada di hadapan pria itu.


Daniel hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ashley. "Aku tidak tertarik. Hanya saja aku memperhatikan seseorang yang aku curigai."


Hah. Ashley dibuat bingung akan perkataan Daniel. Seseorang yang dicurigai? Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh pria itu? Mana mungkin sekelompok pemuda seperti mereka melakukan tindakan kejahatan.


"Jangan menilai seseorang dari penampilannya." seru Daniel menggurui Ashley, seolah dapat membaca isi pikiran wanita itu, sehingga membuat Ashley tercengang tidak percaya, karena itulah yang tengah ia pikirkan. "Terkadang seseorang yang baik berlebihan memiliki niat tersembunyi," lanjutnya.


"A-apa maksudmu?" Ashley berusaha mencerna ucapan Daniel.


"Pasti selama ini kekasihmu itu sangat baik padamu, baik yang berlebihan atau lebih tepatnya baik yang dibuat-buat." Daniel mencecar perlakuan mantan kekasih wanita di hadapannya itu.


Mendengar perkataan Daniel yang dengan gamblangnya itu, Ashley memutar ingatan akan masa lalunya bersama dengan David. Memang kekasihnya itu sangat baik kepadanya, bahkan benar-benar memperlakukan dirinya seperti seorang ratu. Akan tetapi pada kenyataannya, pria itu mengkhianati dirinya dengan mengambil semua harta kekayaan dan perusahaannya. "Kau benar. Karena dia terlalu baik sehingga aku tidak pernah mencurigai niatnya yang tersembunyi itu kepada keluargaku." Entah kenapa mengingat sosok David kini hanya ada kebencian yang menyeruak di dalam hatinya.


Daniel terkekeh, alih-alih merasa iba dengan kenyataan wanita itu. "Karena itu kau harus lebih pintar, darling. Pria seperti itu tidak pantas kau tangisi."


Ashley tertegun, merasa Daniel tengah menyindirnya. "A-aku tidak menangisinya."


"Ck, lalu air apa yang menetes di wajahmu ketika pertama kali aku membawamu ke London." Daniel mencibir.


"Aku.... aku tidak menangisinya." Ashley membantah, karena pada kenyataannya ia tidak menangisi pria itu.


"Ck, bahkan di saat tidurpun kau memanggil namanya." Ya, Daniel ingat benar ketika wanita itu tertidur menggumamkan sebuah nama, yaitu David, pria masa lalu Ashley.


Kedua mata Ashley terpejam singkat. "Stop it, Daniel. Jangan menyebut namanya lagi. Aku muak mengingat pria itu!" Dada Ashley naik turun karena luapan emosinya tersebut. Wanita itu kembali menyesap minumannya, berharap minuman dingin miliknya dapat mendinginkan kepala serta hatinya.


Kedua sudut bibir Daniel tertarik. Ia memang sengaja ingin memancing wanita itu, ternyata Ashley benar-benar sudah melupakan masa lalu dan bahkan membenci mantan kekasihnya. Itu tandanya akan semakin mudah untuknya membalaskan perbuatan pria itu serta menggantikan posisi David di hati Ashley.


"Hehehe...." Daniel tertawa seorang diri. Ia bahkan teringat Nico serta Keil yang tengah berjuang untuk wanita mereka. Mungkin itulah yang dulu ada dipikiran kedua sahabatnya itu.


Kening Ashley berkerut. Untuk pertama kalinya melihat sisi lain Daniel selain menyebalkan. "Kenapa kau tertawa?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya melihat lalat yang jatuh ke lubang kotoran." Itu adalah sebuah perumpamaan, entah siapa yang dimaksud oleh Daniel, pikir Ashley.


Pandangan Daniel tertuju pada beberapa pria yang baru saja tiba di sana. "Aku akan ke toilet. Kau tunggu saja disini."


Ashley hanya mengangguk dan kemudian Daniel melesat meninggalkan Ashley yang duduk seorang diri.


"Apa saat ini kita sudah terlihat seperti teman?" gumamnya pada diri sendiri, mengingat hubungannya dengan Daniel meningkat, tidak hanya sebatas hubungan ranjang dan hanya sekedar menuruti napsu pria itu.

__ADS_1


"Ashley....?"


Deg


Tubuh Ashley menegang ketika suara familiar memanggil namanya. Inginnya mengabaikan suara itu, berpura-pura tidak mendengar, akan tetapi pria tersebut lebih dulu menghampiri dirinya.


"Ash, ternyata kau berada disini," serunya. Demi apapun, pria itu tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun.


Mau tidak mau, Ashley mendongak. Tatapannya tidak bersahabat bahkan terkesan malas. "Aku berada di manapun bukan urusanmu!" tekannya dengan sinis.


"Ck, ayolah. Setelah sekian lama tidak bertemu kau semakin galak." Tatapannya penuh dengan ejekan, tetapi Ashley mengacuhkan perkataan pria itu. "Apa ada seseorang yang menebusmu? Pria tua mana yang rela mengeluarkan banyak uang untuk wanita sepertimu?" ucapnya kemudian dengan mencomooh, mencibir bahkan dengan sengaja meninggikan suaranya sehingga beberapa pengunjung disana dapat mendengar suaranya.


Ashley sekuat tenaga menahan amarahnya. Ia meremmas gelas jus yang di genggamnya. Dengan kesal, Ashley beranjak berdiri. "Maaf Tuan David yang terhormat, apa sebelumnya kita saling mengenal? Sepertinya kau salah mengenali orang, pria kaya raya sepertimu tidak pantas berbicara dengan wanita sepertiku. Bisa saja pria tua yang kau maksud itu melakukan sesuatu kepadamu!" Sekalian saja ia membalas perkataan David yang keterlaluan itu. Ashley memang meruntuki kebodohannya, kenapa di masa lalu dirinya bisa begitu mencintai pria menjijikan dan berengsek seperti David.


Kedua tangan David mengepal. "Kau benar-benar memiliki kepercayaan tinggi saat ini. Apa pria tua itu memberikanmu banyak uang sehingga berani berbicara padaku. Ingat, aku memiliki kekayaan melebihi ayahmu. Jadi kau harus berbicara baik-baik padaku!" Sorot mata David menajam. Entah sejak kapan wanita itu memiliki keberanian seperti itu.


"Ya, dia memberiku banyak uang, tidak sepertimu yang hanya menjilat ayahku untuk mendekatiku!" Tidak ada gunanya menanggapi pria gila uang seperti David. Lebih baik ia pergi dari sana menyusul Daniel, entah kenapa hanya ke toilet saja pria itu lama sekali. Ashley menyambar tas miliknya, bermaksud pergi meninggalkan David.


Namun David tidak terima begitu saja, ia menahan langkah Ashley, dengan menahan lengan wanita itu. "Apa kau pikir bisa lari dariku, Ashley?"


"Lepaskan!" bentak Ashley sembari meloloskan tangannya dari David.


"Tidak akan....."


"Berani sekali dia menyentuh wanitaku." Detik kemudian Daniel keluar dari persembunyiannya. Ya, ia memang hanya beralasan saja pergi ke toilet.


Bug


Daniel menendang kaki pria yang berdiri menghalangi jalannya. Pria itu datang bersama dengan David. "Menyingkir bodoh! Kau menghalangi jalanku!"


"Ck, sialan!" Pria itu mengumpat kesal.


Daniel menyunggingkan senyum meremehkan, ia ingat pria itu yang berada di dalam rekaman cctv.


"Lepaskan tanganmu darinya!" Daniel berjalan mendekati Ashley dengan santainya. Ia kemudian menghempaskan tangan David yang sejak tadi menggenggam erat tangan Ashley. Sorot matanya tertuju pada pergelangan tangan wanitanya yang sudah terlepas dari cengkeraman David, warna kemerahan membekas disana karena ulah pria berengsek itu. "Ck, kau menyakitinya!"


"Siapa kau?" Namun David tidak mengindahkan ucapan Daniel. Sosok pria yang baru saja datang itu lebih mengusik rasa penasarannya.


"Coba kau perhatikan lagi, apa aku terlihat tua?" ujar Daniel.


"Aku tidak peduli. Aku bertanya siapa kau? Kenapa kau ikut campur dengan urusan kami?!"


"Ceh, kami?" Daniel tidak suka mendengar kata kami yang diperuntukkan untuk pria itu dengan Ashley. "Dia wanitaku, apa salahnya aku ikut campur?!" Daniel tidak ingin kalah, terlebih lagi mengalah.

__ADS_1


"Wanitamu?" David berdecak. Ia sedikit paham kenapa pria itu membela Ashley. "Jadi kau yang sudah membelinya?!"


Daniel mengedikkan bahu. "Apa itu penting untukmu?" Daniel dapat melihat kekesalan di wajah David. "Apa kau mantan kekasih yang tidak rela melihat kekasihnya sudah bersama dengan pria lain?" ejeknya. "Sebaiknya kau bercermin, pria sepertimu tidak menarik untuk wanita cantik seperti Ashley. Tapi aku memakluminya, mungkin saat itu kedua mata Ashley bermasalah." Daniel mencolek dagu Ashley dengan seulas senyum. Benar-benar membuat wanita itu terperangah dengan kelakuan absurd Daniel.


"Kau....." David benar-benar geram. Tidak pernah ia diperlakukan seperti itu sebelumnya.


"Sudahlah, aku tidak memiliki banyak waktu. Sebaiknya ku peringatkan dirimu untuk menjauh darinya. Jangan pernah muncul lagi di hadapan wanitaku ini." Daniel menepuk bahu David dan setengah berbisik. "Kau sudah membuat wanitaku malu, jangan berharap kau bisa lepas setelah ini!" sambungnya kemudian. Daniel merangkul pundak Ashley, membawa wanitanya itu berlalu pergi dari sana.


"Sialan!!!!!" David hanya mampu mengumpat kesal. Ia tidak bisa membalas perkataan pria yang tidak ia ketahui namanya itu. "Gil...!" David berteriak memanggil anak buahnya. "Cari tau siapa pria itu!" Gil hanya mengangguki perintah David.


Sementara Daniel membawa Ashley masuk ke dalam mobil. Ia belum berlalu dari sana, melainkan mengawasi David serta anak buahnya. "Kenapa melihatku seperti itu?" Sejak tadi Daniel merasakan jika Ashley tengah menatap dirinya dengan aneh.


"Tidak. Hanya saja aku baru mengetahui sisimu yang seperti ini," sahutnya. Dari pandangan Ashley, kini Daniel tidak lagi menyebalkan.


"Ya, aku semakin tampan, bukan?" Daniel menaik-turunkan kedua alisnya.


"Astaga....." Entahlah, Ashley hanya mampu memalingkan wajahnya.


Daniel terkekeh, ia kemudian mengambil Macbook dari dalam dashboard. "Umpan sudah termakan," gumamnya ketika melihat titik merah di dalam Macbook miliknya sudah menjauhi Ace cafe.


Ya, Daniel ternyata menempelkan alat pelacak di tengkuk leher pria yang sempat ia tendang kakinya. Alat pelacak itu dibuat khusus dan akan menyatu di dalam kulit selama satu minggu dan dengan sendirinya benda itu akan terlepas jika terkena air.


.


.


To be continue


.


.


Daniel



Ashley



Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih


Always be happy 🌷

__ADS_1


__ADS_2