
Setibanya di Kota London dan mengantar Jennifer ke perusahaan terlebih dahulu, Nico kembali ke Markas. Langkah panjangnya menuntun tubuhnya yang kekar itu menuju ruangan dimana Keil berada. Nico sempat bertanya kepada anak buah saat menyambut dirinya di pelataran Markas dan memberitahukan jika Keil berada di ruangan kerjanya.
Brak
Nico membuka pintu dan mendorongnya dengan kasar hingga membuat si pemilik ruangan mendengkus kesal disertai tatapan tajam.
"Apa kau tidak bisa lebih kasar lagi? Sekalian saja kau hancurkan pintunya!" cetus Keil penuh sindiran dan kemudian kembali mengalihkan pandangannya kepada pekerjaannya tersebut.
Nico hanya terkekeh. "Sorry aku terburu-buru tadi ingin segera menyampaikan berita penting." Dan kemudian Nico mendaratkan tubuhnya di sofa, ia mengambil minuman kaleng bersoda yang sudah tersedia di atas meja, kemudian meneguk hingga habis.
"Kabar penting apa? Paling kau hanya ingin bercerita tentang Nona Jennie." Keil sudah cukup tau kebiasaan Nico jika pria itu kembali ke Markas, pasti akan berceloteh mengenai Nona Jennie.
Nico mengangguk. "Itu juga penting, tetapi yang akan aku sampaikan lebih penting lagi."
Melihat wajah Nico yang serius, Keil menjadi penasaran, kemudian ia beranjak berdiri dan meletakkan beberapa lembar kertas yang ia gunakan setiap kali menyusun strategi ke atas meja kayu. "Katakan ada berita apa?" Keil sudah melepaskan earphone yang sejak tadi melekat di kedua telinganya.
"Nona Jennie dan Emely berteman saat mereka masih kuliah." Mendengar penuturan Nico, wajah Keil tetap datar seperti biasanya.
"Aku sudah mengetahuinya," sahutnya.
"Tapi yang selanjutnya kau pasti belum mengetahuinya, karena Emely sendiri yang menelpon Nona Jennie."
"Bajingan, sebenarnya apa yang ingin kau katakan heh?" Keil yang sudah tidak sabar tanpa sadar memaki Nico.
Alih-alih marah Nico justru tergelak. "Sabar teman. Akhir-akhir kau mudah sekali marah, pantas saja Emely meninggalkanmu."
"Itu tidak hubungannya dengan Emely!" sergah Keil tidak terima.
"Tentu saja, apa kau sadar saat mabuk apa yang kau lakukan?" Suara Nico berubah sedikit meninggi.
Kening Keil berkerut dalam. "Apa maksudmu?"
"Coba kau ingat lagi apa yang kau lakukan saat itu? Apa benar kau tidak melakukan apapun kepada Emely?" Nico kembali mendesak. Jika kesalahan ada pada Keil, maka ia akan berusaha untuk memulihkan hubungan sahabatnya itu.
Keil mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Nico, dan sialnya ia tidak mengingat apapun kejadian malam itu. "Arrghh, aku tidak bisa mengingatnya." Keil mulai frustasi, mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tiga tahun lalu kau minum bersama denganku dan Daniel." Nico membantu Keil untuk mengingatnya dengan menjabarkan yang mereka lakukan pada malam itu. Keil mengangguki penuturan Nico. "Aku dan Daniel turun menari di lantai dasar. Tapi saat aku dan Daniel kembali kau sudah tidak berada di tempatmu."
__ADS_1
Keil kembali berusaha mengingat akan malam itu, karena ia sudah sangat mabuk sehingga ia tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi. Hanya wajah Emely yang samar-samar terlintas.
"Percuma saja, kau tidak akan mengingat apapun yang terjadi pada malam itu." Tiba-tiba saja Daniel memasuki ruangan Keil yang pintunya terbuka dengan lebar. Dengan membawa laptop miliknya lantas Daniel mendudukkan tubuhnya bersisian dengan Keil dan meletakkan laptopnya di atas meja.
"Apa maksudmu?" tanya Kiel. Ia serta Nico menatap penuh tanda tanya.
"Kalian lihatlah ini." Kemudian Daniel menunjukkan video yang sudah berjalan setengahnya. Buru-buru Keil dan Nico merapatkan tubuh mereka untuk melihat isi video tersebut. "Ini adalah rekaman cctv Club kita yang sudah terhapus sebagian, tapi aku berhasil memulihkannya meskipun tidak begitu jelas."
Nico dan Keil mengamati video tersebut dimana terdapat Keil yang berada di lorong Club bersama dengan Emely.
"Tunggu dulu, kenapa Emely bisa berada disana?" seru Nico dengan pandangan yang masih tertuju pada layar laptop.
"Sepertinya aku sedikit mengingat malam itu. Aku menghampiri tempat duduk Emely yang sedang bersama dengan seorang pria di Club." Dan benar saja ucapan Keil, salah satu video tersebut menampakkan Keil yang berusaha menarik tangan Emely, hingga Kiel mendorong tubuh pria yang duduk bersama dengan Emely.
"Sepertinya Emely tidak mengetahui Club yang dia datangi adalah milik kita," tutur Daniel di sela-sela mereka mengamati video tersebut.
Glek. Dan yang membuat mereka lebih terkejut lagi, pada saat Keil menarik paksa Emely ke dalam ruangan VVIP room. Mereka sudah dapat menebak apa yang terjadi di dalam sana.
Nico dan Daniel memandang Keil bersamaan hingga membuat Keil tersudut akan tatapan mereka. "Kalian jangan menatapku seperti itu. Aku benar-benar tidak mengingat kejadian malam itu." Yang dikatakan Keil memang benar adanya, bahkan siapun dapat melihat jika Keil berada dalam pengaruh obat bius.
Daniel seketika terkekeh, hingga membuat Nico dan Keil mengerutkan kening mereka. "Jelas saja kau tidak mengingatnya. Saat itu kau dalam pengaruh obat perangsang."
"What the fuckk!!" umpat Keil kemudian begitu mendengar perkataan Daniel. "Siapa yang berani melakukan hal itu denganku?"
"Jerome?" sahut Keil dan Nico bersamaan.
"Exactly...." seru Daniel. "Bajingan itu ternyata sudah merencanakan semuanya sejak awal."
"Keparat!" Keil nampak geram, salah satu tangannya terkepal dengan kuat.
"Dan kalian harus melihat ini." Daniel menekan file yang lain. Selama beberapa saat, menampakkan seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan setelah Emely keluar dari sana.
"Shitt!!" umpat Keil. Ternyata itulah yang terjadi pada malam itu, ia bukan bersama dengan Mia, melainkan bersama dengan Emely. "Aku harus memberi pelajaran kepada wanita itu dan juga orang yang telah menghapus rekaman malam itu!"
Daniel menepuk bahu Keil. "Kau tenang saja. Aku sudah membereskan anak buah kita yang berani-beraninya menghapus rekaman videonya."
"Thanks!" Keil menepuk bahu Daniel. Setidaknya ia harus berterima kasih karena Daniel lebih dulu bertindak.
"Tapi kau benar-benar bajingan." Tiba-tiba Daniel mendorong tubuh Keil hingga berangsur menjauh. "Kau selangkah lebih baju dari kami, kau sudah melakukannya bersama dengan Emely."
__ADS_1
Keil menghela napas berat. "Aku tidak begitu mengingatnya. Yang aku ingat malam itu aku memang tidak membiarkannya keluar dari kamar."
"Kau benar-benar dalam masalah Keil. Emely sudah pasti sangat membencimu," ujar Nico tidak menutupi raut wajahnya yang nampak mengejek.
"Sialan kau!" Keil mendengkus kesal.
"Karena itu, kau harus minta maaf padanya," sambung Nico kembali.
"Benar. Dengan begitu hubungan kalian akan membaik," timpal Daniel kemudian.
Melihat Keil yang sejenak diam, Nico serta Daniel menjadi paham. "Apa kau ragu karena dia sudah menikah?" tanya Nico.
Keil menggeleng. "Tidak. Aku tidak masalah jika dia benar-benar sudah menikah, aku bisa merebutnya kembali."
"Kalau begitu apa masalahnya?" seru Daniel penasaran apa yang saat ini dipikirkan oleh Keil.
Keil mengembuskan napas panjang ke udara. "Masalahnya bagaimana aku menunjukkan wajahku di depan Emely? Aku sangat tau jika saat itu Emely masih suci dan aku adalah pria yang sudah merenggut kesuciannya." Pias sudah wajah Keil, itulah yang ia pikiran jika ia benar-benar telah berhasil membobol kesucian wanita yang hingga kini masih tersimpan di hatinya. Sejujurnya Keil benar-benar sangat malu menampakkan wajah seolah-olah ia tidak bersalah.
Nico serta Daniel tergelak bersama begitu mendengar Keil menyelesaikan perkataannya. "Astaga, aku pikir kau memikirkan suaminya." Tawa Daniel tidak menyurut dan tetap menggelegar di dalam sana.
"Hahaha..." Tawa Nico menggema. "Itu mudah Keil. Kau hanya perlu mengatakan kepada suaminya bahwa kau yang mengambil kesucian Emely. Dengan begitu dia akan meninggalkan Emely dam kembali padamu. Lalu kau bisa hidup bahagia dan menikah dengannya."
Keil melempar minuman kaleng kosong hingga mengenai bahu Nico. "Mudah sekali kau bicara!" seru Keil dengan hembusan napasnya yang terbuang dengan kasar. "Jika memang semudah itu, aku tidak akan secemas ini. Apa kau tau, menghadapi Emely akan lebih sulit dibandingkan menghadapi suaminya!"
Baik Nico dan Daniel terkekeh. "Karena itu kau harus lebih berusaha lagi mengambil hatinya," ucap Daniel memberikan semangat.
"Berusahalah. Kau adalah pria yang lembut di antara kami berdua. Sudah pasti kau bisa mendapatkan hatinya lagi." Nico juga memberikan semangat untuk Keil, meskipun ia tidak tau ampuh atau tidak.
Semula memasang wajah datar, kini Keil menyelipkan senyuman di sudut bibirnya.
Ya, aku pasti akan mendapatkanmu lagi, Emely.
.
.
To be continue
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like, vote dan komentar kalian 💕