Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Apa ini yang disebut melayani?


__ADS_3

Masalah tidak selesai, tetapi justru menambah masalah yang lainnya lagi. Bukankah tujuan awalnya Billy hanya ingin menunjukkan status dirinya kepada pria yang menjadi bodyguard kekasihnya itu, akan tetapi justru dirinya yang seperti pria asing. Jennifer lebih percaya dengan pria itu ketimbang dengan dirinya.


"Arrgghh sial!" Billy mengusap rambutnya frustasi, ia menatap dirinya di pantulan cermin. Ya, memang jika dibandingkan dengan Nico, wajah pria itu lebih memiliki pesona dan bahkan terlihat sangat dewasa dan seperti berkelas. "Siapa sebenarnya pria itu?" gumamnya kemudian. Rasanya ia seperti tidak asing dengan sosok Nico, tetapi tidak mungkin pria itu adalah pria yang sempat ia duga. Mereka terlihat sama tetapi terlihat berbeda secara bersamaan.


Pintu yang terbuka tidak menggugah Billy untuk menoleh ke arah seseorang yang baru saja memasuki ruangan tunggu. Dengan anggun sosok wanita cantik dan sexy berjalan menghampiri Billy.


"Ada apa denganmu? Bukankah kau mengatakan akan merahasiakan hubunganmu dengan Nona Jennie? Tapi lihatlah apa yang baru saja kau lakukan, kau hampir saja membongkar hubungan kalian!" Wajah Clarisa merah padam, tentunya ia sangat terkejut dengan tindakan Billy. Tujuan dirinya memberikan foto-foto tersebut agar mereka berdua bertengkar dan berpisah, akan tetapi justru yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya.


Billy mengerjapkan kedua matanya, berusaha menahan amarahnya. "Diam!" Sembari beranjak dari tempat duduk. "Ini salahmu, Clarisa. Andai saja kau tidak ikut campur dengan masalahku, mungkin saat ini Jennie tidak akan marah seperti ini!"


Clarisa terkesiap, kenapa Billy menyalahkan dirinya. "Apa maksudmu? Kenapa kau malah menyalahkanku? Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu sifat Nona Jennifer yang sesungguhnya, dia tidak sepolos dan sebaik yang kau kira."


"Atas dasar apa kau menilai kekasihku seperti itu? Aku lebih mengenalnya dari pada dirimu. Jennie bukan wanita seperti itu!"


Mendengar perkataan Billy yang masih saja membela Jennifer, membuat Clarisa semakin kesal. "Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu Billy, kau dan Nona Jennifer sangat berbeda jauh, apa kau tidak pernah berpikir jika selama ini dia tidak menganggapmu sebagai kekasih!"


Billy tercenung sejenak, meskipun hubungan mereka tidak seperti kekasih pada umumnya tetapi ia bisa merasakan jika Jennifer juga mencintai dirinya. Karena tidak terima dengan perkataan Clarisa, Billy mencengkram lengan wanita itu. "Jangan bicara omong kosong. Sejak kemarin kau mempengaruhiku untuk membenci kekasihku sendiri!" Clarisa memekik kesakitan dan berusaha meloloskan cengkraman tangan Billy namun Billy semakin kuat mencengkram lengannya. "Dengar-"


"Ada apa ini?" Kalimat Billy terpotong. Karena samar-samar mendengar suara keributan di dalam ruangan sehingga beberapa staf wanita masuk ke dalam sana.


"Ada apa dengan kalian?" sambar staf yang lainnya. Kini ketiga staf yang masuk ke dalam ruang itu mengepung Billy dan Clarisa, sorot mata mereka mendesak penuh pertanyaan.


"Apa kalian pasangan kekasih yang sedang bertengkar?" timpal staf wanita yang lainnya lagi.


Dan pertanyaan itu membuat Billy terkesiap. "Kalian jangan berpikir yang tidak-tidak. Kami bertengkar hanya ada kesalahanpahaman."


"Kesalahpahaman apa?" Ketiganya mendesak penuh.


"Bukan urusan kalian!" Billy lebih memilih menghindar dengan keluar dari ruangan itu, ia bahkan melewati ketiga staf wanita tersebut.


Berbeda dengan Billy yang nampak kesal, Clarisa justru tersenyum dan membiarkan mereka salah paham dan menganggap dirinya dan juga Billy benar-benar kekasih yang sedang bertengkar. "Tidak apa-apa, terkadang kami memang hanya bertengkar kecil. Billy selalu bersikap seperti itu jika sedang marah, tolong jangan diambil hati." Dengan senyum yang tidak menyurut.


"Ah iya baiklah. Ternyata kalian benar-benar pasangan yang sangat serasi ya." Ketiganya tentu saja heboh dan berasumsi apa yang mereka lihat.


"Tidak, kami hanya dekat saja." Meskipun mengelak tetapi dilihat dari sorot mata Clarisa saja sudah membuktikan jika mereka memiliki hubungan yang khusus, itulah yang dipikirkan oleh ketiga staf wanita tersebut.


***


Sedangkan di dalam ruangan, Nico nampak tersenyum setiap kali melihat Jennifer yang serius dalam berkerja. Wajah galak dan keras kepalanya itu mendadak melunak jika sudah berhubungan dengan pekerjaan. Nico harus menahan diri untuk tidak melontarkan kalimat-kalimat yang bisa saja membuat Nona Jennie-nya menjadi tidak fokus. Satu jam yang lalu ia dan Jane mencoba meluruskan masalah tadi pagi dengan mengumpulkan para staf dan beberapa model di ruangan aula.


"Nona...."


"Diam...." Jennifer menginterupsi dengan telapak tangannya yang diangkat ke atas.


"Aku belum bicara Nona."


"Tidak perlu, aku tau apa yang ingin kau katakan." Jennifer tetap fokus pada lembaran dokumennya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya tersebut.


Nico mengernyitkan keningnya. "Memangnya apa yang ingin aku katakan Nona?


"Kau pasti ingin mengatakan jika aku cantik jika sedang bekerja."


"Astaga, apa Nona benar-benar berpikiran seperti itu?" Sembari menahan senyumnya. Karena sejujurnya memang itulah yang ia pikirkan. "Aku hanya ingin mengatakan jika sudah waktunya untuk makan siang."

__ADS_1


Seketika Jennifer terdiam, bahkan pandangannya tidak tertuju lagi pada dokumennya itu. "Oh...." Sungguh rasanya Jennifer menjadi malu, dan sejak kapan ia bicara begitu terus terang seperti Nico. Apa dirinya benar-benar sudah tertular gaya bicara pria itu.


Melihat Jennifer yang menjadi salah tingkah, Nico hanya mengulum senyumnya. "Aku akan memesan restauran terlebih dulu."


"Hem....."


Lagi-lagi Nico tersenyum, ia baru saja akan memesan restauran untuk mereka tetapi ponsel milik Jennifer yang berdering mengurungkan niatnya itu.


"Hallo...." Nico memasang telinga begitu Jennifer menjawab panggilan tersebut


"Kalau begitu aku akan kesana kak. Kakak tunggu saja disana." Dan kemudian Jennifer mengakhiri sambung teleponnya. Kedua matanya mengarah pada Nico yang tengah memperhatikan dirinya.


"Nico, kita makan siang di Cafe Hollander saja."


"Cafe Hollander?" Kening Nico yang berkerut dalam itu menandakan jika ia tidak asing dengan nama cafe tersebut.


"Iya, Kak Emely baru saja menelpon dan dia ingin bertemu denganku disana." Jennifer membereskan dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja. "Sebaiknya sekarang kita kesana saja." Dan kemudian Jennifer beranjak dari tempat duduknya. Nico mengekori keluar dari ruangan, hingga mereka berpapas dengan Jane. Jane memberitahu mereka jika ia tidak ikut makan siang diluar karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum makan siang berakhir. Setidaknya Jane dapat bernapas lega karena saat ini ada yang menjaga dan menemani Nona Jennie.


Di sepanjang perjalanan Nico berusaha menghubungi Keil tetapi sahabatnya itu tidak kunjung menjawab panggilan dirinya. Padahal ia ingin memberitahukan keberadaan Emely saat ini.


"Bajingan, kenapa tidak menjawab teleponku?" gumam Nico, karena kesal ia melemparkan ponselnya ke kursi di sampingnya.


"Kata orang jika marah-marah seperti itu akan berlipat-lipat menjadi tua," sindir Jennifer tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel miliknya.


Nico terkekeh. "Nona menyindirku?"


Jennifer mengedikkan bahunya. "Memangnya ada siapa lagi selain kita di dalam mobil?"


"Tidak ada. Nona bebas menyindirku sepuasnya."


Jennifer tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel, ia tersenyum dan benar-benar merasa bangga memiliki sekretaris pribadi seperti Jane yang bisa menyelesaikan masalah dengan cepat. Dari video yang dikirimkan oleh orang-orang kepercayaannya di perusahaan, beberapa staf mengangguk mengerti akan penjelasan Jane tentang dirinya yang saling mengenal sejak dulu dan karena ada kesalahpahaman, sehingga Billy bermaksud meluruskannya. Usaha Jane saat ini mampu membungkam mulut para karyawan tentang kejadian tadi pagi. Terlebih lagi Nico juga turut mengeluarkan suara meski hanya dengan sebuah ancaman.


"Kalian hanya perlu menutup mata dan telinga, karena kalian dibayar untuk itu. Jika kedepannya kalian membicarakan Nona Jennie yang tidak-tidak, maka kalian akan kehilangan lidah kalian!"


Hanya mendengar kalimat seperti itu saja sudah membuat mereka bergidik ngeri dan ketakutan. Tidak terkecuali Jennifer yang menggelengkan kepala.


"Dia benar-benar memiliki kepribadian ganda," gumam Jennifer. Ia dibuat heran dengan bodyguardnya tersebut, sewaktu-waktu Nico dapat berubah manis dan menyeramkan secara bersamaan.


"Siapa yang memiliki kepribadian ganda, Nona?" tanya Nico mengalihkan pandangannya sejenak dari kemudi.


"Kau.... siapa lagi kalau bukan kau?!"


"Aku?" Nico menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, coba kau lihat video saat kalian meluruskan masalahku dengan Billy. Kau mengancam mereka."


"Aku melakukannya hanya untuk membungkam mereka Nona." Tujuannya memang seperti itu, tetapi bukan hanya sekedar ancaman saja. Nico selalu bersungguh-sungguh dalam setiap ancamannya.


Jennifer terkekeh, ia meletakkan ponsel di atas pangkuannya. "Apa kau tidak khawatir kalau wanita menjadi tidak tertarik denganmu?"


"Aku tidak peduli, Nona!" Sembari melirik Jennifer melalui kaca spion. Untuk apa Nico peduli dengan wanita lain jika saat ini saja ia hanya tertarik dengan Jennifer.


Jennifer hanya mengangguk-anggukan kepala seolah mengerti. Mungkin memang seperti itu sikap Nico, tidak peduli dengan wanita-wanita di sekitarnya.

__ADS_1


***


Kini Jennifer dan juga Nico sudah berada di parkiran mobil Cafe Hollander. Saat keduanya berjalan memasuki cafe tiba-tiba saja sebuah mobil menepi secara mendadak hingga nyaris menabrak Jennifer, beruntung Nico segera menangkap tubuh Jennifer sebelum mobil tersebut menghantam tubuh Nona kecilnya.


"Nona baik-baik saja?" Nico memeriksa setiap inci tubuh Jennifer dan mendapati tidak ada yang tergores.


Jennifer mengangguk. "Aku baik-baik saja." Memang tidak ada yang terluka dengan tubuhnya.


Setelah memastikan Jennifer baik-baik saja, pandangan Nico beralih pada pengemudi mobil tersebut. Rahangnya mengeras, ia tidak terima dengan pengemudi yang ceroboh itu.


"Keluar!" Nico menggebrak kap mobil itu hingga sang pengemudi mendelik ketakutan. Buru-buru pria itu keluar dari dalam mobil. "Dimana matamu, hah?!" Sembari mencengkram kuat kerah pakaian pria itu.


"Ma-maaf tuan saya benar-benar tidak sengaja. Saya tidak fokus karena sedikit mengantuk." Pria itu mempertahankan wajah dan tubuhnya saat Nico hendak melayangkan pukulan. Keringat dingin mulai mengucur di keningnya, seolah-olah ia akan mati hari ini.


"Tidak sengaja kau bilang?! Bagaimana jika tadi mobil jelekmu ini melukai Nona?!"


"Sudahlah, lagi pula aku baik-baik saja." Jennifer menarik tangan Nico hingga cengkraman tangan Nico terhempas dari pakaian pria cukup muda itu.


"Tapi Nona...." Nico menghentikan kalimatnya saat Jennifer justru memelototi dirinya. "Pergi kau dari sini!" Kemudian mau tidak mau mengusir pria muda itu. Tanpa membuang waktu lagi pria tersebut pergi dari sana dengan mobilnya.


"Dia tidak sengaja." Jennifer menyentuh bahu Nico, ia tahu jika Nico masih emosi. "Sebaiknya kita masuk ke dalam, Kak Emely pasti sudah menungguku." Nico mengangguk dan mengikuti langkah Jennifer memasuki cafe. Namun sebelum itu ia memberikan kode dengan jarinya kepada anak buahnya yang mengawasi dirinya di dalam mobil.


Bereskan pria yang tadi.


Itulah isi dari isyarat tangan Nico hingga mobil Jeep hitam segera meninggalkan cafe dan mengejar mobil itu.


Jennifer bertanya keberadaan Emely pada salah satu karyawan di cafe tersebut, dan karyawan wanita itu memberitahukan jika Emely berada di salah satu private room sedang melayani tamu. Keduanya berjalan menuju ruang private yang ternyata bersisian dengan keberadaan Emely, namun kening Nico berkerut lantaran ia mengenali dua sosok pria yang berjaga di depan pintu ruangan.


Sorot mata Jennifer menajam, ia bahkan curiga kepada dua sosok pria itu. "Jangan-jangan....." gumamnya. Ia menduga jika sesuatu terjadi di dalam sana dengan Emely.


"Nona, dilarang masuk." Namun dua pria asing itu menghalangi Jennifer dengan tangan mereka.


Nico melayangkan tatapan tajam kepada kedua pria itu. "Berani kalian menyentuhnya!" Kedua pria itu menundukkan pandangan, mereka menjadi serba salah karena di dalam dan di hadapannya adalah bos mereka.


Jennifer memanfaatkan kesempatan disaat kedua pria asing itu lengah, ia buru-buru mendorong pintu dengan kasar. Sungguh Jennifer sangat mencemaskan Emely di dalam namun kedua matanya membeliak karena wanita yang dikhawatirkan ternyata sedang berciuman.


Astaga, apa ini yang disebut melayani? batinnya.


Nico nyaris saja tergelak karena melihat kedua pasangan itu saling menjauhkan diri.


"Shiitt!"


.


.


To be continue


.


.


Maaf Yoona baru bisa up karena kemarin lagi drop 🤧🤧 semoga kalian selalu sehat ya 🤗💕

__ADS_1


Like, vote dan komentar kalian 💕


__ADS_2