
Ciuman Keil dan Emely semakin liar dan panas. Bahkan kilasan akan percintaan panas mereka tiga tahun lalu seperti terlintas, meskipun Keil tidak sepenuhnya sadar tetapi berbeda dengan Emely yang justru selalu mengingat sentuhan-sentuhan tangan Keil yang berhasil menjamah seluruh tubuhnya. Kerinduan dan rasa cinta yang terpendam seolah sudah tersalurkan oleh ciuman mereka yang penuh perasaan di dalamnya.
Terhanyut akan permainan bibir mereka yang begitu menggairahkan, hingga Keil dan Emely tidak menyadari jika wanita cantik dan pria tampan sedang melihat pemandangan panas itu. Keil yang samar-samar mendengar suara seseorang lantas menyudahi ciuman mereka, pun hal yang sama dilakukan oleh Emely. Wanita itu terkesiap, baik Emely dan juga Keil buru-buru menjauhkan tubuh mereka begitu mendapati dua sosok yang sangat mereka kenali ternyata sedang menonton mereka.
"Shittt!!" umpatan itu keluar dari mulut Keil karena baru saja ia menikmati kerinduan, tetapi justru harus berhenti di tengah-tengah karena kehadiran tamu tidak diundang.
"Hahaha...." Akhirnya tawa Nico tidak dapat lagi ditahan, hingga pria itu menumpahkan gelak tawanya, dan sukses membuat Keil semakin kesal setengah mati.
"Berisik, sialan!" Sungguh Keil ingin menendang bokong sahabatnya itu. Berbeda dengan Keil yang nampak kesal, wajah Emely memerah lantaran malu kedapati tengah berciuman. Terlebih lagi Jennifer mengetahui status dirinya yang sudah menikah tetapi berciuman dengan pria lain.
Tawa Nico menyurut karena sorot Jennifer yang melayangkan tatapan tajam ke arahnya. Sementara sebenarnya kecanggungan juga dirasakan oleh Jennifer, tentu ia tidak akan menggurui Emely, karena ia menduga jika pria itu adalah suami dari Emely.
"Ka-kalau begitu aku permisi dulu." Tidak dapat menahan rasa malunya lagi, Emely lebih memilih melarikan diri dari sana. Langkahnya yang lebih cepat membuat Keil gagal menjangkau tangan Emely, wanita itu sudah lebih dulu berlari keluar dari ruangan private room.
Melihat Emely sudah keluar dari dalam sana, Jennifer melakukan hal yang sama. Ia berlari mengejar Emely mengikuti langkah kakak seniornya yang entah akan menuju kemana.
Dua anak buah yang menjaga di depan pintu ruangan masuk bersamaan dengan wajah penuh ketakutan karena telah lalai menjalankan perintah. "Bos Keil maaf, kami....."
"Sudahlah, kalian memang tidak berguna!" hardik Keil kekesalannya sudah memuncak.
"Maafkan kami bos Keil..." Keduanya hanya dapat menundukkan kepala mereka dan kembali pada posisi mereka sebelumnya.
Sang pelaku selain Jennifer justru terlihat santai tanpa rasa bersalah karena sudah mengganggu ciuman panas sepasang mantan kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.
"Jangan salahkan mereka. Aku yang membiarkan Nona Jennie memaksa masuk." Nico mendudukkan tubuhnya di kursi.
Keil mendecakan lidahnya. "Sialan kau Nic. Apa kalian tidak bisa menungguku selesai melakukannya dengan Eme?!" Dan Keil pun berhasil mendaratkan tubuhnya di kursi yang posisinya berhadapan dengan Nico.
"Mana aku tau kau berada di dalam dengan Emely. Jika aku tau pria di dalam itu adalah kau, aku akan menahan Nona Jennie lebih lama."
"Cih, mustahil kau tidak mengenali anak buah kita." Keil tidak percaya begitu saja, karena baik Nico dan juga Daniel sangat mengenali para anak buah mereka.
Nico terkekeh, ia merasa puas melihat kekesalan di wajah Keil. "Sorry, aku terlambat menahan Nona Jennie, dia sudah lebih dulu membuka pintunya." Dalam hal ini tentunya ia tidak salah sepenuhnya. "Salahkan dirimu, kenapa tidak menjawab telepon dariku!" Nico justru malah menyalahkan Keil. Jika Keil memberitahu tentang keberadaannya, ia akan menahan Nona Jennie di ruangan lain saja.
"Kau bisa melihatnya sendiri, apa aku sempat menyentuh ponselku?" Pandangan Keil menunjukkan posisi ponselnya berada, jauh dari jangkauan matanya saat ini. Ia memang tidak sadar jika ada panggilan masuk karena fokusnya hanya tertuju pada Emely.
"Iya, karena kau hanya fokus menyentuh yang lain," seloroh Nico penuh ejekan.
"Sayangnya aku belum sempat menyentuhnya, karena kau sialan!"
Lagi-lagi Nico terkekeh, ia bisa membayangkan bagaimana kesalnya Keil saat ini karena kedatangan mereka sebagai pengganggu. "Kau bisa melakukannya lagi nanti."
"Hem, dia lebih sulit ditaklukkan." Jika tadi Keil tidak bertindak lebih dulu, mungkin ia akan lebih sulit untuk mendekati wanita itu lagi. "Tapi dia masih tidak bisa menolak sentuhanku," imbuhnya. Keil masih ingat bagaimana Emely menolak dirinya, tetapi tubuh wanita itu berkata lain, bahkan Emely setengah memberontak saat dirinya mencengkram lengan wanitanya itu.
Nico melayangkan tatapan aneh kepada Keil. "Menjijikan!"
"Apa kau bisa berkata menjijikan jika melakukannya dengan Nona Jennie?" Sembari mendengkus kesal. Apa sahabatnya itu sudah lupa jika mereka terbiasa melakukannya dengan wanita lain juga.
"Itu beda ceritanya." Bahkan yang sebenarnya, Nico sudah tidak tahan ingin mencicipi bibir merah ranum milik Nona kecilnya tersebut. Rasanya ia sudah bosan bermain-main dengan wanita murahan yang selalu siap memberikan tubuh mereka secara suka rela. Ia ingin mencoba hal yang baru, tentunya dengan Nona Jennie-nya.
"Singkirkan pikiran kotormu itu. Kau perlu seribu cara untuk menaklukkan Nona Jennie." Sendok kecil untuk cake melayang ke arah Nico, dan berhasil mengenai bahu Nico. Keil mengetahui apa yang sedang menggerayangi isi kepala Nico, apalagi jika bukan hal-hal yang kotor.
"Sialan kau!" pekik Nico kesal.
Keil terkekeh. Salah sendiri sejak tadi membuat dirinya kesal. "Lalu untuk apa kalian berada disini?"
Nico mencicipi makanan yang belum disentuh oleh Keil. Makanan sebanyak itu sayang jika tidak dihabiskan. "Kekasihmu, ah maksudku mantan kekasihmu itu menghubungi Nona Jennie untuk makan siang bersama."
__ADS_1
"Oh...." Keil hanya mengangguk-anggukan kepala.
Ponsel Keil yang berdering bersamaan dengan getaran yang bergesekan dengan meja mengalihkan perhatian mereka. Keil meminta Nico untuk mengambilkan ponsel miliknya karena posisi ponselnya itu lebih dekat dari jangkauan Nico. Keil meraih ponselnya dari tangan Nico kemudian segera menjawab panggilan yang ternyata dari Daniel.
"Ada apa?" Keil menjawab dengan malas, tidak lupa menghidupkan loudspeaker agar Nico juga dapat mendengarnya.
"Tugasku disini untuk apa? Kenapa aku harus melihat kemesraan kalian di CCTV?" Daniel berhasil meretas beberapa CCTV yang terhubung di Cafe Hollander. Awalnya ia sempat semangat saat melihat Keil yang berciuman dengan Emely, tetapi pemandangan itu hanya berjalan sebentar saja.
"Kau sudah melihatnya. Dia dan Nona Jennie menggangguku." Sembari menunjuk Nico.
"Setidaknya mereka tidak datang saat kau sedang bermain. Kau bisa bayangkan jika harus bermain solo." Daniel justru mengejek Keil, ia bisa melihat wajah kekesalan Keil melalui CCTV, Nico yang tertawa geli pun tidak luput dari pantauannya.
"Fuckking!" umpat Keil kesal.
"Lihatlah, dia kesal setengah mati haha." Tawa Nico semakin menggelegar. Jika saja ruangan private room VIP tidak kedap suara mungkin sudah mengganggu para pengunjung lainnya.
***
Di ruangan lain, Emely yang masih merasa malu tidak berani menatap wajah Jennifer. Padahal sebelumnya dirinyalah yang mengundang wanita itu.
"Maaf, kau jadi harus melihatnya." Emely membuka suaranya lebih dulu setelah beberapa saat mereka lebih memilih diam, menikmati makan siang mereka.
Jennifer tersenyum, ia paham kenapa sejak tadi Emely tidak banyak bicara. "Tidak apa-apa. Aku mengerti karena kalian masih dalam pengantin baru."
Mendengar perkataan Jennifer, makanan yang sudah berhasil dikunyah gagal melewati tenggorokan sehingga Emely tersedak, buru-buru Emely mengaliri tenggorokan dengan air putih.
"Dia bukan suamiku," cicit Emely ragu-ragu. Entah apa kini yang dipikirkan oleh Jennifer rentang dirinya.
"Apa??!" Kedua mata Jennifer membeliak. "Bagaimana bisa kalian ber....ciuman?" Jennifer tidak bisa percaya jika Emely berani berciuman dengan pria lain selain dengan suaminya.
"Apa??!" Keterangan yang baru saja diucapkan oleh Emely membuat Jennifer lebih terkejut lagi. "Jadi dia adalah pria yang sudah memaksa Kak Emely melakukannya?!"
Emely menjadi panik karena suara Jennifer bisa saja terdengar oleh beberapa karyawannya. "Kecilkan suaramu. Aku tidak bisa menceritakan semuanya, pertemuanku dengannya tidak pernah aku duga sebelumnya."
Jennifer dapat merasakan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Emely. "Kak, apa kau mencintai suami kakak?"
Emely tercekat, bibirnya terkunci sangat rapat. Bagaimana ia harus menjawabnya. Melihat Emely yang tidak menjawab membuat Jennifer menjadi paham, Jennifer menggenggam tangan Emely. "Kak, apapun masalahmu, aku berharap kakak akan baik-baik saja dan tidak menghilang seperti dulu." Sejujurnya Jennifer mencemaskan keadaan Emely. Ia yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan Emely, tetapi ia tidak bisa memaksanya begitu saja. Jennifer tersenyum, dan kemudian memberikan kekuatan kepada Emely.
"Terima kasih." Sungguh senyum Jennifer tidak berubah, selalu penuh ketulusan dengannya. "Baiklah, karena kita sudah menyelesaikan makan siang, sebaiknya kita keluar dari sini. Aku masih memiliki urusan. Maaf, lagi-lagi aku tidak bisa berbicara begitu lama denganmu," ucapnya kemudian dengan kecewa.
"Tidak apa-apa kak, kita bisa bertemu lain waktu lagi. Aku selalu akan ada waktu jika kakak membutuhkan diriku!" Jennifer beranjak dari tempat duduknya, dan juga disusul oleh Emely.
"Kau benar." Emely menggandeng tangan Jennifer keluar dari ruangan.
"Terima kasih untuk teraktiran makan siangnya kak." Sebelumnya Jennifer sempat menolak, tetapi Emely tetap bersikeras dan Jennifer tidak bisa menolaknya, takut-takut akan menyinggung Emely.
"Tidak perlu sungkan denganku." Emely menyematkan senyuman, baginya kebaikan dirinya belum seberapa jika dibandingkan dengan kebaikan Jennifer di masa lalu.
"Ehem, apa kalian sudah selesai?" Suara Nico memecah perhatian mereka dan menoleh bersamaan ke arah Nico berada. Nico dengan gagahnya berdiri di samping Keil dengan sorot mata yang tajam tertuju pada Emely, seolah sorot matanya itu mampu menembus ke dalam jantung Emely.
Emely tidak menatap Keil, wanita itu sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Keil. Ia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Keil setelah mereka berciuman.
"Nona Emely....." Seorang waittress wanita menghampiri Emely, hingga perhatian mereka kini tertuju kepada keduanya.
"Ada apa?"
"Sejak tadi ponsel Nona berdering." Sembari menyodorkan ponsel
__ADS_1
"Terima kasih." Setelah mengambil ponselnya, Emely melihat nama yang tertera di layar ponsel. Wajahnya mendadak memucat.
"Maaf, aku permisi dulu." Buru-buru Emely pergi dari sana, berlari kecil menuju ruangan dirinya.
Keil dan Nico melihat punggung Emely hingga wanita itu lenyap dari pandangan mereka. "Apa kau sudah menyelidiki suaminya?" bisik Nico. Suaranya bahkan hanya dapat di dengar oleh Keil.
"Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan. Aku dan Daniel tidak bisa menemukan apapun. Pria itu hanya pria biasa." Keil menyahut dengan suara yang pelan.
Jennifer menoleh ke arah keduanya. "Apa yang kalian bisikan?" Menelisik penuh ke arah Nico dan kemudian beralih kepada Keil. Jennifer meneliti wajah Keil dengan lekat.
Tampan. Pantas saja Kak Emely tidak bisa melupakannya.
"Nona, dilarang menatap temanku seperti itu." Nico mendadak posesif, ia tidak suka jika Jennifer menatap pria lain selama itu, meskipun pria yang ditatapnya adalah sahabatnya sendiri.
"Bukankah kau pria yang berada di hotel Shangri-La?" tanya Jennifer merasa tidak asing dan dijawab anggukan kepala oleh Nico. Pantas saja saat itu Keil pergi terburu-buru mengejar Emely, pikirnya.
"Benar Nona," sahut Keil disertai anggukan.
"Apa kau juga salah satu anak buah kepercayaan kakakku?" tanyanya kembali.
"Benar Nona."
Jennifer mengangguk-anggukan kepala, karena sudah mendapatkan jawaban yang ingin ia dengar. Dengan pandangannya yang masih memperhatikan Keil, Jennifer menilai pria itu terlihat cocok dengan Emely. Nico menghela napas berat, masih saja Nona Jennie-nya itu menatap Keil.
"Nona, bukankah kita harus kembali ke perusahaan?" Nico menarik Jennifer ke sisinya.
"Iya, tapi.... "
"Kalau begitu kita harus segera kembali." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Nico mendorong tubuh Jennifer untuk keluar dari Cafe.
Keil tersenyum masam, apa sahabatnya itu sedang cemburu terhadap dirinya?
"Aku bisa jalan sendiri, jangan mendorongku!" Jennifer berusaha menepis tangan Nico yang terus saja mendorongnya hingga mereka berada di depan cafe.
"Kenapa kau mengikuti kami?" Pertanyaan itu tertuju untuk Keil yang juga sudah berada di depan Cafe.
Keil berdecak malas. "Apa kau bodoh? Jalan masuk dan keluar hanya ada satu, aku harus melewati pintu mana untuk keluar dari cafe?"
"Kau bisa keluar melalui atap atau lubang manapun yang kau inginkan."
Keil semakin malas menanggapi perkataan Nico yang tidak masuk akal. "Terserah kau saja." Melewati Nico begitu saja diikuti kedua anak buahnya, tetapi sesaat kemudian memutar arah. "Nona Jennie, jika Nona sudah bosan dijaga olehnya, Nona bisa menghubungiku!"
Tentu saja apa yang di ucapan oleh Keil membuat Nico mengeram kesal. "Bajingan, ingin merampas pekerjaanku, heh?!"
Keil mengedikkan bahu, ia berlalu begitu saja setelah mengatakan sesuatu yang menyulutkan emosi Nico. Sementara Jennifer menggelengkan kepala melihat sisi lain dari Nico.
.
.
To be continue
.
.
Like, vote dan komentar kalian 💕
__ADS_1