Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Aku ada disini


__ADS_3

Keil nampak geram begitu mendengar laporan dari Joy di seberang sana. Terlebih lagi saat ini Emely berada di apartemen seorang diri. Meskipun di jaga oleh Joy dan Tom yang berada di salah satu kamar apartemen lain, tepatnya di bawah satu lantai dari kamar apartemen wanitanya, tetap saja kecemasan itu menyergap dirinya.


"Shiitt!" Keil melayangkan tinjunya ke udara. Gelisah dan panik, itulah yang dirasakan oleh Keil. "Dengar, kau dan Tom alihkan perhatian dua pria itu. Kalian keluar dari dalam apartemen Eme."


"Maksud Bos Keil, kami harus memanjat dari lantai 8 menuju lantai 9?" Joy memastikan maksud dari bosnya itu. Mereka tau jika para bos mereka sedikit gila dan ekstrim, sehingga sudah tidak akan heran lagi jika ia dan juga Tom mendapatkan perintah yang cukup berbahaya.


"Ya, kalian masuk melalui balkon. Jika kalian keluar dari kamar apartemen Emely, dua pria itu akan pergi dari sana."


"Bos Keil benar-benar menyuruh kita memanjat melalui balkon?" sambar Tom di seberang sana, sepertinya mengambil alih ponsel Joy.


"Benar. Apa ada masalah?" Keil menjawab dingin.


"Tidak Bos Keil. Itu sangat mudah," sahut Tom. Siapa yang akan berani menolak jika suara Keil saja sudah dingin tidak terbantahkan.


"Pastikan Eme baik-baik saja. Aku akan datang secepat mungkin." Ya, Keil harus datang karena tidak ingin membuat Emely ketakutan.


"Baik Bos Keil...."


Keil kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Nico serta Daniel menatapnya menunggu penjelasan dari Keil apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku harus kembali ke apartemen. Jonas sepertinya mengirim seseorang untuk memantau apartemen."


"Ya, kau pergilah," sahut Nico.


"Beberapa anak buah kita akan berjaga di depan sana untuk membantu kalian." Daniel menimpali. Jika terjadi sesuatu dengan Keil maupun Emely, anak buah mereka akan menyergap terlebih dulu.


"Hem...." Keil mengangguk, kemudian berlari meninggalkan ruangan menuju mobil yang terpikir di pelataran Markas. Mobilnya melaju kencang meninggalkan Markas menuju pusat kota yang perlu ditempuh selama satu jam.


***


Seperti apa yang diperintahkan oleh Bos Keil, Joy dan Tom bersiap-siap untuk memanjat ke lantai atas. Keduanya berada di balkon, mengamati balkon kamar apartemen Emely yang harus melewati tiga kamar untuk mencapai kesana. Karena hari sudah malam, sehingga tidak akan menimbulkan perhatian sekitar akan aksi gila mereka.


"Sebaiknya kau berhati-hati. Aku akan memanjat terlebih dulu," ujar Tom. Joy mengangguk dan mempersilahkan Tom memanjat terlebih dahulu. Pria itu mulai menaiki pagar besi dan melompati pembatas dinding yang tidak terlalu tinggi.


Tidak lama setelahnya, Joy mengikuti dari belakang. Meskipun seorang wanita, ia tidak kalah gesit dengan Tom. Memang terlihat sangat mudah tetapi jika tidak pernah melakukan hal berbahaya seperti itu atau dilakukan orang-orang biasa pasti akan membuat mereka bergidik ngeri, karena mereka merayap di celah pijakan yang setara dengan telapak kaki mereka. Keduanya mengendap-ngendap dengan berhati-hati di ketinggian mencapai 9 lantai tanpa pengaman apapun.


Hap


Tom berhasil melompat dan kini tersisa satu kamar lagi. Tom membantu Joy, menarik pergelangan tangan rekannya itu untuk mempersingkat waktu. Kini posisi mereka berada di balkon tepat bersebelahan dengan kamar Emely.


Joy merenggangkan otot-ototnya. "Aku akan melompat. Ini mudah dari sebelumnya." Dan benar saja Joy melompat dengan kedua tangan yang berpegangan pada dinding besi.


Hap


Pendaratan Joy berhasil, tetapi tidak menyadari jika Tom juga sudah melompat sehingga tubuh mereka saling berbenturan.


"Aaww.... kenapa kau menabrakku, Tom!" hardik Joy kesal.


"Tubuhmu menghalangiku, Joy." Tom nampak gemas dengan Joy. Sudah tau wanita itu yang salah karena tidak ingin menyingkir, masih saja menyalahkan dirinya.

__ADS_1


"Tapi...."


"Siapa disana?" Joy hendak protes, akan tetapi suara Emely dari dalam menghentikan perdebatan mereka.


"Nona Emely, ini aku Joy dan Tom." Joy mengetuk pintu kaca tersebut. Memastikan Nona Emely jika itu benar-benar mereka.


Dengan penuh kewaspadaan, Emely berjalan menuju balkon. Di balik tirai yang terbuka lebar itu memang menampakkan Joy dan Tom disana. Buru-buru Emely membukakan pintu kaca tersebut.


"Kalian kenapa bisa berada disini?" Emely menatap bingung, bahkan wanita itu melihat sekitar, apakah ada jalan lain untuk menuju kamar apartemen dirinya. "Jangan katakan jika kalian berdua memanjat dari lantai 8?" tanyanya memastikan.


"Benar Nona," jawab Joy dan Tom bersamaan.


"Astaga...." Emely menggeleng tidak percaya.


"Ada dua pria yang sedang memantau kamar apartemen Nona, itu sebabnya kami memanjat dari tempat kami ke sini," ujar Tom menjelaskan.


"Du-dua pria?" Emely mendadak gelisah. Keil sudah mengatakan padanya jika beberapa hari ini Jonas memang tengah mencari keberadaan dirinya.


Joy mengangguk. "Benar Nona, tetapi Nona tidak perlu cemas karena kami akan mengusir mereka."


"Benar. Karena itu izinkan kami masuk ke dalam. Kami berdua memiliki rencana," timpal Tom.


"Baiklah, cepat kalian masuk." Kemudian Emely mempersilahkan keduanya masuk ke dalam. Entah apa yang direncanakan oleh dua anak buah Keil itu.


Emely hanya mendengarkan saja rencana mereka dan mematuhi berdiam diri di dalam. Jika ada yang mengetuk ia hanya perlu mengabaikan saja karena jika Keil yang datang, maka kekasihnya itu akan masuk dengan sendirinya menggunakan password.


"Mungkin Nona Emely tidak berada disini. Kita laporkan saja pada bos."


Kalimat itu terdengar oleh Tom dan juga Joy. Benar dugaan mereka, dua pria itu adalah suruhan Jonas. Meskipun berjalan menuju lift, membelakangi mereka, Tom serta Joy tetap memasang telinga. Ternyata langkah dua pria itu berhenti tepat di belakang mereka. Pintu lift terbuka, Tom serta Joy memasuki lift bersamaan dengan kedua pria yang juga ternyata ingin masuk bersama dengan mereka. Joy dan Tom benar-benar berakting sebagai pasangan suami istri, sehingga kedua pria itu terlihat percaya begitu saja, hingga lift terbuka pada saat sudah berada di lantai dasar. Dengan tergesa-gesa mereka keluar dari lift menuju bestmen apartemen. Tom dan Joy memperhatikan dua pria itu yang sudah meninggalkan gedung apartemen.


"Sudah aman, sebaiknya kita kembali." Joy mengangguki perkataan Tom. Keduanya pun melangkah menuju lift. Namun baru saja mereka masuk ke dalam lift dan pintu lift hendak tertutup, seseorang menahan lift itu dengan tangannya.


"Bos Kiel...?" Ya, seseorang itu adalah Keil. Dengan napas tidak beraturan Keil memasuki lift.


"Bagaimana?" Keil langsung bertanya tanpa berbasa-basi.


"Sepertinya mereka memang dikirim untuk mencari keberadaan Nona Emely." Tom menjawab pertanyaan Keil lebih dulu.


"Apa kalian yakin?"


"Kami sangat yakin karena salah satu dari mereka menyebutkan nama Nona Emely," sambung Tom kemudian.


Keil hanya mengangguk. Beruntung saja kedua anak buahnya itu cepat tanggap sehingga bisa menyingkirkan mereka sebelum menemukan keberadaan kekasihnya. Ketika pintu lift sudah terbuka, Keil melangkah panjang menuju kamar apartemen Emely. Pria itu memasukkan kode password dengan tidak sabar. Keil kemudian mendorong pintu dan mencari keberadaan Emely di dalam sana.


Senyumnya terbit ketika melihat Emely yang duduk bersembunyi di balik tempat tidur dengan memeluk kedua lutut. Ternyata hal tersebut mampu membuat Emely ketakutan, mengingat selama ini Jonas tidak memperlakukannya dengan baik.


"Love....?"


Emely menoleh ketika suara yang tidak asing itu memanggil dirinya. Seketika kelegaan melingkupi rongga paru-parunya, Emely tersenyum dan kemudian menghampiri dan memeluk Keil.

__ADS_1



Keil juga memeluk erat kekasihnya itu. Ia tahu bahwa Emely dalam keadaan ketakutan. "Tidak apa-apa, aku ada disini." Keil memberikan kecupan bertubi-tubi di puncak kepala Emely.


"Aku takut sekali...." lirihnya. Membayangkan ia akan kembali dibawa oleh anak buah Jonas serta akan mendapatkan siksaan dari suaminya itu membuatnya begitu tidak tenang dan ketakutan setengah mati.


"Sshhtt..." Keil mengusap punggung Emely dengan lembut. "Mereka tidak akan pernah bisa membawamu pergi dariku." Emely mengangguk, selama berada di dekat Keil, ia memang selalu merasa nyaman dan aman.


Keil melepaskan pelukan mereka. Keduanya saling menatap dalam, sebelum kemudian Keil mengecup kilas bibir Emely tanpa mempedulikan jika Tom dan Joy berada di antara mereka.


"Ehm Bos Keil, sebaiknya kami kembali saja ke apartemen kami." Sebenarnya Joy tidak enak membuka suara, tetapi jika mereka terlalu lama beranda di ruangan yang sama, maka akan membuat mereka semakin canggung.


"Kalian pindahkan semua barang-barang Emely, karena kalian bertukar kamar. Besok malam aku akan membawa Emely ke penthouse." Sebenarnya Keil ingin membawa Emely ke penthousenya saat ini juga tetapi mengingat penthousenya sudah tidak lagi aman, sehingga ia harus mencari tempat lain yang tentunya lebih aman.


"Baik Bos."


Tom dan Joy segera undur diri dari sana. Membiarkan pasangan itu menumpahkan rasa cinta mereka. Dan benar saja, selepas kepergian kedua anak buahnya itu, Keil kembali menyambar bibir Emely dan menggiring wanitanya itu ke atas tempat tidur.


"Keil...." Emely terpekik ketika Keil menjatuhkannya ke tempat tidur.


"Kenapa?" Keil sudah diselimuti kabut gairah sehingga sedikit kesal karena Emely menghentikan ciuman mereka.


"Ak-aku malu...."


Keil terkekeh, jadi alasannya hanya karena itu. "Kenapa malu? Kita sudah sering melakukannya, apa kau sudah lupa hm?" Keil yang gemas pun menyerang Emely, menciumi leher jenjang wanitanya dan memberikan tanda merah disana.


"Keil hentikan." Serangan Keil membuat Emely geli, tubuhnya menggelinjang di bawah kungkungan Keil.


Namun Keil tidak mengindahkan perkataan Emely, ia terus saja mencumbui setiap inci tubuh wanitanya itu. Emely pun pasrah, membiarkan Keil menjelajahi tubuhnya. Memang ia pun candu akan sentuhan-sentuhan Keil yang lembut tetapi memabukkan.


Mendengar desahaan Emely, Keil semakin semangat dan melancarkan aksinya. Ia melucuti pakaian Emely dan kemudian melepaskan pakaian dirinya. Lenguhan nikmat memenuhi ruangan, keduanya saling melummat bibir dan bertukar saliva, hingga Keil melakukan penyatuan dan membuat Emely semakin melenguh panjang karena hentakan yang berikan oleh Keil.


.


.


To be continue


.


.


Emely



Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih


Always be happy 🌷

__ADS_1


__ADS_2