Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Kebahagiaan berlipat


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Nico sudah mengetahui drama yang dimainkan pada saat itu. Jujur saja ia sempat tidak habis pikir, bosnya benar-benar kurang kerjaan, lebih tepatnya mungkin tidak memiliki pekerjaan sehingga bisa-bisanya memikirkan ide gila untuk dirinya. Tapi setidaknya ia senang karena bos akhirnya menyetujui hubungannya dengan Jennifer.


Pagi ini, bos yang akan menjadi kakak iparnya itu sudah mengganggu dengan menghubunginya hanya untuk bertaruh balap mobil. Sepertinya big bos benar-benar tidak rela jika dirinya akan menjadi adik iparnya, selama seminggu penuh bosnya selalu mengerjai dirinya, bahkan saat berkencan dengan kekasih kecilnya, bosnya menjadi orang ketiga. Benar-benar merepotkan! Sampai kapan pun Nico tidak akan bisa melawan calon kakak iparnya itu dengan mudah, bahkan dalam keadaan sekarat pun apapun yang dikatakan oleh bos adalah mutlak.


Dan disinilah saat ini mereka berada, di perbatasan wilayah Black Lion, cocok sekali jika mereka akan melakukan aksi kebut-kebutan.


"Bos, kenapa kau lagi-lagi mengganggu kencanku dengan adikmu?!" Nico mendengkus kesal, ia memprotes keras akan kencannya yang kembali gagal hanya karena harus menuruti perintah bos.


"Aku tidak mengganggu! Aku hanya ingin kau menemaniku. Itu saja!" sahut Xavier acuh.


"Lalu dimana Jack? Apa dia sudah bosan mengikutimu bos?" Nico tersenyum mengejek, memang akhir-akhir Jack tidak terlihat mengekori bos. Hanya beberapa kali bertemu ketika ia berkunjung ke Mansion.


"Aku membiarkannya libur selama beberapa hari untuk menemani istrinya. Apa ada masalah?!" ujar Xavier dingin menatap singkat pada anak buahnya itu.


"Haha tentu tidak masalah, bos." Lebih baik menghindari saja, karena akhir-akhir ini bos begitu sensitif.


"Ya, sudah. Nyalahkan mesin mobilmu. Kita mulai dari sekarang. Aku harus segera pulang karena istriku pasti menungguku."


"Baiklah bos, aku juga tidak sabar ingin menemui calon istriku." Dengan hanya membayangkan wajahnya saja membuat Nico sudah merindukan kekasih yang akan menjadi calon istrinya itu.


"Siapa yang calon istrimu, hah?!" hardik Xavier kesal mulai menstarter mobil miliknya


"Tentu saja Jennifer Alexandra Romanov. Sejak kapan kau hilang ingatan bos?" Dengan berani Nico menyahut, memang itulah kenyataannya. Ia sudah datang melamar kepada Daddy Jhony dan Mommy Marry tiga hari yang lalu. Mereka tidak mempersulit, hanya bosnya saja yang masih mempersulit dirinya.


"Aku belum mengakuimu. Kau harus bisa mengalahkanku terlebih dulu." Apa yang direncanakan Xavier hanya ia yang tau. Entahlah, ia hanya senang mengerjai anak buahnya itu.


"Baik bos, siapa takut. Aku pasti akan menang melawanmu bos!" Nico dengan seringai senyumnya.


Dan keduanya sudah bersiap-siap menginjak pedal gas, sebelum kemudian mobil mereka melesat bagaikan tertiup angin. Arena jalan yang mereka gunakan adalah wilayah kekuasaan Black Lion, sehingga mereka tidak akan cemas akan membahayakan orang lain.


Mobil Nico berusaha mendahului Xavier, tapi sayang bosnya itu benar-benar sulit untuk mengalah. Dan justru menutup jalan ketika Nico hendak mendahului mobilnya. Tapi untuk saat ini ia tidak ingin kalah, terlebih mengalah, ia harus membuktikan jika ia layak bersanding dengan Jennifer.


Melihat ada celah, Nico menambah kecepatan penuh, hingga dalam hitungan detik saja mobilnya sudah sejajar dengan bos.


"Kali ini aku akan buktikan jika aku benar-benar mencintai Jennie, siapapun tidak akan ada yang bisa memisahkanku darinya, termasuk dirimu bos!" Nico berteriak meskipun suaranya nyaris tenggelam dalam deru angin yang berhembus kencang pagi itu.


Xavier tidak menjawab, lirikan matanya tajam dan terlihat tidak terusik akan ucapan Nico, tapi sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.


Detik itu juga Nico menekan pegal gas, mobilnya melesat mendahului mobil bos. Untuk sesaat Xavier membiarkan Nico mendahului mobilnya, sebelum kemudian ia menambah kecepatan penuh dan kini mobil mereka saling berjajar.


Keduanya saling melayangkan tatapan sengit tanpa saling memusuhi. Hanya saja jika di dalam sebuah pertandingan, tidak memandang bos atau anak buahnya, mereka harus bertaruh dengan sportif. Nico kemudian kembali menambah kecepatan dan sedikit lebih dulu dari Xavier hingga di depan sana, keduanya bisa melihat garis finish. Tidak ada yang ingin kalah, terlebih Xavier tidak ingin mengalah, keduanya seimbang, mobil mereka melaju sejajar hingga di garis finish.


Suara decitan rem mobil keduanya melengking di udara, Xavier dan Nico turun dari mobil bersama-bersama. Ya, setidaknya Nico bisa mengimbangi bos, meskipun belum berhasil mengalahkan bos.


"Aku akui kau cukup hebat." Xavier mengulas senyum tipis. Ya, ia tidak mengelak kemampuan Nico yang semakin berkembang dalam hal apapun.


Jarang sekali bos memuji dirinya, sehingga ia merasa bangga tapi ia tidak berpuas diri. Karena usahanya masih sangat panjang untuk membuktikan dirinya bisa menjaga dan melindungi Jennifer dengan baik.


Keduanya kini sudah berada di Mansion, Jennifer yang mendengar suara mobil kekasihnya segera berlari keluar, cemas jika kakaknya itu memukuli Nico seperti sebelumnya.


"Kak Vie kemana saja?" Jennifer bertanya kepada sang kakak, tapi justru tangannya melingkar di lengan Nico.


"Kenapa kau memegang tangan Jennie Nic?!" Xavier menghardik.

__ADS_1


"Astaga bos, bukan aku tapi Jennie yang memegang tanganku." Semenjak hubungan mereka diresmikan Nico tidak lagi memanggil kekasih kecilnya dengan sebutan Nona Jennie, ia secara terang-terangan memanggil wanita itu Jennie atau My Queen di hadapan bos


"Ck, sama saja. Itu artinya kau menyentuhnya!" serunya kesal, memicing tajam pada tangan anak buahnya yang saling menggenggam dengan tangan sang adik.


Jennifer menatap jengah. "Kak, jangan berlebihan. Kami akan segera menikah, jadi tidak masalah jika kami berdua berpegangan seperti ini." Jennifer bahkan menunjukkan genggaman tangan mereka hingga kian membuat Xavier kesal.


"Lepas atau...."


"Hubby, kau sudah pulang. Kenapa tidak masuk mencariku." Elleana melingkarkan tangan di lengan Xavier, ia bergelayut manja lalu mengecup singkat bibir sang suami. Kemudian pandangannya beralih pada Nico. "Hai, Nic. Kau sudah sarapan?" Pertanyaan Elleana tentu saja membuat wanita itu mendapatkan lirikan tajam.


Apa maksud dari sang istri menanyakan pria lain sudah sarapan atau belum? batin Xavier.


"Belum Nyonya Bos." Nico mengulum senyum, ia nyaris saja tertawa karena raut wajah bos yang sudah terlihat kesal. Dan Jennifer dapat merasakan aura kecemburuan sang kakak.


"Kalau begitu biar Jennie yang menemanimu sarapan." Bahkan menawarkan sarapan saja harus seramah itu. Semakin murka saja Xavier mendapati sang istri yang begitu perhatian terhadap anak buahnya.


"Terima kasih Nyonya Bos."


Elleana tersenyum, lalu mendongak menatap sang suami. "Hubby berkeringat. Aku akan memandikan Hubby, bagaimana?" Dengan tidak tahu malunya mengatakan hal itu di hadapan Nico dan Jennie yang justru malu mendengarnya.


Glek


Godaan semacam ini, tentu Xavier tidak akan bisa menolaknya. "Baiklah Sweety, aku akan memuaskanmu." Dengan penuh semangat, Xavier membawa istrinya masuk ke dalam Mansion lalu berjalan menuju kamar mereka. Elleana menoleh kearah Jennifer, ia mengerlingkan satu matanya. Sebenarnya ia sudah mandi tapi untuk meredam rasa kesal sang suami, ia harus menggodanya.


Nico dan Jennifer memandang kepergian sepasang suami istri itu sembari terkekeh. Mereka tau jika itu hanya akal-akalan Elleana saja untuk membantu mereka meloloskan diri dari singa ganas.


***


"Will you marry me? Aku tidak butuh penolakan Babe!"


Ashley menatap kesal, lalu apa gunanya jawaban darinya jika pada akhirnya ia tetap tidak boleh menolak.


"Yes, I Will." Dan akhirnya Ashley menerima lamaran Daniel. Lagi pula Daniel sudah mempersiapkan pernikahan mereka.


"Pintar..." Daniel mengusap puncak kepala Ashley, kemudian mengecup bibir wanitanya itu. "Ikutlah denganku." Tangannya menarik pergelangan tangan Ashley.


"Heh, kemana?" Mengabaikan pertanyaan Ashley, Daniel langsung menggendong wanitanya itu. Ashley diam menurut, entah kemana Daniel akan membawanya. Mengalungkan kedua tangannya di leher Daniel, hingga alisnya berkerut lantaran Daniel menuntun langkahnya menuju kamar mereka.


"Kenapa membawaku ke kamar?" tanyanya pada saat Daniel baru saja menendang pintu kamar yang terbuka sedikit.


"Tentu saja untuk malam pertama sayang." Daniel menyeringai senyum mesum, lalu membaringkan tubuh Ashley di atas ranjang.


"Bukankah kita sudah sering melakukan malam pertama?" cicitnya malu-malu. Bahkan mereka melakukan hampir setiap malam.


"Iya, karena itu kita harus lebih sering melakukannya, minimal satu hari empat kali."


Penuturan Daniel yang tanpa di saring terlebih dahulu itu membuat bola mata Ashley membeliak penuh. "Kau benar-benar ingin menyiksaku..."


"Bukan menyiksa sayang, tapi memberikan kenikmatan." Daniel merangkak naik ke atas ranjang, lalu memberikan sentuhan-sentuhan kecil di bagian-bagian sensitif Ashley, hingga wanita itu mengeluarkan lenguhannya.


Daniel tersenyum, lalu tangannya mulai menyusup di balik pakaian tipis Ashley. Daniel memang tidak membiarkan wanita itu memakai pakaian lengkap, karena hanya berdua saja sehingga ia memberikan pakaian yang menerawang.


"Aahhh...." Entah kapan Daniel sudah menanggalkan tali yang menggantung pada kedua bahu Ashley hingga dress tipis itu tergelincir turun dan memperlihatkan dua aset menggiurkan yang kini sudah dimainkan oleh lidahnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya malam pertama untuk yang kesekian kalinya kembali terulang lagi dan lagi. Mereka melakukan penyatuan tubuh berulang kali setelah mendorong pelepasan masing-masing.


***


Di dalam kamar yang dipenuhi kelopak bunga, tidak kalah panas seperti Daniel dan Ashley. Keil juga tengah melakukan aktivitas panasnya dengan Emely, sudah lama ia tidak menyalurkan hasratnya karena mengingat kondisi Emely yang sedang hamil muda, ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayi mereka.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan Love," bisik Keil sensual dengan pandangan yang sudah berkabut gairah.


Emely mengangguk pelan, sudah lama ia tidak merasakan milik Keil yang besar itu. Dengan perlahan Keil menggesekkan miliknya, memberikan sengatan sebelum akhirnya memasuki milik Emely yang sempit itu.


"Ahhhh...." Emely mendesahh ketika milik Keil berhasil terbenam sempurna.


Dan Keil menghentakkan pinggulnya dengan berhati-hati, ia tidak ingin menyakiti janin yang dikandungnya istrinya itu karena guncangannya. Meskipun dengan hentakan yang lambat tapi mampu membuat Emely dan Keil mengerang nikmat, terlebih ketika milik Emely menjepit miliknya.


"Aah Love, kau benar-benar nikmat." Bahkan mata Keil yang terbuka tutup itu menandakan jika dirinya mendapat kenikmatan meskipun Emely dalam keadaan hamil.


"Ahh Keil, sudah aku tidak kuat lagi, aku i-ingin keluar." Keil tersenyum lalu menyambar bibir Emely pada saat wanita itu mencapai pelepasannya. Dan tak berselang lama, hentakan Keil membuat miliknya ingin mengeluarkan lahar panas, lantas Keil langsung mencabut miliknya dan menyemburkan cairannya diluar. Ia sudah mencari tau sebelumnya jika cairan kental itu dapat membahayakan janin yang bisa merangsang kontraksi. Sebab itu Keil tidak ingin menuruti napsunya, ia masih sangat bergairah meskipun tidak bercinta dengan gaya yang biasanya.


"Terima kasih Love," ucapnya mengecup kening Emely. Napas Emely terengah-engah, semenjak hamil ia memang mudah lelah, karena itu Keil selalu mengurungnya di kamar dan hanya boleh tidur saling memeluk saja. "Aku akan membantumu mandi, setelah itu kita tidur kembali."


Emely hanya mengiyakan saja, ia membiarkan Keil menggendong tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang, berjalan masuk ke kamar mandi lalu menurunkan di dalam bath up. Sikap Keil yang menjaga dirinya, benar-benar membuat Emely terharu dan merasa sangat beruntung bisa dicintai begitu dalam oleh Keil. Mereka tidak memiliki sanak keluarga, karena itu keduanya sepakat akan membangun keluarga kecil mereka sendiri.


"Terima kasih sayang." Panggilan sayang yang baru pertama kali disematkan oleh Emely membuat Keil tertegun sejenak.


"Kau barusan memanggilku apa?" Tiba-tiba saja Keil masuk ke dalam bath up hingga air yang sudah diisi olehnya berhamburan karena tekanan tubuhnya, padahal sejak tadi ia sibuk mengisi air hangat di bath up.


" Aku memanggilmu sayang, apa tidak boleh hm?" sahutnya menatap polos.


"Tentu saja boleh, Love." Keil menangkup wajah Emely, lalu mengecup seluruh wajah istrinya itu. Kebahagiaan berlipat-lipat ganda, Emely memberikan kebahagiaan lebih dari yang pernah ia bayangkan. Sosok anak yang bahkan tidak terlintas sedikitpun di benaknya, kehamilan Emely justru memberikan dampak yang positif, ia benar-benar menantikan bayinya lahir dan ia akan menjadi seorang Daddy.


To be continue


Bos Xavier dan Babang Nico



Babang Nico dan Jennie



Babang Keil dan Emely



Babang Daniel dan Ashley



...Baper gak? Baper-lah, masa enggak 😂😂...


...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2