
Begitu mendapatkan laporan dari anak buahnya tentang keberadaan Emely, tentu saja Keil tidak membuang waktu lagi untuk bergegas kesana. Dengan tergesa-gesa Keil keluar dari Markas dan masuk ke dalam mobil menuju Cafe Hollander. Ya, setelah dua hari tidak mendapatkan kabar mengenai wanita itu, akhirnya kini ia bisa bertemu dengan Emely.
Beberapa anak buah sudah mengekori mobil Keil dari belakang. Keil tidak peduli pada lampu lalu lintas, beberapa kali mobilnya terlihat menerobos lampu merah. Dan untuk mempersingkat waktu, Keil memacu kecepatan penuh, ia tidak ingin Emely pergi sebelum dirinya tiba disana.
Keil menepikan mobilnya dengan asal begitu tiba di parkiran mobil Cafe Hollander. Anak buahnya siaga mengikuti langkah bos mereka.
Salah satu waittress wanita di cafe itu menghampiri Keil. "Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Sejujurnya waittress itu terpana akan wajah tampan Keil.
"Ya, aku pesan privat room."
"Baik Tuan." Waittress wanita itu mengantarkan Keil dan kedua anak buah menuju private room. Beberapa waittress saling berbisik satu sama lain karena terpesona dengan ketampanan Keil. Sikap dingin Keil dan wajah menyeramkannya justru menjadi daya tarik pria itu.
"Silahkan, ini menunya Tuan." Dan waittress tersebut memberikan buku menu sesaat setelah Keil berhasil mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Pesankan saja menu terbaik di Cafe ini."
"Ada beberapa menu terbaik Tuan, apa tuan ingin-"
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu!" Keil memotong kalimat waittress itu lebih dulu, hingga membuat waittress itu memasang wajah yang pucat. Benar-benar pria yang dingin.
"Baik Tuan, koki kami akan menyajikan beberapa menu terbaik di cafe ini." Sebelum pergi waittress tersebut menunduk hormat dan terburu-buru pergi dari sana.
"Tunggu dulu." Namun langkahnya terpaksa berhenti karena Keil ternyata masih menahan waittress itu.
Waittress wanita tersebut memutarkan tubuhnya menghadap Keil kembali. "Apa ada lagi yang ingin Tuan pesan?"
"Siapa pemilik cafe disini?"
"Ehm, Nona Emely Tuan." Waittress itu ragu-ragu menjawabnya. Untuk apa menanyakan tentang atasannya?
Keil hanya mengangguk hingga membuat waittress wanita itu semakin dibuat bingung. "Kalau begitu kau boleh pergi."
"Baik Tuan." Buru-buru keluar dari ruangan private room. Berada satu ruangan dengan pria menyeramkan tetapi tampan itu membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Hingga menunggu selama 15 menit lamanya, pesanan Keil datang. Dua waittress wanita meletakkan beberapa menu di atas meja dan setelahnya mereka berpamitan.
"Tunggu dulu. Aku ingin kalian memanggil pemilik cafe ini." Langkah keduanya terhentikan karena perkataan Keil.
Kedua waittress itu saling pandang selama beberapa saat dan kembali menatap Keil. "Untuk apa Tuan?"
"Untuk apa kalian banyak bertanya. Panggilkan sekarang juga atau aku tidak akan membayar makanan ini."
Glek
Ancaman Keil mampu membuat mereka menelan saliva dengan susah payah. Terlebih lagi kedua pria menyeramkan lainnya tengah menatap mereka dengan tajam. Jika pria tampan tapi mengerikan itu tidak membayar pesanannya maka merekalah yang harus mengganti. Makanan yang dipesan tidaklah murah, bisa menghabiskan seluruh gaji mereka dan bisa saja kedua pria berpakaian hitam juga akan melakukan sesuatu kepada mereka.
"Baiklah Tuan, kami akan memanggilkan Nona Emely." Keduanya hanya pasrah dan kembali berpamitan keluar dari private room.
Sepeninggalnya mereka, Keil tersenyum menyeringai. Ya, jika ia tidak mengancam mereka akan sulit membawa Emely kepadanya.
Keil meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Kemudian menghubungi seseorang. "Daniel, aku ingin kau meretas CCTV yang berada di Cafe Hollander," serunya setelah panggilannya tersambung.
"Cafe Hollander?" Suara Daniel menyahut di seberang sana. "Apa yang ingin kau lakukan kepada Emely?"
"Menurutmu apa yang bisa aku lakukan?"
"Tentu saja kau pasti akan memaksanya, sehingga dia tidak memiliki pilihan lain." Rencana Keil sangat mudah ditebak oleh Daniel.
__ADS_1
"Benar...." Keil terkekeh dengan penuh rencana licik. Cara apapun akan ia lakukan untuk merebut wanitanya kembali.
"Baiklah, tapi tidak gratis."
"Ya, satu mobil sport untukmu, keparat!" Keil sudah menduga jika Daniel tidak akan membantu jika tidak menyuap sahabatnya itu.
"Haha dengan senang hati." Meskipun Daniel sudah memiliki beberapa mobil sport tetapi jika diberikan secara cuma-cuma ia tidak akan menolaknya.
Dan keduanya memutuskan sambungan telepon bersamaan. Mengeluarkan uang untuk sebuah mobil mahal bukanlah hal yang sulit, ia bisa mendapatkan uangnya lagi hanya dengan melancarkan satu misi Black Lion.
Keil menarik napas panjang, punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Hari ini juga ia harus mendapatkan pengakuan dari Emely. Jika tidak, ia tidak akan bisa menghukum Mia tanpa bukti apapun. Untuk saat ini ia memang masih membiarkan Mia bebas berkeliaran disisinya. Tetapi jika wanita itu terbukti bersalah, ia tidak akan segan-segan mematahkan kaki wanita itu.
***
Disisi lain, Emely yang baru saja masuk ke dalam ruangannya mendapati laporan jika ada tamu VIP yang ingin bertemu dengannya menjadi kesal. Karena pria itu mengancam tidak akan membayar pesanannya. Mau tidak mau Emely harus menemui pria itu sebelum membuat keributan di Cafe miliknya.
"Maaf Nona, kami tidak bisa melakukan apapun, karena mereka sangat menyeramkan." Kedua waittress wanita yang melayani Keil tertunduk merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, bukan salah kalian. Biar aku yang mengurus mereka." Emely menenangkan kedua karyawannya. Memang hal ini biasa terjadi, ada beberapa tamu yang memang bersikap kurang ajar dan semena-mena di cafe miliknya. Tetapi tidak pernah menemukan pelanggan yang tidak tahu malu seperti pria-pria yang kini ingin bertemu dengannya.
"Kalian siapkan satu ruangan untukku dan temanku makan siang bersama."
Keduanya mengangguk serentak. "Baik Nona."
Selepas memberikan perintah, Emely berjalan menuju ruangan private room VIP. Ia begitu penasaran siapa tamu yang tidak tahu malu itu. Kenapa ingin bertemu dengannya?
Begitu sudah berada di depan ruangan, Emely menarik napas panjang lalu membuangnya. Ia berharap tamunya itu tidak terlalu sulit untuk di hadapi. Tangannya memegang knop pintu lalu mendorong dengan perlahan. Pandangannya menyapu pada sekitar dimana dua sosok pria berpakaian hitam memandang ke arahnya begitu dirinya masuk sepenuhnya ke dalam sana.
Siapa mereka?
Emely belum menyadari keberadaan Keil karena pria itu memunggungi dirinya. "Aku tidak tau siapa kalian, tapi bisakah kalian tidak membuat kekacauan di cafe milikku?" Suara Emely membuat kedua pria itu saling menoleh.
Emely mengikuti arah pandang dua pria tersebut. Keningnya berkerut heran, karena postur tubuh pria yang sedang duduk memunggungi dirinya sangat familiar.
Emely berjalan mendekat, entah kenapa jantungnya berpacu dengan cepat. "Maaf Tuan, sebenarnya untuk apa Tuan ingin menemuiku?" Emely berharap jika dugaannya salah, ia berharap pria itu bukanlah Keil.
Keil tersenyum, suara Emely masih saja terdengar manis di indera pendengarannya. Kemudian Keil beranjak dari duduknya, ia memutar tubuhnya menghadap Emely hingga membuat kedua manik mata wanita itu membeliak.
"Ke-Keil?" Emely tidak dapat menutupi keterkejutannya. Ternyata benar dugaan dirinya, pria itu benar-benar Keil. "Kenapa kau datang kemari?"
Mendengar perkataan Emely yang seperti tidak mengharapkan kedatangannya membuat Keil berdecak. "Cafe ini bisa di datangi siapa saja, bukan? Apa aku tidak boleh datang kemari untuk makan siang?" Keil maju beberapa langkah, hingga Emely reflek memundurkan langkahnya.
"K-kau boleh saja datang kemari untuk makan, tapi untuk apa ingin bertemu denganku? Apa kau lupa jika aku sudah menikah." Sebisa mungkin Emely bersikap tenang, meskipun tubuhnya seperti ingin menghambur ke pelukan pria itu.
Keil tersenyum masam. Untuk apa Emely mengingatkan dirinya akan status wanita itu. Meskipun begitu tidak akan mengubah keputusannya untuk mendapatkan Emely kembali, sebagaimana pun wanita itu menolak dirinya.
Emely menelan salivanya, ekor matanya melirik ke arah dua pria bertubuh besar itu yang tengah menatap mereka dengan datar. Keil juga melirik ke arah dua anak buahnya tersebut.
"Kalian keluarlah dan berjaga di depan ruangan," perintah Keil yang langsung diangguki oleh kedua anak buahnya tesebut. Emely semakin dibuat tidak berkutik, bermaksud melirik karena tidak ingin kedua pria itu melakukan sesuatu kepadanya, akan tetapi justru sebaliknya, mereka membiarkan dirinya hanya berdua saja dengan Keil di dalam ruangan.
Keil melirik ke arah pintu sama seperti pandangan Emely berpusat, ia menarik sudut bibirnya, mengerti akan kekhawatiran wanitanya itu. "Kenapa? Bukankah sebelumnya kau begitu berani?"
"Ak-aku....." Keil mengulur tangannya ke wajah Emely, mengusapnya dengan penuh kelembutan. Emely dapat merasakan hangatnya telapak tangan Keil di wajahnya.
Keil semakin mengusapnya dengan lembut hingga tubuh yang gemetar menjadi rileks kembali. Keil hanya ingin Emely terbiasa lagi dengan sentuhannya. Entah apa yang terjadi dengan wanitanya itu sehingga selalu ketakutan jika berdekatan dengan dirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku....." lirih Keil kemudian, menatap dalam wajah Emely yang selama ini ia rindukan.
Tubuh Emely menegang, kenapa Keil meminta maaf padanya? Apa untuk kesalahannya di masa lalu?
"Untuk apa meminta maaf?" Jawaban Emely menghentikan pergerakan tangan Keil yang tengah menyusuri wajah Emely.
Keil menghela napas berat dan kemudian menarik Emely ke dalam pelukannya. "Untuk semuanya. Maafkan aku jika pernah menyakitimu, aku tidak tau apa yang membuatmu pergi saat itu." Semakin mendekap tubuh Emely dengan begitu erat, menghirup dalam aroma tubuh Emely yang selalu memabukkan dirinya.
Emely berada di situasi yang membuatnya merasa serba salah. Di satu sisi ia sudah menikah tetapi di sisi lain ia masih menyimpan perasaan terhadap Keil. Keil adalah satu-satunya pria yang menyentuh dirinya.
Tangan Emely terulur menyentuh punggung tegap Keil, sebelum kemudian membalas pelukan Keil. Emely membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang sebenarnya selalu ia rindukan.
Selama beberapa saat mereka saling melepaskan rindu melalui pelukan penuh perasaan. Biarlah untuk saat ini saja Emely mencurahkan hatinya kepada Keil, untuk kali ini saja. Karena setelahnya ia harus menjaga sikap, demi dirinya, demi seseorang yang selama ini berusaha ia lindungi.
Emely mendadak menjauhkan tubuhnya dengan mendorong tubuh Keil hingga membuat Keil terkesiap dan berangsur menjauh.
"Ada apa? Kenapa mendorongku?" Keil bingung akan sikap Emely, bukankah sebelumnya wanita itu sudah sedikit melunak?
"Sudah cukup Keil, aku sudah memaafkan semuanya yang kau lakukan di masa lalu, karena itu kau tidak perlu datang kemari lagi!" Emely berusaha membendung air matanya yang hendak tumpah. Sakit? Tentu saja ia sakit mengatakan hal demikian.
"Eme dengar...." Keil menjangkau tubuh Emely yang berusaha menjauhi dirinya. "Kau harus mengatakan yang sejujurnya, kenapa saat itu kau meninggalkanku. Jika malam itu aku melakukannya denganmu, tolong kau maafkan diriku. Aku benar-benar tidak sadar apa yang aku lakukan malam itu."
Emely berhenti memberontak ketika mendengar perkataan Keil. "Apa maksudmu?"
Melihat Emely sudah tenang kembali, Keil kembali berjala mendekat. "Aku sedikit mengingat kejadian malam itu, aku mamaksamu untuk melakukannya denganku padahal saat itu kau sudah menolakku."
Emely terkesiap, jadi Keil sudah mengingat semua yang terjadi malam itu? Namun semuanya tidak berarti apa-apa lagi untuknya karena semuanya sudah terlambat. "Lupakan saja, aku melakukannya denganmu sebagai hadiah perpisahan kita, karena itu kau sudah mendapatkan tubuhku dan kau bisa melakukannya juga dengan wanita lain, jadi kau tidak perlu menemuiku lagi."
"Apa yang kau katakan, Eme. Aku tidak menginginkan wanita lain selain dirimu!" Suara Keil meninggi, ia mendadak tersulut emosi.
"Lepaskan!" Emely berupaya menepis tangan Keil yang tengah mencengkram tangannya.
Cengkraman tangan Keil terlepas dan kemudian pria itu menahan kedua bahu Emely. "Aku tidak akan melepaskanmu! Tidak akan pernah lagi. Kau boleh marah denganku tapi jangan mengusirku!"
"Jangan bodoh. Aku sudah menikah!" bentak Emely dengan napas yang kian sesak, menahan air matanya.
Emosi Keil semakin tidak terkontrol, darahnya selalu mendidih jika Emely selalu mengungkit akan pernikahannya yang sangat mengganggu dirinya. Tidak peduli, apapun yang terjadi Emely tetaplah miliknya.
Keil merengkuh tengkuk leher Emely dan tanpa permisi membenamkan ciuman di bibir wanita itu. Kedua mata Emely membeliak tidak percaya, ia memukul dada bidang Keil berulang kali, berharap Keil dapat melepaskan dirinya. Namun yang dilakukan Keil justru semakin membenamkan ciumannya dan memperdalam ciuman itu untuk menuntut balasan. Akan tetapi Emely yang tidak ingin terbuai hanya diam saja tanpa membalas ciuman Keil.
Air matanya mendadak mengalir deras. Kali ini ia membiarkan air matanya lolos begitu saja. Keil merasakan sesuatu yang basah mengenai bibirnya, ia menyadari jika Emely menangis. Dengan tidak melepaskan tautan mereka, ibu jari Keil menyeka air mata Emely. Sungguh perlakuan Keil terhadap dirinya seketika meluluhkan hatinya, tidak dapat dipungkiri jika Emely menginginkan ciuman itu.
Dan pada akhirnya Emely membalas ciuman Keil, hingga membuat Keil tersenyum di sela ciuman mereka. Tangan Keil yang bebas, menarik pinggul Emely agar tidak ada jarak di antara mereka.
Kini keduanya saling meluapkan perasaan rindu yang sudah lama terpendam. Berharap rasa rindu itu melebur menjadi satu, berharap waktu berhenti agar mereka bisa lebih lama bersama.
.
.
To be continue
.
.
Apa yang kalian lakukan kalau ada di posisi Emely? Yoona mah mau aja klo pebinor nya kaya babang Keil wkwk ðŸ¤ðŸ˜‚
__ADS_1
Like, vote dan komentar kalian ya... yang belum follow, yuk follow 💕
Follow juga ya Instagram Yoona : @rantyyoona