
Sejak hari itu, Jennifer dengan Billy semakin dekat, bahkan mereka diam-diam saling bertemu. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bersama di saat jam makan siang di Cafe Hollander milik Emely. Status hubungan Jennifer dengan Billy pun sudah diketahui oleh Emely, wanita cantik itu akan mendukung apapun keputusan Jennifer, karena belakangan ini Jennifer semakin terbuka pada dirinya dan menceritakan akan kegelisahan yang melanda Jennifer. Emely baru mengetahui jika Jennifer menyembunyikan hubungannya dengan kekasihnya itu dari kakak serta keluarganya.
Hubungan Emely dengan Keil semakin dipenuhi kemesraan, menambah kesenangan di hati Keil karena bisa selalu bersama dengan Emely walaupun harus mengelabui beberapa anak buah dari Jonas. Keil memang masih belum menemukan identitas Jonas yang sebenarnya, tetapi ia menyakini jika Jonas bukan pria biasa. Tidak berbeda jauh dengan Daniel, nampaknya giliran Daniel yang kini selalu menyombongkan diri kepada dua sahabatnya, karena ia juga memiliki Ashley wanita cantik dan polos yang menjadi pemuas napsunya di ranjang. Sementara Nico dan Keil harus bisa menahan hasrat mereka saat berdekatan dengan wanita mereka. Terutama Nico, pria itu yang paling tersiksa, jangankan berciuman bahkan ia tidak bisa menggandengnya tangan Jennifer sembarangan, bisa saja dirinya di anggap sebagai pria kurang ajar. No, Nico tidak siap jika Jennifer memblokir dirinya.
"Kenapa kau berada disini?" Setelah berhasil membenamkan tubuhnya di atas sofa, Keil melayangkan pertanyaan kepada Nico. Karena tidak biasanya sahabatnya itu berdiam diri di Markas dan tidak menempel dengan Nona Jennie.
"Dia sedang bersama dengan kekasihnya." Entah perasaan Keil saja atau Nico memang terlihat seolah tidak peduli akan Jennifer yang sedang bersama kekasihnya. Padahal biasanya Nico selalu seperti cacing kepanasan jika mendapati kabar Jennifer bersama dengan pria itu.
Kening Keil terlihat semakin berkerut dalam ketika ia tidak bisa menembus isi otak Nico. Pasti ada yang direncanakan oleh sahabatnya itu, pikirnya. "Sepertinya kau sudah merencanakan sesuatu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik, mencari sesuatu yang mungkin bisa terbaca olehnya.
Nico mengangkat kedua bahunya, hingga menambah rasa penasaran Keil. "Sialan. Kau benar-benar membuatku penasaran." Keil mendengkus kesal.
Wajah Keil yang kesal itu membuat Nico terkekeh. Rencana? Apa terbaca begitu terlihat di raut wajahnya? Ternyata ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Keil maupun dari Daniel. "Kau akan melihat pertunjukan yang menarik." Sambil menyunggingkan senyum.
"Apa yang menarik?" Tiba-tiba saja sebuah suara memenuhi ruangan disana, mengalihkan perhatian Keil dan Nico yang kini tertuju pada Daniel.
"Rahasia!!" sahut Nico dan Keil bersamaan. Ya, keduanya masih kesal karena Daniel kini sering mengejek mereka, karena kalah telak tidak bisa bercinta dengan wanita-wanita mereka.
Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ck, sepertinya mereka berdua masih kesal padaku." Menerka dalam hati.
***
Matahari sudah semakin meninggi, menyinari seisi Kota London dengan sinar teriknya yang cukup menyengat. Jika sebagian penduduk kota di sibukkan dengan pekerjaan masing-masing, tidak dengan Jennifer yang memang tidak bekerja untuk hari ini. Karena hari ini bertepatan dengan hari jadi dirinya dengan Billy, tidak terasa waktu kian berlalu, hubungan dirinya dengan kekasihnya itu sudah berjalan satu tahun, berarti sudah setengah tahun juga Nico menjaga dirinya.
Wanita itu nampak terlihat sedikit lesu setelah menghabiskan waktu berjalan-jalan bersama dengan Billy menikmati kebersamaan mereka, menjelajahi wisata terkenal di salah Kota London, Primrose hill. Hingga mereka tidak sadar jika mereka sudah menghabiskan waktu di taman tersebut selama tiga jam. Jennifer mengakui jika bersama Billy dirinya merasa nyaman tetapi entah kenapa masih ada yang kurang dan mengganjal di hatinya. Tidak ingin berpikir berlebihan, Jennifer menepis segala sesuatu yang mengganggu dirinya, ia tidak ingin momen bersama dengan Billy teralihkan. Terlebih lagi sulit bagi mereka untuk bertemu. Jennifer mendingak, menatap lembut kekasihnya. Billy selalu memperlakukan dirinya dengan baik, bahkan saat ini pria itu selalu menggandeng tangan Jennifer dengan posesif.
Benar, pikirkan Billy saja, Jenn. Dia kekasihmu. Jangan pikirkan yang lain.
Jennifer terus berperang dengan hati dan juga pikirannya. Entah kenapa saat ini ia teringat akan Nico, sudah dua hari ini pria itu tidak menempel padanya dan seperti mengindari dirinya.
"Ada apa?" Billy mengguncang telapak tangan Jennifer yang masih ia genggam dengan begitu erat, hingga membuat wanita cantik itu tersentak dan menoleh.
Jennifer tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Mungkin sedikit lelah." Entah, ia sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.
Meskipun tidak mengerti apa yang sebenarnya dirasakan oleh Jennifer, pria itu menganguk. "Kalau begitu kita beristirahat. Apa kau lapar?" tanyanya dengan tidak melepaskan tautan jemari mereka.
Jennifer menjawab dengan anggukan kepala. Berkeliling mengitari taman yang luas itu, memang menguras tenaganya. Akhirnya mereka memutuskan makan mengisi energi mereka kembali. Sesekali percakapan kecil mengisi kegiatan makan mereka, hingga satu jam lamanya keduanya menyelesaikan makanan mereka dan kembali menjelajahi tempat yang lain, seperti South Bank.
Jennifer tampak senang karena ia bisa melupakan sejenak rasa penat karena pekerjaannya. Belakangan ini dirinya memang selalu sibuk, hingga terkadang membuat kedua orang tuanya mencemaskan kesehatan dirinya. Tetapi akhirnya wanita mungil dan cantik itu berhasil menyakinkan kedua orang tuanya, bahwa dirinya akan selalu menjaga kesehatan dan tidak melupakan jam makan siang.
Wajah bahagia terlukis di wajah Billy, sejak tadi pria itu tidak hentinya mengembangkan senyuman. Melihat keceriaan dan senyuman kekasihnya membuat hatinya menghangat. Kapan lagi ia bisa melihat dengan begitu dekat seperti saat ini. Billy yang semula tidak begitu yakin bisa meraih wanita di hadapannya itu, sempat menyerah dan menepis perasaannya. Namun takdir berkata lain ketika mereka kembali dipertemukan, wanita itu sudah menjabat menjadi direktur di perusahaan yang menaungi dirinya. Pertemuan itu kembali mengingatkan akan perasaanya, banyak yang berubah di dalam diri Jennifer, salah satunya sifat Jennifer yang menjadi lebih dewasa setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Matahari mulai tenggelam, semburat jingga menyembul malu-malu di langit luas. Pasangan kekasih kini saling meluapkan rasa kasih sayang, Billy mengecup cukup lama kening Jennifer, dan beralih menatap bibir ranum Jennifer yang selama ini belum terjamah oleh bibirnya. Billy memberanikan diri mendekatkan wajahnya dengan wajah Jennifer, sebelum kemudian membenamkan ciuman di bibir kekasihnya itu. Diluar dugaan, Jennifer membalas ciumannya, ia sempat berpikir jika Jennifer akan menolak dan mendorong dirinya tetapi justru membalasnya, tentu saja membuat Billy senang bukan main.
Mereka beciuman di bawah semburat jingga yang nyaris memenuhi langit dengan kicauan burung-burung yang berterbangan kesana kemari.
Dan kini malam telah menyambut mereka. Billy dan Jennifer saling menautkan jemari mereka, membelah keramaian di sana. Benar-benar terlihat ksebagai sepasang kekasih yang sangat cocok. Keduanya tampan dan cantik, setiap orang yang melewati mereka tidak menyadari Billy adalah seorang model.
Billy melepaskan tautan tangan mereka terlebih dahulu. Ia memutar tubuhnya menghadap Jennifer.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Jennifer disertai senyuman.
"Apa kau percaya padaku?" Kening Jennifer berkerut mendengar pertanyaan Billy, dan meskipun bingung Jennifer mengangguk.
"Lalu bagaimana jika aku melakukan kesalahan?" Sorot mata Billy terdengar serius dan menatap dalam manik mata Jennifer.
"Sebenarnya kau ingin mengatakan apa?" Jennifer semakin dibuat bingung sekaligus penasaran.
"Aku-"
"Billy?"
Suara lembut seorang wanita yang memanggil nama Billy, menghentikan kalimat yang akan diucapkan oleh pria itu. Mendadak Billy menjadi gusar, keberaniannya yang sejak tadi ia kumpulkan lenyap begitu saja. Kenapa Clarisa berada disini? Apa dia mengikutiku? batinnya. Ya, wanita yang menghampiri mereka berdua adalah Clarisa.
"Ternyata dugaanku benar, kau bersama Nona Jennie." Clarisa tersenyum getir, ia melirik singkat ke arah Jennifer, sebelum akhirnya manik matanya berpusat kembali pada Billy.
"Jennie kekasihku Clarisa, wajar saja aku bersamanya." Billy berusaha untuk bersikap tenang, sementara tatapan Jennifer penuh selidik pada keduanya.
"Yang dikatakan Billy benar, kami sepasang kekasih. Apa ada masalah Nona Clarisa?" Jennifer menantang Clarisa, menunjukkan dirinya yang sebagai kekasih Billy. Selama ini Jennifer memang tidak melakukan apapun ketika wanita itu selalu menempel di sisi kekasihnya.
Clarisa mendecakan lidah. "Apa Nona Jennie tau jika aku dan Billy-"
"Clarisa, ikut denganku!" Sebelum wanita itu melanjutkan kalimatnya, Billy lebih dulu menarik pergelangan tangan Clarisa dan menjauhi Jennifer yang mematung di tempatnya.
Kenapa Billy menjauhiku?
Jennifer meneliti wajah kekasihnya serta Clarisa, mencoba mendengarkan percakapan mereka yang sebenarnya tidak terjangkau oleh pendengarannya.
"Aku ingin kau putuskan Nona Jennie. Bukankah kita berdua sudah tidur bersama, kita bercinta pada malam itu. Lalu kenapa kau masih ingin bersamanya setelah puas bermain dengan tubuhku?"
"Clarisa kecilkan suaramu!" bentak Billy. Ia yakin jika Clarisa sengaja berbicara dengan keras agar Jennifer mendengar percakapan mereka. Untung saja hanya ada mereka bertiga disana.
"Apa benar yang dibicarakan Clarisa?" Benar saja Jennifer sudah berdiri di antara keduanya dengan tatapan tajam dan menuntut penjelasan.
"Sayang, dengarkan penjelasanku...."
"Apa benar yang dia katakan?" Sekali lagi Jennifer bertanya, kali ini penuh dengan penekanan.
"Aku bisa jelaskan...." Billy mencoba merengkuh tangan Jennifer, tetapi wanita itu menepisnya dengan kasar.
"BENAR ATAU TIDAK? JAWAB!!!" Untuk pertama kalinya Billy melihat Jennifer diliputi amarah seperti itu. Bahkan Clarisa juga sempat tersentak, wanita lembut dan cantik itu mendadak menjadi menyeramkan.
Pias sudah wajah Billy, memang tidak ada pilihan lain selain mengakuinya. Billy mengangguk lemah tanda membenarkan. "I-iyaa....."
Plak
Sebuah tamparan mendarat di wajah Billy, cukup keras seolah rasa sakit mengumpul bersama tamparan itu. "Apa kau selama ini senang melihatku di bodohi seperti ini olehmu?"
"Tidak...." Billy menggeleng. "Jennie, aku tidak pernah berniat membodohimu...." Dirinya mencoba menjelaskan. Kenapa rasanya begitu sakit, bukankah ini memang yang diinginkan, melepaskan kekasihnya. "Maafkan aku.... Saat itu aku mabuk dan tidak bisa menahan diriku. Aku baru memiliki keberanian dan ingin mengatakan semuanya tetapi Clarisa lebih dulu datang dan menghentikan ucapanku....." Baru kali ini Billy terlihat menyedihkan, bahkan sudut bibirnya sudah basah dengan air mata. Billy kembali mencoba meraih tangan Jennifer.
__ADS_1
"Jangan sentuh aku!" Rasanya Jennifer mendadak benci akan sentuhan Billy. Ia memejamkan kedua matanya singkat, menahan rasa sakit di rongga dadanya.
"Jennie, maafkan aku sudah menyakitimu tetapi aku benar-benar mencintaimu. Aku bodoh karena tidak bisa mengendalikan diriku dan tergoda saat Clarisa menggodaku. Tapi sungguh hanya kau wanita yang aku cintai."
"Billy!" Kali ini Clarisa membuka suara, sejak tadi ia menyaksikan berdebatan sepasang kekasih itu. Ia tersenyum senang dalam hati, namun ia sungguh terganggu akan ucapan Billy jika hanya Nona Jennie yang pria itu cintai.
Billy tidak peduli akan Clarisa, menatap pun tidak. "Jennie......" Saat ini ia hanya ingin memanggil nama kekasihnya itu.
Jennifer terdiam, kedua mata dan hatinya benar-benar terasa panas. Ia kemudian menatap Clarisa dan Billy secara bergantian, ia menarik napas dalam. "Billy, hubungan kita berakhir sampai disini."
Deg
Meskipun sudah menyiapkan hati dan sudah tahu bahwa hubungan mereka akan berakhir, tetap saja terasa begitu menyakitkan. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir Billy hingga membuat Jennifer menatap Billy. Pria itu terlihat pasrah dan menerima keputusan Jennifer.
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku...." sambungnya kemudian sambil berlalu pergi meninggalkan Billy.
"Billy....." Clarisa berjalan mendekati Billy.
"Pergi atau aku akan membunuhmu, Clarisa!" Tidak ada gunanya bersikap baik kepada Clarisa, sumber masalah dirinya karena wanita itu.
Clarisa tidak berani melanjutkan langkahnya, perkataan Billy entah kenapa membuatnya takut. Akhirnya Clarisa pergi dari sana, yang penting ia sudah memastikannya sendiri jika hubungan pria yang ia cintai dengan Nona Jennie sudah berakhir.
Pandangan Billy masih menatap lekat sosok punggung kekasihnya yang semakin menjauh itu. Setidaknya untuk terakhir kalinya ia mengaggap Jennie masih kekasihnya. Kedua mata Billy perlahan terpejam disertai hembusan napasnya yang terbuang kasar.
Ya, ini adalah pilihannya. Tetapi entah kenapa ia tidak rela melepaskan Jennifer. Mereka baru saja bahagia bersama, bahkan untuk pertama kalinya Billy merasakan bibir wanita itu.
"Ciuman itu adalah hadiah darimu untukku...." Billy kemudian menepuk-nepuk dadanya yang kian sesak. Kilasan saat mereka mengabiskan waktu di primrose hill dan south bank menari-nari di otaknya, ia masih ingat senyuman indah Jennifer untuknya, bahkan ciuman mereka masih terasa sangat panas di bibirnya.
Jennie.... I'm sorry if finally I hurt you. I did everything for you to stay, but I choice the option to let you go.
Jennie.... Maaf jika akhirnya aku menyakitimu. Aku melakukan segalanya agar kau tetap tinggal, tetapi aku memilih pilihan untuk melepaskanmu.
"Apa kau menyesalinya?"
Billy menyeka sudut matanya yang basah, ia membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara.
"Kau....." Billy nampak geram akan kehadiran pria itu. Pria yang mengancam dirinya untuk melepaskan Jennifer.
.
.
To be continue
.
.
Pasti kalian bersorak seneng kan 😂😂
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar kalian 💕 btw yang berkenan, kalian bisa promosikan karya-karya Yoona ya di FB maupun sosial media lainnya. Terima kasih 🤗