
Di ruangan berbeda yang tidak kalah panas, suara lenguhan saling bersahutan juga menggema di dalam sana, rasa panas menjalar hingga ke tubuh mereka. Dari satu jam yang lalu, pasangan pengantin baru itu tengah bercinta untuk yang kesekian kalinya di dalam kamar mandi. Benda-benda di dalam sana menjadi saksi biksu pergulatan panas sepasang pengantin baru yang sudah sering melakukan penyatuan. Seolah tiada puasnya, mereka melakukannya hingga tiga kali, namun dengan berhati-hati mengingat istrinya sedang mengandung.
"Aahhh Keil... huummpphh aku...." Suara Emely tertahan lantaran kenikmatan itu lebih mendominasi. Benda tumpul yang menerobos intinya dari bagian belakang sungguh memberikan sensasi yang berbeda.
Ya, Keil memompa tubuh istrinya dengan ritme yang tidak terlalu cepat tapi juga tidak terlalu lambat, tangannya yang meremass satu buah dada Emely membuat gairah wanita itu bertambah.
"Aahhh Love.... aku mencintaimu...." Keil menambah kecepatan pinggulnya saat ia nyaris diujung pelepasan, hingga seperkian detik miliknya yang besar itu berdenyut dan dengan terpaksa mencabutnya bersamaan dengan cairan kental yang menyembur di sebagian punggung Emely.
Keil mengecup puncak kepala Emely, lalu menuntun istrinya menghadap dirinya. "Apa kau lelah, Love?" Sembari membelai lembut wajah istrinya itu.
Emely masih mengatur napas yang naik turun, lalu mengangguk pelan. Memang disaat ia sedang hamil itu sangat sulit mengimbangi napsu suaminya.
Keil tersenyum, tetapi terselip rasa bersalah karena ia tidak bisa menahan hasratnya sehingga menggempur sang istri hingga tiga kali. "Maaf, seharusnya aku bisa menahannya."
Emely menggeleng cepat. "Tidak apa-apa. Aku senang bisa melayani suamiku." Emely menangkup rahang Keil.
"Baiklah, kita mandi lalu beristirahat." Dan Emely mengangguki perkataan Keil. Mereka saling membantu membersihkan diri tanpa ada kegiatan panas yang terulang. Keil tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya, sehingga ia lebih baik menahan hasratnya yang tidak ada habisnya itu.
***
Sementara di ruangan Presidential Suit lainnya, sepasang pengantin baru saling membelitkan lidah, menempelkan tubuh satu sama lain seolah keduanya saling menginginkan. Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak bisa menahan gejolak hasratnya ketika melihat tubuh Ashley yang hanya dilapisi handuk tipis itu, sehingga ia langsung menghimpit istrinya ke dinding. Tangan Daniel sudah meraba bagian sensitif sang istri hingga Ashley dibuat mengerang untuk kesekian kalinya.
"Aaagghhh..... Daniel....." Dengan napas yang memburu, Ashley menahan tubuhnya yang menegang hebat akan hentakan jari Daniel yang menerobos masuk hingga beberapa menit bermain di bawah sana, Daniel menarik jemarinya, lalu mengangkat satu kaki Ashley ke pinggangnya.
Daniel kemudian melepaskan handuk yang melilit di pinggang membiarkan handuk itu teronggok di lantai. Miliknya yang besar sudah siap menerobos sarang yang menggiurkan.
"Aaahhhhh...." Keduanya mendesahh ketika milik Daniel tenggelam sempurna di dalam sana. Rasanya masih tetap sama sempit dan menggigit.
Hentakan pinggul yang semula pelan kini Daniel memompanya dengan sangat liar. Tangannya meremass dada istrinya yang naik turun, lalu melahap secara bergilir.
"Aaahhhhhh...uhhhhh...." Ashley mendesahh ketika Daniel memilin puncuk sensitif dadanya. Bagian atas dan bawahnya benar-benar diporak-porandakan oleh suaminya yang sangat bergairah itu.
"Panggil aku sayang...." Suara Daniel yang serak itu kian membuat Ashley melambung tinggi.
"Da...Daniel.... ahhhh... sa..yaaang....." Ashley tidak bisa menahan kenikmatan yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata. Ia meremat kedua bahu suaminya yang kekar ketika tempo hentakan itu semakin cepat.
Dan aaahhh...... mereka mencapai melepaskannya bersama-sama. Daniel menumpahkan cairannya di dalam sana, ia menyambar bibir istrinya dengan rakus.
Ternyata permainan Daniel tidak berakhir begitu saja. Pria itu menggendong Ashley setelah melepaskan ciuman mereka, membawa tubuh sang istri yang polos tanpa sehelai benang ke dalam kamar mandi, dan selanjutnya mereka bercinta di dalam sana. Daniel akan menggempur sang istri hingga pagi, tentunya dengan gaya fantasi liarnya.
***
Sang fajar mulai menyingsing, cahayanya menyebar dan memecah di langit. Menghangatkan siapa saja yang sudah terpapar akan sinarnya. Membias masuk melalui jendela dengan tirai yang terbuka dengan lebar. Nico mengerjapkan matanya, menggerakkan jemari tangannya yang terasa sedikit kebas. Perlahan membuka mata dan di suguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Nico tidak pernah menduga jika ia bisa memiliki Jeniffer seutuhnya. Wajah dan sudut bibir Nico yang melengkung sempurna cukup mewakili kebahagiaan pria itu.
__ADS_1
Nico tidak peduli dengan tangan yang dijadikan bantalan oleh istrinya, ia bisa melihat wajah cantik istrinya itu sangat lekat. Mata, hidung mancung, bibir yang mungil, benar-benar sempurna melekat di wajah cantik sang istri. Tangan Nico yang bebas tidak tahan hanya diam saja, sehingga ia menggapai wajah istrinya yang masih damai menyelam alam mimpi.
Tangan Nico menyusuri wajah Jennifer, pelan dan lembut, namun sentuhannya itu membangunkan Jennifer. Istrinya nampak melenguh pelan, hingga berusaha mengerjap dan perlahan kelopak matanya terpisah. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah suaminya yang tampan dengan pahatan senyum khas milik suaminya.
"Selamat pagi My Queen," sapa Nico dengan senyum yang kian mengembang.
Semula Jennifer nampak membolakan matanya, namun kesadarannya kembali menguasai, kini ia sudah menjadi seorang istri dan tadi malam mereka melakukan malam pertama yang panas.
"Pa-pagi...." jawabnya gugup. Sebelumnya Jennifer sudah biasa melihat wajah tampan Nico, tapi sungguh ini adalah kali pertama ia melihat wajah suami raksasanya saat baru bangun tidur. Wajah tampan sempurna tanpa cacat, bulu-bulu halus yang tumbuh di rahang suaminya itu menambah nilai plus.
"Ada apa, hm? Apa Nona-ku ini terpesona dengan ketampanan suamimu?" Nico tersenyum, ia mencubit gemas hidung sang istri.
"Suamiku memang tampan." Sembari menyematkan senyuman dan itu di luar dugaan Nico, ia pikir Jennifer akan menyangkal dengan malu, tapi justru berkata dengan berani.
"Menggodaku lagi?" Sepertinya perkataan sederhana itu mulai memancing hasrat Nico, ia mengikis jarak dan merapatkan tubuhnya pada istrinya.
Kening Jennifer berkerut bingung. "Aku tidak pernah menggodamu. Justru kau yang menggodaku." Jennifer mencebikkan bibirnya, selama ini dirinya tidak pernah menggoda dan justru ia yang selalu digoda suami raksasanya itu.
Nico terkekeh, yang dikatakan istrinya memang benar. "Semua yang ada pada dirimu selalu menggoda sayang, bahkan bibirmu ini sangat menggoda." Nico mengecup singkat bibir Jennifer yang sedikit maju ke depan. Tidak lupa tangan Nico yang mendekap tubuh mungil itu, tetapi tangan yang lainnya justru menjalar ke bagian yang kini menjadi favoritnya.
"Aaahhh Nico....." Dan berhasil membuat Jennifer mendesahh.
"Kenapa sayang, hm?" Nico memamerkan deretan giginya yang putih seolah ia tidak melakukan apapun.
"Hentikan tanganmu di bawah sana." Bahkan Jennifer menahan desahaannya agar tidak lolos.
"Jecky?" ulangnya dengan kening yang berkerut. "Siapa Jecky?"
"Ini sayang." Dan Nico mengarahkan telapak tangan sang istri pada senjata miliknya yang sudah berdiri dengan gagah.
"Astaga, mesum..." Sontak Jennifer menarik tangannya, ia begitu terkejut karena ternyata milik suaminya kembali on fire.
Nico terkekeh-kekeh, kemudian membenamkan wajah di antara dua gundukan istrinya yang tidak terhalang kain apapun.
"Nic hentikan, aku ingin mandi." Tubuh Jennifer meringsut kegelian. Terlebih ketika Nico mengulum puncuk sensitifnya.
"Sebentar sayang, aku haus." Kepala Nico mendongak menatap wajah istrinya tanpa melepaskan bibir dari dua dada yang ia hisap secara bergantian bagaikan bayi besar yang kehausan.
"Minum air putih bukan minum.... aahhh Nic...." Kalimat Jennifer terputus lantaran Nico semakin kuat menghisap dadanya, bahkan suaminya itu kembali memberikan tanda merah di sisi puncuk sensitifnya.
Dan pagi ini Nico kembali melancarkan serangan, ia memberikan sengatan-sengatan kecil sebelum akhirnya melakukan penyatuan tubuh. Dan sengatan kecil itu mampu membuat rubuh Jennifer menggelinjang hebat didampingi oleh desahann yang kian membuat Nico bergairah. Nico benar-benar kecanduan akan tubuh istrinya yang memberikan kenikmatan tiada tara, sehingga pagi ini ia menerjang istrinya hingga dua kali.
***
Selepas pergulatan di pagi hari yang panas, Jennifer dan Nico sudah berpakaian lengkap. Mereka bersiap untuk turun ke bawah, karena sudah terlalu lama membuat keluarga mereka menunggu untuk sarapan bersama. Hingga keduanya berjalan menuju lift dengan Nico merangkul pinggul istrinya, namun langkah mereka terhenti karena berpapasan dengan sepasang suami istri yang juga baru keluar dari dalam kamar Presidential Suit.
__ADS_1
"Kalian baru keluar?" tanya Nico dan Jennifer bersamaan.
Kedua pasangan itu hanya tersenyum. "Iya. Aku dan Emely melanjutkan bercinta sampai-"
"Keil!!!" Emely memprotes, ia buru-buru membekap mulut suaminya itu. Malu jika Nico dan Jennifer sampai mendengar kalimat selanjutnya.
Nico dan Jennifer saling melemparkan pandangan dan kemudian mengulas senyum. Keduanya mengerti karena mereka pun bercinta hingga melupakan waktu.
"Kalau begitu kita harus cepat. Aku yakin bos akan kesal menunggu kita," ujar Keil mengingatkan.
"Baiklah...." Nico mengangguk.
Dan pada saat keempatnya berjalan beriringan, langkah mereka kembali terhentikan ketika dua sosok pasangan suami istri lainnya nampak baru keluar dari kamar.
"Kalian berdua??" Keil dan Nico terperangah mendapati Daniel dan Ashley yang juga baru keluar dari kamar dan sudah pasti mereka juga bercinta hingga lupa waktu.
"Hahaha kalian pasti juga sama sepertiku." Daniel tidak bisa menahan gelak tawanya. Ternyata bukan dirinya saja yang terlambat turun ke bawah, dua sahabatnya itu juga terlambat dan sudah pasti mereka akan terkena amukan bos.
"Jangan banyak bicara. Cepat kita turun!" Keil yang jengah menarik kerah pakaian Daniel hingga tubuh pria itu mengikuti gerak langkah Keil. Ashley mengekor di belakang Daniel dan Keil bersama dengan Emely, sementara Nico tetap berjalan santai tanpa melepaskan rangkulan tangannya di pinggul istrinya.
Dan pada saat mereka sudah berada di restauran, tatapan mata tajam bos menghunus tajam ke arah mereka secara bergantian.
"Sorry bos, kami terlambat," ujar Keil.
"Kalian membuatku lama menunggu!" Suara Xavier dingin tidak bersahabat.
"Sorry bos, kami pengantin baru jadi sudah sewajarnya terlambat hehe." Daniel memasang wajah tidak bersalah dan tersenyum dengan lebar.
Jennifer memamerkan deretan giginya pada saat bersitatap dengan sang kakak. Berbeda dengan Emely dan Ashley yang tersenyum canggung.
Xavier dibuat jengah oleh ketiga anak buahnya itu. Sayangnya di sampingnya ada sang istri yang bergelayut di lengannya untuk menetralkan kekesalannya. Xavier kemudian menarik napas dalam, ia sudah berjanji pada Elleana untuk tidak memarahi ketiga anak buahnya itu. Tangan Xavier terulur memberikan sesuatu di atas meja.
"Tiket honeymoon untuk kalian. Setelah ini kalian bisa pergi kesana." Hanya memberikan penjelasan singkat akan raut wajah mereka yang penuh tanda tanya. Sebelum kemudian Xavier beranjak dari tempat duduknya. "Ayo Sweety...." ajaknya pada sang istri.
"Kalian sarapan terlebih dulu, kami sudah selesai dari satu jam yang lalu." Dan perkataan Elleana membuat mereka menjadi merasa bersalah, tetapi tidak dengan Jennifer yang nampak biasa saja. "Makan yang banyak Jenn, tenagamu pasti terkuras habis," imbuhnya kemudian menggoda adik iparnya itu hingga membuat Jennifer merona malu.
Xavier merangkul pundak Elleana, membawa istrinya itu untuk pergi dari sana. Dan selepas kepergian bos dan nyonya bos, Nico, Keil serta Daniel menyambar tiket honeymoon mereka bergantian.
"Santorini???!!" seru ketiganya serentak.
See you next bonus chapter
...Yang masih berkenan bisa like, vote dan jangan lupa komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1