Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Membuang waktu dan tenaga


__ADS_3

Keil mengatur emosinya. Rahangnya yang sempat mengeras perlahan melunak, di tatapnya wajah sendu wanita tua di hadapannya. Jonas benar-benar keterlaluan, saat itu dia berani melukai Emely dan hari ini bajingan itu telah melukai ibu dari kekasihnya.


"Sebaiknya kau tenang dulu, aku akan membawamu pada putrimu." Wanita tua itu mengangguk lemah, ia tidak lagi histeris seperti sebelumnya. Perkataan Keil yang lembut sedikit memberikan kelegaan di hatinya. Ternyata masih ada seseorang yang mau menyelamatkannya dari pria bajingan yang mengaku-ngaku sebagai menantunya itu.


Di saat Keil menatap lurus ke depan, membantu ibu dari Emely untuk beranjak berdiri, seseorang di belakang punggung Keil hendak menyerangnya. Salah satu anak buah Jonas berhasil menyelinap dan mengarahkan senjatanya pada punggung Keil.


"Kau tidak akan bisa keluar dari sini!" seru anak buah Jonas tersenyum meremehkan. Tentu dengan senjata yang masih mengarah pada Keil.


Keil berusaha menenangkan ibu Emely, sudut bibirnya hanya tersenyum tipis. "Jangan cemas, aku bisa menghadapinya."


Ibu Emely tidak menjawab, wanita tua itu menatap dengan ketakutan. Belum lagi jika ia harus kembali mendapatkan penyiksaan.


Keil membalikkan tubuhnya, memang saat ini anak buah Jonas menodongkan senjata ke arahnya, tetapi tidak nampak raut wajah ketakutan. Tetap tenang dengan menyelipkan senyum penuh ejekan.


"Sepertinya kau sudah bosan hidup!" Kesal akan reaksi Keil yang biasa saja, anak buah Jonas akhirnya menarik pelatuknya, hingga kemudian.


Dor


Sebelum peluru itu menghantam tubuhnya, Keil berhasil menarik tangan pria itu dan mengarahkan senjata tersebut ke atas, sehingga peluru tersebut melesat ke udara. Keil dan anak buah Jonas saling memperebutkan senjata itu hingga akhirnya Keil mengarahkan ujung senjata tepat pada perut anak buah Jonas sebelum kemudian menarik pelatuknya.


Dor


Darah menyembur, ibu Emely yang menyaksikan hal itu menjerit histeris. Ia menutup mata dengan kedua telapak tangannya. Mendengar suara tembakan dari dalam, tentu saja Nico serta Daniel terkejut. Dengan cepat mereka menumbangkan anak buah Jonas dan berlarian menuju ruangan.


Seketika mereka bernapas lega karena Keil baik-baik saja. Terlihat Keil yang sedang menenangkan ibu dari kekasihnya.


"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Mungkin mereka sudah melaporkan penyusupan kita kepada Jonas." Nico menyela percakapan Keil dengan ibu Emely. Keil menoleh dan kemudian mengangguk.


Daniel serta Nico keluar dari ruangan terlebih dahulu, disusul oleh Keil yang memampah ibu dari Emely. Tubuhnya yang ringkih serta tidak memiliki tenaga, mengharuskan Kiel memapahnya.


Prok


Prok


"Kalian luar biasa, bahkan memiliki wajah yang tampan melebihi Jonas." Seorang wanita cantik berjalan mendekat bersama dengan beberapa anak buah. Sungguh takjub akan kehebatan ketiga pria tampan di hadapannya itu, bahkan wajah mereka benar-benar membuatnya terpesona.


Nico, Keil dan Daniel mengerutkan kening bersamaan. Wanita itu adalah wanita yang bercinta dengan Jonas, dan saat ini berada di hadapan mereka. Sudah dapat dipastikan Jonas akan kembali datang kemari.


Lana tersenyum menggoda. Kenapa ia baru pertama bertemu dengan mereka. Jika saja ia bisa lebih dulu bertemu dengan mereka, mungkin saja ia tidak akan menjadi alat untuk Jonas. Lana berjalan beberapa langkah, tujuannya adalah Daniel. Pria itu lebih membuatnya penasaran, terlebih lagi Daniel kini mengenakan pakaian yang membiarkan dada bidangnya terekspose, sehingga membuat seorang Lana penasaran bagaimana rasanya menyentuh dada bidang itu. Ia memang seorang perawat, tetapi ia juga merupakan seorang wanita simpanan. Sebab itu ia menggunakan pesonanya untuk menggoda salah satu pria di hadapannya.


Daniel tidak bergeming, ia seperti tengah menunggu apa yang akan dilakukan oleh wanita itu padanya.


"Hai, kau tampan sekali." Ekor mata Daniel hanya melirik tangan Lana yang berusaha menggapai wajahnya, ia reflek menghindar sebelum tangan Lana yang putih mulus itu menyentuh wajahnya. "Ck, kau jual mahal sekali." Tentu saja membuat Lana kesal akan penolakan Daniel.


"Aku alergi pada sentuhan wanita." Dengan santainya Daniel mengatakan hal konyol seperti itu. Sejak kapan seorang Daniel alergi tehadap sentuhan wanita?


"Benarkah?" Namun Lana tidak percaya begitu saja, jari telunjuk menelusup di dada bidang Daniel.


Daniel menahan geram, napasnya terbuang kasar. Kemudian mencengkram tangan Lana yang berusaha bermain di dada bidangnya yang terlihat itu. "Apa Nona tidak takut akan kehilangan tangan cantik ini?" Daniel tersenyum tipis dengan penuh arti, mengayunkan tangan Lana berulang kali.


Lana terkekeh, entah kenapa sebuah ancaman itu justru terdengar mesra di telinganya. "Apa kau mengancamku sayang?" Sembari tersenyum manis.


Biasanya panggilan sayang akan membuat siapapun terhanyut, tetapi tidak dengan Daniel, panggilan yang disematkan oleh wanita itu sangat menjijikan menurutnya.


Daniel jengah, mau sampai mereka harus meladeni wanita di hadapan mereka ini.

__ADS_1


"Keil, sepertinya wanita ini sengaja ingin mengulur waktu kita." Nico yang berada di samping Keil berbisik. Keil mengangguk, berpikiran hal yang sama dengan Nico.


"Jangan buang-buang waktu kami, Nona. Apa yang kau inginkan?" ujar Nico dengan nada dingin.


Lana tertawa ringan. Pertanyaan Nico benar-benar menggelitik perutnya. "Tentu saja aku menginginkan wanita tua itu tetap berada disini dan juga bercinta dengan kalian sepanjang malam."


"Ck, menjijikan! Kau pikir bagaimana penampilanmu saat ini? Apa dengan standar kecantikanmu yang biasa ini bisa menggoda kami?!" Sungguh ejekan Daniel sungguh menohok wanita itu. Sontak membuat Lana meneliti penampilan dirinya, tidak ada yang salah dengan penampilannya, tetap cantik dan seksi.


Lana geram, kedua matanya melototi Daniel penuh amarah. "Kau..... kau yang harus mati pertama kali di tanganku?!"


"Hahaha dengan senang hati!" Daniel menyambut ancaman Lana dengan tangan terbuka, tentu ia tidak sabar menanti tangan cantik itu mencabut nyawanya.


"Habisi mereka seperti yang dikatakan Jonas!!" Lana memberi perintah dengan berteriak. Beberapa anak buah segera mengepung mereka.


Shittt! Keil tidak mungkin berkelahi di saat sedang memapah ibu Emely. Namun ia tetap menangkis serangan yang datang bertubi-tubi padanya.


Bug


Bug


Untuk saat ini Keil hanya mampu menendang untuk mengusir anak buah Jonas.


Nico dan Daniel melihat Keil cukup kesulitan melawan anak buah Jonas karena memapah tubuh ringkih wanita tua yang kini berbalut dengan rasa takut, air mata terus bergulir di manik mata tua itu. "Keil sebaiknya kau bawa ibu Emely pergi dari sini. Serahkan mereka padaku dan Daniel. Anak buah kita juga sudah berada disini," tutur Nico selisih beberapa langkah darinya.


Keil mengangguk. Ia juga berpikir demikian, dan ingin meloloskan diri begitu beberapa dari mereka tersungkur cukup jauh. Keil memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi dari sana.


"Tenang, aku tidak mungkin membiarkanmu terluka." Keil mencoba menenangkan ibu dari kekasihnya yang terisak ketakutan.


"Kurang ajar! Jangan biarkan dia berhasil membawa wanita tua itu!" Lana melihat Keil yang sudah berjalan cukup jauh, memerintahkan beberapa anak buah untuk mengejarnya. Bahkan Lana sendiri berusaha mengejar Keil. Beberapa anak buah mengikuti perintah Lana dan berusaha mengejar Keil yang kian menjauh.


"Gawat, Jonas akan membunuhku jika wanita tua itu berhasil diselamatkan." Lana menggeleng gusar, ia belum ingin mati di tangan Jonas. Kemudian pandangan Lana berpusat pada senjata milik anak buahnya yang tergeletak di tanah, ia mengambilnya. Seringai licik tersemat, mau tidak mau ia harus menembak Keil, menggagalkan pria itu membawa pergi wanita tua itu.


Dor


"Shitt! Wanita itu benar-benar membuatku kesal!" umpat Keil geram.


Prang


Pot bunga besar itu hancur akan peluru dari senjata yang di genggam Lana. Hingga Keil mencari tempat persembunyian yang lain. Keil menunduk, memastikan ibu Emely baik-baik saja tetapi justru yang terjadi wanita tua itu sudah tidak sadarkan diri dalam dekapannya.


Hah.... helaan napas kasar itu membuktikan jika Keil mengeram penuh amarah. Ia tidak ingin lama membuang waktu, dan ingin segera membawa ibu dari kekasihnya itu ke rumah sakit terdekat.


Dor


Masih saja wanita itu tidak menyerah. Dilihatnya dari sisi berlawanan nampak dua anak buah Jonas berjalan mendekati dirinya. Keil kemudian meletakkan ibu dari kekasihnya itu bersandar pada pot besar. Ia kemudian berlari kencang menuju dua anak buah Jonas.


Bug


Bug


Jonas menendang perut keduanya bersamaan, hingga mereka terpelanting cukup jauh. Ia kemudian berguling menghindari serangan dari peluru Lana.


Grep


Entah sejak kapan, Keil sudah berdiri tepat di belakang Lana. Senjata wanita itupun sudah berpindah tangan, wanita itu terpaku, ia dapat merasakan hawa membunuh di belakangnya.

__ADS_1


"Kau membuatku kehilangan kesabaran. Seharusnya kau hidup dengan tenang, membiarkanku menghabisi pria sialan itu!"


"Se-sebenarnya siapa kalian?" Nyali Lana menciut. Bagaimana tidak, senjata milik Keil berada tepat di keningnya.


"Aku kekasih dari Emely. Pria sialan itu sudah mencoba merebut dan menyakiti wanitaku!"


"Ke-kekasih?" Sungguh Lana baru mendengarnya. Jonas tidak pernah bercerita apapun padanya. Yang ia tau dari Jonas bahwa wanita itu tidak memiliki siapa-siapa selain ibunya.


"Keil...."


Keil melirik ke arah sumber suara. Tergopoh-gopoh Nico juga Daniel berjalan menghampiri dirinya.


"Kalian urus wanita sialan ini. Aku akan membawa ibu Emely ke rumah sakit terdekat." Keil mendorong Lana pada Daniel juga Nico.


"Ya, pergilah!" sahut Nico dan Daniel serentak.


Sepeninggalnya Keil yang membopong ibu Emely keluar dari bangunan tersebut. Daniel menarik paksa Lana untuk mengikuti langkahnya ke sebuah ruangan yang entah apa itu. Lana berupaya memberontak tetapi kalah tenaga dengan Daniel.


"Ceh, kau benar-benar menguras waktu dan tenaga kami!" Kemudian menjatuhkan Lana di lantai yang dingin.


"Sialan kau!" teriak Lana tidak terima.


Daniel tidak peduli, ia keluar setelah memastikan Lana terikat di dalam sana dengan sebuah tali. Beruntung ada tali di dalam ruangan tersebut.


"Apa sudah?" Nico bersandar pada dinding, menunggu Daniel di depan pintu ruangan.


"Sudah. Sebaiknya kita pergi dari sini!"


Keduanya buru-buru keluar dari sana, tidak lupa Daniel turut membawa serta kucing british itu. Bertepatan dengan anak buah mereka yang berdatangan.


"Apa Keil sudah pergi?" tanya Nico tidak mendapati mobil Keil di tempat semula.


"Sudah Bos Nico."


"Baiklah, kita pergi dari sini sebelum Golden Dawn datang," seru Daniel kemudian.


Tatapan beberapa anak buah tertuju pada seekor kucing di dalam dekapan Daniel. "Bos Daniel untuk apa membawa kucing itu?" tanya salah satu dari mereka yang cukup mewakilkan rasa penasaran mereka semua.


Daniel mengurungkan niatnya memasuki mobil anak buah. "Mengawinkan silang dengan salah satu dari kalian," selorohnya asal.


"Astaga.... yang benar saja Bos Daniel." Mereka berdecak tidak percaya. Lagi pula kucing itu seekor jantan.


Daniel terkekeh, ia masuk ke dalam mobil, disusul Nico setelahnya disertai gelengan kepala akan sikap Daniel. Mobil mereka kemudian meninggalkan bangunan tersebut, menyusul Keil yang baru saja mengirimkan lokasi keberadaannya.


.


.


To be continue


.


.


__ADS_1


Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗


Always be happy 🌷


__ADS_2