
Suara erangan di dalam ruangan berdinding kaca transparan memenuhi ruangan tersebut. Wajah sepasang pria dan wanita penuh gairah luar biasa, umpatan-umpatan kasar terucap dari bibir Daniel karena begitu nikmat akan permainan Emma. Senjata pamungkasnya yang berdiri dengan tegak keluar masuk ke dalam mulut Emma, hingga akhirnya cairan kental tumpah di dalam mulut wanita itu.
Daniel tersenyum puas, akhirnya ia merasakan kelegaan karena sudah satu minggu ia tidak melakukan oral sekss dengan wanita-wanitanya. Karena kedua sahabatnya itu sudah mulai berhenti bermain-main dengan para jalaang di Club. Dan kemudian Daniel menuntun langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, meskipun tidak melakukan penyatuan tubuh, tetapi sudah membuatnya merasa puas.
"Daniel...." Emma menyusul Daniel ke dalam kamar mandi, memanggil Daniel dengan begitu manja.
"Ada apa?" Daniel menatap dirinya di pantulan cermin, ia hanya melirik singkat ke arah Emma yang berdiri di belakangnya. Sebelum kemudian kedua tangan wanita itu melingkar di perut Daniel yang dipenuhi otot-otot besarnya. Emma memeluk manja pria yang sudah hampir tiga tahun bersama dengannya, tetapi tidak pernah dijadikan sebagai kekasih pria itu.
"Apa kau sudah puas hanya dengan melakukan oral sekss saja? Kita bisa melakukan penyatuan." Dengan nakal jemari Emma membentuk lingkaran di dada Daniel, berusaha memberikan rangsangan terhadap pria-nya itu.
Daniel tersenyum smirk, apa wanita itu menginginkan lebih tubuhnya?
"Kau tau Emma, aku tidak suka senjataku masuk ke dalam sarang wanita sembarangan."
Emma menjauhkan wajahnya dari punggung Daniel. Ia sungguh kecewa akan jawaban Daniel. "Tapi bukankah selama ini kau selalu puas dengan permainanku?" Masih berupaya menggoda Daniel. Kini tangannya terulur membelai senjata Daniel yang sudah kembali dilapisi celana panjang.
Daniel menghela napas dengan kasar, alih-alih terangsang, ia justru menjadi jijik dengan Emma. Bukankah setiap wanita yang bercinta dengannya sudah mengetahui jika ia tidak akan menyerahkan senjatanya kepada mereka.
"Kau harus tau, senjataku ini terlalu berharga untuk kuberikan kepada wanita sepertimu!"
Sakit hati? Tentu saja perkataan Daniel sangat menyayat hatinya. Lalu apa arti dirinya bagi pria-nya itu. Apa dirinya disamakan dengan jalaang lainnya?
"Tapi Daniel.... aku... kita sudah lama bersama." Sesungguhnya Emma sangat gugup saat mengatakannya, ia tahu jika Daniel memang tidak ingin melakukan hubungan sekss lebih dari sekedar oral sekss atau permainan bloww job. Dan tiba-tiba terbesit keinginan untuk memiliki pria-nya itu selamanya. Daniel adalah pria yang kaya dan juga tampan, dan siapapun menginginkan pria itu, tidak terkecuali dirinya.
Daniel menghempaskan tangan Emma yang masih membelai senjatanya tersebut. Dan kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Emma. Wajah dinginnya mampu membuat wanita itu bergidik ketakutan, Emma bukan tidak mengetahui sosok ketiga Cassanova tersebut. Tetapi rasa cintanya kepada Daniel, membuatnya menginginkan lebih. Menginginkan pria itu untuk menjadi miliknya dan menjadikan dirinya satu-satunya wanita disisinya.
"Dengar, kau adalah wanita terlama yang bercinta denganku. Seharusnya kau senang karena aku tidak membuangmu seperti wanita-wanita yang lain!"
Pias sudah wajah Emma, kini wanita itu hanya tertunduk ketika tatapan Daniel semakin menajam. Sepertinya ia memang harus lebih bersabar untuk mendapatkan hati Daniel, saat ini memang dengan berada di sisi pria itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya ia akan tetapi menjadi wanita kesayangan Daniel.
"Baiklah, maafkan aku...." cicit Emma penuh kekecewaan.
Tidak ada jawaban dari Daniel, ia melewati Emma begitu saja. Daniel mengenakan pakaiannya kembali dan kemudian mengambil sesuatu di dalam dompetnya. Emma baru saja keluar dari kamar mandi, memperhatikan Daniel di ambang pintu.
"Uang ini untukmu!" Daniel melemparkan beberapa lembar uang ke atas sofa. "Jangan pernah menginginkan lebih dariku. Sejak awal kau hanya sebagai pemuas nafsuku, tidak lebih!"
Hati Emma seperti di iris-iris oleh belati yang sangat tajam. Sakit dan perih. Sungguh dirinya benar-benar seperti seorang jalaang. Padahal semenjak bertemu dengan Daniel, ia tidak pernah lagi bercinta dengan pria lain dan hanya menginginkan Daniel seorang untuk menjamah tubuhnya, berharap suatu hari nanti dirinya akan dijadikan kekasih yang sesungguhnya.
__ADS_1
Daniel menarik salah satu bibirnya. Perkataannya memang terdengar kejam, tetapi ia memang bukan tipe pria yang harus berpura-pura baik di depan wanita.
***
Keil masih saja tidak melepaskan Mia. Wanita itu kini terduduk lemah di atas lantai yang dingin. Keil tidak bersikap lembut seperti biasanya.
"Katakan yang sebenarnya tentang kejadian tiga tahun lalu. Bagaimana bisa kau berada di atas tempat tidurku!" Suara Keil terdengar sangat dingin dan menuntut jawaban dari Mia.
"A-aku sungguh tidak ingat karena saat itu aku juga sedang mabuk...." Mia tidak berani menatap wajah Keil, hingga menambah kecurigaan Keil.
Keil tersenyum masam. "Apa kau pikir aku bodoh? Kau berpikir aku tidak memiliki bukti tentang kejadian malam itu?"
"A-apa maksudmu?" Mia menjadi panik. Jika Keil sudah mendapatkan bukti, maka habislah dirinya.
"Kau pikir aku bodoh? Katakan sebenarnya apa yang terjadi malam itu, hah? Karena ulahmu Eme pergi meninggalkanku!" Amarah Keil meluap-meluap. Ia sungguh-sungguh tidak tahan dengan wajah Mia yang berpura-pura polos, ingin rasanya Keil membunuh Mia saat ini juga.
Melihat Keil yang tidak terkendali, Mia menjadi ketakutan. Tidak, ia tidak ingin berakhir begitu saja. Dengan cepat Mia merengkuh dan memeluk kaki panjang Keil.
"Sungguh, aku tidak melakukan sesuatu. Malam itu aku benar-benar mabuk dan masuk ke dalam ruanganmu....." Air mata Mia sudah mengalir deras, ia berharap jika Keil dapat mengampuni dirinya.
Keil berdecak dengan helaan napas yang terbuang dengan kasar. "Jangan menyentuhku!" Keil menghempaskan tubuh Mia, hingga wanita itu terjungkal di atas lantai dengan tubuh yang bergetar hebat.
Mia terkesiap, ia mengangkat wajahnya. "U-uang apa?" Raut wajahnya menapakkan kebingungan, uang apa yang dimaksud oleh Keil dan siapa Jerome? pikirnya.
"Fuckiing bitchh!" umpat Keil geram. "Kau dibayar oleh Jerome untuk membuat Eme-ku pergi meninggalkanku, bukan? Kau dan pria busuk itu merencanakan semuanya saat itu?!" Keil menendang tubuh Mia, hingga wanita itu berteriak kesakitan.
"T-tidak Keil.... aku tidak mengenal Jerome. Aku tidak tau siapa pria itu. Malam itu aku benar-benar salah memasuki kamar!" Sembari terisak, sudah cukup Keil melukai hatinya dan kini pria itu juga melukai tubuhnya.
"Fuckingg Jerk!!" Keil melepaskan gelas tepat di depan Mia. Nyaris saja benda bening itu mengenai tubuh wanita itu. Kini habis sudah kesabaran Keil lantaran Mia tidak ingin mengakuinya. Jika saja ia memiliki bukti yang lebih, tentunya akan memudahkan dirinyalah untuk membuat Emely memaafkan kesalahannya, dan meluruskan kesalahpahaman di antara mereka tiga tahun lalu.
"Hentikan Keil, jika kau seperti ini bisa membuatnya terbunuh," ujar Nico yang baru saja memasuki ruangan Keil. Sejak tadi ia dan Daniel menyaksikan hal itu.
"Dia benar-benar membuatku muak!" Keil mengusap wajahnya frustasi. Sementara Mia tertunduk takut, penampilan wanita itu sungguh memperihatinkan.
"Kau bisa memaksa Emely untuk mengatakan yang sebenarnya tentang malam itu." Daniel yang juga sudah berada di dalam sana memberikan saran, dan kemudian mendudukkan tubuhnya setelah Nico berhasil mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Benar, kau harus membuat Emely menceritakan semuanya tentang kejadian malam itu!" sambar Nico setuju dengan saran Daniel.
"Kalian benar, sepertinya kemarin aku terlalu lembut dengannya." Dan selanjutnya Keil tidak akan melepaskan Emely sebelum wanitanya itu mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Mia dapat mendengar percakapan ketiga pria tampan itu. Emely? Apakah mantan kekasih Keil sudah kembali. Wajah Mia semakin memucat, posisinya saat ini benar-benar tidak aman untuk dirinya.
Perhatian Nico tersita pada ponsel miliknya. Buru-buru Nico menjawab panggilan yang tidak lain dari bos mereka dan memasang loudspeaker. "Ada apa bos?" tanyanya.
"Dimana kalian?!" Suara Xavier di seberang sana mendesak tidak sabar.
"The Cavern Club bos," sahut Nico menatap Keil dan Daniel bergantian. Jarang sekali bos menghubungi salah satu dari mereka di waktu malam seperti ini.
"Datang ke markas sekarang juga!" Tutt..... Sambungan telepon terputus dengan kasar.
Glek.
Ketiganya tersentak bersamaan dan saling pandang. Mendengar dari nada suara bos sudah dipastikan jika bos tengah marah besar.
"Guys, apa aku sudah ketahuan?" tutur Nico.
Keil dan Daniel mengedikkan bahu, mereka tidak dapat menebak apa yang terjadi dengan bos mereka.
"Simpan baik-baik kepalamu itu Nic," seloroh Daniel menakuti-nakuti, dan Keil terkekeh.
Nada pesan group membuat mereka mengecek ponsel masing-masing.
20 menit dari sekarang. Jika terlambat, kalian akan menerima hukuman dariku!
Isi pesan itu adalah sebuah ancaman dari bos mereka, Xavier. Tanpa menunggu lama, Keil, Nico dan juga Daniel beranjak berdiri dan berlari keluar dari ruangan.
"Bos sialan!" umpat mereka serentak di dalam hati. Kini mereka harus mengejar waktu menuju markas yang berjarak hampir satu jam lamanya dari pusat kota. Bayangkan saja, mereka harus menempuh jarak sejauh itu dan hanya diberikan waktu selama 20 menit. Benar-benar bos gila.
Selepas kepergian mereka, Chole dan Emma yang ternyata sejak tadi memperhatikan Mia, membantu sahabatnya tet untuk berdiri. Sungguh ketiga pria itu benar-benar mengerikan.
.
.
To be continue
.
.
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar kalian 💕