
Mobil Keil berhenti dan terparkir di depan pusat perbelanjaan. Sebelum turun dari mobi, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas kursi lalu menyelipkannya di saku celana. Keil segera turun dari mobil bertepatan dengan anak buahnya yang berbondong-bondong menghampiri mereka.
"Disini terlalu ramai pengunjung dan wisatawan, jangan sampai membuat keributan dan mengundang perhatian mereka!" ujarnya pada beberapa anak buah.
"Baik Bos Keil."
Selepas memberikan ultimatum, Keil serta empat anak buah saling berpencar. Untung saja Emely berada di pusat perbelanjaan outdoor, sehingga dengan mudah ia bisa menyusuri beberapa jalan setapak yang tidak begitu bising. Seperti laporan Joy, Keil mengikuti jejak lokasi yang ditunjukkan Joy melalui ponsel miliknya. Titik mereka sudah semakin dekat, Keil berlari kecil, akan tetapi titik mereka tersebut justru kembali menjauh. Sudah dapat dipastikan Joy membawa Emely menjauhi anak buah Jonas.
"Shiitt!!" umpat Keil. Entah kemana Joy akan membawa kekasihnya itu. Semakin menyusuri jalan setapak itu semakin membuatnya merasa gelisah.
Keil mencari jalan pintas yang lebih cepat, akan tetapi baru beberapa langkah tubuhnya melesat bersembunyi di balik dinding, nyaris saja ia bertemu dengan beberapa pria yang ia curigai adalah para anak buah Golden Dawn.
Samar-samar langkah itu masih terdengar tajam di pendengarannya, sudah pasti mereka masih berada di sekitar berjalan kesana kemari.
"Aku harus lebih dulu menemukan Eme sebelum mereka yang menangkapnya," gumamnya. Tak lama, derap langkah kaki sudah terdengar lebih jauh. Buru-buru Keil keluar dari persembunyiannya, namun ternyata langkahnya yang tergesa-gesa itu mengundang kecurigaan beberapa dari mereka yang menoleh.
"Hei, siapa kau?!"
Keil semakin berlari secepat mungkin, sikap Keil yang seperti itu semakin membuat mereka curiga, sehingga mereka mengikuti Keil dengan berlari. Keil memutar otaknya, memang saat ini jalan setapak itu terlihat sunyi sepi, memudahkan dirinya berlari menghindari mereka. Sembari berlari Keil memperhatikan sekitar, nampak beberapa kotak-kotak besar yang tidak terpakai dan di ujung sana ada sebuah jalan untuknya keluar dari jalan pintas yang hanya setapak itu dan kembali menyusuri bangunan pusat perbelanjaan tersebut. Keil sejenak berpikir, kemudian melepaskan jaket yang dikenakannya, menyisakan singlet putih yang pas tercetak di tubuhnya yang kekar, lalu membuang jaket tersebut ke setumpukan kotak-kotak yang berserakan disana. Jika ia masih menggunakan jaketnya tersebut, mereka bisa dengan mudah mengenali pakaiannya yang serba hitam. Keil kemudian berlalu pergi dari sana, menyusup di antara segerombolan pengunjung.
Bugh
Bahu tegapnya berbenturan dengan bahu seseorang. Keil sempat terkejut dan ingin melarikan diri, namun di urungkannya karena seseorang yang tidak sengaja ditabraknya adalah Tom.
"Bos Keil...." ujar Tom, nampak sedikit aneh dengan Keil yang hanya mengenakan singlet saja.
"Ah, untunglah kau disini. Alihkan perhatian mereka," ujar Keil mendorong Tom.
Tom mengangguk paham. "Nona Emely sudah berada di tempat yang aman, sebaiknya Bos Keil segera membawanya pergi dari tempat ini."
"Ehm...." Keil menyahut dengan deheman. Sebelum kemudian melesat menuju ke suatu tempat, dimana Emely berlindung disana.
***
Emely menunggu dengan gelisah di salah satu pertokoan yang menurut mereka merupakan tempat yang aman. Anak buah Golden Dawn tersebar sehingga sangat sulit untuk mereka keluar dari pusat perbelanjaan.
"Dimana Keil?" gumamnya. Semakin gelisah lantaran Keil belum juga menemukan dirinya. "Bukankah Joy mengatakan jika Keil sudah berada disini? Apa telah terjadi sesuatu dengannya?" Gumaman Emely dapat di dengar oleh Joy, ia paham jika Nona-nya pasti sangat mencemaskan Bos Keil.
"Nona, sebaiknya kita masuk ke dalam. Bagaimana jika mereka kembali menemukan Nona?" Joy membujuk Emely agar mau kembali bersembunyi.
Emely mengangguk, ia kemudian mulai melangkah memasuki salah satu yang tidak berpenghuni itu. Namun tubuhnya seolah ditarik dari belakang hingga tubuhnya terhuyung.
__ADS_1
Grep
"Jangan berteriak, Love." Keil berbisik dan mendekap erat tubuh Emely sebelum kekasihnya mengeluarkan suara.
Kedua mata Emely membeliak penuh, antara terkejut dan senang bersamaan karena Keil kini sudah ada bersamanya. Wanita itu memeluk erat kekasihnya, mencari rasa aman dan kenyamanan di dalam dekapan Keil. Sentuhan kulit mereka memberikan rasa hangat, terlebih Keil hanya menggunakan singlet saja. Katakan saja jika dirinya kini bergantung pada Keil, memang itu benar adanya, bahkan Emely merasakan sesak pada rongga dadanya jika berjauhan dengan kekasihnya itu.
Keduanya saling memeluk posesif seolah tidak ingin kehilangan satu sama lain. Kemudian saling melepaskan dan Keil membenamkan ciuman di bibir Emely untuk menghilangkan kegusarannya, wanita itu menyambut dan membalasnya. Tidak pedulikan sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan dengan penuh rasa iri.
"Ck, mereka selalu bermesraan dalam keadaan apapun." Joy hanya bisa membantin. Ia membuang pandangannya ke arah lain.
Keil melepaskan pagutan bibir mereka, menatap lekat wajah cantik wanitanya. "Aku tidak akan pernah membiarkannya merebutmu dariku." Emely mengangguki perkataan Keil dengan tidak melepaskan dekapannya. Wanita itu juga tidak ingin bertemu kembali dengan Jonas, pria yang selama ini membohonginya dengan pernikahan palsu. "Joy?" panggil Keil kemudian kepada Joy.
Joy yang mendengarnya segera menghampiri. "Ada apa Bos Keil?"
"Periksa sekitar. Aku akan membawa Eme pergi dari sini," ujarnya.
"Tapi Bos Keil, mereka...." Joy khawatir karena para anak buah Golden Dawn menyebar dan nyaris memenuhi pusat perbelanjaan.
"Tenang saja, aku bisa mengalihkan perhatian mereka." Wajah Kiel yang penuh keyakinan membuat Joy tidak bisa membantah perintah Keil.
"Baik....." Dan kemudian Joy meninggalkan Nona Emely dengan Bos Keil. Menyisir sekitar dimana dari kejauhan nampak beberapa pria berjalan dan seperti tengah mencari sesuatu. Tidak salah lagi, sudah pasti mereka adalah Golden Dawn. Buru-buru Joy bersembunyi di balik dinding sebelum mereka menyadari keberadaannya.
"Keil, ada apa dengan pakaianmu? Kenapa kau hanya memakai ini saja?" tanya Emely. Nampak jelas otot-otot lengan Keil yang terlihat sangat menggoda.
Keil segera menarik pergelangan tangan Emely, menyusuri jalan setapak untuk bisa keluar dari pusat perbelanjaan. Mereka kemudian bergabung dengan pengunjung lainnya yang berjalan kesana-kemari, memilih berbagai macam barang. Keil melakukan hal yang serupa begitu melihat melihat para anak buah Golden Dawn di ujung jalan sana.
Ekor matanya bergulir ke kanan dan ke kiri, memperhatikan barang-barang di salah satu toko. Otaknya bekerja cepat, dengan segera mengambil satu syal dan kain berukuran sedang, lalu membalutkan syal di leher serta kain tersebut di atas kepala Emely. Raut wajah Emely menunjukkan kebingungan, akan tetapi ia hanya mengikuti saja apa yang sebenarnya direncanakan oleh sang kekasih. Kemudian Keil mengambil headphone, ia membukanya dengan sedikit kasar sehingga penjual memperingatinya untuk berhati-hati. Keil menginterupsi sebelum penjual pria tersebut kembali memprotes. Dengan cepat Keil memasang benda itu di atas kepalanya hingga mengenai kedua telinga. Dan kemudian menyambar tas kecil berwarna hitam yang menjadi pusat perhatiannya, lalu mengalungkannya di bahunya yang kekar.
"Berapa semuanya?" tanya Keil tidak sabar. Ia tidak memiliki banyak waktu karena bisa saja beberapa anak buah Golden Dawn dapat memergoki penyamarannya.
"Du-dua juta lima ratus ribu, Tuan." Penjual tersebut tergagap lantaran sikap Keil yang dingin.
Keil kemudian mengambil dompetnya, memberikan beberapa lembar uang seperti yang dikatakan oleh si penjual. Tanpa membuang waktu, Keil kembali menarik pergelangan tangan Emely meninggalkan toko tersebut. Keil bisa saja menghabisi para anak buah Golden Dawn, akan tetapi dirinya berada di tempat terbuka, ia tidak mungkin bertindak gegabah dengan membabi buta menembaki para anak buah Jonas itu, karena akan merugikan organisasi Black Lion.
Keduanya berjalan layaknya pengunjung pada umumnya. Sikap mereka natural dan tidak tegang hanya untuk mengelabui para anak buah Golden Dawn yang masih berkeliaran di antara mereka.
"Tutupi wajahmu dan benar, Love," bisik Keil membenarkan kain lembut untuk menutupi kepala hingga wajah Emely.
Mereka kembali bergandengan tangan, siapapun yang melihat mereka akan seperti pengantin baru. Tidak jarang dari pengunjung dan wisatawan wanita yang menatap kagum pada ketampanan Keil serta tubuh Keil yang hanya dibalut singlet sehingga otot-ototnya yang kekar itu menjadi santapan mata para wanita disana. Keil tidak pedulikan hal itu, ia semakin membawa Emely ke sisinya.
Ketika mendapati dua anak buah Golden Dawn di depannya, Keil memutar tubuhnya hingga Emely reflek mengikuti pergerakan Keil. Kekasihnya itu berpura-pura memilih sebuah barang. Ekor mata Keil melirik dua anak Golden Dawn yang melewati mereka begitu saja.
__ADS_1
Keil serta Emely kembali melangkah, mempercepat langkah mereka dan melakukan hal yang serupa, berpura-pura menjadi wisatawan yang membeli barang setiap kali mendapati beberapa anak buah Jonas yang menyebar di sepanjang perbelanjaan pusat kota.
Apa yang dilakukan mereka sungguh membuat sekujur tubuh Emely merasa tegang. Wanita itu cemas dan takut jika anak buah Jonas bisa mengenali penyamaran mereka. Akan tetapi ia bisa bernapas lega karena kini keduanya sudah keluar dari pusat perbelanjaan tanpa diketahui oleh para anak buah Jonas.
Begitu berada di parkiran mobil, Keil langsung membawa masuk Emely ke dalam sana. Ia ingin menghubungi Tom, namun niat menghubungi anak buahnya terurungkan karena Tom dan Joy tergopoh-gopoh menghampiri dirinya.
"Akhirnya kita bisa terlepas dari kejaran mereka." Napas Joy terengah-engah, ia sempat tertangkap basah karena wajahnya sudah dikenali saat bersama Nona Emely sebelumnya.
Jika saja Tom tiba membantu dirinya mungkin Joy akan sulit meloloskan diri dari para anak buah Golden Dawn. Baik Tom dan juga Joy baru menyadari penampilan Keil. Mereka tidak bertanya hanya saling pandang satu sama lain.
"Black Lion tidak pernah melakukan serangan di tempat seperti ini. Tapi jika mereka menyerang lebih dulu, jangan berikan kebebasan untuk mereka kembali bernapas, kalian boleh menghabisinya!"
Perintah Keil tentu saja disambut baik oleh Tom juga Joy. Tentunya bermain-main kejar-kejaran sangat membosankan, akan lebih menarik lagi jika mereka bisa saling baku tembak.
Setelahnya, Keil masuk ke dalam mobil. Melepaskan segala macam benda yang menyempurnakan penyamarannya itu, pun dengan Emely. Keil meraih jaketnya yang lain di kursi belakang dan memakainya. Sebelum kemudian melajukan mobil meninggalkan pusat perbelanjaan.
Baru saja beberapa menit keluar dari jalan raya dan menuju wilayah Black Lion, suara letupan senjata menggema di udara. Keil reflek menghindari serangan yang tiba-tiba itu.
"Sialan!" Keil memukul stir kemudi.
Kenapa mereka harus menyerang ketika Emely berada bersamanya?
"Keil, bagaimana ini? Mereka mengejar kita?" Emely mencengram kuat lengan Keil.
Ternyata Jonas tidak bodoh, meskipun mereka berhasil meloloskan diri dari kejaran mereka, namun pria keparat itu sudah menunggu Keil melewati jalur yang menghubungkan wilayah Black Lion.
.
.
To be continue
.
.
Penampilan Babang Keil dan Emely lagi menyamar wkwk ðŸ¤ðŸ˜‚
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
__ADS_1
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...