
Dua hari berlalu, ketiga bastard masih bergelut dengan permasalahan mereka masing-masing. Keil masih setia mencari keberadaan Emely yang bagaikan hilang di telan bumi, namun Keil yakin jika istrinya itu baik-baik saja karena dirinya masih sering mengalami gejala wanita hamil. Sementara Daniel gusar setengah mati karena Ashley benar-benar mendiami dirinya, hanya menjawab pertanyaannya tanpa ikut menimpali. Dan Nico, pria itu tidak perlu di tanya lagi karena setiap harinya nyaris dibuat geram akan kedekatan kekasih kecilnya dengan Adam.
"Arrgghhh......" Nico mengacak rambutnya frustasi, hingga membuat Keil serta Daniel menoleh ke arahnya.
"Kali ini apalagi?" tanya Keil dengan malas. Sudah pasti yang mampu membuat Nico frustasi tidak lain karena pria yang bernama Adam itu selalu menempeli Nona Jennie.
"Aku baru saja mendengarkan percakapan mereka. Pria sialan itu akan mengajak Nona Jennie ke negara Asia itu!" Ya, sejak tadi Nico mendengarkan percakapan Nona Jennie dengan Adam melalui earphone yang terhubung dengan perekam suara yang ia pasang diam-diam di dalam ruangan kekasihnya.
"What??" Daniel memekik, bukan lantaran terkejut. Akan tetapi sikap Adam yang terlalu berani membuatnya tidak habis pikir.
Keil terkekeh. "Sepertinya kau harus menculik Nona Jennie agar pria itu tidak bisa membawanya."
"Kau benar." Dan disambut setuju oleh Nico. Tentu ia begitu tidak sabar untuk melakukannya. Nico segera beranjak berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Daniel dan Keil bersamaan.
"Tentu saja menculik kekasihku. Kalian pikir aku akan diam saja ketika pria sialan itu membawa wanitaku. Big no!" Nico mendengkus kesal. Sungguh ia tidak rela dan hanya diam saja menyaksikan.
"Ya, terserah kau saja," sahut Keil.
"Jangan lupa kabari kami jika kau selamat dari bos," sambar Daniel
Tatapan mata Nico menajam dan dihunuskan kepada Daniel. "Bajingan! Kau yang pertama kali kuseret jika aku tidak selamat!"
"Hahahaha...." Daniel tidak bisa untuk menahan tawanya, hingga tawanya tersebut memecah disana hingga Nico semakin geram.
Tanpa menghiraukan Daniel juga Keil, Nico melenggang pergi dengan kesal. Sepanjang ia berjalan tidak hentinya mengumpat, hingga memasuki mobil dan meninggalkan Markas.
Mobil Nico melaju cepat menuju lokasi kekasihnya berada, masih setia mencuri dengar melalui earphone. Persetan dengan siapapun, termasuk Adam yang berusaha keras mengambil hati Nona kecilnya itu. Semakin gencar pria itu mendekati sang kekasih, maka semakin besar peluangnya untuk menyingkir pria itu.
Nico berjalan tergesa-gesa menghampiri ruangan Nona Jennie. Bahkan ia tidak peduli akan mobil yang ia parkir dengan asal. Mengabaikan tatapan heran para staf yang berlalu lalang di lobby, hingga dirinya menghilang di balik pintu lift.
Suara samar-samar kekehan serta candaan menyelinap di telinga Nico ketika pria itu baru saja menghentikan langkah di depan pintu ruangan. Menginterupsi Jane yang akan mendekati dirinya, sehingga Jane kembali berdiri di tempatnya. Asisten Jennifer itu hanya menatap heran dan bingung, karena yang dilihat dari kacamata penglihatannya raut wajah Nico penuh dengan kekesalan.
Nico menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan. Ingin sekali ia menerobos masuk, akan tetapi ia masih memiliki etika dan tidak ingin mempermalukan Nona Jennie-nya.
Pintu diketuk begitu tidak sabar oleh Nico, setelah mendengar sahutan dari dalam sana, lantas Nico langsung masuk hingga pemandangan Jennifer dengan Adam menjadi sorotan utama ketika dirinya berada di dalam ruangan itu.
"Nico, kau sudah datang? Bukankah satu jam lagi kau baru akan menjemputku?" Jennifer melihat arloji di pergelangan tangannya. Masih tersisa satu jam dimana waktu Nico menjemput dirinya.
Nico tersenyum, wajah cantik bak bidadari itu mampu meruntuhkan kekesalannya. "Kebetulan aku berada di sekitar sini, jadi sekalian saja menunggu Nona. Satu jam bukan waktu yang lama untuk menunggu." Masih dengan senyumnya memperhatikan kekasih kecilnya itu tengah mengangguk. "Bahkan aku rela menunggu ribuan tahun untuk menikahimu," sambungnya dalam hati. Namun perlahan sorot matanya bergulir pada sosok Adam yang juga tengah menatap dirinya. Tatapan tajam tersemat kala mereka saling beradu pandangan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Kabari aku jika kau ingin ikut denganku." Adam mengulas senyumnya, mengakhiri percakapan yang sempat tertunda.
"Iya kak. Jika aku akan minta Jane untuk memeriksa jadwalku satu minggu kedepan." Adam hanya mengangguki saja perkataan Jennifer, meskipun ia ingin sekali wanita itu ikut bersamanya ke negara Asia yang ditujunya.
Adam tersenyum, ia mengusap puncak kepala Jennifer. "Aku pergi dulu." Dan kemudian beranjak berdiri.
Jennifer mengangguk, sebenarnya ia terkejut karena untuk pertama kalinya pria yang dikenal dingin itu melakukan kontak fisik dengannya. Dan ternyata tidak hanya Jennifer yang dibuat terkejut, wajah Nico bahkan sudah merah menahan geram yang bercampur kecemburuan.
Heh, sepertinya aku perlu melukai tangannya.
Nico masih dengan geramnya menatap Adam. Pria itu justru hanya tersenyum tipis padanya, sebelum kemudian berlalu dari ruangan.
Sepeninggalnya Adam dari sana, Nico lantas mendekati Jennifer. Memegang bahu kekasihnya agar tetap duduk, ia pun duduk bersisian dengan kekasihnya dan langsung mengusap rambut kekasih kecilnya itu.
"Astaga Nico, apa yang kau lakukan?" Jennifer memprotes tetapi tidak menolak apa yang dilakukan Nico pada rambutnya.
"Biarkan aku menghapus jejak pria sialan itu. Aku tidak suka pria lain menyentuh kekasihku."
Jennifer mencebikkan bibirnya ketika Nico yang semakin posesif padanya, namun perlahan sudut bibirnya melengkung tipis. Ia menyukai jika pria raksasa itu cemburu, yang tandanya bodyguard serta kekasihnya itu sangat mencintai dirinya. Belum pernah Jennifer dicintai begitu dalam, bahkan Billy sangat bertolak belakang dengan Nico.
"Kau berlebihan sekali." Berbeda dengan bibirnya, sebenarnya Jennifer senang ketika Nico sedang dalam mood cemburu. "Aku dan Kak Adam tidak memiliki hubungan apapun. Dia sudah seperti kakakku, karena sikapnya kurang lebih seperti Kak Vie."
Nico menghela napas berat. Bagaimana ia menjelaskannya kepada kekasihnya yang polos itu. Nico kemudian menangkup wajah Jennifer. "Dengar My Queen, tidak ada hubungan kakak adik seperti itu. Kecuali kalian benar-benar memiliki hubungan darah. Tidak menutup kemungkinan kau atau pria itu memiliki perasaan."
"Aku akan mencoba menjaga jarak dengan Kak Adam," cicitnya pelan hingga membuat Nico menjadi gemas.
"Gadis pintar." Nico mengusap rambut Jennifer dengan sayang.
Jennifer tersipu malu. Entahlah, bersama dengan Nico selalu membuatnya nyaman. Dan perkataan Nico membekas diingatannya, sepertinya ia memang harus menjaga jarak dengan Adam. Dan menolak kakaknya agar tidak perlu meminta Adam untuk menemani dirinya. Lagi pula kakaknya sangat aneh, bukankah ia sudah dijaga oleh Nico dan anak buah yang lain. Lalu untuk apa menyuruh Adam untuk menjaganya juga? pikirnya.
***
Setelah mengantar Jennifer ke Mansion utama, Nico kembali melajukan mobilnya menuju Markas. Tiga puluh menit yang lalu bos mengabarkan dirinya untuk kembali ke Markas dan membahas masalah Adam yang meminta bantuan kepada mereka.
Dan begitu tiba di depan Markas, Nico turun dan mobil, berlari menuju ruangan karena mereka sudah menunggu. Nico duduk di sofa setelah berada di dalam ruangan, dimana bos serta Adam sudah membenamkan tubuhnya di sofa panjang.
"Baiklah, laporkan kerja kalian selama beberapa hari ini. Apa kalian sudah mendapatkan informasi mengenai orang itu?" Xavier menodongkan pertanyaan tanpa berbasi-basi terlebih dahulu.
"Sudah bos, dari yang kami dapatkan mereka berada di Belgia, tepatnya di Kota Bastogne." Penuturan Daniel membuat Xavier dan Adam mendengarkannya seksama kemudian mengangguk.
"Baguslah, kalian sudah berusaha keras," sahut Xavier. Kemudian pandangannya beralih pada Adam. "Lalu apa yang ingin kau lakukan?"
__ADS_1
"Tentu saja akan menyerangnya disana, tapi sebelum itu aku akan pergi ke Indonesia untuk menemui adikku dan aku sudah mengatakannya kepada Jennie untuk ikut denganku."
Sejenak Xavier terdiam, berbeda dengan reaksi Nico, Keil dan Daniel yang saling bersitatap satu sama lain.
Boleh aku menghajarnya?
Itulah arti tatapan Nico kepada dua sahabatnya yang tentu saja mendapatkan gelengan kepala sebagai jawabannya. Akhirnya Nico hanya dapat menelan perkataan Adam mentah-mentah. Ia akan mengikuti alur permainan Adam, entah sampai kapan Adam berusaha mendekati kekasihnya. Yang pasti ia tidak akan membiarkan Adam begitu saja.
"Jika Jennie setuju, maka aku tidak bisa menahannya. Dia bebas pergi kemana saja selama ada yang menjaganya. Tetapi jika dia tidak ingin ikut denganmu, maka biarkan saja dia." Jawaban yang sangat bijak. Meskipun Xavier menyukai Adam dan ingin adiknya bisa bersama dengan pria lain seperti Adam, tetapi ia tetap tidak akan membiarkan pria lain membawa adiknya itu dengan mudah.
Adam mengangguk paham. "Baiklah, aku akan menghubunginya nanti. Sepertinya dia juga tidak akan menolak."
"Ya, ku pikir Jennie mulai menyukaimu."
Deg
Wajah Nico menatap pias mengarah pada bosnya yang dengan mudah berkata demikian. "Kau salah bos, adikmu sudah menjadi kekasihku." Nico berucap dalam hati yang tentu saja belum bisa ia lontarkan. Mungkin jika sudah waktunya, ia akan berterus terang, meskipun akan kehilangan salah satu bagian tubuhnya.
Ekor mata Xavier mendapati Nico yang memperhatikan dirinya. Sudut bibirnya sedikit melengkung yang nyaris tidak terlihat. Karena ia sendiri yang mengerti apa yang ada di dalam pikirannya.
.
.
To be continue
.
.
Babang Nico
Babang Adam
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...