
Postur tinggi, wajah tampan, berkarisma, langkahnya selalu tegas dan tidak pedulikan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Pria itu adalah Nico, di sepanjang langkahnya menyusuri restauran yang mewah itu ia tidak menyematkan senyuman di wajahnya. Tatapannya lurus ke depan, mencari keberadaan kekasihnya yang berada di restauran dengan rekan kerjanya.
Waktunya semakin terbuang untuk menemui sang kekasih lantaran saat di perjalanan, ia dihubungi oleh salah satu klien yang mengajaknya bertemu dan kebetulan sekali tempat pertemuan mereka di tempat yang sama dengan pertemuan Nona Jennie-nya dengan rekan bisnis.
Nico melampirkan jas miliknya di pundak, ia melangkah menuju ruangan privat room, seperti yang sudah di beritahukan oleh Jennifer melalui pesan singkat. Langkah Nico terhentikan kala samar-samar mendengar suara yang tidak asing.
"Saya sangat berterima kasih untuk makan siangnya Tuan Gerard, semoga ke depannya tidak ada kendala dalam kerja sama perusahaan kita." Jennifer tersenyum ramah, ia harus tetap bersikap profesional, walaupun ia menyadari jika Gerard memiliki ketertarikan padanya.
"Ya, saya senang bisa bertemu kembali dengan Nona setelah sekian lama saya berada di Jerman." Gerard mengulas senyumnya. Pria itu memiliki wajah yang tidak kalah tampan sehingga jika tersenyum mungkin akan membuat para wanita terhanyut, tetapi tidak untuk Jennifer, wanita itu menatap biasa saja tidak terpesona apalagi hingga membuatnya jatuh cinta.
Sepasang mata milik Nico menatap Gerard dengan tajam. Oh, tidak. Kemana tangan pria itu menyentuh? berani-beraninya dia menyentuh pundak Nona Jennie-nya.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Lain kali saya akan menghubungi Nona." Gerard semakin mengembangkan senyumnya. Bagaimana tidak, selama ini wanita di hadapannya itu selalu menolak ajakan makan siangnya dan bahkan menolak bunga pemberian darinya. Tetapi sewaktu ia menghubungi untuk membahas pekerjaan, wanita itu menyanggupinya. Dan sepertinya ia akan sering-sering mengajak Nona Jennifer makan siang dengan dalih membahas perihal kerja sama mereka.
"Ya, baiklah," sahut Jennifer dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
Tentu saja Nico tidak akan berdiam diri begitu saja melihat seorang pria secara terang-terangan memiliki ketertarikan kepada kekasihnya.
Gerard berlalu dan berpapasan dengan Nico. Pria itu tersenyum tipis sebagai bentuk sapaan namun Nico mengabaikannya begitu saja. Ck, mana mungkin ia bersikap ramah kepada pria yang juga menginginkan kekasihnya. BIG NO!
"Nico, kau sudah datang?" Jennifer tersenyum ketika melihat Nico berjalan ke arahnya.
"Iya, apa tadi rekan bisnis Nona? Maksudku rekan bisnismu sayang?" Entah apa yang dipikirkan oleh Nico sehingga ia mengubah cara bicaranya dengan Jennifer.
Hah?
Baik Jennifer juga Jane tercengang akan perkataan Nico, apa tadi yang dia katakan, sayang?
"Eh, oh iya, dia Tuan Gerard dari perusahaan CEA Corp." Jennifer menetralisir keterkejutannya, ia menjelaskan siapa rekan bisnisnya itu.
Nico mengangguk. Benar dugaannya, pria itu yang pernah mengirimkan bunga untuk Nona Jennie-nya, bunga yang kala itu ia hancurkan. Nico menyembunyikan senyum kecutnya.
__ADS_1
Situasi yang tidak baik. Kecanggungan melingkupi. Jane tidak tahan. Tidak mungkin ia berada di antara mereka. Jane memang mengetahui hubungan Nona Direktur dan bodyguardnya itu. "Nona, saya permisi ke toilet." Jane segera berlalu dari sana begitu Jennifer sudah mengiyakannya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Jennifer bertanya setelah keduanya saling diam.
"Iya, jika belum tidak mungkin aku datang kemari."
Jennifer mengangguki. Tidak bisanya Nico menjawab pertanyaannya dengan datar. "Aku lupa mengambil tasku di dalam, tunggu sebentar disini." Jennifer kembali masuk ke dalam private room untuk mengambil tas yang tertinggal. Namun ternyata Nico mengikutinya masuk.
"Kenapa kau juga ikut masuk?" Jennifer menatap heran bodyguard sekaligus kekasihnya itu.
Nico tidak menjawab, ia justru semakin mendekat pada Jennifer. Mendekat..... mendekat dan menarik pinggul serta tengkuk leher wanitanya secara bersamaan. Jennifer mematung, tas yang di genggamnya terjatuh di dekat kakinya disertai kedua matanya membelalak karena Nico membenamkan ciuman di bibirnya. Lama Nico menyesap bibir sang kekasih dan ia semakin memperdalam menuntut balasan wanita itu dengan sedikit menggigit bibir bawah kekasihnya itu. Alhasil Jennifer membuka mulutnya dan membalas pagutan bibir Nico yang kali ini sedikit liar. Entah ada apa dengan pria itu kenapa ciumannya terkesan kasar.
Tidak tega dengan Jennifer yang sudah kehabisan napas, Nico mengakhiri ciuman mereka. "Apa dia hanya teman bisnismu? Apa kau tidak menyadari ketertarikannya padamu, hem?"
Jennifer kembali dibuat tercengang, untuk pertama kalinya Nico berbicara layaknya seorang kekasih pada umumnya. "A-apa kau cemburu?" Mata Jennifer mendelik, memastikan jika kekasihnya itu tengah cemburu.
"Menurutmu? Siapa yang tidak cemburu jika kekasihnya makan siang dengan pria lain." Rasanya Nico gemas sendiri. Sebelumnya ia tidak pernah merasa cemburu pada setiap wanita yang ia kencani.
"Kami tidak makan berdua saja, kau lihat tadi ada Jane, bukan?" Jennifer membela dirinya. Memang benar ia menerima ajakan makan siang Gerard tetapi hanya sekedar untuk membahas pekerjaan, dan juga ia ditemani oleh Jane.
Jennifer tidak habis pikir, dari mana Nico mengetahuinya?
"Kau mengetahuinya?" tanyanya menuntut jawaban. Ia penasaran bagaimana Nico bisa mengetahui hal itu, padahal saat Gerard mengirimkan bunga padanya Nico tidak berada di tempat.
"Ya, karena aku sempat merusak bunga yang dikirimkan kurir untukmu." Tentu saja pengakuan Nico membuat Jennifer terkejut sekaligus bingung. Kapan Gerard mengirimkan bunga kembali padanya? Terlebih lagi di berikan oleh kurir langsung kepada Nico.
"Kapan? Dimana? Kenapa aku tidak mengetahuinya?" Jennifer mencercanya.
Kedua alis Nico bersamaan dengan keningnya berkerut dalam. Untuk apa kekasih kecilnya itu begitu penasaran.
"Kenapa? Apa kau selalu menunggu bunga darinya?" Nico tersenyum masam.
"Astaga Nico. Ada apa denganmu? Aku tidak mungkin mengharapkan pria lain kalau aku saja sudah memiliki bodyguard pelindungku yang tampan seperti ini." Jennifer tersenyum manis, tidak lupa kedua tangannya melingkar di pinggang Nico.
__ADS_1
"Benarkah?" Nico menatap lekat kekasihnya.
Jennifer mengangguk yakin. "Benar. Aku tidak tertarik dengan siapapun selain denganmu, sayang." Entah kenapa Jennifer menjadi geli sendiri memanggil Nico dengan sebutan sayang.
Berbeda dengan Nico, untuk pertama kalinya Nona Jennie-nya memanggilnya sayang, tentu saja hatinya melunak, tidak mungkin ia marah justru ia semakin gemas dengan kekasih kecilnya itu.
"Kau sedang merayuku, Nona?" Nico mencubit pipi Jennifer dengan gemas.
"Kau yang memulai lebih dulu." Jennifer tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. "Baru saja tadi kau memanggilku sayang, kenapa sekarang berubah memanggilku Nona lagi?"
"Baiklah, setiap hari aku akan memanggilmu dengan panggilan sayang. Apa kau menyukainya, hem?"
Nico memberikan ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Jennifer, hingga membuat wanita itu merasakan geli. Jennifer tidak pernah mempermasalahkan panggilan Nico padanya atau cara bicara Nico kepadanya yang selalu formal. Menurutnya pria itu bebas berbicara apapun padanya.
Ya, karena rasa cemburunya itu ia bahkan rasanya ingin selalu memanggil Nona Jennie-nya dengan sebutan sayang di depan orang banyak, kecuali satu orang yaitu di depan bos, bisa di penggal lebih dulu jika ketahuan memanggil adik dari bosnya itu dengan sebutan sayang.
Setelah perdebatan kecil yang manis itu, Nico mengambilkan tas Jennifer yang terjatuh, lalu menggantungkan tali tas tersebut di pundak kekasihnya. Keduanya berjalan beriringan keluar dari privat room. Ternyata Jane sudah menunggu mereka di luar restauran, menatap pasangan baru itu. Sungguh sangat cocok.
.
.
To be continue
.
.
Widiih, bang Nico bisa aja😂
Penampilan Jennie
__ADS_1
Like, vote, follow dan komentar 💕 terima kasih.
Always be happy 🌷