
Sudah dua berlalu, perkataan Nico masih saja terlintas di ingatannya. Apa pria itu mengetahui sesuatu? Billy menjadi frustasi, tidak mungkin ada orang lain yang mencurigai dirinya. Selama ini ia berusaha membayar seseorang untuk menutup mulut. Kejadian kelam itu sudah satu bulan berlalu, yang ia pikir jika akan berlalu seiring berjalannya waktu.
"Aarrghh, sial!!" Betapa kacaunya Billy saat ini. Yang hanya dipikirannya saat ini adalah Jennifer, ia sangat mencintai wanita itu, tetapi karena satu kesalahan bodoh, bisa membuat Jennifer meninggalkan dirinya.
"Billy....." Manager Billy yang seorang wanita itu sudah berulang kali memanggil Billy namun pikiran pria itu entah berada dimana. Sontak aja membuat Billy tersentak kaget, ia menolehkan pandangannya ke arah managernya berdiri.
"Ada apa?" tanyanya sedikit kesal. Hari ini mood Billy sangat buruk.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Sejak tadi kau terlihat tidak fokus." Mendadak managernya menjadi sangat cemas. Jika tidak fokus dan pekerjaan berantakan banyak pihak yang akan dirugikan, baik tenaga maupun waktu.
"Tidak ada, aku hanya sedikit lelah." Memang benar, belakangan ini Billy sulit tertidur pulas. Ada sesuatu yang sangat mengganjal hatinya. Namun keterangan Billy tidak membuat managernya itu percaya.
"Apa kau sedang ada masalah dengan Nona Direktur?" Billy terkesiap mendengar pertanyaan managernya, sontak aja telapak tangannya reflek menutup mulut managernya tersebut.
"Sshh.... kecilkan suaramu. Bagaimana jika ada yang mendengarnya?"
Managernya itu mengangguk mengerti sembari mengamati sekitar setelah telapak tangan Billy tersingkir. "Jadi, apa kau bertengkar dengan Nona Direktur?" tanyanya kembali dengan volume suara yang diperkecil.
"Tidak......" Billy mendudukkan tubuhnya kembali di atas sofa. "Hanya sedang lelah saja."
"Apa kau yakin?"
"Hem.... Jangan banyak bertanya lagi. Kepalaku sudah seperti mau pecah." Kedua mata Billy terpejam singkat. Melihat Billy yang terlihat begitu lelah, managernya itu mengurungkan niatnya untuk mendesak.
"Kalau begitu kau beristirahatlah, satu jam lagi kita akan berangkat ke bandara."
"Hem...." Suara Billy menyahuti namun kedua matanya masih terpejam.
***
Mendengar sang kekasih yang akan pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan, Jennifer melangkah dengan tergesa-gesa. Ya, kekasihnya itu akan menandatangani kontrak di Paris dan akan menetap disana setidaknya satu minggu lamanya. Jennifer masuk ke dalam studio pemotretan bertepatan dengan Billy yang juga keluar dari ruangannya. Keduanya saling terkesiap dan tidak sengaja pandangan mereka saling bertemu.
Karena ruangan disana tidak nampak staf lain sehingga memudahkan mereka untuk berbicara. Billy terlebih dahulu mengedarkan pandangannya, mencari sekiranya terdapat staf lain maupun model lain disana. Saat tidak melihat batang hidung siapapun, langkah Billy mulai mendekati Jennifer.
"Kau disini?" Tentu saja membuat Billy senang bukan main. Sebelum berangkat ke Paris, ia memang ingin menyempatkan diri untuk bertemu dengan kekasihnya.
"Iya, aku tidak bisa mengantarmu, jadi berhati-hatilah," tutur Jennifer disertai senyuman. Senyuman yang pasti akan ia rindukan selama berada di Paris.
"Tidak apa-apa. Aku sudah senang kau mau menemuiku." Billy mengusap bahu Jennifer dengan lembut. "Jaga dirimu baik-baik. Kita tidak akan bertemu selama satu minggu."
Jennifer mendecakan lidahnya. "Bukankah sebelumnya kita jarang bertemu."
"Tapi setidaknya aku masih bisa melihatmu melintas di depanku." Mendengar ucapan Billy, Jennifer mengangguk lemah. Mau bagaimana lagi, mereka memang menjalin hubungan secara diam-diam sehingga tidak bebas berbicara sesuka hati mereka.
Pandangan Billy kemudian teralihkan pada sosok Nico yang menatap datar namun mematikan bagi siapa saja yang menatapnya, termasuk Billy. Lagi-lagi membuat Billy tidak dapat berkutik akan tatapan Nico, terlebih lagi perkataan pria itu yang seperti sebuah peringatan kembali terngiang.
"Ada apa?" Jennifer harus melambaikan telapak tangan tepat di depan wajah Billy yang terpaku seketika. Tidak mendapatkan respon, Jennifer mengikuti arah pandang kekasihnya itu, dimana pandangan Billy tertuju kepada Nico. Dan kemudian Jennifer kembali mengalihkan perhatiannya kembali kepada Billy. "Kenapa kau melihat Nico seperti itu? Seperti melihat hantu saja."
__ADS_1
Billy menjadi terkesiap, ia tersenyum canggung. "Bahkan hantu saja tidak lebih menyeramkan darinya," gumamnya.
"Kau bicara apa?" Jennifer berusaha mempertajam pendengarannya, tetapi tetap saja ucapan Billy tidak terjangkau oleh telinganya.
"Tidak apa-apa. Hanya saja dia selalu ada di manapun kau berada," sahutnya. Tatap Billy menunjukkan ketidaksukaan kepada sosok bodyguard kekasihnya.
Jennifer tersenyum. "Itu memang sudah menjadi tugasnya menjagaku."
Ck, lihatlah. Bahkan kekasihku saja membelanya. Billy hanya mampu membantin, disini dirinyalah yang seperti orang asing. Suasana hati Billy mendadak berubah, bahkan ia memasang wajah kecewa.
Percakapan mereka terpaksa harus diakhiri ketika satu persatu para staf disana mulai memasuki studio pemotretan.
"Aku akan kembali ke ruanganku, kau berhati-hatilah." Jennifer mengusap lengan Billy dengan tersenyum.
Billy mengangguk membalas senyuman kekasihnya. "Iya...." Dan menatap kepergian Jennifer yang semakin jauh dari jangkauan matanya. Sebenarnya ia benar-benar tidak rela jika harus kehilangan wanita itu.
***
Sementara di tempat lain, Keil dan Emely berada di apartemen yang baru saja Keil berikan untuk Emely. Apartemen itu berada di dekat Cafe dan memudahkan dirinya jika ingin menemui wanitanya itu, tidak mungkin Keil menemui Emely di cafe, sementara bisa saja seseorang melaporkannya kepada pria itu yang akan menyulitkan Emely ke depannya.
"Apa kau menyukainya?" Keil memeluk Emely dari belakang.
"Hem, aku menyukainya, tapi ini terlalu besar untukku tempati seorang diri." Sebenarnya tidak perlu Keil melakukan ini untuknya, tetapi jika alasan pria itu membeli apartemen ini untuk mereka, Emely tidak memiliki pilihan lain untuk menerimanya.
Keil menempelkan dagu di pundak Emely. "Siapa bilang untukmu saja. Aku membelinya supaya bisa bersamamu disini sepanjang hari, jadi kau tidak perlu berada di Cafe. Aku tidak ingin kau berada di penthouse dengan suamimu."
"Biarkan saja. Jika perlu sekarang juga aku akan membawamu secara terang-terangan darinya."
Saat mendengarnya, Emely menggeleng cepat. "Tidak. Jangan lakukan itu untuk saat ini."
"Kenapa?" Kening Keil berkerut dalam. Dan selama beberapa saat Emely tidak merespon ucapannya. Apa yang sebenarnya disembunyikan Emely darinya?
Kemudian Keil membalikan tubuh Emely menghadap dirinya. Menangkupkan kedua pipi wanitanya itu. "Dengar Eme, aku sudah mengatakan kau bisa menceritakan semuanya kapanpun kau inginkan. Jadi bisakah kau menceritakannya sekarang?"
Emely masih tetap bungkam namun perlahan mengangguk lemah. Keil menuntun Emely untuk duduk bersisian dengan dirinya. Dengan perlahan Emely merangkum semua yang ia lalui. Termasuk saat ia membutuhkan biaya banyak untuk pengobatan ibunya. Saat itu dirinya bertemu dengan Jonas di rumah sakit. Entah apa yang membuat hati pria itu tergerak sehingga membantu membiayai pengobatan ibunya yang tidak sedikit itu. Hingga demi membalas kebaikan Jonas, ia menerima lamaran pria itu. Namun siapa yang menduga jika di balik itu semua, ada rahasia besar. Jonas yang sudah menjadi suaminya itu perlahan menunjukkan sifat aslinya sehari setelah pernikahan. Jonas menikahi dirinya hanya karena ingin membalaskan dendam kematian adik perempuannya. Jonas selalu menyalahkan kematian sang adik kepadanya. Sedangkan ia sendiri tidak mengenal sosok adik yang dimaksud, akan tetapi perlahan semuanya terbongkar. Adik perempuan Jonas adalah kekasih dari Steve teman dekat Emely selama satu tahun terakhir. Steve bahkan tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini. Jonas selalu beranggapan jika Steve berselingkuh dengannya sehingga adik perempuannya bunuh diri di saat dalam keadaan mengandung.
"Jadi kau benar-benar tidak memiliki hubungan dengan Steve?" Keil bertanya dengan nada tidak suka. Terlebih lagi selama ini Emely dekat dengan pria lain.
"Tidak. Kami hanya berteman," bantah Emely. "Aku benar-benar tidak mengetahui jika saat itu Steve menghamili seorang wanita, adik dari Jonas."
"Lalu dia mengira jika kau adalah wanitanya Steve?" Dan Emely mengangguk membenarkan.
"Ck, jadi dia benar-benar bodoh!"
"Tidak hanya bodoh tetapi dia juga gila. Dia bahkan menyembunyikan Mom." Kedua mata Emely mulai digenangi air mata. Sudah hampir satu tahun lamanya, ia tidak mengetahui dimana suami gilanya itu menyembunyikan sang ibu yang sedang sakit.
"Mom?" Keil mengulangi. Ia baru tahu jika Emely masih memiliki seorang ibu. "Jadi dia....." Keil bahkan tidak mampu melanjutkan kalimatnya, ia tidak ingin membuat Emely kian bersedih dengan membahas ibunya tersebut.
"Apa ini alasan kau ingin minta bantuan kepada Black Lion?" Sedikit lebihnya Keil menjadi paham tujuan Emely mengirim pesan kepada Black Lion. Sebagai jawabannya Emely mengangguk.
__ADS_1
Hati Keil teriris pilu, lantas memeluk Emely, kepedihan yang dirasakan wanitanya sangat mengganggu dirinya. "Aku akan mencari tau dimana dia menyembunyikan ibumu." Apapun akan Keil lakukan demi wanitanya. Sudah cukup selama ini ia tidak berada di sisi Emely.
"Terima kasih...." Emely mengangkat wajahnya, menatap dalam Keil. Ternyata sampai saat ini memang hatinya selalu untuk Keil.
"Hem...." Keil berdehem. Ia memberikan usapan lembut di rambut Emely yang tergerai indah itu. Keduanya saling memandang penuh cinta, jemari Keil beralih pada dagu Emely, sebelum kemudian membenamkan ciuman di bibir ranum wanitanya tersebut.
Bibir mereka saling bertautan, menyesap hingga sapuan lidah Keil mendesak masuk lebih dalam lagi.
"Sorry mengganggu kalian." Suara seseorang menyentakkan Keil juga Emely, mereka reflek saling berangsur menjauhi. Entah sejak kapan Daniel sudah berdiri di ambang pintu dengan santai, tanpa rasa bersalah karena sudah mengganggu pasangan yang telah di mabuk cinta.
"Sialan kau Daniel!" hardik Keil kesal.
"Salah kau sendiri, kenapa melupakanku diluar?" Ya, mereka memang pergi bersama dari Markas tetapi pada saat sudah bertemu dengan Emely, Keil melupakan dirinya begitu saja. Sahabat terlucknut..... ingin bercinta disaat masih terdapat dirinya.
Hah. Keil memang melupakan sahabatnya itu. "Kau bisa menungguku sampai selesai, bukan?!"
"Sampai kapan? Sampai malam? Hah, aku bisa gila menunggu kalian bercinta." Perkataan Daniel yang tidak tahu malu itu membuat Emely menyembulkan rona merah di sekitar wajahnya.
"Sana cari wanita!" Keil melambaikan tangan, sebagai tanda sahabatnya itu harus pergi dari apartemen.
"Kau mengusirku?!" Sungguh Daniel terperangah tidak percaya.
"Ya, supaya aku dan Eme bisa melanjutkan yang tadi."
"Tidak tau malu," ejek Daniel.
"Kau sama saja denganku, bodoh!" seru Keil.
"Hahaha kau benar. Kalau begitu lanjutkan saja. Aku akan mencari wanita di sekitar sini." Daniel memutar langkahnya.
"Tidak ada wanita di sekitar sini, hanya ada lansia," ujar Keil hingga langkah Daniel terhentikan.
Daniel mendengkus kesal. "Kau sudah gila menyodorkan lansia padaku?!" hardiknya. Ia tidak kehilangan akal sehat. "Tempat macam apa yang tidak terdapat wanita seksi dan cantik," gerutunya hingga membuat Keil serta Emely terkekeh. Keil hanya mengerjai Daniel saja, balasan karena sudah mengganggu dirinya.
.
.
To be continue
.
.
Jangan lupa like, vote, follow dan komentar kalian 💕 terima kasih.... jaga kesehatan kalian 🤗
Sambil nunggu up, mampir ke karya adik Yoona yang keceh ini ya 🤗🤗
__ADS_1