Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Kenapa harus mengawasiku?


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi??!!"


Seseorang masuk begitu saja dan melayangkan pertanyaan. Baik Nico dan Jennifer terkejut ketika mendengar suara yang tidak asing dan kemudian keduanya menoleh serentak.


"Kak Vie...?"


"Bos...."


Dengan dingin seperti biasa, Xavier masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Jack kemudian. Sorot mata Xavier melirik singkat pada telapak tangan Nico yang dibalut perban itu. Sementara Jennifer yang melihat sang kakak yang tiba-tiba berada di rumah sakit membuatnya terkesiap dengan raut wajah yang terkejut. Bukankah kakaknya itu masih berada di Swiss? Sejak kapan sudah berada di London? pikirnya.


Berbeda dengan Nico yang meskipun terkejut akan kedatangan bos yang tanpa memberikan kabar, ia tetap memasang wajah datar dan biasa saja. Namun membenarkan posisi duduknya, saling berhadapan dengan bos yang berdiri tegak dengan memasukkan kedua tangan pada saku celana. Tatapan dingin itu sudah dapat Nico tebak, apalagi jika bukan menuntut penjelasan kepadanya.


Nico berusaha menyembunyikan helaan napasnya, sudah pasti ia akan terkena amukan sang singa. Terlebih lagi Jack juga menatapnya dengan tajam.


Ah, dua pria yang kaku dan dingin.


"Apa kau baik-baik saja?" Xavier meneliti wajah hingga bagian tubuh Jennifer yang mengekspos kulitnya itu. Tidak ada luka goresan sedikitpun di tubuh sang adik.


"I-iya Kak, aku baik-baik saja....." jawabnya gugup. "Kak Vie kenapa bisa berada disini?" Pertanyaan Jennifer itu memecah kecanggungan yang sempat melingkupi mereka.


"Apa aku tidak boleh kembali, hm?" Datar namun menatap dengan dingin sehingga mampu membuat suasana ruangan membeku.


"Hem, bukan begitu Kak." Jennifer mengusap tengkuk lehernya. Kenapa dirinya seperti tertangkap basah telah berbuat sesuatu yang bukan-bukan. Dan setelah dipikir-pikir untuk apa dirinya takut jika tidak melakukan kesalahan. "Maksudku bukankah kakak sedang berada di Swiss?"


"Apa menurutmu sulit untukku kembali dari Swiss ke London, hm?" Jawaban yang semakin membekukan suasana.


"Haha tentu hal itu adalah sesuatu yang mudah untuk Kak Vie, lagipula jarak Swiss ke Kota London hanya perlu waktu dua jam lebih." Sungguh Jennifer semakin dibuat mati kata akan tatapan Xavier yang memang tidak bisa dibodohi. Jennifer pun menoleh ke arah Nico, bermaksud meminta bantuan pada bodyguardnya itu dari isyarat kedua matanya. Namun Nico hanya mengangkat kedua bahunya.


"Hem...." Lagi-lagi jawaban Xavier benar-benar tidak mencairkan suasana, justru semakin dingin seolah adanya badai salju. Dan kemudian sorot matanya tertuju kepada Nico yang sejak tadi terdiam. "Jelaskan padaku apa yang tidak aku ketahui?!"


"Sorry bos. Semua salah kami, gudang terbakar dan...." Xavier mendelik, sebagai tanda isyarat Nico harus menghentikan ucapannya karena di dalam masih terdapat Jennifer. Tentu saja Jennifer menatap curiga kepada tiga pria itu.


"Jenn, bisakah kau keluar dari ruangan sebentar saja," pinta Xavier kemudian.


"Tapi Kak, apa aku tidak boleh tau apa yang sebenarnya terjadi?" Jennifer begitu enggan, dan bersikeras tetap berada di dalam ruangan. Sejujurnya ia sangat penasaran akan sosok pria yang berusaha mencelakai dirinya, sudah pasti ada sesuatu yang dirahasiakan.


"Jenn, apa kau sudah lupa apa yang pernah Kak Vie katakan?" Dan Jennifer menggeleng, hingga membuat Xavier berdecak dan menyentil kening adiknya tersebut. "Jika terlalu banyak bertanya maka akan cepat mati!!"


"Iya..... iyaa.... aku mengerti." Sembari mengusap keningnya yang disentil oleh sang kakak. "Kalau begitu aku permisi keluar dulu...." Xavier berdehem sebagai jawaban hingga dengan pasrah Jennifer melangkah menuju pintu, tetapi sebelum itu ia melirik ke arah Jack terlebih dulu, terlihat Jack yang tengah mengulum senyum padanya. Jennifer memelototi Jack karena pria itu kelihatannya begitu senang dirinya di usir oleh sang kakak.


"Katakan!!" seru Xavier setelah Jennifer tidak terlihat lagi dari dalam ruangan dan benar-benar sudah keluar dari sana.


"Ada seseorang yang membakar gudang rahasia dan wanita yang kami sekap menjadi korban, sehingga tewas di tempat."


Keterangan Nico membuat Xavier mengerutkan keningnya. "Siapa wanita itu?"


"Kekasih dari Johannes Loman, bos," sahut Nico.


"Siapa dia?!"


"Manager di perusahaan GL, bos."

__ADS_1


"Kenapa kalian bisa menyekap wanita itu?"


"Bos, kau bertanya sekaligus saja. Kenapa harus satu-satu seperti itu?" gerutu Nico. Dirinya seperti terdakwa yang akan diadili hukuman mati saja.


"Siapa bos disini?"


"Tentu saja kau, bos."


"Kalau begitu tidak perlu banyak protes!" cetus Xavier kesal.


"Iya, baiklah bos...." Sejujurnya yang lebih kesal adalah Nico. Jack menahan tawanya di dalam sana. Ia tidak berani menyela ataupun membuka suaranya di saat bos tengah menjadi buas seperti itu.


"Sekarang jelaskan kronologi kejadiannya!" perintah Xavier kembali dan kemudian Nico menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dari Johannes yang menggelapkan uang perusahaan GL Corp yang membuat mereka menyekap kekasih dari pria itu.


"Sepertinya ada seseorang yang ingin mengadu domba Black Lion bos, sehingga Johannes ingin membalaskan kematian kekasihnya melalui Nona Jennie." Itulah yang disimpulkan oleh Nico mengingat perkataan Johannes padanya. Sudah pasti ada seseorang yang dengan sengaja mempengaruhi Johannes.


Sejak Nico bercerita, Xavier mencerna satu persatu hingga kini ia mendapatkan kesimpulannya. "Jadi dia mengira jika Jennie adalah kekasihmu? Dan dia ingin kau merasakan kehilangan seseorang sepertinya?"


"Iya seperti itu bos, hehe." Nico terkekeh. Sungguh sangat bodoh dan terlihat konyol.


Xavier berdecak. "Selesaikan masalah kalian. Aku tidak ingin Jennie menjadi targetnya lagi atau target siapapun. Habisi pria yang bernama Johannes itu, jangan biarkan dia menghirup udara bebas lagi!"


"Baik bos...."


"Kalau begitu, mulai hari ini dan seterusnya kau harus tetap menjaga Jennie. Habisi siapa saja yang berusaha ingin mencelakai adikku!" Perintah Xavier. Untuk saat ini ia mempercayakan Jennifer kepada Nico.


"Dengan senang hati bos." Karena terlalu bersemangat sehingga Nico kelepasan menjawabnya.


"Tidak bos, maksudku aku akan menjaga Nona Jennie sebaik mungkin," koreksi Nico. Bisa gawat jika bos curiga dengan rencananya yang ingin mendekati Nona Jennie-nya. Terlebih lagi saat ini Jack tengah menatap penuh selidik padanya.


Xavier mengangguk, percaya akan ucapan salah satu anak buahnya tersebut. "Lalu bagaimana dengan pria yang ku minta untuk diselidiki?"


"Hem sorry bos, aku belum mendapatkan informasi apapun mengenai pria itu."


"Bodoh. Begitu saja tidak bisa! Bukankah selama ini kau selalu mudah mendapatkan informasi sekecil apapun?!" Rasanya tidak mudah percaya begitu saja, Xavier mengoreksi pekerjaan Nico beberapa minggu terakhir.


"Benar bos, tapi sepertinya Nona Jennie hanya berteman saja dengan pria itu."


"Apa kau yakin?"


"Yakin bos, aku akan memastikan pria itu. Aku akan menyingkirkannya dari Nona Jennie jika pria itu ingin mendekati Nona Jennie."


Poor Nico, kau menggali lubang kuburmu sendiri.


Rasanya Nico baru saja meruntuki ucapannya tersebut. Demi melindungi Nona Jennie-nya sehingga ia rela membohongi bos yang sudah bertahun-tahun lamanya bersama dengan dirinya.


Xavier mengangguk. "Baiklah, aku serahkan kepada kalian! Jauhi siapapun yang berusaha mendekati adikku!" Perkataan Xavier selalu menjadi sebuah perintah sehingga siapapun tidak bisa membantah.


"Apa termasuk diriku, bos?" Tentu saja Nico hanya bisa berkata di dalam hati. Nyalinya terlalu menciut jika berhadapan dengan bos. "Baik bos, sesuai perintah!" sahutnya.


"Kalau begitu aku harus kembali."

__ADS_1


"Kemana bos?" Nico mendadak bingung. Bukankah bos nya itu baru saja tiba di London.


"Tentu saja ke Swiss. Aku hanya izin kepada istriku untuk mengurus suatu hal mengenai Jennie. Tetapi tidak dengan kedua putra dan putriku, mereka pasti akan kecewa jika aku tidak kembali kesana."


Hah. Nico tercengang. Definisi pria kaya raya yang bebas pergi dan kembali sesuka hati, hanya bosnya-lah yang bisa melakukannya. "Baik bos hati-hati. Sampaikan salamku kepada Nona bos."


"Semoga lukamu cepat sembuh Nic," sambar Jack.


"Kenapa hari ini kau pendiam sekali, Jack?" ujar Nico penuh dengan sindiran. Sejak tadi Jack memang lebih pendiam dari biasanya. Bahkan tidak menyela ataupun mengejek dirinya.


"Tenagaku sudah terkuras habis, hehe," jawab Jack dengan tidak tahu malu.


"Astaga, apa yang kau lakukan?" seru Nico meskipun ia sendiri sudah mengetahui jawabannya.


"Menurutmu apa yang dilakukan sepasang suami istri?" ujar Jack kembali.


"Ck, yang tidak suami istri saja bisa melakukannya!" cetus Nico.


"Jangan samakan aku denganmu, berengsek!" Jack menghardik.


"Haha, akhirnya kau marah juga!" Bagi Nico, menggoda Jack adalah sesuatu yang ia sukai. Wajah Jack pasti akan memerah dan kemudian meledak-ledak.


Xavier menggeleng melihat kedua anak buahnya yang saling berdebat sesuatu yang tidak penting. "Jack, kita tidak memiliki banyak waktu!" Xavier mengingatkan. Karena dirinya hanya memiliki waktu enam jam saja dan waktu yang terbuang hampir tiga jam.


"Baik bos...."


Dan kemudian Xavier meninggalkan ruangan. Jack mengekori tetapi menoleh singkat kepada Nico sebelum melenggang pergi. "Ingat, aku mengawasimu!" tuturnya menunjuk kedua matanya menggunakan dua jarinya dan kemudian mengarahkan kedua jarinya tersebut kepada Nico, sebagai tanda jika kedua matanya selalu mengawasi dirinya.


"Astaga, asisten sialan. Kenapa harus mengawasiku?!" Nico mendecakan lidahnya setelah bos dan Jack lenyap dari pandangannya.


.


.


To be continue


.


.


Baba Xavier



Pliss banget Yoona mau karungin nih si baba Vier.... di kekepin di rumah aja 😭


Bang Jack



Like, vote, follow dan komentar 💕

__ADS_1


__ADS_2