
Dua asisten tergopoh-gopoh memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu disertai wajah keduanya yang nampak memucat dan panik secara bersamaan. Sontak saja membuat Nico, Keil serta Daniel menoleh serentak dengan raut wajah yang kesal.
"Apa kalian lupa caranya mengetuk pintu, heh?" hardik Daniel menyindir tajam.
Kedua asisten mereka membungkukkan tubuh dan meminta maaf. "Maafkan kami, ada berita penting yang harus kami sampaikan."
"Ada apa?" tanya Keil dengan tenang. Mereka bertiga penasaran hal penting apa yang ingin disampaikan.
"Gudang....." Rasanya sulit sekali menyampaikan hal tersebut sehingga suaranya menjadi terbata-bata.
"Gudang terbakar bos...." sela asisten yang lebih dewasa tersebut.
"Apa maksudmu?" Nico gagal mencerna ucapan keduanya.
Kedua asisten itu semakin gugup. "Gudang tempat penyekapan kekasih Johannes terbakar bos." Kembali mengulangi perkataannya dan kali ini diperjelas.
"Apa??!" Keterangan asisten mereka itu tentu saja membuat terkejut.
"Kalian selesaikan saja pekerjaan kalian, biar kami yang memeriksa kesana." Lantas Nico beranjak berdiri dari duduknya dan berlari keluar dari ruangan disusul oleh Keil dan Daniel setelahnya. Dan kemudian kedua asisten itu mengangguk mengerti.
Waktu yang hanya memakan waktu sekitar 20 menit mengantarkan mereka ke lokasi gudang. Api yang menghanguskan gudang tersebut sudah menyurut sehingga meninggalkan kabut asap tebal yang memenuhi sekitar. Terlihat beberapa anak buah Black Lion yang baru saja memadamkan api tersebut.
"Dimana wanita itu?" tanya Nico.
"Maaf bos Nico, kami tidak bisa menyelamatkan wanita itu. Tubuhnya hangus terbakar."
Nico diam membisu, pun dengan Keil juga Daniel. Mereka terlihat begitu syok karena bukan ini rencana mereka. Kematian wanita itu bukan atas perintah ataupun keinginan mereka.
"Kenapa bisa gudang ini terbakar?" Keil menyambar pertanyaan. Ada sesuatu yang ganjil yang ia tangkap. Seingat dirinya, satu jam yang lalu ia mendapatkan laporan jika wanita itu masih terisak dengan tangisnya.
"Kami juga tidak mengerti bos, padahal satu jam lalu kami hanya meninggalkan tempat ini sebentar saja. Tetapi begitu kami kembali, gudang ini sudah terbakar, dan kami terlambat menyelamatkan wanita itu."
Keil dan Daniel menghembuskan napas dengan kasar. "Baiklah, kalian lanjutkan saja," ujar Keil.
"Lalu bagaimana dengan jasadnya?"
"Gunakan peti untuk membawanya," ucap Nico kemudian.
"Baik....." Meninggalkan ketiga bos mereka. Dan mulai mengambil peti mati yang berada di Markas Black Lion.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang aneh," tutur Daniel hingga membuat Nico dan Keil menoleh ke arahnya. Keduanya pun mengangguk setuju.
"Apa wanita itu sengaja membakar dirinya?" Sejak tadi itulah yang dipikirkan oleh Keil. Entah benar atau tidak. Rasanya tidak mungkin gudang itu terbakar dengan sendirinya karena tidak adanya aliran listriknya, terlebih lagi barang-barang yang memicu kebakaran itu.
"Di sekitar gudang tidak terdapat cctv, sehingga kita akan sulit menemukan suatu petunjuk." Sebelumnya Nico memperhatikan jalan di sepanjang perjalanan dan tidak menemukan cctv di setiap jalan menuju gudang.
"Aku akan mencoba meretas beberapa cctv di sekitar sini. Mustahil jika semua cctv rusak dan tidak bekerja dengan baik." Daniel adalah peretas yang handal, jadi masalah seperti ini tidak terlalu sulit baginya.
"Kau benar." Keil mengangguki. "Tapi kita harus kita harus segera kembali ke perusahaan terlebih dulu."
"Ayoooo...." seru Nico dan Daniel, berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir.
Namun tangan Nico yang terulur menyentuh handle pintu itu terhenti sejenak akan suara dering ponselnya yang berada di dalam saku jas. Nama Elma tertera di layar ponselnya, sehingga Nico tidak ingin membuang waktu untuk menjawabnya.
"Ada apa?" tanyanya dan mendengarkan penuturan Elma di seberang sana. "Baiklah, aku akan segera kesana." Dan kemudian kembali memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas.
Keil dan Daniel menunggu penjelasan ada apa kiranya Elma menghubungi Nico. "Nona Jennie baru saja kembali dari Kota Newcastle," tuturnya.
"Kalau begitu tunggu apalagi, lebih baik kau kesana menjemput Nona Jennie," seru Daniel begitu antusias. Sorot matanya itu mengatakan jika tidak perlu membuang-buang waktu.
"Sebaiknya kau gunakan mobil ini saja." Keil melemparkan kunci mobil miliknya kepada Nico hingga membuat Nico reflek menangkap kunci mobil tersebut.
***
Nico memperlambat laju mobil dan kemudian menepi di pinggir jalan Lower Thames St, London. Elma baru saja mengirimkan pesan jika Jennifer dan juga Jane tengah makan siang di Paul Three Quays Cafe.
Posisi Jennifer yang duduk di tempat duduk area terbuka memudahkan Nico untuk memperhatikan wanita itu dari dalam mobil. Senyumnya tidak memudar sejak beberapa menit yang lalu menemukan Nona Jennie-nya di antara pengunjung lain yang juga duduk di tempat terbuka.
Puas memandangi Nona Jennie, Nico kemudian turun dari mobil. Ia tidak akan mengganggu hingga wanita itu menyelesaikan makan siangnya, sehingga memutuskan menunggu di sisi mobil sembari melihat sekitar. Pandangannya terhenti pada dua sosok pria yang dengan setelan jas yang terlihat gagah itu tengah memperhatikan Nona Jennie dengan saling berbisik. Jennifer memang memiliki wajah cantik yang imut dan lucu sehingga siapa saja pasti akan terhipnotis, tetapi justru itu membuat Nico tidak menyukai jika ada pria lain yang memandang Nona Jennie dengan penuh minat.
Nico bersiul kecil, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Ia berjalan menuju beberapa meja dari jarak tempat duduk Jennie. Dengan santainya berjalan kesana kemari, berpura-pura menendang kerikil-kerikil hanya untuk menghalangi pandangan kedua pria itu. Hasilnya kedua pria tersebut berdecak kesal dengan saling mengumpat, berulang kali mereka mengisyaratkan Nico untuk segera menyingkir namun sayangnya Nico tidak mengindahkan keinginan kedua pria itu. Ia tidak peduli, bahkan sengaja berpura-pura tengah menghubungi seseorang.
Kedua pria itu pergi dari sana dalam keadaan kesal dan apa yang baru saja dilakukan oleh Nico membuatnya berpuas diri, terkekeh seorang diri hingga membuat Jennifer kini menyadari keberadaan Nico. Posisi Nico lurus tepat dimana pandangan Nona Jennie-nya itu tertuju.
Jennifer terkesiap, ia memastikan penglihatannya. Seseorang yang mirip dengan bodyguardnya berdiri tidak jauh dan sedang memperhatikan dirinya. Tidak, bukan mirip, melainkan pria itu memang-lah Nico bodyguard raksasa yang menyebalkan.
Karena Jennifer sudah melihat dirinya, Nico menebar senyuman. Senyuman mematikan yang bisa membuat wanita-wanita terhipnotis seketika, seperti Jennifer saat ini. Wanita itu justru berlama-lama memandangi Nico tanpa sadar.
__ADS_1
"Ada apa Nona?" Jane mengikuti kemana arah pandangan Jennifer. Keningnya berkerut lantaran melihat sosok yang tidak asing. "Nona, itu Tuan Nico. Kenapa dia juga bisa berada disini?" serunya hingga membuat Jennifer tersadar dari lamunannya.
"Iya, itu memang dia. Sudah biarkan saja. Aku tau dia mengetahui keberadaan kita dari siapa!" Dan kemudian Jennifer melirik ke arah Elma yang memasang wajah datar. Pelakunya itu sudah pasti bodyguard pengganti tersebut.
"Sebaiknya kita selesaikan makan kita." Jennifer kembali memasukkan suapan avocado & bacon toast ke dalam mulutnya.
"Baik Nona."
Selang beberapa saat, Nico kembali ke sisi mobil, ia menarik kedua sudut bibirnya tipis melihat perubahan raut wajah Jennifer yang tertekuk itu. Apa dirinya telah berbuat salah? Sehingga wanita itu terlihat seperti kesal padanya?
Beberapa menit berlalu, Jennifer baru saja menyelesaikan makanannya, ia menghabiskan ice cappucino miliknya. Sebelum kemudian beranjak berdiri diikuti oleh Jane dan juga Elma.
Nico hendak menghampiri Nona Jennie dengan tidak menyurutkan senyumnya. Namun perlahan senyuman itu memudar ketika pandangannya teralihkan pada sosok pria mencurigakan yang berjalan ke arah Jennifer. Nico mempercepat langkahnya, sebelum pria itu berbuat sesuatu kepada Nona Jennie. Benar saja, beberapa saat kemudian pria itu mendorong Elma dan juga Jane bersamaan sehingga berangsur menjauh dari Jennifer. Pria tersebut melayangkan pisau ke arah Jennifer dan hendak menghantamkam pisau itu ke punggung Jennie.
"Nona, awas!!!!" Jane berteriak, sementara Elma hendak menghalau tangan pria itu.
Jleb
Nico menarik Nona Jennie ke dalam dekapannya sehingga tubuh Jennifer terhindar dari hantaman pisau tersebut. Jennifer mendongakkan wajahnya menatap Nico, ia benar-benar terkejut apa yang baru saja terjadi. Sementara di sekitarnya beberapa orang yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Terlebih lagi ketika darah bercucuran dari telapak tangan Nico karena berusaha menahan pisau tersebut.
Siapa yang mengincar Nona Jennie?
.
.
To be continue
^^^.^^^
.
.
Like, vote, follow dan komentar kalian π
Author Yoona sudah post di Instagram visual anak2 babang Zayn, Bang Roy dan Bang Jeff. Jadi yang tanya cerita mereka sudah terjawab di IG hihihi βΊοΈπ€
IG : @rantyyoona
__ADS_1