
Para mempelai pria sudah berganti pakaian dengan tuxedo hitam yang melekat pas di tubuh. Mereka sudah tidak sabar ingin melihat secara langsung wanita-wanita mereka yang kini sedang melakukan proses pemotretan. Keil nampak selesai lebih dulu, ia berdiri menghadap keluar jendela dimana di bawahnya terdapat sang wanita pujaan hati tengah mengenakan gaun pengantin dan menghadap kamera. Keil tersenyum, ia terpesona akan kecantikan istri yang baru ia daftarkan secara negara itu dan hari ini ia akan menikahi wanita itu secara agama.
Dan yang dilakukan Daniel sama seperti Keil, pria itu memandangi Ashley dari balik jendela. Daniel juga terkesima, ia menatap tanpa pedulikan sekitarnya. Sementara Nico sudah menghilang dari ruangan, langkah panjangnya menuju dimana tempat calon istrinya itu tengah melakukan sesi pemotretan dan benar saja langkahnya menemukan wanita cantik itu. Dengan balutan pengantin tanpa lengan serta bagian bahunya yang dibiarkan terekspose menampakkan leher jenjang Jennifer dengan rambut yang diikat keatas. Nico tersenyum memamerkan deretan giginya, sehingga Jennifer yang sudah menyadari Nico kenera Nico yang berdiri di ambang pintu menyapa dengan anggun dan sedikit membungkuk bak layaknya seorang putri menyapa pangerannya.
"Ehem...." Xavier sudah berdiri di belakang Nico, ia berdehem sangat keras hingga membuat Nico tersentak kaget dan sontak memutar arah tubuhnya.
"Bos..." Lagi-lagi ia tertangkap basah. Nico menggaruk lehernya yang tidak gatal. Gawat jika sampai bos memberikan ultimatum mematikan lagi.
"Aku ingin bicara denganmu, ikutlah denganku." Xavier segera berlalu, dan langkahnya diikuti oleh Nico. Sepertinya bosnya itu dalam mood jinak.
"Ada apa bos?" Kini keduanya sudah berada di halaman khusus mobil-mobil yang terparkir.
Xavier diam sesaat, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya. Sebelum kemudian menatap Nico dengan tatapan datarnya. "Aku titipkan Jennie padamu, jaga dia dengan sepenuh hati dan jiwa ragamu, lindungi dia dengan nyawamu. Aku melepaskannya untukmu dan memberikan tanggung jawab yang sudah tidak bisa kulakukan lagi seperti sebelumnya." Ada jeda selama beberapa saat, Xavier sulit untuk mengatakannya, kedua matanya mengembun, sesuatu hendak tumpah dari penampungannya, tetapi ia masih bisa menahan semua itu. "Jika suatu saat nanti kau marah atau sudah tidak mencintainya lagi, kau bisa mengembalikannya padaku."
Nico nyaris saja menangis mendengar penuturan bosnya yang terdengar sangat tulus itu. Meskipun terkenal dingin dan kejam, ia sangat tahu bos adalah seorang pria yang penyayang keluarga. Selama ini bos bertaruh nyawa demi keluarganya.
"Aku berjanji akan menjaga Jennie seumur hidupku bos. Jika aku menyakitinya, kau bisa membunuhku kapanpun. Aku akan menjadi bagian dari keluarga Romanov, jadi sudah sewajarnya bos membagi beban padaku."
Xavier mengulas tipis, ia cukup tersanjung akan kalimat Nico yang menginginkan ia membagi bebannya padanya. "Jika kau sudah memikul beban itu, kau sudah tidak akan bisa mundur lagi. Dan aku akan membunuhmu jika berani menyakitinya!"
"Tentu bos, dengan senang hati," sahutnya disertai mata yang berkaca-kaca.
Keduanya kemudian saling berpelukan, Xavier menepuk bahu Nico dan Nico juga melakukan hal yang sama. Mereka menghapus sudut mata yang basah. Baru kali ini mereka bicara hingga melelehkan air mata.
"Ada apa ini, kenapa kalian berdua berada disini?" Suara Daddy mengakhiri pelukan putra dan calon menantunya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa Dad, hanya bicara sebagai sesama pria."
Daddy Jhony mengangguki sahutan putranya itu, lalu tatapannya beralih pada Nico, pria yang sebentar lagi akan menjadi suami dari putri tercintanya. Daddy Jhony tersenyum hangat, ia tidak pernah membedakan status orang lain. Meskipun ia mengetahui Nico adalah seorang Mafia, tapi ia tidak mempermasalahkan itu. Ia yakin putranya itu tidak akan mengambil keputusan yang salah.
"Daddy titipkan putri Daddy padamu, dia adalah harta berharga di keluarga kami." Tatapan mata yang dipenuhi guratan kasar itu penuh ketulusan disana.
Lagi. Ah, rasanya Nico nyaris menangis. Sungguh ia tidak bisa dalam situasi mengharukan seperti ini. "Iya Tuan, saya akan menjaga dan melindungi Jennie dengan nyawa saya. Tuan dan bos bisa pegang janji saya." Sorot mata Nico dipenuhi keyakinan dan ketegasan, ia selalu berpegang teguh pada janjinya. Dan sudah pasti ia tidak akan pernah ingin mengkhianati orang-orang sebaik Keluarga Romanov.
Daddy Jhony terkekeh, yang ia sukai dari Nico adalah prinsip dan ketegasannya yang sama seperti putranya itu. "Baiklah, Daddy pegang janjimu. Kau tau apa yang bisa diperbuat putraku jika kau sampai melukai Jennie," serunya dengan tawa ringan dan Nico mengangguk mantap. "Dan sudah ku katakan panggil aku Daddy bukan Tuan. Kau akan menjadi menantuku." Menepuk-nepuk bahu Nico dengan sekuat tenaga.
"Iya Dad....." Rasanya Nico kembali memiliki orang tua yang utuh.
"Sebaiknya kita kembali Dad, acara akan segera dimulai," ujar Xavier menyela yang langsung diangguki oleh Nico dan Daddy Jhony.
Ketiganya kembali ke dalam, lalu saling melangkah ke tempat mereka masing-masing. Nico menghampiri Keil setelah bos serta calon mertuanya itu kembali bergabung dengan keluarga besarnya.
"Disana." Lalu Keil menunjukkan keberadaan Daniel yang sedang berbicara dengan Daddy Howie.
Nico hanya tersenyum, ia bisa melihat jika hubungan Daniel dan Paman Howie sudah jauh lebih baik, bahkan Daniel sudah menganggap pria itu sebagai ayahnya juga. Lama berbincang, akhirnya Daniel kembali kepada posisi semula.
Dan inilah acara sakral yang di tunggu-tunggu. Ketiga mempelai pria sudah berdiri di depan altar, sementara ketiga wanita berjalan menuju altar, dimana calon suami mereka menunggu dengan seulas senyum disertai tatapan penuh cinta. Daddy Jhony menjadi wali dari Jennifer serta Emely, pria paruh baya itu tidak masalah dan justru menganggap Emely juga sebagai putrinya. Ashley yang di dampingi Daddy Howie menatap lurus kedepan dengan tangan yang melingkar di lengan Sang Daddy. Emely serta Jennifer juga melingkarkan tangan di lengan Daddy Jhony. Ketiganya melangkah gugup, tetapi tidak mengurangi kecantikan mereka yang bagaikan tuan putri.
Baik Daddy Jhony dan Daddy Howie menyerahkan tangan putri mereka kepada ketiga pria yang sudah mengulurkan telapak tangan ke arah mempelai wanita mereka masing-masing.
Jennifer, Emely serta Ashley menyembulkan semburat merah di sekitar wajah mereka, lalu menerima uluran tangan calon suami mereka. Dan ketiganya segera menghadap pendeta. Pemberkatan dimulai, mereka mendengarkan apa yang disampaikan oleh pendeta, hingga pada akhirnya mereka mengucapkan janji suci pernikahan. Dan kini mereka resmi menjadi pasangan suami istri, pendeta tersebut meminta agar ketiga calon mempelai saling memasangkan cincin dan menciumi istri mereka masing-masing.
__ADS_1
Tidak ada yang mendahului, mereka bersama-sama menyematkan cincin di jari manis pasangan masing-masing. Dan hingga pada akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh ketiga bastard itu akan segera mereka lakukan, yaitu mencium bibir wanita yang sudah menjadi resmi menjadi istri mereka. Suara riuh tepuk tangan menggema di udara, mereka bersorak menyaksikan ketiga mempelai berciuman dan saling melummat bibir satu sama lain. Pada akhirnya mereka yang dijuluki pria bajingan mendapatkan seorang wanita baik-baik seperti yang mereka idam-idamkan.
Berbeda dengan ketiga pasangan pengantin itu yang masih saling bertukar saliva, Daddy Jhony menenangkan Mommy Marry yang menangis penuh haru. Mereka harus merelakan putrinya untuk menempuh kebahagiaannya. Dan sudah sedari tadi Xavier memeluk Elleana, menumpahkan rasa bahagia sekaligus sedih bersamaan. Kini sosok Jennie yang selalu membuatnya kesal sudah menyandang status seorang istri. Rasanya baru kemarin ia selalu mengajak adiknya bermain dan selalu menjahilinya.
"Sudah Hubby, hari ini adalah hari bahagia Jennie, kenapa kau malah menangis?" Elleana mengusap-usap punggung suaminya. Tidak dipungkiri jika sejak tadi ia pun turut menitikkan air mata.
"Tidak Sweety, aku tidak menangis." Berbeda dengan mulutnya yang mengelak, bahasa tubuh Xavier menandakan jika pria itu memang tengah menangis dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya, bahunya yang kekar itu kentara bergetar.
"Mommy dan Daddy kenapa?" Austin menengadah, ia menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan bingung.
"Tidak apa-apa sayang." Elleana mengusap kepala putranya yang masih menatapnya dengan penasaran.
Lalu Jack datang menghampiri, sejak pagi ia berada disana dengan Edward dan keluarga kecilnya.
"Bos, tiga jam lagi kita akan pindah ke Mandarin Oriental Hotel."
Xavier diam tidak menanggapi, Elleana hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban akan arti tatapan Jack.
To be continue
Yoona gak kasih visual ya, nanti cuplikan videonya menyusul 🤗
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...