
Untuk meredam amarahnya yang nyaris meledak, Xavier butuh pelampiasan. Akan tetapi bukan pelampiasan seperti menyiksa seseorang, melainkan pelampiasan menyalurkan hasratnya hingga puas. Ah tidak, ia tidak akan pernah puas jika sudah bergumul di atas ranjang bersama sang istri. Melangkah panjang, Xavier dengan gagahnya memasuki Mansion. Jack bergegas kembali ke Mansion miliknya karena pria itu juga merindukan istri serta putranya. Karena sudah hampir beberapa minggu Jack meninggalkan mereka, terlebih Millie tengah mengandung kembali.
"Sweety?!" Xavier berteriak, menyapukan pandangan ke sekitar mencari keberadaan sang istri. Sungguh ia merindukan wanita yang selalu memenuhi hati dan pikirannya itu.
"Astaga Hubby....." Elleana menuruni tangga dengan berhati-hati. Ketika di dalam kamar samar-samar mendengar suara sang suami, lantas ia tergesa-gesa ingin memastikannya. Ternyata benar suaminya sudah pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Elleana menghambur ke pelukan Xavier dan membenamkan kepalanya di dada sang suami yang sudah berminggu-minggu lamanya tidak bertemu.
"Aku merindukanmu, Sweety," bisiknya mendekap erat tubuh istrinya. Keduanya saling memeluk untuk melepaskan rindu yang nyaris menggerogoti. Beberapa saat berpelukan, Xavier mengurai pelukan mereka lalu membenamkan ciuman di bibir Elleana, tidak pedulikan kini dirinya berada di mana. Mata Elleana membeliak karena suaminya mencium dirinya tiba-tiba tetapi tidak dipungkiri jika ia juga merindukan sentuhan suaminya, sehingga ia membalas ciuman sang suami.
Tanpa mereka sadari sejak tadi ada orang lain yang menyaksikan kemesraan sepasang suami istri tersebut. Jennifer mencebikkan bibirnya, karena yang dilakukan kakak serta kakak iparnya sangat tidak baik jika dilihatnya oleh anak-anak seusia keponakannya, sehingga kedua tangannya berusaha menutupi mata Arthur dan juga Aurelie.
"Aunty Jenn, kenapa mata Al di tutup?" Arthur memperoleh Aunty kesayangannya itu. Karenanya ia tidak bisa melihat.
"Mata Elie juga kenapa ditutup seperti ini?" timpal Aurelie merasa aneh dengan sikap Aunty mereka.
"Sshhttt.... kalian diam saja. Mommy dan Daddy kalian sedang bermain tabrak bibir."
Hah. Mulut Arthur dan Aurelie membentuk bulatan, tercengang dengan penuturan Aunty yang tidak mereka mengerti.
"Apa Daddy sudah pulang?" tanya Arthur.
"Sudah, biarkan Daddy dan Mommy kalian bermain disana."
Arthur hanya ber-oh saja, berbeda dengan Aurelie yang berusaha menyingkirkan tangan Jennifer yang menutupi matanya. "Aunty Jenn, Elie ingin melihat permainan tabrak bibir Daddy dan Mommy seperti yang Aunty katakan."
"Astaga...." Jennifer baru menyadari jika perkataannya itu justru membuat keponakannya yang cantik itu menjadi penasaran, ia meruntuki kebodohannya. "Sudahlah sayang, sebaiknya kita kembali ke kamar, kasihan Austin di tinggal terlalu lama." Dan kemudian Jennifer menarik bahu kedua keponakannya, menghindari hal tidak-tidak yang akan mereka lihat. Dengan terpaksa Arthur dan Aurelie mengikuti langkah Aunty mereka.
"Ck, kenapa kalian tidak melakukan itu di kamar saja," gerutu Jennifer menoleh, menatap sepasang suami istri itu masih bercumbu dengan mesra.
***
Xavier baru saja selesai membersihkan diri seusai pergumulan panas mereka. Dilihatnya sang istri yang duduk di depan cermin, wajah cantik istrinya itu di tekuk disertai bibir yang mengerucut kesal. Bagaimana tidak, karena dirinya melakukan penyatuan berulang kali.
Merasa gemas, Xavier membungkukkan tubuhnya dan memeluk sang istri dari belakang. "Maaf Sweety, aku benar-benar tidak pernah puas." Meskipun usia mereka yang tidak lagi muda dan juga sudah memiliki anak, Xavier tidak akan pernah berhenti memuja kemolekan tubuh istrinya, sehingga ia selalu candu dan candu.
"Kau ini...." Elleana masih kesal, ia memutar bola matanya malas. Entah kenapa tenaga suaminya itu tidak pernah berkurang dan terus-terusan menggempurnya hingga ia dibuat kelelahan.
Xavier tersenyum yang nyaris dipaksakan, sehingga membuat Elleana menelisik dalam wajah suaminya. Meskipun tidak bercerita, ia bisa memahami raut wajah sang suami jika ada sesuatu yang di pikirkan. "Apa terjadi sesuatu, hm?" Telapak tangannya terulur membelai rahang suami yang dipenuhi bulu-bulu halus.
Xavier mendesahkan napasnya ke udara. Ia menarik tangannya yang memeluk sang istri lalu duduk di tepi ranjang dengan masih mengenakan bathrobe. Elleana beranjak lalu mendekati suaminya itu. Hingga Xavier membawanya duduk di pangkuannya. Kepada sang istri ia mengadu keluh kesahnya, memang tidak ada sesuatu yang ia sembunyikan, ia berusaha selalu terbuka. Menceritakan perihal Jennifer yang diam-diam menjalin hubungan tanpa sepengetahuan dirinya.
"Apa aku bukan kakak yang baik, Sweety?" Xavier melingkarkan kedua tangannya di pinggang Elleana, membenamkan kepala di antara gundukan kembar sang istri.
Elleana tersenyum membelai rambut suaminya. "Mungkin Jennie hanya takut Hubby tidak merestui hubungan mereka. Apalagi Hubby pasti akan menyelidiki latar belakang siapapun pria yang bersamanya."
__ADS_1
"Tentu saja aku harus menyelidiki latar belakang pria-pria yang ingin mendekati adikku Sweety. Aku tidak ingin mereka hanya memanfaatkan adikku karena berasal dari Keluarga Romanov. Kau tau, Jennifer sangat polos, dia akan mudah percaya dengan siapapun."
"Tapi Jennie sudah dewasa, Hubby. Dia pasti bisa menilai mana baik dan mana yang tidak. Aku percaya Jennie bisa menjaga dirinya dari pria-pria yang berusaha mendekatinya. Lagi pula bukankah Hubby sudah menyuruh Nico untuk menjadi bodyguardnya?"
Mendengar perkataan sang istri, seketika Xavier mendongakkan wajah. Dari mana istrinya itu mengetahui jika yang menjadi bodyguard Jennie adalah Nico sementara ia hanya pernah mengatakan jika uang menjaganya hanya salah satu anak buah. "Apa aku pernah mengatakan jika bodyguard Jennie adalah Nico, Sweety?"
Elleana mengulas senyum tipis, ia mencubit gemas pipi suaminya itu. "Aku pernah bertemu dengannya saat menjemput Jennie di Cafe. Aku terkejut saat melihatnya, dia ternyata masih sangat tampan."
Xavier terpekur, ia tidak percaya jika istrinya itu akan memuji pria lain di hadapannya. "Kau baru saja memuji pria lain di hadapanku, Sweety." Xavier menangkup wajah Elleana, kesal dan juga tidak suka jika nama pria lain keluar dari bibir manis istrinya. Lantas Xavier menyambar bibir manis sang istri, memberikan hukuman karena telah memuji pria lain.
Elleana menepuk-nepuk bahu Xavier karena ia kesulitan bernapas. "Hubby...." Mereka saling menghembuskan napas usai ciuman terlepas.
"Bibirmu mulai nakal karena berani-beraninya memuji pria lain, Sweety." Gemas. Akan tetapi tidak dapat marah, sehingga ia hanya bisa memberikan cubitan di bibir istrinya.
Elleana terkekeh, ia lupa jika memiliki suami yang super posesif. "Iya maafkan aku Hubby. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Ingatannya menerawang pada saat ia memuji seorang aktor Ji Chang Wook, sekembalinya suaminya dari Los Angeles, ia dihukum dengan tidak dibiarkan tidur sepanjang malam dan menggempurnya hingga pagi menjelang.
"Kali ini ku maafkan tapi tidak dengan lain kali, aku akan menghukummu seperti saat itu." Rasanya tubuh Elleana merinding ancaman yang penuh kenikmatan itu.
"Iya, tidak akan ku ulangi lagi." Harus ia tanamkan di dalam otaknya jika tidak boleh memijit pria lain di hadapannya. Siapapun itu termasuk memuji kedua putranya itu.
Xavier sejenak terdiam, ia memikirkan pertemuannya dengan seseorang yang juga mengenal dengan Jennifer. "Sweety, sepertinya aku akan mengenalkan seseorang kepada Jennie."
Kedua alis Elleana bertaut bingung. "Siapa?"
Tidak ada jawaban selama beberapa saat, Elleana berpikir. Apa suaminya itu benar-benar ingin menjodohkan Jennifer dengan juniornya itu? "Sebaiknya biarkan Jennie memilih pria pilihannya sendiri, Hubby."
Melihat sang istri yang sepertinya tidak setuju, Xavier menghela napasnya. "Tapi tidak ada salahnya jika dicoba terlebih dulu, Sweety. Aku hanya ingin Jennie bersama dengan pria baik-baik, tidak terjerumus sepertiku." Xavier kembali menenggelamkan wajahnya di gundukan kembar sang istri. "Memiliki banyak musuh diluar sana membuatku takut jika sewaktu-waktu mereka akan melukai kalian. Aku harus memiliki banyak mata untuk melindungi kalian, bahkan aku juga harus melindungi keluarga kecil Jack."
Elleana paham, siapapun yang berada di posisi suaminya akan merasakan ketakutan yang luar biasa. Untuk memberikan ketenangan, Elleana hanya mengusap kepala Xavier tanpa berkomentar dan membiarkan suaminya itu berkeluh-kesah padanya.
"Setelah aku mengurus masalah yang terjadi di Los Angeles, aku akan menyerahkan tanggung jawab pekerjaan Mafia kepada ketiga anak buahku. Mereka pasti bisa menghandle tanpa diriku. Aku hanya perlu beristirahat dan fokus pada keluargaku dan perusahaan saja." Elleana terus memberikan usapan lembut sehingga membuat Xavier semakin merasakan kenyamanan.
"Apapun keputusan Hubby aku akan selalu mendukungnya."
"Ehm, terima kasih Sweety, kau selalu ada untukku dan menerima pria sepertiku. Aku beruntung memilikimu dan kedua putra dan putri kita."
"Aku juga beruntung memiliki Hubby." Elleana mengecup puncak kepala Xavier. Inilah suaminya yang diluar selalu terlihat tegas dan kejam, tetapi jika bersamanya suaminya itu hanya seorang pria biasa, seorang suami dan seorang Daddy yang selalu ingin melindungi orang-orang disekitarnya.
***
Xavier serta Elleana turun ke bawah untuk makan malam. Suara teriakan dari kedua putra dan satu putrinya yang senang akan kepulangan Sang Daddy membuat kediaman mewah itu menggema dan seperti dihuni oleh ratusan. Namun itulah yang selalu membuat hati Xavier menghangat jika berada di tengah-tengah keluarga kecilnya.
Tatapannya yang semula tertuju kepada putra dan putrinya kini teralihkan kepada Jennifer. Sontak membuat tubuh wanita itu menegang. Ada apa dengan kakak? Kenapa melihatku seperti itu? batinnya.
__ADS_1
Ingin rasanya Xavier marah terhadap adiknya itu tetapi ia sungguh tidak tega. Mungkin benar yang dikatakan istrinya, jika adiknya itu takut dengan dirinya yang tidak akan memberikan izin. Tentu saja ia tidak akan merestui hubungan adiknya dengan pria bajingan seperti Billy. Ia akui jika dirinya juga bukan pria baik-baik, tapi yang terpenting ia tidak pernah bermain wanita, terlebih lagi sampai bertukar keringat di atas ranjang bersama dengan wanita hingga menyakiti wanita lainnya.
"Daddy...." Xavier harus memutuskan kontak matanya yang tajam itu ketika Austin memanggil dirinya.
"Ada apa boy, hm?"
"As ingin makan disuapi oleh Daddy." Mata polos itu memohon dengan penuh harap.
Xavier tersenyum, putranya itu selalu memanggil dirinya sendiri dengan As atau Tin. Kemudian mengangkat tubuh mungil Austin ke atas pangkuannya. "Baiklah boy, sekarang kita makan."
"Oke Daddy."
Jennifer tersenyum memperhatikan sang kakak yang selalu menjadi sosok Daddy dan suami yang baik, bahkan sebenarnya menjadi sosok kakak yang baik. Tapi entah kenapa ia selalu ketakutan sendiri jika ingin mengenalkan seorang pria.
Apa Kak Vie akan merestui hubunganku dengan Nico?
Jika kakaknya itu setuju, sudah pasti kedua orang tua mereka juga akan setuju. Karena apapun keputusan sang kakak selalu mutlak dan sudah pasti sudah diperhitungkan terlebih dahulu.
.
.
To be continue
.
.
Xavier
Elleana
...Yang belum baca kisah Xavier dan Elleana cuss ke novel Yoona yang berjudul 'Elleana And The King Of Mafia'...
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...
__ADS_1