
Suara musik menggema di dalam sebuah Club, lampu-lampu disana menyoroti semua pengunjung yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya di lantai dansa, menari dengan liar bersama partner mereka. Ketiga sepasang mata tertuju ke arah sana di dalam ruangan khusus mereka dengan dinding kaca tebal transparan di lantai atas. Ditemani oleh ketiga wanita cantik kesayangan mereka yang duduk di atas pangkuan ketiga pria Cassanova tersebut.
"Nico, sudah lama sekali kau tidak datang kemari." Chole, wanita yang sudah lama sekali menjadi kesayangan Nico menggantungkan tangannya di leher pria itu, hanya berjarak beberapa jengkal saja wanita itu sudah bergairah menatap wajah tampan Nico. Namun entah kenapa Nico seperti tidak tertarik dengannya.
"Aku sibuk." Hanya itu jawaban Nico sembari menyesap minuman anggur miliknya.
"Apa kau sudah memiliki wanita lain sehingga melupakan diriku, hm?" Tangan nakal Chole menelusuri wajah Nico dan bermain-main di rahang tegas Nico yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Menurutmu? Apa aku harus memberitahumu?" Nico malas menanggapi perkataan Chole. Semenjak bertemu dengan Nona Jennie-nya ia memang malas berhubungan dengan wanita-wanita lain.
Chole menahan geram di hatinya, kenapa beberapa hari ini sulit sekali menaklukkan Nico. Pria di depannya itu semakin bersikap dingin padanya. Tidak, Chole tidak akan menyerah begitu saja, malam ini ia harus berhasil memiliki Nico seutuhnya. Jika selama ini mereka hanya melakukan oral sekss, tetapi tidak untuk malam ini, Chole akan memancing Nico agar lebih bergairah dan akhirnya mereka akan berakhir di atas ranjang dengan penyatuan tubuh yang selama ini ia idam-idamkan.
Tangan Chole turun ke bawah dan bermain-main di dada bidang Nico yang terbuka, hingga sedikit membangkitkan gairah Nico, terlebih lagi di bawah sana sudah mengeras, bersentuhan dengan bokong Chole yang menindih benda pusaka milik Nico. Pria itu membiarkan Chole bermain-main dengan tubuhnya, ia menahan hasratnya, bahkan gelas anggur milinya sudah tidak di pedulikannya lagi. Chole tersenyum, merasa usahanya kali ini berhasil, dengan sengaja wanita itu menggesekan bokongnya di atas benda pusaka Nico. Nico menghela napas berat, terdengar napasnya sudah memburu, pandangannya berpusat pada bibir Chole.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Chole menyambar bibir Nico, melummatnya dengan penuh gairah. Tidak ada penolakan, Nico yang sudah terbakar gairah membalas ciuman Chole dengan menyesap bibir wanita itu. Ciuman mereka sangat panas hingga tangan Nico menggerayangi tubuh Chole, meremmas salah satu bukit kembar Chole. Chole mendesah, tubuhnya berdesir hebat, sudah lama sekali tubuhnya tidak disentuh oleh Nico.
Ciuman mereka terlepas, entah bagaimana pakaian bagian atas Chole sudah tersingkap hingga menampakkan buah dada yang membusung dengan indahnya. Nico bermain di dada Chole dengan mulutnya, Chole mengerang berulang kali. Ia benar-benar sangat menginginkan Nico berada di atasnya.
"Nico.... ahh...." Chole tidak dapat menahannya lagi, ia mengeluarkan suara merdu yang sangat sensual. Namun entah kenapa Nico menghentikan permainannya, ia seperti mendengar suara seseorang.
"Nona Jennie?" gumam Nico tercenung. Kening Chole berkerut, siapa wanita yang disebut oleh Nico, nama itu nampak tidak asing baginya.
"Nico, ada apa?" Chole menyentuh wajah Nico selama beberapa saat, menyadarkan pria itu yang pikirannya entah sedang berada dimana.
Brugg
Nico menghempaskan tubuh Chole begitu keras, bagian dadanya yang terbuka menyembul turun naik, siapapun yang melihatnya mungkin akan sangat bergairah tetapi tidak bagi Nico, mendadak Nico menjadi tidak bergairah, bahkan pemandangan Chole saat ini begitu menjijikan.
"Pergilah dari sini. Aku tidak ingin melihatmu!" Nico berbicara dengan begitu dingin hingga membuat Chole semakin bingung.
Dengan perlahan dan membenarkan pakaian bagian atasnya Chole beranjak berdiri. "Ada apa denganmu, Nic? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" Padahal pria itu sebelumnya sudah sangat bergairah dengannya tetapi kenapa tiba-tiba menjadi dingin kembali. Chole berusaha mendekati Nico.
"Jangan mendekat!" bentak Nico. "Apa kau tuli, aku sudah mengusirmu. Jadi pergilah!" Tanpa menunggu jawaban dari Chole, Nico berlalu menuju kamar mandi. Chole memasang wajah kecewa namun kedua tangannya mengepal kuat.
Siapa wanita yang berani-beraninya merebut pria miliknya? Chole tentu tidak akan tinggal diam.
"Aarrggh, sial!" Nico membasuh wajahnya di wastafel dengan frustasi. Mau tidak mau ia harus bermain solo di kamar mandi. "Nona Jennie, kenapa menyiksaku seperti ini....." Sebelumnya tidak ada masalah dengan dirinya, ia masih bergairah melihat berbagai tubuh sexy para wanita-wanita, tetapi pemandangan Chole tadi sangat membuat dirinya jijik.
"Apa aku benar-benar hanya menginginkan Nona Jennie?" Hati dan pikiran Nico berkecamuk memikirkan Nona Jennie. Kenapa ia menjadi merasa bersalah karena bermain-main seperti itu dengan wanita lain.
***
__ADS_1
Di ruangan yang sama, hanya saja dinding kaca sebagai pembatas di antara mereka. Apa yang baru saja dilakukan oleh Nico dapat dilihat jelas oleh Keil juga Daniel.
Keil tidak peduli akan sahabatnya itu, mungkin tengah dirasuki oleh cupid cintanya Nona Jennie. Keil sangat menyadari jelas perubahan Nico yang seperti tidak memiliki gairah kepada wanita lain semenjak bertemu dengan Nona Jennie.
"Keil, kau sedang memikirkan apa?" Mia yang berada di atas angin begitu senang karena malam ini bisa bersama dengan Keil setelah pertemuan terakhir mereka di jembatan. Padahal dirinya selalu mencoba menghubungi Keil tetapi pria itu tidak pernah menjawab panggilan dirinya. Mia yang duduk di pangkuan Keil mengusap wajah pria itu dengan jemarinya.
"Jika aku sedang memikirkan dirimu, apa kau percaya?" Keil berucap penuh sensual, ini adalah kali pertama Keil menggoda Mia, hingga membuat Mia senang bukan main, wajahnya merona malu.
"Sungguh? Apa kau benar-benar sedang memikirkan diriku?" Akhirnya setelah sekian lama pria-nya ini dapat ia luluhkan, padahal sebelumnya ia sempat merasa frustasi karena Keil selalu mengabaikan dirinya.
Keil menarik kedua bibirnya, tersirat sesuatu dalam senyumannya itu. Tangan Keil terulur membelai wajah Mia. "Hem, apa aku terlihat seperti sedang berbohong?" Mia menggeleng, sungguh ia terhipnotis akan tatapan Keil yang tidak seperti biasanya.
"Keil, kau sangat tampan."
"Kalau begitu sentuhlah aku sesukamu." Keil memberikan rangsangan pada tubuh Mia di bagian dada wanita itu.
Mia tersenyum, kini dirinya diperbolehkan menyentuh Keil sesuka hati, tentu Mia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Mia yang sudah tidak dapat menahan gairahnya hanya dengan bertatapan dengan Keil membenamkan ciuman di bibir Keil.
Keil menyambutnya dengan suka rela, ia membalas pagutan Mia dan menyesap bibir wanita itu. Tangannya tidak tinggal diam, menjelajahi leher Mia dan turun hingga bagian dada wanita itu. Mia menggeliat dan mendesah di sela ciuman mereka saat Keil meremmas buah dada Mia.
"Apa kau menyukainya sayang?" Keil menghentikan ciuman mereka, hingga membuat Mia merasa sangat kecewa.
"Kenapa memangnya, hem?" Keil meremmas buah dada Mia dengan sangat keras hingga Mia memekik kesakitan.
"K-Keil, pelan sedikit...." cicit Mia dengan begitu manja.
"Apakah sakit?" Suara lembut Keil benar-benar membuat Mia terbuai. Mia mengangguk sebagai jawabannya.
"Kau tau Mia, jika aku tidak menyukai kebohongan. Kau tau bukan apa yang bisa aku lakukan dengan seseorang yang mencoba membodohiku." Keil mengecup singkat bibir Mia, suara yang lembut namun penuh arti di dalamnya.
Kening Mia berkerut bingung, namun ia mencoba untuk mencerna perkataan Keil, entah kenapa aura Keil tiba-tiba berubah. "Aku tidak mengerti...."
Keil masih dengan senyumnya yang mampu membuat siapa saja terpana. "Kau sangat cantik, Mia." Jemari Keil kembali menyusuri wajah Mia. Mendengar pujian dari Keil, tentu saja membuat wanita itu melayang. "Tetapi apa jadinya jika aku merusak wajah cantikmu. Apa kau masih bisa mendekati pria tampan lainnya, hm?"
"A-apa yang kau bicarakan Keil?" Mia dapat melihat sorot mata Keil yang seolah siap menerkam. Tatapannya benar-benar berbeda dari sebelumnya. Kini tubuhnya mendadak bergidik melihat tatapan Keil padanya.
"Apa perkataanku kurang jelas?" Sembari membelai wajah Mia dengan perlahan. "Kau tau apa yang saat ini ingin aku lakukan denganmu?"
Mia hanya menjawab dengan gelengan kepala. Apakah akhirnya mereka akan melakukan sekss yang berbeda? pikirnya. "Bercinta sepanjang malam...." bisiknya kemudian di telinga Keil.
Keil tersenyum disertai decakan lidah. "Kau benar, tetapi sebelum itu...." Kemudian tangan turun ke leher Mia dan mencengkram kuat leher wanita itu.
__ADS_1
Mie terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh Keil.
"K-Keil, apa yang kau lakukan?" Sembari menahan rasa sakit pada lehernya.
"Tentu saja bercinta denganmu...."
"Ta-tapi kau mencekikku....." Mia meringis saat tangan Keil semakin memperkuat cengkramannya.
"Kenapa? Apa kau takut?" Keil tersenyum meledek. "Bukankah ini yang kau inginkan."
"Ti-tidak Keil..... ada apa denganmu?" Mia berusaha melepaskan tangan Keil namun tenaganya masih tidak sebanding dengan pria itu.
Mia merasakan ada yang aneh pada diri Keil, kenapa Keil seperti seseorang yang berbeda, seperti ingin membunuh dirinya.
Apa yang dilakukan oleh Kiel pada Mia, di tempatnya kini Daniel melihatnya dengan jelas. Ia bahkan harus membalikkan tubuh Emma menghadap dirinya agar wanita itu tidak melihat jika temannya tersebut tengah merasakan siksaan dari Keil.
Bajingan yang satu itu benar-benar sudah gila. Setidaknya tunggulah aku sampai selesai bermain dengan Emma.
Daniel menggeleng, sepertinya Keil benar-benar sudah kehilangan kesabaran tentang kejadian di masa lalu yang melibatkan Mia.
.
.
To be continue
.
.
Babang Nico
Babang Keil
Babang Daniel
__ADS_1