
Sejak sang kakak mengetahui hubungannya dengan anak buah kepercayaan yang selama ini menjadi bodyguardnya. Sang kakak menentang keras hubungan mereka. Apa Jennifer hanya bisa diam saja? Tentu saja tidak, wanita cantik mungil itu beruang kali menyakinkan kakaknya jika mereka saling mencintai. Akan tetapi tetap saja sang kakak teguh pada keputusannya. Terlebih lagi kini kedua orang tua mereka mendukung penuh keputusan kakaknya. Mereka selalu menekankan jika Adam-lah yang terbaik untuknya. Pria itu berasal dari keluarga terpandang, keturunan keluarga Adam berasal dari negara yang memiliki adab kesopanan dan keramahan yang tinggi.
Jennifer sudah berulang kali menolak perjodohannya dengan pria yang sudah ia anggap seperti seorang kakak baginya. Ia bukan anak kecil lagi yang harus menuruti permintaan kedua orang tua dan kakaknya. Bahkan untuk menunjukkan aksi protesnya, wanita itu sempat tidak bicara dan tidak makan selama dua hari. Dan berulang kali Mommy Marry membujuk putrinya itu untuk makan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Mommy mohon sayang, makanlah sedikit saja. Kau bisa jatuh sakit kalau tidak makan." Saat ini Mommy Marry masih berusaha membujuk putrinya yang merajuk. Sejak kemarin Jennifer hanya mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak ingin melihat kakaknya yang juga berada di Mansion Utama. Rasa kesal masih bersemayam di hatinya karena keputusan kakaknya yang menerima lamaran Adam.
"Aku tidak lapar Mom." Lagi-lagi Jennifer menjauhkan piring yang di sodorkan kepadanya. Jika saja ia tidak sedang kesal dan marah terhadap sang kakak dan Daddy-nya, sudah ia habiskan makan siangnya yang berisikan makanan kesukaan dirinya.
"Tapi sejak kemarin kau tidak makan sayang." Raut wajah Mommy Marry nampak sedih, sudah berulang kali dirinya membujuk, tatkala putrinya itu benar-benar tidak ingin makan. Ia hanya cemas akan kondisi putrinya itu.
"Aku benar-benar tidak lapar Mommy. Jenn mohon kali ini Mommy jangan memaksaku seperti kakak dan Daddy." Bagaimana ia bisa makan, sementara ia memikirkan Nico. Ia ingin tau bagaimana keadaan Nico setelah kakaknya itu memukulinya, tapi sayangnya ponsel miliknya di sita oleh sang kakak.
Mommy Marry hanya bisa menghembuskan napas panjang, lalu meletakkan piring yang berisi lauk pauk kesukaan putrinya di atas nakas. Sebagai seorang ibu, ia paham keadaan yang menimpa sang putri, tapi sungguh ia tidak bisa berbuat apapun dan hanya mendukung keputusan dua pria kesayangannya.
"Maafkan kakakmu dan Daddymu. Semua mereka lakukan demi kebaikanmu, Jenn." Lagi, Mommy Marry masih mencoba memberikan pengertian.
Jennifer jengah, selalu kalimat seperti itu yang dijadikan senjata andalan kakak dan kedua orang tuanya.
"Bukankah Mommy sudah tau kalau aku hanya menganggap Kak Adam seperti Kak Vie. Jenn benar-benar mencintai,-
"Iya Mommy tau, sayang." Mommy Marry menyela, wanita paruh baya itu menggenggam tangan Jennifer, ia tau jika putrinya mencintai pria lain. "Tapi Mommy mohon turuti permintaan Daddy, selama ini Daddy tidak pernah meminta apapun darimu, Daddy selalu membebaskanmu melakukan apapun. Apa kau ingin melihat Daddy jatuh sakit seperti kemarin, hm?"
Bibir Jennifer terasa keluh untuk menyahut, memang kondisi Sang Daddy dalam keadaan tidak baik, karena itu Daddy Jhony selalu berada di Los Angeles untuk melakukan pengobatan. Sehingga dirinya tidak bisa melayangkan protesnya di hadapan Daddy Jhony.
"Mom, Jenn hanya ingin menikah dengan pria yang Jenn cintai," lirihnya sendu. Meskipun merasa percuma mengungkapkan apa yang ia rasakan, karena Mommy Marry akan tetap mendukung keputusan dua pria di keluarga Romanov.
Ingin rasanya Jennifer melarikan diri ke dalam pelukan Nico, tapi ancaman sang kakak teramat mengerikan untuknya.
"Mommy mengerti sayang." Mommy Marry memberikan usapan lembut di kepala Jennifer. "Maaf, Mommy tidak bisa mencegah keinginan kakakmu dan juga Daddymu." Kembali memberikan pengertian yang sudah pasti teramat sulit diterima oleh sang putri.
Bertepatan dengan Xavier yang masuk ke dalam kamar Jeniffer disusul oleh langkah Daddy Jhony. Pria berahang tegas itu hanya memperhatikan keadaan adiknya yang masih ingin menyiksa diri dengan tidak makan selama dua hari. "Mom, biar aku yang bicara dengan Jennie." Suara Xavier mengguncang lamunan Jennifer, wanita itu baru menyadari keberadaan kakaknya yang sudah berada di dalam kamarnya. Ia bergantian menatap Daddy Jhony yang hanya diam menatapnya.
__ADS_1
Mommy Marry mengangguk, lalu menyingkir dari sisi ranjang dan menghampiri Daddy Jhony.
"Dengar Jenn, nanti malam Adam dan kedua orang tuanya akan melamarmu. Kau harus bersiap-siap dari sekarang, jangan kecewakan aku dan Daddy." Xavier bicara dengan penuh penekanan, tanpa ingin dibantah.
Diam, hanya itu yang mampu Jennifer lakukan, mengeluarkan pendapat pun percuma karena mereka tidak akan ingin tau. Dan ini kali pertama Jennifer melihat sang kakaknya begitu menentang apa yang ingin ia lakukan.
"Kakakmu sudah melakukan yang terbaik Jenn. Dia mencarikan pria yang terbaik untukmu. Apapun pilihan kakakmu, Daddy akan mendukungnya." Daddy Jhony selalu mempercayakan penuh keputusan apapun kepada putranya, termasuk mencarikan pendamping untuk putri tercintanya. Ia yakin putranya hanya ingin pria yang terbaik dan tidak akan pernah menyakiti Jennifer ke depannya.
"Bukan untukku tapi untuk kakak." Tentu saja ucapan itu hanya tertelan dalam hatinya.
Mommy Marry mengusap lengan Daddy Jhony, lalu ia menarik suaminya untuk keluar dari kamar putri mereka, membiarkan putranya yang akan memberikan pengertian untuk Jennifer.
Xavier melirik ke arah pintu, dimana kedua orang tua mereka sudah menghilang di balik pintu. Lalu sorot matanya kembali datar menatap Jennifer.
"Jangan keras kepala Jenn, Kak Vie melakukan ini hanya untukmu. Adam pria yang baik, dan kau akan tau seperti apa pria yang kau cintai itu."
"Kak, pria yang aku cintai adalah anak buah Kak Vie, dia juga pria yang baik. Kalau dia bukan pria baik, tidak mungkin kakak menjadikannya anak buah kepercayaan kakak." Entah mendapatkan keberanian dari mana, Jeniffer berkata demikian. Wanita itu hanya ingin Nico diperlakukan sama seperti kakaknya memperlakukan Adam dengan baik.
"Seperti Kak Elle yang menerima Kak Vie apa adanya, aku juga akan menerima Nico." Sorot mata yang tegas dan penuh keyakinan. Itulah yang mudah dibaca oleh Xavier dari sorot mata polos Sang Adik. Tapi pria itu sepertinya tidak tergugah akan ucapan adiknya.
"Aku akan mengirim Nico ke Africa, jika kau masih banyak bicara!" Dan terbukti, Jeniffer yang hendak kembali membuka suara langsung mengunci rapat bibirnya. Ia tidak ingin Nico di kirim ke negara yang jauh dari jangkauannya itu.
"Kenapa berubah?! Kenapa Kak Vie menjadi seperti ini, bukankah Kak Vie tidak pernah memandang status sosial seseorang?"
Xavier menghela napas, memang sangat sulit memberikan pengertian kepada Sang Adik yang keras kepala. "Kau akan segera mengetahuinya Jenn." Dan tanpa mempedulikan raut wajah sendu Jennifer, Xavier berlalu dari kamar sang adik.
***
Dan disinilah Jennifer berada, di sebuah Lanes Of London Restaurant. Wanita itu hanya tersenyum masam ketika melihat kebahagiaan keluarganya dan keluarga Adam. Berbeda dengan dirinya yang tidak merasa bahagia, Jennifer justru menampakkan wajah sedihnya. Sejak Adam menyematkan cincin di jari manisnya, ia tidak menebarkan senyuman, wajah datar tanpa ekspresi itu mewakilkan perasaannya yang tidak baik-baik saja.
Pandangannya yang hanya ditundukkan ke bawah tidak menyadari jika sepasang mata pria yang ia cintai tengah memperhatikannya dengan perasaan yang berkecamuk penuh amarah dan kekecewaan. Nico tidak peduli jika harus berhadapan dengan bos, sehingga ia memberanikan dirinya untuk menghampiri keluarga yang tengah berbahagia itu tapi sialnya langkah Nico tertahan ketika dua pria menghadang jalannya. Matanya terpejam sesaat untuk sekedar mengeram amarahnya. Sejak tadi ia sudah berusaha menekan amarahnya yang nyaris mencapai puncak. Dan dua pria yang ia yakini adalah anak buah bos kian menambah amarahnya yang kini hanya perlu menunggu hitungan detik untuk meledak bagaikan bom waktu.
__ADS_1
"Menyingkirlah kalian!" bentaknya. "Aku tidak ada urusan dengan kalian!" Dan mendorong bahu kedua anak buah yang bersikeras menghalangi langkahnya.
"Maaf Bos Nico, kami hanya mengikuti perintah Big Bos. Sebaiknya Bos Nico segera pergi dari sini sebelum Big Bos dan keluarganya melihat kedatangan Bos Nico." Salah satu dari anak buah mengingatkan Nico. Mereka hanya tidak ingin terjadi keributan di acara penting keluarga Big Bos. Seperti yang sudah diperintahkan Big Bos, mereka hanya menjalankan tugas untuk menahan siapapun yang akan mengganggu acara pertemuan dua keluarga itu.
Persetan! Justru itu yang diinginkan Nico. Kenapa Adam dengan mudahnya bisa mendekati Jeniffer, sementara ia dipersulit.
"Menyingkir atau kupatahkan leher kalian!" ancam Nico yang tentu saja akan benar-benar ia lakukan.
"Silahkan saja Bos Nico, karena itu akan mempercepat Big Bos mengirim Bos Nico ke Africa."
"Benar, karena itu sebaiknya Bos Nico segera pergi dari sini."
Kening Nico bertaut disertai kening yang berkerut dalam. "Apa maksud kalian?!"
Namun alih-alih menjawab, dua anak buah segera mengunci lengan Nico lalu menyeret paksa tubuh Nico yang berusaha memberontak. Dua anak buah lainnya datang dan turut membantu rekannya untuk menyeret Nico dari sana. Nico kalah tenaga, ia tidak bisa menepis karena lengannya lebih dulu dilumpuhkan.
"Arrghhh sial!!!!"
To be continue
.
.
Jennifer
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...