
Beberapa hari kemudian
Brak
Beberapa orang yang berada di ruang rapat tersentak kaget karena Nico menggebrak meja lantaran kesal yang dipenuhi amarah. Bagaimana tidak, beberapa hari ini ada yang berusaha menerobos sistem keamanan komputer mereka serta berusaha membocorkan dokumen rahasia perusahaan.
"Kalian tau apa resikonya jika dokumen rahasia perusahaan kita berhasil dicuri seseorang?" Nico menatap tajam satu persatu peserta di dalam ruangan rapat. "Sudah pasti nyawa kalian yang akan menjadi taruhannya!"
Deg
Bukan hanya semacam gertakan saja, ancaman ketiga pria yang mendirikan perusahaan GL Corp tidak pernah main-main. Sudah beberapa karyawan yang menjadi korban kekejaman ketiga pria yang menjadi pimpinan tempat mereka bekerja.
"Maafkan kami, kami akan berusaha mencari tau siapa yang berusaha ingin membocorkan dokumen rahasia perusahaan." General Manager menjawab dengan terbata, antara takut salah bicara dan tidak bisa memberikan solusi jalan keluar.
Meskipun perusahaan kecil, tetapi perusahaan mereka memiliki reputasi yang bagus sejak beberapa bulan terakhir. Jika dokumen rahasia tentang pencucian uang serta penggelapan dana asuransi yang mereka lakukan tersebar luas, maka dampaknya akan sangat berbahaya, aset-aset perusahaan milik ketiga anggota Black Lion akan disita untuk diselidiki, meskipun hal itu mereka bertiga lakukan lima tahun yang lalu ketika perusahaan baru didirikan.
Keil membubarkan rapat. Kini ketiganya kembali ke dalam ruangan. Dua pria yang selama ini menjadi orang kepercayaan mereka untuk menjalankan perusahaan tidak hentinya mendapatkan umpatan dan cacian dari ketiganya.
"Kalian berdua bereskan kekacauan yang terjadi di perusahaan. Tutup mulut mereka yang terlanjur mengetahui desas desus di perusahaan!" ujar Keil kesal.
"Baik...." jawab mereka serentak. "Kalau begitu kami permisi dulu," lanjut salah satu dari mereka dengan kacamata yang melekat.
Sepeninggalnya dua pria tersebut, Daniel memijat pelipisnya. Masalah perusahaan membuatnya pusing, itu sebabnya ia lebih menyukai jika berada di Markas saja. Jika perlu, ia menyerahkan tanggung jawab penuh kepada orang lain dan mereka bertiga hanya menikmati hasilnya.
"Jerome sialan, berani menyerang perusahaan kita!" umpat Daniel. Rasanya kepalanya berdenyut.
"Hem, dia menyerang disaat kita tidak berada di perusahaan, mengambil celah selama kita lengah," sahut Keil membenamkan tubuhnya di sofa.
"Kita ikuti saja permainan mereka. Jonas pasti berada di belakangnya," kata Daniel kembali.
"Itu sudah pasti. Dia tidak akan tinggal diam selama Emely masih berada bersamamu!" timpal Nico dan dibenarkan oleh Keil serta Daniel.
"Dan aku tidak akan membiarkan dia mengambil Eme dariku!" kecamnya dingin. Membayangkan Jonas menyentuh kulit Emely saja ia tidak rela, terlebih lagi ketika pria itu sempat menyiksa Emely, sungguh ia tidak akan segan untuk menghabisi Jonas.
Getaran ponsel milik Keil dalam mode silent bergesekan dengan kulit pahanya. Dengan segera ia merogoh ponsel yang berada di dalam saku celana. Keningnya berkerut melihat nama bos yang tertera di layar ponsel.
"Bos..." ujarnya menjawab rasa penasaran Nico serta Daniel. Keduanya saling bersitatap, bingung karena tiba-tiba saja bos menghubungi salah satu dari mereka.
"Ada apa bos?" tanya Keil setelah menjawab panggilan Xavier. Tidak lupa ia menghidupkan loud speaker agar kedua sahabatnya dapat mendengar perkataan bos.
"Apa saja kerjaan kalian, heh?!"
Ketiganya tersentak, lantaran suara bos terdengar sangat marah di seberang sana.
"Apa maksudmu bos?" Tentu saja Keil bertanya apa penyebab kemarahan bos mereka.
"Siapa?" Xavier tidak menjawab, justru melayangkan pertanyaan. Keil, Nico serta Daniel menatap satu sama lain. Apa masalah perusahaan sudah sampai ke telinga bos? Secepat itukah, hanya dalam hitungan menit?
"Jerome bos," sahut Keil.
"Dan Golden Dawn," sambung Daniel.
"Kalian urus tikus-tikus itu!" perintahnya. "Berani-beraninya mereka menyerang perusahaanku!" geramnya. Mengingat saat ini ia masih berada di Swiss, melakukan perjalanan bisnis, hingga fokusnya terpecah karena masalah perusahaan.
"Apa mereka juga menyerang Perusahaan Romanov bos?" Nico bertanya memastikan sekaligus tidak percaya.
"Ehm...." Dan dijawab deheman oleh Xavier. "Jack sudah mengurusnya, kalian hanya perlu memperkuat sistem keamanan perusahaanku!"
"Baik bos...." jawab mereka serentak.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi, perketat keamanan Mansion utama dan Mansionku." Xavier tidak ingin kecolongan, biar bagaimanapun keluarganya yang terpenting. Tidak menutup kemungkinan musuh-musuh mereka akan menyerang orang-orang di sekitarnya.
"Baik...." jawab ketiganya patuh.
"Dan kau Nico, aku memberi tanggung jawab penuh padamu untuk menjaga adikku. Siapapun yang berusaha mendekatinya, singkirkan!"
Deg
Tenggorokan Nico seolah tercekat mendengar perkataan Xavier. Itu seperti sebuah peringatan untuknya. "Baik bos...." Untuk sementara mengiyakan saja. Entah apa yang terjadi padanya jika bos mengetahui jika dirinyalah yang mendekati adiknya.
Xavier tidak menjawab kembali, bos mereka memutuskan telepon secara sepihak. Usai sambungan telepon terputus, ketiganya larut dengan pikirkan mereka.
"Apa menurut kalian bos mengetahui hubunganku dengan Nona Jennie?" Sungguh Nico tidak dapat berpikir jernih. Lain hal jika kakak dari kekasihnya itu pria lain dan bukan bos, mungkin akan lebih mudah menaklukkannya.
"Entahlah, bos sulit ditebak. Kita tidak pernah bisa menembus jalan pikirannya," sahut Keil. Meskipun sering kali bos memberi perintah kepada mereka dan menyerahkan segala macam urusan dunia bawah, jauh di luar itu bos selalu lebih dulu memiliki rencana.
"Tapi jika bos sudah mengetahuinya mungkin wajahmu sudah tidak berbentuk lagi, Nic." Benar apa yang dikatakan Daniel, bos tidak akan tinggal diam begitu saja. Tetapi mengingat selama ini bos terkesan tenang sehingga membuat mereka tidak menaruh curiga jika bos bisa saja sudah mengetahui terlebih dahulu.
"Aku akan memastikannya," seru Nico.
"Bagaimana?" tanya Daniel.
"Jack, dia pasti mengetahui sesuatu. Dia pernah memperingatkanku. Aku harus bertanya padanya." Ya, Nico baru mengingat perkataan Jack ketika di rumah sakit. Entah apa tujuan temannya yang satu itu. Tidak mungkin Jack berbicara seperti itu jika tidak ada asap.
"Jangan!" seru Keil tidak setuju. "Jack tidak akan bekerja sama dengan kita. Dia dan bos seperti satu jiwa," lanjutnya.
Nico menghela napas kasar. "Huh.... kau benar." Dan terlalu rumit untuknya jika bos sampai tidak menyetujui hubungannya dengan Nona Jennie-nya.
***
Untuk menenangkan hati yang tengah gundah, Nico menyusul Nona Jennie yang berada di Green Cafe, cafe milik Nyonya Bos Elleana yang sudah lama tidak di datangi sejak beberapa tahun lalu. Cafe Nyonya Elleana semakin berkembang seperti yang kekasih kecilnya katakan di sambungan telepon. Tanpa ragu Nico menyusuri cafe tersebut, mencari keberadaan kekasih kecilnya yang tidak nampak dimana pun. Hingga seorang karyawa wanita menghampiri dirinya.
"Ehm, saya datang kesini untuk menjemput Nona Jennie," jawab Nico datar.
Karyawan wanita tersebut tertegun. Ia tau betul siapa Nona Jennie, adik ipar dari pemilik cafe. "Nona Jennie berada di privat room Tuan. Perlu saya antar?"
"Hem, tunjukan saja dimana ruangannya." Lagi-lagi Nico menjawab datar, bahkan ia tidak menatap lawan bicaranya itu, pandangannya justru mengedar ke segala arah. Karena Cafe tersebut sedikit berubah dari terakhir kali ia menginjakkan kaki di Cafe Nyonya Bos.
"Mari Tuan ikuti saya." Nico mengangguk dan kemudian mengikuti langkah karyawan wanita tersebut.
Namun tak lama berpapasan dengan Elleana yang baru saja keluar dari ruangannya dengan menggendong putranya, Austin.
"Ah Sally, kebetulan sekali kau disini. Tolong kau antarkan tas Jennie ke privat room. Aku tidak bisa kesana karena Austin sangat rewel hari ini." Terlihat Elleana yang sibuk menggendong bayi tampan berusia tiga tahun lebih itu. Benar-benar duplikat Bos. Tanpa sadar Nico memperhatikan Austin yang juga menatap ke arahnya.
"Baik Nyonya." Sally meraih tas dari tangan Elleana.
Pandangan Elleana bertemu dengan Nico, hingga Nico tersenyum menyapa. Tidak baik jika mengacuhkan, terlebih lagi berpura-pura tidak mengenali.
"Selamat siang Nyonya Bos," sapanya ramah.
"Ah, siang." Kedua alis Elleana saling bertautan bingung. Ia berusaha mengingat siapa pria tampan di hadapannya. Seingat dirinya, ia sering di panggil Nona Bos oleh anak buah suaminya. Dan sudah lama sekali mereka tidak bertemu sejak Austin dilahirkan.
"Aku ingin menjemput Nona Jennie."
Otak Elleana kemudian mencerna dengan baik. "Astaga, kau yang ditugaskan suamiku untuk menjadi bodyguard Jennie? Kau semakin tampan." Entah sadar atau tidak, Elleana memuji ketampanan Nico yang justru membuat Nico bergidik.
Please Nyonya, jangan memujiku.
Nico melirik ke setiap sudut ruangan yang terpasang cctv. Jika ia tertangkap disana sudah pasti bos akan cemburu buta padanya.
__ADS_1
"Mom, Tin ingin pulang." Austin kembali merengek hingga membuat Elleana semakin kewalahan menggendong bayi besarnya.
"Ah iya sayang, kalau begitu kita pulang ya." Elleana berusaha menenangkan Austin yang tidak bisa diam dalam gendongannya.
Melihat istri dari bosnya yang terlihat kewalahan, Nico berinisiatif menawarkan bantuan. "Nyonya, apa perlu bantuanku untuk menggendong bos muda Austin?"
Seketika Elleana tersenyum dan berkata, "Tidak perlu. Austin memang seperti ini. Apalagi jika sedang merindukan Daddy-nya. Lebih baik kau temui saja Jennie, dia pasti sudah menunggumu."
"Baik Nyonya Bos...."
Nico tidak melanjutkan langkahnya ketika Sally kembali meminta Nico untuk mengikutinya. Perhatian Nico masih tertuju pada Elleana. Beberapa anak buah sudah menjaga Nyonya Bos-nya sehingga Nico bisa lega dan kembali melangkahkan kaki.
"Biar aku yang berikan tas Nona Jennie." Nico menengadahkan satu tangannya kepada Sally.
"Baik Tuan." Tentu Sally sudah mencuri dengar percakapan Nico dengan atasannya itu. Kemudian tanpa pikir panjang memberikan tas tersebut kepada Nico.
Setelahnya, Sally pamit undur diri. Sementara Nico membuka pintu privat room. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah wanita cantik yang tengah duduk seorang diri. Wanita itu belum menyadari jika dirinya berada di sana. Nico menutup pintunya dengan perlahan, melangkah tanpa suara dan meletakkan tas di sisi kekasihnya itu, sedikit membungkuk sebelum kemudian memeluk kekasihnya dari belakang.
Jennifer terkejut kala tangan kekar pria memeluk dirinya, namun ketika mencium aroma parfum familiar yang menguar, ia bisa mengenali sosok pria yang memeluknya. "Nico?" Kemudian memutar tubuhnya hingga membuat pelukan Nico terlepas.
Penampilan Nico membuat Jennifer selalu terpesona. Nico lebih pantas menjadi pengusaha ketimbang menjadi bodyguard dirinya karena ketampanannya.
"Kau membuatku terkejut. Aku pikir orang lain yang memelukku ." Ya, karena Jennifer tidak menduga jika Nico akan menyusul dirinya.
"Tidak akan ku biarkan pria lain memeluk kekasihku," sahutnya posesif.
Jennifer memutar bola matanya malas. "Ck, kau ini. Lagi pula kenapa kau datang kemari? Bagaimana jika Kak Elle melihatmu?" Jennifer mulai panik, mengingat kini mereka berada di Cafe milik kakak ipar.
"Aku sudah bertemu dengannya di depan ruangan." Nico menjawab santai, berbeda dengan Jennifer yang membulatkan matanya.
"Apa?"
Nico mengabaikan keterkejutan Nona kecilnya, ia kembali memeluk Jennifer. "Aku merindukanmu," bisiknya.
Ceklek
Bertepatan dengan seseorang yang baru saja memasuki privat room dan terkejut dengan apa yang di lihatnya.
.
.
To be continue
.
.
Babang Nico
...Jangan lupa follow akun Instagram baru Yoona ya man-teman @_rantyyoona_...
...Tetap like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1