Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Anything for you


__ADS_3

Setelah drama panjang yang direncanakan oleh sang kakak, akhirnya Jennifer dapat bernapas lega karena hubungannya tidak benar-benar di tentang oleh keluarganya. Kini ia bisa menemui Nico tanpa harus bersembunyi atau merasa ketakutan ketika sang kakak akan memergokinya. Sepanjang perjalanan Jennifer tidak hentinya mengembangkan senyum, ia tidak sabar untuk menemui pria raksasanya itu, tapi perlahan senyumnya memudar lantaran sejak tadi ponsel Nico sulit sekali dihubungi.


Ya, Jennifer menuju perjalanan dengan tujuan entah kemana, ia hanya mencari Nico ke berbagai tempat yang biasa pria itu kunjungi. Wajah Jennifer mengening, kenapa ia melupakan Elma, bodyguard wanita pengganti itu pasti mengetahui dimana keberadaan kekasihnya.


Kemudian Jennifer merogoh ponselnya di dalam tas, ia mencoba untuk menghubungi Elma. Pada nada sambung kedua, seseorang di seberang sana menjawab panggilannya.


"Hallo Elma, kau dimana?" Jennifer menyambar pertanyaan lebih dulu sebelum membiarkan Elma menyelesaikan kalimatnya.


"Saya di belakang mobil Nona. Memangnya ada apa Nona? Apa Nona memerlukan sesuatu."


"Astaga, kau sejak tadi berada di belakang Mobilku?" Disaat bersamaan Jennifer menolehkan kepalanya ke belakang, benar saja terdapat sebuah mobil yang mengikutinya. Kenapa ia tidak menyadari keberadaan Elma sama sekali?


"Benar Nona. Saya diperintahkan Bos Nico untuk mengikuti kemana pun Nona pergi."


"Ah, baiklah. Lalu dimana Nico sekarang? Aku tidak bisa menghubunginya," tanya Jennifer.


"Mungkin sedang berada di Markas Nona."


Jennie nampak berpikir. "Bisakah kau menghubungi anak buah yang lain? Katakan padanya aku akan menunggunya di depan Regency Cafe."


"Baiklah Nona." Elma menyanggupi perintah Nona Jennie. Yang ia dengar jika hubungan Nico dengan Nona Jennie sedang tidak baik. Dan akhir-akhir ini ia serta rekan-rekannya menyaksikan Nico melampiaskan amarahnya karena hubungannya dengan Nona mereka ditentang boleh Big Bos.


Dan kemudian sambungan telepon terputus. Jennifer menggenggam ponselnya, senyum tipis tersemat, ia sungguh tidak sabar ingin segera bertemu dengan Nico.


"Paman, kita ke Regency Cafe," pinta Jennifer.


"Baik Nona." Paman Effendy, sang supir pribadi Keluarga Romanov mengangguk, lalu memutar arah menuju Regency Cafe. Pagi tadi memang Jennifer tidak diizinkan untuk mengendarai mobil seorang diri, sebab itu Paman Effendy yang mengantar Nona mudanya kemanapun.


Hanya perlu menempuh perjalanan selama sepuluh menit, mobil yang ditumpangi Jennifer berhenti di depan bangunan sederhana, Regency Cafe.


Lantas wanita cantik itu turun dari mobil, bergegas memasuki cafe setidaknya ingin memesan minuman sembari menunggu kedatangan Nico. Jennifer memilih duduk di deretan kursi yang disediakan di luar Cafe.


***


Sementara Nico sejak diberitahukan oleh Elma jika Nona Jennie-nya menunggu di Regency Cafe, bergegas datang ke Cafe tersebut. Dengan tergesa-gesa, mobil Nico melaju meninggalkan Markas. Sungguh, ia tidak sabar ingin memeluk wanitanya itu, mencium dan jika perlu ia akan membawa pergi kekasihnya agar mereka tidak akan terpisahkan lagi.


Jarak dari Markas menuju jalan raya memang sangat membutuhkan waktu lama sekiranya satu jam lebih dan Nico menambah kecepatan untuk mempersingkat waktu.


"Tunggu aku My Queen." Laju mobil kembali cepat lantaran Nico mengendarai mobilnya dalam kecepatan di atas rata-rata. Ia tidak pedulikan jalan yang berliku-liku menembus jalan hutan yang tidak perlu waktu lama lagi akan tembus menuju jalan raya pusat kota.


Dan hanya hitungan detik, mobil Nico membelah keramaian jalan raya pusat kota. Mobilnya menyalip dan mendahului mobil yang lainnya. Jarak sudah semakin dekat dan kini hanya perlu beberapa menit lagi untuk Nico mencapai tujuannya, hingga mobilnya berhenti tepat di depan Regency Cafe. Nico turun dari mobil, menyapukan pandangan ke sekelilingnya. Tidak mendapati Nona Jennie di luar Cafe, ia menuntun langkahnya memasuki cafe. Nihil, sapuan matanya tidak bisa menemukan keberadaan kekasih kecilnya itu. Apa Elma salah memberitahukan tempat dimana kekasihnya itu menunggu?


"Dimana kau My Queen?" Nico keluar dari cafe dengan raut wajah yang bingung dan kecewa. Ia gelisah tidak mendapati kekasih kecilnya. Apa kekasihnya itu sudah pergi karena terlalu lama menunggunya? pikirnya.

__ADS_1


Tidak putus asa, Nico kemudian mengambil ponselnya yang berada di dalam mobil, ia mulai menghubungi Elma, anak buahnya itu pasti mengetahui keberadaan kekasihnya, sebab Elma ditugaskan mengikuti kekasihnya kemanapun.


Dalam hitungan nada sambung ketiga, Elma menjawab panggilannya.


"Kau dimana Elma? Dimana Nona Jennie? Kenapa dia tidak ada di cafe ataupun di luar Cafe? Apa kekasihku baik-baik saja?" Berbagai pertanyaan dilontarkan Nico kepada anak buahnya itu. Ia terlalu panik jika sesuatu terjadi kepada kekasih kecilnya.


Terdengar helaan napas Elma di sambungan telepon, ia bahkan nyaris menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar rentetan pertanyaan Bos Nico. "Bos Nico tenang saja, Nona Jennie baik-baik saja dan-"


"Lalu dimana dia saat ini? Dimana kalian?!" Kebiasaan yang selalu terjadi adalah memangkas ucapan sebelum mendengar akhir kalimatnya dan Elma belum menyelesaikan bicaranya, Nico sudah terlebih dulu memangkas perkataan anak buahnya tersebut.


"Sekarang Nona Jennie sedang berada di jalan St. Sloane, tidak jauh dari Hyde Park," jawab Elma.


"Baiklah, aku akan kesana." Dan Nico memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Regency Cafe.


Di sepanjang perjalanan, Nico harus memecah fokusnya, selain mengemudikan mobil ia juga fokus memperhatikan sekitarnya, takut-takut jika ia akan selisih jalan dengan mobil Elma. Saat ini mobilnya sudah melaju cepat di St. Sloane, tepatnya berada di sekitar Hyde Park. Sorot mata Nico menemukan mobil yang selalu digunakan oleh Elma, lalu ia berbelok kiri untuk mengejar mobil itu. Nico kemudian membunyikan klakson berulang kali agar Elma menghentikan laju mobilnya.


Nico menginjak pedal rem ketika melihat mobil Elma sudah menepi. Dengan tidak sabar, Nico turun dari mobil, bertepatan dengan Jennifer yang juga turun dari mobil. Wanita itu sudah mengetahui dari Elma jika mobil yang sedang mengejar tidak lain ialah mobil Nico. Saat di cafe tadi Jennifer memang sudah menyuruh Paman Effendy untuk kembali ke Mansion dengan membawa mobilnya, sehingga ia bisa satu mobil dengan Elma.


Untuk sesaat mereka hanya saling pandang, Nico melepaskan kacamata yang melekat, lalu melemparnya ke dalam mobil. Sebelum kemudian menghampiri kekasih kecilnya dengan menebarkan senyum.


Dan akhirnya Nico bisa memeluk Jennifer, wanitanya, kekasihnya. Jika kemarin ia hanya bisa memendam rindu, kini ia bisa memeluk sepuasnya dan bahkan sejak tadi Nico sudah mengecup puncak kepala Jennifer berulang kali. Jennifer hanya diam menikmati sapuan bibir Nico yang kini berpindah di keningnya, perlahan turun ke hidung, pipi kanan kiri dan terakhir Nico membenamkan ciumannya di bibir wanita itu. Tentu Jennifer membalasnya ketika Nico semakin memperdalam ciumannya. Kini mereka saling membelitkan lidah, menyesap dan melummat untuk meluapkan kerinduan yang sempat menyiksa mereka.


Lama mereka bertukar saliva, hingga keduanya mengakhiri ciuman mereka. "Aku mencintaimu My Queen." Nico menangkup wajah Jennifer, mengikis jarak sehingga hidung mereka saling bersentuhan.


"Kenapa kau pergi dari cafe? Kau tau, aku hampir gila ketika tidak mendapatimu di sana."


Jennifer terkekeh. "Maaf, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Alice. Dia berpamitan ingin pergi meninggalkan Kota London. Dan juga mengucapkan terima kasih padamu karena sudah membantunya, dia mengatakan akan mengganti semua uang yang kau pinjamkan padanya."


Nico masih terkesima, ia mengusap wajah Jennifer seperti ia sedang bermimpi. "Dia tidak perlu menggantinya, karena Nona-ku ini yang harus menggantinya seumur hidupnya."


"Yang benar saja." Jennifer memutar bola matanya, ia hanya bercand saja mengatakan itu.


Nico tersenyum, lalu ia membawa Jennifer ke dalam pelukannya. "Apa aku harus membawamu pergi jauh? Setelah ini aku pasti akan sulit menemuimu, My Queen."


Seketika Jennifer mengurai pelukan, mendongak menatap Nico. "Kenapa seperti itu?"


"Karena bos akan melakukan segala cara untuk memisahkanku darimu." Sayangnya Nico belum mengetahui jika sebenarnya hubungan mereka sudah mendapatkan restu, karena itu Jennifer bisa keluar dari Mansion untuk menemui kekasihnya.


"Lalu kau akan melakukan apa ketika kakakku akan memisahkan kita lagi?" Jennifer mulai memancing. Ia ingin tau seberapa besar pria itu mencintai dirinya.


"Aku akan menghadapi bos, bahkan aku akan menghadapi kedua orang tuamu. Tidak peduli jika aku harus dipukuli lagi oleh bos." Meskipun pada akhirnya ia akan babak belur seperti sebelumnya, ia akan tetap mencoba untuk mendapatkan restu itu. Tidak ada keraguan pada sorot mata Nico, dan Jennifer bisa melihat kesungguhan Nico.


"Kalau begitu kau harus bertemu dengan kedua orang tua sekarang juga." Jennifer meneliti raut wajah Nico, ungu melihat reaksi wajah kekasihnya itu.

__ADS_1


"Dengan senang hati." Nico menyanggupinya dengan senyuman. Tanpa diminta pun sebenarnya ia akan menemui kedua orang tua dari kekasihnya. Dan jawabannya sungguh membuat Jennifer mengembangkan senyuman.


"Ck, kau senang sekali," cebik Jennifer menggoda.


"Tentu saja My Queen. Jika perlu aku akan menikahimu saat ini juga. Aku akan mendaftarkan pernikahan kita agar bos tidak ada alasan lagi untuk memisahkan kita. Apalagi tidak ada kesempatan Adam untuk merebutmu dariku!" Tegas dan penuh keseriusan. Nico bersungguh-sungguh dengan perkataannya dan ia sudah bertekad akan membawa pergi Jennifer meski tanpa restu dari bos.


Mendengar ucapan Nico, Jeniffer tersenyum memamerkan deretan giginya. Sungguh senang jika Nico benar-benar menikahinya.


"Kalau begitu kita harus menemui kakak, kau juga harus melindungiku jika kakak marah padaku karena aku melarikan diri dari Mansion untuk menemuimu. Aku hanya ingin menikah dengan persetujuan mereka." Ah, ternyata ia sama saja dengan sang kakak, senang sekali mengerjai Nico.


"Anything for you, My Queen, aku akan menghadapi bos saat ini juga. Kita harus berjuang bersama." Nico kemudian menggenggam telapak tangan Jennifer, lalu mengecup punggung tangannya.


Jennifer mengangguk dan menyelipkan senyuman, ia tidak mengatakan jika kakaknya sudah menyetujui hubungan mereka, ia juga tidak memberitahukan perihal drama yang sang kakak mainkan. Seperti yang dikatakan kakaknya, ia akan melihat sampai dimana kesungguhan Nico. Mungkin jika Nico mengetahui jika selama ini kakaknya hanya bersandiwara, mungkin Nico hanya akan meruntuki kebodohannya, atau pria itu akan berlarian kesana-kemari saking senangnya


Nico kemudian menuntun langkah menuju mobilnya. Sementara ia menugaskan Elma untuk kembali dan tidak perlu mengikutinya.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada seseorang yang berdiam duduk di dalam mobil memperhatikan kemesraan mereka dengan penuh kemarahan dan kebencian. Tangannya terkepal, ia akan menuntut balas akan kematian temannya.


Aku tidak akan membiarkan kau dan teman-temanmu hidup dengan tenang.


"Lakukan sekarang!" Dan atas perintahnya, beberapa anak buah akan menjalankan tugas mereka untuk melenyapkan pria itu. Jika perlu bersama dengan kekasihnya sekaligus.


Brak


Brak


Dua mobil menghantam mobil Nico secara bergantian, hingga mengakibatkan mobil yang dikemudikan oleh Nico terhempas cukup jauh.


"Shittt!!" umpat Nico. Lagi-lagi ia diserang ketika sedang bersama dengan kekasihnya.


To be continue


Babang Nico



Jennie



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2