
Duaarr
Sebuah bom di ledakan di dalam sana. Entah siapa pelakunya. Black Lion serta Louis terpelanting. Bahkan Osman dan para anak buahnya tidak bisa menghindari ledakan yang di pasang oleh pasukannya.
"Shittt!!!" Nico beranjak berdiri. Ia yang berada di dekat bos segera menghampiri. "Bos, kau baik-baik saja?"
"Hem, aku baik-baik saja." Xavier menempuk-nepuk lengan pakaiannya yang terkena debu dari percikan bom tersebut.
Bahkan sejak tadi Louis terbatuk-batuk, berusaha menghirup sisa oksigen yang tidak terpapar akan asap dari bom. Berbeda dengan Keil juga Daniel yang sudah terbiasa berada di dalam kondisi seperti itu, mereka hanya membersihkan debu yang menempel di pakaian sembari mengamati sekitar.
Bertepatan dengan dua pasukan khusus keluar dari persembunyiannya dan menembaki Black Lion. Mereka berhasil menghindar dan beberapa tembakan itu hanya melesat.
"Bos, serahkan kepada kami. Sebaiknya bos membawa keluar Tuan Louis dari tempat ini."
Xavier tengah menimbang perkataan Keil yang ada benarnya. Ia tidak ingin Louis terlibat terlalu jauh yang bisa membahayakan nyawanya itu. Hingga kemudian Xavier berjalan mendekati Louis.
"Sebaiknya kau segera pergi dari sini," ujar Xavier kepada Louis
"Tapi...." Tentu Louis tidak bisa pergi begitu saja.
"Kau percaya saja padaku, tidak akan terjadi dengan kami. Tapi aku butuh bantuanmu."
"Apa?"
"Kerahkan pasukanmu saat aku sudah memberikan kode. Kau harus tau bagaimana aku menyingkirkan mereka tanpa kelompok kami harus terlibat."
Kening serta kedua alis Louis berkerut dalam, pertanda pria itu berpikir keras apa yang dimaksud oleh Xavier, tetapi perlahan ia menatap Xavier, lalu mengangguk.
"Pastikan dirimu baik-baik saja." Louis menempuk bahu Xavier, lalu berlalu dari sana tanpa bisa di cegah oleh siapapun, termasuk pasukan Osman.
Melihat Xavier yang tengah lengah selepas kepergian Louis, satu anak buah Osman mengekori senjatanya ke arah Xavier. Xavier segera bertindak dengan menendang satu pasukan, lalu menarik pasukan yang lain untuk menjadi tameng tubuhnya.
Dor
Dor
Dor
Hasilnya tiga peluru itu menghantam berulang kali tubuh pasukan khusus tersebut. Xavier masih berlindung dan melangkah maju lebih dekat dengan anak buah Osman.
Grep
Xavier menarik tangan anak buah Osman itu hingga tembakan hanya melesat di udara.
Duak
Menghajar wajahnya hingga tersungkur di bawah kakinya, tetapi pria itu masih berusaha melawan meskipun Xavier sudah berusaha mengunci pergerakan tangannya.
Di sisi lain, salah satu anak buah Osma sejak tadi bersembunyi dari serangan Daniel, diam-diam mengamati Xavier, lalu mengarahkan senjatanya kepada Xavier.
Dor
Namun sebelum menghantam tubuh Xavier, peluru lainnya lebih dulu menebus perutnya hingga mengucurkan darah segar. Peluru tersebut berasal dari senjata milik Keil. Xavier kembali fokus pada pria yang berusaha ia patahkan tangannya itu.
Kini Nico berhadapan dengan anak buah Osman yang lain. Seringai senyum meremehkan tersemat di wajah pria itu. Nico berdecak sinis, ia merenggangkan otot-otot lehernya. Dan satu lawan satu, keduanya saling membuang senjata.
Bugh
Anak buah Osman berusaha menghantam perut Nico tetapi Nico berhasil menepisnya dengan satu kaki.
Bugh
Lagi, pria itu tidak menyerah menyerang Nico yang berusaha tetap mengindari dan justru terlihat bermain-main sehingga membuat lawannya itu kesal setengah mati.
"Sialan! Kau hanya bisa menghindar!"
Nico hanya mengangkat kedua bahunya. "Tanpa senjata saja kau tidak bisa menyentuhku!" serunya menyeringai senyum ejekan.
"Keparat! Mati kau!" Anak buah Osman mengambil tongkat besi. Ia tidak memiliki cara lain karena senjatanya sudah ia lempar entah kemana.
Nico berguling untuk menghindari serangan tersebut. Berusaha menjangkau senjata yang sempat ia lempar hingga kemudian,
Dor
Dor
__ADS_1
Memuntahkan dua peluru tepat di bagian kepala pria itu. Tentu saja darah menyembur ke segala arah.
Sementara Keil serta Daniel kini menghalangi Osman yang ingin melarikan diri dari sana. Hingga langkahnya terpaksa berhenti karena dua anggota Black Lion menghadang jalannya.
"Kau tidak akan bisa pergi dari sini pria tua!" seru Daniel santai.
Osman semula panik, akan tetapi perlahan sudut bibirnya melengkung. "Oh ya, kita lihat saja nanti ketika pasukanku menghabisi kalian!" tantangnya menunjuk Keil juga Daniel.
"Coba saja jika bisa! Kami pastikan kau tidak akan bisa keluar dari sini dan kau juga pasukanmu itu yang harus menanggung kekacauan ini!" timpal Keil dengan seringai tajam.
"Apa maksudmu? Apa kau tidak tau siapa yang kalian hadapi, hah? Aku dilindungi oleh pasukan khusus seorang Mayor!"
Daniel terkekeh. "Maksudmu dia?" Sorot mata Daniel menunjukkan posisi Mayor yang selama ini melindungi Osman.
Osman mengikuti arah pandang Daniel dan ia terkejut mendapati seorang yang di maksud tergelatak kaku di bawah sana dengan reruntuhan di bagian pinggul hingga kaki. Tentu saja akibat ledakan bom itu membuat pria itu harus tertimpa runtuhan barang-barang di dalam sana.
"Sialan!" Tentu saja Osman mendadak gusar, karena tumpuannya kini sudah tewas di tempat dan itu karena kecerobohannya sendiri. "Akan aku habisi kalian sekarang juga!" Merasa tersudut Osman menodongkan senjatanya ke arah Keil juga Daniel bergantian, tetapi nyatanya tidak mampu menggertak kedua anggota Black Lion itu.
"Kau tenang saja, permainan kami tidak akan membuat tubuhmu sakit, pria tua!" cetus Daniel mencoba menakuti-nakuti Osman.
Osman gagal mencerna perkataan Daniel, terlihat dari keningnya yang berkerut bingung itu.
Duaaakk
Pintu terbuka kasar, nampak beberapa pria menerobos masuk dengan bertengger senjata di genggam masing-masing. Ketiga anggota Black Lion menoleh, Osman menoleh dan Xavier pun menoleh ke asal suara.
Terlihat Zayn, Roy serta Jeff dan beberapa anak buah menodongkan senjata pada beberapa anak buah Osman yang juga baru datang, sontak saja mereka terlibat baku tembak.
"Heh, mereka datang secepat ini?" ujar Daniel melihat ke arah Roy juga Jeff.
"Sayang sekali kita tidak bisa bermain lebih lama," sambar Keil. Sebelumnya ia juga Daniel ingin mengerjai Osman lebih lama, tetapi Red Dragon datang lebih cepat dari perkiraan mereka.
Dor
Jeff menumbangkan anak buah Osman yang tersisa, ia berjalan mendekati Keil juga Daniel.
"Ck, kalian ini banyak bicara. Tidak lihat heh jika pria tua itu sudah melarikan diri!" Jeff sempat melihat Osman melarikan diri dan bersembunyi entah dimana.
"Heh sialan. Karena kalian pria tua itu melarikan diri!" Tentu Daniel tidak terima, karena kedatangan Red Dragon perhatiannya terpecah.
"Kau lebih bodoh!" cetus Daniel kesal.
"Dan kau seribu kali lebih bodoh!" Jeff tidak ingin kalah.
Roy serta Keil hanya terkekeh menyaksikan perdebatan Jeff dengan Daniel.
"Jika sudah seperti ini justru mereka berdua yang bodoh," bisik Roy pada Keil dan Keil mengangguk membenarkan.
"Shut up!" seru Zayn sembari menyeret seseorang. Diikuti oleh Xavier serta Nico. "Kalian berdua memperdebatkan pria tua ini? Ku berikan kepada kalian!"
Brugh
Zayn menjatuhkan tubuh Osman ke arah Daniel serta Jeff. Jangan ditanya bagaimana reaksi Daniel serta Jeff yang hanya terperangah.
"Kenapa menyerahkan kepada kami, Master?" tanya Jeff heran.
"Kalian bertengkar karena pria tua sialan itu bukan? Aku berikan pada kalian!" kata Zayn kembali.
Daniel merinding sendiri, ia paham maksud Zayn. "Aku menyukai wanita. Untukmu saja." Dan kini menyodorkan Osman kepada Jeff.
"No. Untukmu saja Master!" Jeff berhasil menghindar.
"Ck, aku tidak suka pria tua yang tidak segar!" Zayn berdecak lidah, rasanya ia malas berurusan dengan pria licik seperti Osman.
Sementara Osman sudah meringkuk tidak berdaya karena tidak memiliki jalan untuk melarikan diri. Habislah sudah riwatnya hari ini, pikirnya.
"Dia urusanku, jadi kalian semua menyingkirlah!" Xavier melangkah maju menghampiri Osman.
"Ck, kau akan apakan pria tua sialan itu?" Zayn berkacak pinggang, ia penasaran apa yang telah direncanakan oleh Xavier.
"Menurutmu? Apa kau pikir aku akan memeliharanya?" sahut Xavier kesal.
Zayn mengedikkan bahu. "Mungkin."
"Aku saja tidak menyukaimu yang melukis sebagian tubuhmu. Bagaimana mungkin menyukai pria tua yang tidak bergairah ini?!"
__ADS_1
Hah? Tentu saja penuturan Xavier yang asal itu membuat mereka semua tercengang. Termasuk Zayn yang mendadak meradang.
"Heh, tatto di tubuhku ini seni. SENI!" Zayn benar-benar kesal sehingga menekankan perkataannya. "Kau yang bodoh karena tidak mengerti seni!" lanjutnya menggebu-gebu.
"Iya, aku memang tidak menyukai seni." Namun jawaban Xavier semakin membuat darah Zayn naik hingga ke puncak kepalanya.
"Sialan!" umpatnya. Zayn kesal sendiri karena tentunya ia tidak bisa menyumpal mulut Xavier. "Dasar pria mulut pedas. Mati saja kau, keparat!" sambungnya dalam hati.
Anggota Black Lion serta Red Dragon hanya mengulum senyum mereka, berusaha untuk tidak tertawa. Berbeda dengan Osman yang datar karena ajalnya sebentar lagi.
"Nico, berikan obatnya padaku dan pegangi dia dengan kuat," ujar Xavier. Bahkan ia acuh terhadap Zayn yang ia yakini tengah mengumpat dirinya di dalam hati.
"Baik bos." Nico kemudian mendekati Osman.
Merasa terancam, tentu saja Osman menjadi sangat panik. "Tidak! apa yang ingin kalian lakukan kepadaku?!"
Nico seakan tuli dan tetap mengunci pergerakan Osman. "Diam saja bodoh, ini tidak akan sakit."
"Benar, obat ini hanya akan membuatmu lumpuh dan mati secara perlahan." Xavier mengeluarkan satu suntikan berisi cairan pelumpuh syaraf.
Osman berusaha memberontak tetapi tenaga Nico terlalu kuat untuk ukuran pria yang mencekal dirinya seorang diri. "Berengsek kalian! Aku akan membunuh kalian!" Osman melihat para pria yang menyaksikan dirinya tidak berdaya. Menanamkan ingatan akan wajah beberapa pria tersebut.
"Silahkan saja jika kau bisa!" Dan Xavier menyuntikkan obat itu tepat ke tengkuk leher Osman. Osman yang masih meronta-ronta, perlahan pergerakan tangannya melemah. "Letakkan saja dia posisinya," perintahnya kemudian.
"Tapi bos, apa tidak masalah? Tuan Louis akan segera datang untuk menggeledah," sahut Nico, ia memapah tubuh Osman yang sudah tidak sadarkan diri dibantu oleh Keil.
"Tidak masalah. Osman akan tewas karena over dosis, obat itu akan mendiagnosis dirinya mati karena terlalu berlebihan menggunakan drugs," jelasnya.
Semuanya mengangguk. Dan mereka segera membubarkan diri setelah meletakkan Osman pada tempatnya. "Mission Completed," seru Black Lion dan Red Dragon serentak. Sebelum kemudian meninggalkan bangunan tua tersebut.
Tidak berselang lama, datanglah Louis dengan pasukan khususnya. Mereka menerima laporan anonim, lebih tepatnya merahasiakan perihal Black Lion yang menyediakan senjata ilegal itu. Mereka menggeledah beberapa senjata yang tersisa di dalam sana. Tidak lupa juga Louis memeriksa keadaan Osman dan salah satu pasukan militer yang selama ini membantu Osman dalam menjalankan pekerjaan ilegalnya.
Louis merangkum laporan mengenai Osman serta anak buahnya dan pasukan militer yang berkhianat terlibat baku tembak dan saling membunuh, tentu saja hal itu sudah direncanakan oleh Black Lion. Dengan begitu, Osman serta pasukannya divonis bersalah karena telah menyeludupkan senjata serta obat-obatan terlarang dan Black Lion terbebas dari sebuah tuduhan. Kini mereka bisa bernapas lega, dan merayakan kemenangan mereka karena telah berhasil menyingkirkan Osman dan tikus-tikus militer tersebut.
.
.
To be continue
.
.
Baba Xavier
Babang Nico
Babang Keil
Babang Daniel
Bang Zayn
Babang Roy
Babang Jeff
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...