
David tidak menyadari kehadiran seseorang. Pria itu menarik bahu David dan kemudian menghantam wajahnya secara brutal.
"BAJINGAN!!"
Ashley terkejut akan kedatangan seorang pria. Ya, prianya karena pria yang sedang membabi buta menghajar David tidak lain adalah Daniel.
"Berani sekali kau menciumnya! Apa kau tidak sabar ingin menjemput kematianmu, heh?!" Daniel menendang perut David, tidak pedulikan pria itu yang memekik kesakitan. Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah serta wajah yang semula tampan menjadi lebam kebiruan akibat perbuatan Daniel.
Bugh
Bugh
Murka. Tentu saja, Daniel sangat marah ketika pria lain mencium bibir wanitanya. Bahkan hanya sehelai rambut wanita itu disentuh pria lain, sudah pasti Daniel akan memotong jari pria tersebut.
"Arrgghhh!!" David tidak bisa menahan serangan Daniel. Tubuhnya bagaikan remuk tak bertulang, menggerakkan jarinya saja terasa kebas. Benar-benar pria yang mengerikan, batinnya.
Ashley tidak mampu melihat kekejaman Daniel yang dapat membunuh mantan kekasihnya itu. Ia mendekati Daniel, meskipun awalnya Daniel tidak mengindahkan panggilan dirinya.
"Daniel, sudah hentikan. Kau bisa membunuhnya!" Tidak. Ashley belum siap melihat kematian seseorang di hadapannya. Terlepas siapapun Daniel, ia tidak ingin pria itu membunuh seseorang di hadapannya.
Merasa dirinya diabaikan, Ashley memeluk Daniel dari belakang. Apa yang dilakukan wanita itu berhasil meredam amarah Daniel yang menggebu-gebu. Daniel menghentikan serangannya terhadap David, membiarkan pria itu terkapar tidak berdaya. Entah sudah mati atau hanya pingsan, Daniel tidak peduli.
Daniel menarik tangan Ashley menjauhi pria itu dan kemudian merengkuh tubuh wanitanya yang seharian ini membuatnya panik sekaligus gusar. "Kau baik-baik saja, hm?" Inilah yang membuat Ashley merasakan kenyamanan, Daniel selalu memperlakukan dirinya dengan lembut. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan pria yang bisa menerima dirinya dan memberikan kebahagiaan untuknya. Mencintai seseorang tidaklah harus mengenal lama, tujuh bulan bersama Daniel sudah membuatnya yakin melabuhkan seluruh hatinya untuk pria itu. Jangan salahkan dirinya jika ia terlalu jatuh pada pesona seorang Daniel.
Ashley mengangguk, wajahnya ia sembunyikan di dada bidang pria itu. Sungguh menenangkan. "Aku baik-baik saja."
Daniel mengatur napasnya yang mulai teratur, hembusan napasnya lebih tenang dari sebelumnya karena sudah berhasil menemukan wanitanya. Tetapi satu hal yang masih membuatnya naik pitam, yaitu pria bajingan itu berani mencium bibir wanitanya. Mengingatnya saja benar-benar tidak puas jika membuat pria itu mati dengan mudah.
Setelah puas menyalurkan kerinduan, Daniel melepaskan pelukan mereka. Ashley nampak bingung ketika wajah Daniel kembali menegang.
"Ada apa?" tanyanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Ashley, Daniel menyambar bibir wanitanya hingga membuat mata wanita itu membola penuh. Bukan karena ia tidak suka, melainkan Daniel menciumnya secara tiba-tiba, itu membuatnya terkesiap. Namun detik berikutnya, Ashley membalas pagutan bibir Daniel. Menyalurkan rasa cinta lewat ciuman yang liar itu. Lidah mereka saling membelit satu sama lain, menyesap dan melummat dengan sangat sensual. Menghapus jejak pria bodoh pada bibir wanitanya. Hingga keduanya kehabisan napas dan melepaskan ciuman mereka.
"Aku sudah menghapus jejak pria bajingan itu!" Daniel mengusap sudut bibir Ashley, dimana jejak saliva mereka tercetak disana.
Ashley hanya mengangguk pelan. Ia memang merasa jijik dengan sentuhan bibir David yang kasar. Akan tetapi ciuman Daniel mampu menghilangkan jejak menjijikan tersebut.
"Terima kasih kau sudah datang menyelamatkanku. Jika tidak, mungkin aku sudah...."
Cup
Ciuman singkat mendarat di bibir Ashley. Daniel tidak membiarkan wanitanya itu melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak mungkin membiarkan pria lain menyentuhmu. Semua yang ada padamu adalah milikku." Tangan Daniel terulur membelai rambut panjang bergelombang wanitanya.
Hangat, itulah yang dirasakan oleh Ashley. Bagaimana mungkin ia meragukan pria sebaik Daniel, hanya wanita bodoh yang tidak bisa lihat betapa tulusnya pria itu padanya.
"Terima kasih." Ashley memberikan senyuman termanisnya. Sungguh ia merasa menjadi wanita yang beruntung. Namun sesaat kemudian wajahnya berubah panik. "Daddy...." lirihnya mengingat jika Daddy-nya terluka akibat ulah dari anak buah David.
"Ayahmu baik-baik saja. Dia bersama dengan anak buahku." Ya, karena Daniel dan para anak buahnya berhasil menumbangkan beberapa anak buah David yang sebelumnya mengepung pria tua itu.
__ADS_1
Ashley menghembuskan napas penuh kelegaan. Ia mengikuti langkah Daniel yang membawanya keluar dari ruangan tersebut. Sorot mata yang ditemuinya pertama kali adalah Daddy Howie. Pria paruh baya itu nampak meringis kesakitan.
"Daddy baik-baik saja?" Ashley mendekati Howie. Meneliti keadaan Sang Daddy. Ia meringis ketika melihat wajah Daddy-nya yang penuh lebam. Sebelum kemudian mendongak kepada Daniel. "Sebaiknya kita bawa Daddy ke rumah sakit."
"Hem, baiklah." Daniel menatap wajah calon ayah mertuanya. Jujur ia sedikit kesal karena kebodohan pria tua itu ia nyaris saja kehilangan Ashley.
Mereka segera menuruni tangga. Bangunan tersebut memang ditinggalkan pemiliknya begitu saja sehingga sedikit tidak terawat dan tentunya mudah di hancurkan.
"Kalian ingin kemana, heh?!" Sumber suara seseorang memaksa mereka menghentikan langkah. Menoleh ke arah suara yang tidak asing.
David?
Ya, semuanya terkejut mendapati David masih dapat berdiri dengan banyak luka lebam hampir di seluruh tubuhnya.
"Kalian tidak akan bisa keluar dari tempat ini!" ujarnya penuh penekanan disertai senyuman mengejek. "Kalian perlu tau jika aku sudah memasang bom di bangunan ini. Sekali saja kalian melangkah, maka kita tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup."
"Keparat!" Apa yang baru saja disampaikan oleh David membuat Daniel meradang.
"Kau keterlaluan David. Apa kau tidak puas sudah menyakiti putriku selama ini?!" Howie tidak terima akan sikap David yang benar-benar licik. Karena dengan sengaja ingin membunuh dirinya serta yang lain.
David terkekeh. "Kau semakin berani saja," sahutnya kepada Howie. "Bukankah kau tidak menyetujui hubungan putrimu dengan pria itu? Lalu sekarang kau justru membelanya?!" Sindiran David untuk Howie tepat sasaran.
"Aku hanya tidak menyukai pria yang menyakiti putriku! Salah satunya adalah kau, David!"
"Cih, pria tua sialan. Apa kau lupa siapa yang sudah membebaskanmu?!" David mendengkus kesal, pria tua itu semakin berani saja padanya.
"Aku tidak akan lupakan itu dan aku berterima kasih." Hanya sekedar ucapan itu yang Howie sampaikan untuk David.
"Hahahaha...." David tertawa nanar. Sungguh ia menahan geram kepada pria tua di hadapannya. "Kalau begitu aku tidak akan membuat pilihan lain, kalian harus mati bersama!" Sudah habis kesabaran David, ia tidak peduli lagi akan Howie maupun mantan kekasihnya itu. "Selamat tinggal untuk kalian." David memegang tombol kendali yang terhubung pada bom yang ia pasang sebelumnya. Jika benda kecil itu ia tekan, maka akan terjadinya ledakan hebat di dalam bangunan tua tersebut.
Dor!
Belum sempat ibu jarinya menekan tombol kecil tersebut, hantaman peluru dari arah lain mengenai lengan David hingga membuat pria itu memekik dan benda kecil itu terlempar ke sembarang arah.
"Siall!!" umpat David. Serangan tiba-tiba itu membuat mereka mencari sumbernya, akan tetapi tidak menemukan siapapun disana.
Melihat David lengah, tentu Daniel tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Sejak tadi ia memang meneliti sudut bangunan yang terdapat bom.
Bugh
Daniel menendang punggung David hingga membuat pria bajingan itu meringsut ke bawah dengan telapak tangan yang menahan beban tubuhnya.
"Keparat! Kau menyerangku!" David memaki, berusaha beranjak meskipun merasakan sakit yang teramat.
"Cepatlah kalian pergi dari sini." Daniel meminta Ashley, Howie beserta tiga anak buahnya untuk meninggalkan bangunan berlantai 5 itu.
"Tidak!" Ashley menolak tegas. Ia tidak mungkin meninggalkan Daniel.
"Cepatlah pergi!" Daniel mendorong Ashley. Sementara Howie sudah ditarik lebih dulu oleh tiga anak buah.
Melihat David yang sudah kembali berdiri, Daniel menyerang dan tidak membiarkan David menemukan benda kecil pengendali itu.
__ADS_1
"Cepat sayang. Pergi dari sini!" teriaknya pada Ashley. Daniel menjadi gemas, kenapa disaat keadaan darurat seperti ini wanita itu justru menjadi keras kepala.
"Tapi....." Ashley masih saja ragu dan tidak ingin meninggalkan pria yang dicintainya.
Bugh
Fokus Daniel terpecah dua, menyerang David juga mencari keberadaan benda kecil itu sebelum David yang menemukannya lalu meledakkan mereka. Daniel memperhatikan Ashley yang sudah menjauh, setidaknya membiarkan wanitanya itu menyelamatkan dirinya sendiri.
Namun kali ini serangan Daniel berhasil ditangkis oleh David. Dan pria itu kembali menyerang Daniel yang tentu bisa dihindari oleh Daniel.
Ekor mata David lebih dulu menemukan benda kecil itu, ia berlari sedikit tertatih untuk menggapai benda kendali tersebut. Hal yang sama dilakukan oleh Daniel, ia pun menyadari benda pengendali itu, namun ternyata tangannya tidak mampu menggapai sehingga David yang lebih dulu meraihnya.
Shittt!!
Daniel meruntuki usahanya yang gagal itu, sementara David tersenyum puas. "Kali ini aku menang di atasmu! Lihatlah, benda ini berada di tanganku dan itu artinya nyawamu berada di tanganku!" Masih dengan senyum kepuasan, David meremehkan Daniel. Padahal pria itu menahan rasa nyeri pada lengannya yang terkena tembakan, David pandai menyembunyikan rasa sakitnya dan berpura-pura baik saja.
Tangan Daniel terkepal disisi pahanya. Bagaimanapun caranya ia harus merebut kembali benda pengendali tersebut. Berulang kali sebuah cara terlintas di benaknya tetapi sialnya tidak ada jalan keluar karena untuk menuruni tangga harus melewati langkah David.
"Baiklah, aku tidak ingin membuang waktu lagi. Nikmati kematianmu!" David tersenyum lebar, untuk pertama kalinya ia melihat Daniel yang tidak berdaya, tentu itu menjadi kepuasan bagi dirinya.
"No, Tidak!" Ashley berlari menghantam tubuh David. Sejak tadi wanita itu masih berada di bawah tangga, ia memperhatikan keduanya.
Klik
Brak
Tubuh David tidak sengaja mengenai besi besar yang menghancurkan kaca rapuh bangunan itu, sehingga pria itu terjun bebas ke bawah.
Daniel tidak pedulikan David yang terjatuh, ia terlalu dibuat terkejut karena ternyata wanitanya masih berada di dalam bangunan. Tangannya terulur menangkap tubuh Ashley yang terjerembab ke arahnya.
Prangg
Duarr!!
Daniel dan Ashley menghantam kaca yang sudah hancur sehingga kaca itu kian berhamburan. Keduanya saling bertemu pandang, membiarkan tubuh mereka terhempas bersama angin. Ketiganya terjatuh dari lantai lima bersamaan dengan ledakan dahsyat.
.
.
To be continue
.
.
Babang Daniel
...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
__ADS_1
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...