Bastard Mafia (Falling In Love)

Bastard Mafia (Falling In Love)
Dua pria penyelamat


__ADS_3

Keil memastikan penglihatannya jika tidak sedang berhalusinasi. Tangannya terulur untuk menghidupkan lampu yang berada di atas nakas, setidaknya cahaya tersebut mampu memberikan penerangan pada sosok yang duduk di sampingnya itu. Mata yang melemah perlahan terbuka dengan lebar, ia tidak sedang berhalusinasi karena memang sosok yang tengah mengusap lembut wajahnya adalah wanita yang sangat ia rindukan satu bulan ini.


"Eme...?" gumamnya lirih.


Wanita itu tersenyum lembut. "Aku disini... Keil. Aku sudah kembali."


Keil menggenggam tangan Emely yang berada di wajahnya, lalu menarik dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya.


"Kau disini Love.... kau kembali.... kau benar-benar kembali." Keil tidak mampu berkata-kata, ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya yang membuncah. Rasa gusar seketika lenyap, Keil semakin erat memeluk Emely, menyalurkan kerinduan yang mendalam. Wanita yang satu bulan penuh hilang dari jangkauannya, kini berada di dalam dekapannya.


Emely mengusap punggung Keil, memberikan kehangatan dan membiarkan pria itu memeluknya dengan begitu erat. Namun kian lama pelukan Keil membuatnya sedikit sesak. "Ke-Keil, aku merasa sesak..." Perkataan Emely tentu saja membuat Keil segera melepaskan pelukannya.


Keil kemudian mengambil remote di atas nakas untuk menghidupkan lampu kamarnya, lalu meletakkan remote kembali ke tempat semula. Seketika ruangan tersebut menjadi terang dan keduanya dapat saling melihat wajah satu sama lain dengan begitu jelas.


Untuk memastikannya kembali jika ia tidak sedang bermimpi, tangan Keil terulur menggapai wajah Emely, diusapnya dengan penuh kelembutan. Nyata, ia benar-benar tidak sedang bermimpi.


"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana kabar kalian?" Terselip kecemasan pada nada pertanyaanya. Kemudian tangannya beralih pada perut Emely yang sedikit membuncit.


"Kami baik-baik saja." Emely membiarkan Keil mengusap perutnya. Selama berpisah dengan Keil, Emely kerap kali dirundung kegelisahan, ia ingin sekali selalu berada di sisi Keil, akan tetapi keadaanya saat itu tidak memungkinkan.


Lama Keil mengusap perut Emely, lalu menuntun wanita itu untuk bersandar sama seperti dirinya, bersandar pada headboard. Keil kembali mengusap perut Emely, ada perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Janin yang berada di dalam kandungan istrinya adalah bayinya, itu artinya ia akan menjadi seorang Daddy.


"Terima kasih, Love." Keil melingkarkan kedua tangannya di pinggang Emely, membenamkan wajahnya di bahu istrinya itu. "Kau memberikan sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya," lanjutnya. Memang selama ini Keil hidup sesuai dengan keinginannya. Sejak kecil tidak mendapatkan kasih sayang dari siapapun, ia tidak tau siapa kedua orang tuanya dan ia tidak ingin mencari tau, bahkan tidak ingin mengetahuinya. Ia sudah nyaman hidup seperti ini, bersama dengan kedua sahabatnya yang juga memiliki nasib serupa dengannya.


Terbukti tanpa sanak keluarga, mereka mampu menciptakan keluarga. Bersama dengan Nico dan Daniel, menjalin persahabatan dan persaudaraan yang kuat saling melindungi. Dan kini ia bisa memiliki keluarga kecilnya, dan itu ia dapatkan dari wanita yang bernama Emely. Takdir tidak sekejam itu padanya, ia masih diberikan kesempatan untuk bahagia bersama dengan seorang wanita yang baik, meskipun ia bukanlah pria yang baik, bahkan bisa dikatakan ia adalah monster darah, yang tidak segan untuk menghilangkan nyawa seseorang.


Keil mengangkat kepalanya dari bahu Emely, meraih dagu sang istri. "Terima kasih kau sudah mau menerima pria sepertiku."


Emely tersenyum menanggapi, ia tau Keil mungkin tidak percaya dengan dirinya sendiri, mengingat pria itu adalah seorang Mafia. "Aku mencintaimu terlepas siapa dirimu Keil. Kita akan hidup bersama dan membesarkan anak kita."


Apa yang baru saja dikatakan oleh Emely, membuat Keil tidak bisa untuk tidak menguarkan senyumnya, keningnya menyatu dengan kening Emely. "Terima kasih." Hanya itu yang mampu Keil ucapkan. Selain rasa terima kasih akan cinta wanita itu, Keil juga berterima kasih karena wanitanya masih ingin kembali padanya.

__ADS_1


Hidung mereka bersentuhan, hingga bibir mereka saling menempel dan kini saling melummat satu sama lain. Bibir yang sama, rasa yang sama. Keduanya merindukan ciuman dan sentuhan satu sama lain. Keil menahan tengkuk leher Emely untuk memperdalam ciuman mereka, Emely selalu bisa mengimbangi permainan bibir Keil. Lama ia tidak merasakan bibir dan sentuhan suaminya itu, dan selama hamil ia mengidam-idamkan hal itu.


Keil menyudahi ciuman mereka. Ia tersenyum. "Maaf, aku lupa jika sedang sakit."


Emely balas tersenyum. "Tidak apa-apa Keil."


"Kemarilah." Keil kemudian merentangkan kedua tangannya agar Emely masuk ke dalam dekapannya. Emely menurut, ia menghambur ke pelukan Keil yang langsung mendekapnya dengan erat. "Katakan padaku Love, kemana saja kau selama ini?"


"Aku...." Emely ragu untuk mengatakannya, ia hanya tidak ingin membuat Keil menjadi merasa bersalah.


"Love, aku ingin kau mengatakan semuanya yang terjadi padamu. Selama ini aku tidak bisa menemukanmu, bahkan aku menyerang Jonas dan Golden Dawn, tapi dia mengatakan kalau kau terjatuh dari mobil dan terguling ke semak-semak. Aku tidak percaya pada saat dia mengatakan jika kau tewas di tempat. Aku benar-benar tidak bisa menerima kalau kau meninggalkanku begitu saja, Love." Keil menyuarakan isi hatinya. Ketakutannya yang luar biasa ketika harus kehilangan dua nyawa yang ia cintai.


Emely mendengarkan kalimat Keil hingga selesai, ia tersenyum tipis. Bukan karena ia senang membuat Keil merasa terpuruk, tetapi karena terharu kepada Keil yang mencintai dirinya begitu dalam.


"Katakan padaku Love, apa yang sebenarnya terjadi?" sambungnya mendesak. Sungguh, Keil penasaran dimana istrinya selama ini berada. Apa ada seseorang yang dengan sengaja membantu, sehingga ia sulit melacak kemanapun.


Lama terdiam akhirnya Emely mengangguk lemah. "Aku memang terjatuh ke semak-semak."


Keil tertegun, ternyata Jonas tidak berbohong. "Maafkan aku Love, kau pasti sangat ketakutan saat terjatuh ke jurang."


Jantung Keil seolah mencelos, mengetahui jika istri serta bayinya sempat dalam bahaya dan tidak bisa diselamatkan. Keil mengurai pelukan, lalu menatap lekat wajah Emely. "Aku tidak bisa membayangkan kalau aku benar-benar kehilangan kalian." Mata Keil bahkan nampak mengembun saat mengenakannya.


"Aku juga sangat takut, takut tidak bisa membuka mataku dan tidak bisa melihatmu lagi," lirihnya mengenang saat mengerikan itu. Ia serta bayi yang berada di dalam kandungan ingin hidup bersama dengan Keil dan beruntung doanya di dengar, sehingga satu minggu dalam keadaan kritis dirinya akhirnya membuka mata. "Mereka sangat baik padaku, aku berhutang nyawa kepada mereka."


Keil terenyuh mendengar cerita istrinya, bisa dikatakan itu adalah sebuah keberuntungan karena ia masih dapat melihat wanitanya. Tangan Keil memegang kedua bahu Emely. "Siapa mereka Love? Siapa mereka yang sudah menyelamatkanmu?" tanyanya dengan penuh ketidaksabaran. Bukan hanya Emely, Keil pun merasa sangat hutang nyawa dan hutang budi. Ia akan membalas kebaikan dua orang itu.


"Yang menyelamatkanku dari Jonas adalah Tuan King Adam. Dia menyebut namanya seperti itu."


Deg


Keterkejutan Keil semakin bertambah saat mengetahui nama seseorang yang tidak asing dan pria itu yang ternyata sudah menyelamatkan istrinya.

__ADS_1


"Tuan King Adam mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku dan membawaku ke rumah sakit dan...." Emely kembali melanjutkan ceritanya, akan tetapi di akhir kalimat ia menggantungkan ucapannya.


"Dan apa Love?" Entahlah, Keil benar-benar tidak bisa berpikir jernih, ia ingin mengetahui kelanjutan cerita dari sang istri.


Emely menarik napas dalam, ia meraba ingatannya kala itu. "Keil, meskipun saat itu aku dalam keadaan koma, tapi aku bisa mendengar sekitarku, aku mendengar seseorang meminta kepada dokter untuk menyelamatkanku dan bayi kita. Tuan itu rela membayar berapapun agar kami berdua bisa diselamatkan dan saat aku membuka mata, aku melihat Tuan King Adam dan Tuan Xavier berada di dalam bersama dokter. Aku mengenali suara Tuan Xavier saat berbicara dengan dokter yang ternyata dialah orang yang rela mengeluarkan banyak uang untuk keselamatanku dan bayi kita."


Keil sejenak terdiam, nama Xavier yang tidak lain ialah bosnya berdengung berulang kali di telinganya. Sungguh ia tidak pernah menduga jika selama ini bosnya serta Adam yang telah menjaga Emely, menjaga keselamatan istri dan bayinya.


"Keil, mereka mengatakan aku harus bersembunyi dan tidak boleh menemuimu. Tapi setelah satu bulan, Tuan Xavier membiarkanku pergi dan bahkan asistennya itu mengantarku langsung kesini. Sejak kemarin aku berada disini dan aku terkejut ternyata kau juga berada disini. Karena itu aku tidak bisa mengabaikanmu begitu saja disaat kau sedang sakit, Keil." Emely kembali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tanpa dilebih-lebihkan. Dan penuturan Emely itulah mampu mengguncang diri Keil.


Asisten? Tidak salah lagi, pasti Jack yang sudah mengantar Eme ke penthouse, batinnya.


"Bos...."


Keil mengusap kasar wajahnya, entah ia harus senang atau marah. Sungguh ia berhutang budi kepada bos serta pria yang bernama King Adam itu. Tetapi ada rasa kesal yang menjalar karena bosnya juga yang telah menyembunyikan Emely selama ini. Entah ia harus memberikan respons seperti apa karena secara bersamaan bosnya mampu membuatnya penuh haru dan mengeram amarah.


To be continue


.


.


Babang Keil



Emely



...Like, vote, follow, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2