Dendam Cinta Sang Pewaris

Dendam Cinta Sang Pewaris
Bab. 114# Tertidur di kamar Ara


__ADS_3

Cup..


“Sayang.” Bisik Sky di telinga Freya.


Sementara Freya menggeliat kegelian mendapatkan sentuhan basah bibir Sky di telinganya.


Shh...


Sky tersenyum miring mendengar ******* Freya di telinganya. Melancarkan aksinya kembali mengigit kecil kecil daun telinga Freya. Bukan hanya itu lidah Sky juga menyapu belakang daun telinga Freya dan mengecupnya.


Ahh


Nafas Sky semakin memburu dan darahnya semakin berdesir mendengar suara ******* Freya. Tangannya kembali aktif, bergerilya kesana kemari di tubuh polos Freya hingga membuat tubuh Freya semakin menegang dan bergetar.


Freya membuka matanya, kantuk yang menyerangnya, tiba-tiba saja hilang dan menguap begitu saja. Padahal baru setengah jam freya terlelap dan Sky kembali lagi membangunkannya dengan sentuhan tangan dan bibirnya.


“Sayang.” Seru Freya serak khas bangun tidur dan itu justru semakin membangkitkan gairah dalam diri Sky. Senjatanya yang berdiri semakin menegang dan sangat keras. Sky memejamkan matanya, merasakan denyutan di pangkal paha nya.


Sky membuka matanya melihat tubuh putih mulus Freya yang banyak terdapat bercak merah di dada dan lehernya. Sky menundukkan wajahnya mendaratkan bibirnya kembali pada leher Freya dan membuat tanda merah di sana. Seolah tak puas dengan satu kali kecupan Sky berulang kali mengecup leher Freya dan semakin turun ke bawah pada salah satu gundukan milik Freya.


Cup...


Sky menyambar salah satu buah kenyal yang menonjol, menyesap dan memelintir dengan bibirnya hingga Freya menggelinjang bergerak gelisah di bawah kungkungan Sky.


“Sayang...” desah Freya mencengkram erat rambut Sky dan menekan kepala Sky pada dadanya. Sky tersenyum saat merasakan tubuh Freya yang semakin menegang. Tangannya yang lain tak tinggal diam, menjajah tubuh Freya dengan kepiawaiannya. Sky tau dimana letak sensitif Freya. Tangan Sky turun dan mendapatkan lembah basah dan lembab milk Freya.


Sky mendongak, menatap wajah Freya yang tertutup kabut gairah dengan mata yang terpejam. Bibirnya tersenyum miring melancarkan aksinya kembali.


“Sky..” jerit Freya merasakan sesuatu di area sensitifnya. Rasa panas geli dan entah itu apa menjadi satu semakin membuat Freya tak karuan.

__ADS_1


“Sayang..” entah sudah beberapa kali suara jeritan Freya karna ulah tangan sky. Hingga sepuluh menit kemudian, tubuh Freya menegang dan bergerak. Tangannya mencengkram erat kain seprey.


Sky menyambar lagi salah satu dada Freya yang membusung saat sebelumnya dia telah melepaskannya. Tangannya menekan punggung Freya saat tubuh Freya terpelanting kebelakang. Dan tak lama terdengar suara jeritan Freya mencapai puncak gairahnya bersama dengan tangannya yang hangat. Sky melepaskan pucuk kecoklatan milik Freya dan menatap wajah Freya yang di banjiri oleh keringat.


Sky melepaskan tangannya dan mengusap dahi Freya. Mengecup kening Freya berkali kali. Sky bisa mendengar nafas Freya yang memburu di telinganya.


“Apa aku harus melanjutkannya sayang.” Tanya Sky tepat di depan wajah Freya.


Freya membuka matanya, menatap wajah Sky yang di tumbuhi bulu bulu yang sangat kasar. Freya mengangkat tangannya meraba raba pipi dan rahang Sky yang sangat kasar. Dan sky yang mendapatkan sentuhan dari Freya memejamkan matanya. Miliknya semakin berkedut, dan Freya bisa merasakan itu di kakinya.


“Bukankah aku milikmu tuan.”


Sky membuka matanya mendengar penuturan Freya. Menatap wajah cantik yang tersenyum padanya. Apalagi tangan Freya yang mengusap bibir tebalnya. Darah Sky semakin berdesir hingga ubun ubun. Sky menundukkan kembali wajahnya menyambar bibir Freya. Miliknya semakin berkedut dan menegang.


“Oh sayang kau membuatku gila.” Desah Sky melanjutkan aksinya.


Terdengar suara suara merdu di kamar Sky yang lumayan luas saat ini. Suara ******* Freya dan geraman Sky menggema di dalam ruangan hingga memantul di telinga mereka. Beruntungnya, kamar Sky kedap suara, hingga suara berisik mereka tak terdengar di telinga orang lain. Padahal saat ini, suara geraman Sky sangat nyaring di banding dengan suara milik Freya. Sky tak perduli andai orang lain mendengarnya sekalipun.


*


Sementara di dalam kamar Ara. Elard pagi pagi buta datang ke kamar Ara. Entah kenapa Elard sangat ingin saat Ara membuka matanya, dialah yang pertama kali di lihat oleh Ara.


Sampai di dalam kamar Ara Elard melangkah perlahan mendekati ranjang. Dia membaringkan tubuhnya di samping Ara perlahan. Pandangan matanya langsung tertuju oleh bibir mungil Ara yang terbuka. Terlihat lucu di mata Elard.


Elard mendekatkan wajahnya mengecup bibir mungil Ara yang terbuka yang membuat sang empu menggeliat terusik oleh Elard. Elard mengusap mata Ara yang masih sedikit bengkak efek kemarin Sore yang menangis.


Mengingat kejadian kemarin, Elard mengepalkan tangannya. Ara sangat ketakutan kemarin, hingga dia menangis kencang dan sesukan. Elard berjanji dia akan melindungi adiknya yang mungil ini. Elard tak ingin sesuatu terjadi pada Arabelle. Adik kecilnya yang mungil yang membuatnya gemas saat pertama kalinya melihat wajah ketakutannya.


“Kamu sayang lucu sayang.” Kembali mencium bibir Ara yang terbuka.

__ADS_1


Ara menggeliat terusik oleh Elard. Dia membuka matanya dan mencebik, menangis. Elard kelabakan melihat bibir Ara yang akan menangis. Dia menepuk bokong montok Ara agar tertidur kembali. Tapi Ara justru membuka matanya.


Hik ..Hik...


“Eh sayang ini uncle.” Ucap Elard mengusap Kepala Ara. Ara membuka matanya mendengar suara Elard. Tangannya mengucek matanya dan berkedip melihat Elard yang membuka matanya.


Elard tersenyum lebar melihat Ara membuka matanya. Tak lama Elard mengerutkan keningnya mlihat Ara kembali menutup matanya dan tidur.


“Sayang, Ara bangun.” Elard kembali menepuk lembut bokong Ara dan sayangnya Ara justru terlelap kembali.


Elard tersenyum, dia membaringkan tubuhnya di samping Ara dan membawa Ara masuk dalam pelukannya. Tangannya mengusap punggung kecil Ara, dan tak lama kemudian Elard ikut tertidur di samping Ara.


*


“Dad..” seru Elard melihat Sky berkacak pinggang melihat Elard justru kembali tertidur.


Sementara Elard mengedarkan pandangannya mencari keberadaan adik kecilnya. Sky yang melihat Elard mencari keberadaan Ara mendengus. Entah sejak kapan Elard tidur di ranjang putrinya. Dia pikir Elard pergi sekolah mengingat jika hari semakin siang. Ternyata dia justru tidur di sini. Dia juga tidak akan mengijinkan Elard sekolah, mengingat baru beberapa hari Elard keluar dari rumah sakit.


“Mandi ponselmu berdering dari tadi Lion.” Ucap Sky menatap datar wajah bantal bantal.


Elard melirik ke arah ponsel miliknya dan memejamkan matanya saat sadar siapa yang menelponnya.


“Aku tak akan mengecewakanmu dad.” Ucapnya menundukkan wajahnya. Elard sendiri emosi melihat teman wanitanya yang selalu menelpon dirinya. Tak hanya itu, dia juga kerap kali mendekati dirinya saat di sekolah. Padahal Elard sama sekali tak meresponnya, dan bahkan mengacuhkannya. Tapi tetap saja dia mendekatinya terus. Entah dari mana dia memiliki nomor ponsel miliknya.


Sky menatap putra angkatnya dan menghembuskan nafsunya perlahan. Di usia seperti Elard memang harus Ektra ketat menjaga pergaulannya. Beberapa bulan lagi usianya delapan belas tahun. Dan Sky tak ingin Elard salah pergaulan.


“Kau yakin.”Elard menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan Sky padanya. Bibirnya tersenyum dan menubruk Sky. Sky berdecak dia menyingkirkan Elard yang menempel di tubuhnya.


Elard tertawa melihat wajah ayahnya yang mendelik padanya dia berlari keluar dari kamar Ara dan kembali ke kamar miliknya.

__ADS_1


__ADS_2