Dendam Cinta Sang Pewaris

Dendam Cinta Sang Pewaris
Bab. 49# Rencana pertunangan


__ADS_3

"Tuan.."


Sky mengeratkan rahangnya melihat wanita di depannya sudah membuang pakaian yang menempel di tubuhnya. Sky berjalan melewati wanita yang baru saja bercinta dengannya. Dia sama sekali tak ingin melanjutkan percintaan mereka yang baru beberapa menit berlangsung.


Sedangkan wanita itu yang melihat tangan Sky berdarah shock. Dia berjalan menghampiri Sky dan berniat membantunya.


"Tuan tangan anda berdarah."


"Keluar dari sini."


Wanita itu kaget dan bingung mendengar Sky mengusirnya. Dia masih berdiri mematung di depan Sky. Tak lama dia mendekati Sky lagi dan merayunya kembali dengan cara mengobati luka di tangannya. Dia belum mendapatkan apa yang dia mau. Selain uang dia juga ingin bercinta lebih panas lagi dengan Luis. Ini sudah kedua kalinya dia bersentuhan dengan Luis dan dia sangat menginginkan lagi bercinta dengan Ausky Luis. Siapa wanita yang tak ingin bercinta dengan Ausky Luis, meski tak mendapatkan uang sekalipun, mereka rela melemparkan tubuhnya untuk bercinta dengan Luis.


Dia ingin seperti yang dulu, bercinta sampai dia berkali kali mencapai puncak nirwananya. Sedangkan tadi baru sepuluh menit Ausky Luis sudah melepaskan penyatuan mereka berdua. 


"Tuan luka anda harus segera di obati." Bisiknya di telinga Sky, tangannya meraba perut sispex Sky di balik handuk kimono yang di pakainya.


"Singkirkan tanganmu dari ku nona." Desis Sky.


"Tuan anda akan mendapatkan yang terbaik dari ku. Percayalah tuan, aku bisa memuaskan anda kali ini dari yang sebelumnya." Rayunya mengelus dada bidang Sky yang terbuka. 


Click... 


"Keluar atau akau akan meledakkan isi kepalamu."


Wanita itu mematung melihat senjata api tepat di keningnya. Dia tak tau darimana datangnya senjata itu dan bagaimana bisa berada di tangan Luis.


"Apa kau masih mendengarku nona."


"I_ya.."


Tanpa menunggu dia berbalik dan memakai lingerie miliknya yang dia lempar sebelumnya. Kemudian keluar terburu-buru dari kamar saat melihat tatapan tajam Sky padanya.


Brukk. 


"Brengsek.."


Calvin mengumpat wanita yang menabraknya. Dia menoleh ke dalam kamar di mana tuannya melemparkan senjata api miliknya ke sembarangan arah. 


Prakk.. 


Calvin tak berani masuk ke dalam, dia lebih baik berdiri di depan pintu. Dia sendiri tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Nona Freya menangis sepanjang pulang ke mension sedangkan tuannya marah di sini. 


"Apa nona tak menjalankan tugasnya, itu sebabnya tuan mencari di luar, ah mungkin begitu." Gumam Calvin mengandai andai sambil memegang dagunya.

__ADS_1


Brakk.. 


Calvin berjengit mendengar pintu yang di tendang oleh tuannya. Dia menundukkan wajahnya melihat mata tajam tuannya yang menyalak tajam padanya. 


"Berikan padaku bodoh."


Calvin mengulurkan tangannya memberikan paperbag di tangannya sambil menudukan wajahnya tak berani menatap wajah tuannya. Sky menyambar paperbag di tangan Calvin dan menutup pintu kencang. Calvin membuat dirinya semakin emosi.


*


Freya meringis merasakan sakit di lengannya akibat cengkraman tangan Sky padanya. Freya baru saja mencari pelayan dan ingin meminta obat pada pelayan. Tapi sayangnya Freya tak menemukan mereka di manapun. Entah kemana semua pelayan mension Sky saat siang hari, Freya tak tau.


Carol yang melihat Freya berdiri sendiri ditepi kolam tersenyum miring. Carol tau jika Freya tak bisa berenang saat pertama kalinya datang kemari. Carol mendekati Freya menoleh ke kiri dan kanannya, dan tersenyum misteri saat tak ada penjaga yang mengawasinya.


Byurr.. 


Byurr.. 


Hap..


"Brengsek.." Umpat Carol saat Freya juga menarik tangannya masuk ke dalam kolam. Dia berenang menjauhi Freya, tapi Freya tak ingin dia tenggelam di dalam kolam. Freya menarik kaki Carol, terang saja Carol gelagapan saat kakinya di tarik oleh Freya. 


"Brengsek lepaskan kakiku sialan." Teriak Carol.


Carol berbalik dan menendang Freya agar melepaskan kakinya. Tentu saja Freya kaget pegangannya terlepas. Tapi beruntungnya pelayan lainnya melihat Freya dan Carol berteriak meminta tolong. 


Carol mengumpat Freya saat melihat pelayan lainnya datang. Carol terpaksa menarik Freya ke pinggir. Kemudian Carol naik meninggalkan Freya. Bibirnya tak berhenti mengutuk dan mengumpat Freya sembari melangkah meninggalkan kolam.


Uhuk..uhuk.. 


"Nona anda tak apa apa.?"


Mereka menarik Freya naik ke atas, sampai di atas Freya terbatuk dan kedinginan dia menoleh ke arah Carol yang pergi meninggalkannya. Freya tau jika Carol sengaja mendorongnya masuk ke dalam kolam.


"Terima kasih bibi."


"Nona gantilah pakaian anda terlebih dahulu." Ucapnya mengambil handuk di tangan rekannya, lalu memberikannya pada Freya.


Freya menganggukan kepalanya, dia berjalan menuju kamarnya. Sampai di kamarnya Freya mengganti pakaiannya yang basah. Freya menatap tangannya yang merah. Entah kenapa mereka berdua suka sekali melukainya, tidak Carol dan juga Sky. Mereka berdua sama saja ingin dia terluka.


Freya tertawa miris mengingat Sky yang tiba-tiba saja melukainya. Freya tak tau apa salahnya sebenarnya, kenapa suaminya bisa marah padanya dan melukainya.


Freya berbaring di ranjang miliknya, menggulung tubuhnya yang kedinginan dengan selimut tebal. Kemudian memejamkan matanya lelah. Bukan hanya sakit di area sensitifnya tapi seluruh tulangnya rasanya mau lepas di tambah lagi menggigil kedinginan akibat tercebur kolam. 

__ADS_1


"Dad Freya ingin pulang."


*


Malam harinya Sky datang kembali ke mension mewah Heidher. Sky datang dengan wajah merah padam dan emosi yang memuncak pada Heidher. Sky berjalan lebar masuk ke dalam ruang kerja Heidher, lalu menendang pintu ruang kerja Heidher dengan sepatu fantofel miliknya.


Brakk... 


Heidher menghembuskan nafasnya perlahan mendengar suara pintu yang di dobrak. Heidher tau siapa yang melakukannya.


Click..


"Katakan padaku, apa yang kau rencanakan padaku Heidher."


Sky menodongkan senjata apinya pada ayahnya sendiri. Imelda yang melihat itu shock dan menggelengkan kepalanya. Dia datang saat mendengar suara keras dari ruang kerja suaminya.


Sedangkan Heidher mengeraskan rahangnya melihat Sky berani mengancamnya dan menodongkan senjata api padanya.


"Aku sudah menentukan tanggal pertunangan mu dan Venus. Jangan permalukan aku."


Sky mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Heidher. Dia sudah emosi saat salah satu anak buahnya menyampaikan hal ini padanya. Jika Heidher merencanakan pertunangannya dengan Venus tanpa persetujuan darinya. 


"Aku sudah menikah Heidher kau tau itu."


Cih.. 


"Wanita itu kau sebut istri Luis, dia hanya wanita jal_"


Dor.. 


"Luis.."


Teriak Heidher pada putranya. Sementara istrinya menjerit tertahan mendengar suara tembakan yang di layangkan Sky pada suaminya.


"Satu kali lagi kau menghinanya, peluru ku yang akan membungkam mulutmu Heidher." Tukas Sky berbalik pergi. Tapi lagi lagi ucapan Heidher membuat Sky bertambah emosi.


"Satu bulan lagi kau akan bertunang dengan Venus. Ceraikan wanita itu, Venus jauh lebih baik dari wanita itu Luis."


Sky hanya mengepalkan tangannya dengan gigi gemerutuk menahan emosi. Tak lama Sky melangkah lebar pergi meninggalkan mension Heidher. Yang di ikuti Calvin dari belakang. 


Melihat putranya pergi meninggalkan mension Heidher mengepalkan tangannya. Dia tak akan pernah membiarkan wanita itu menjadi benalu untuk putranya. Heidher berdecih mengingat tampang wanita itu memang seperti wanita murahan yang berada di dalam club. Mana mungkin Heidher sudi memiliki menantu sepertinya. 


.

__ADS_1


__ADS_2