Dendam Cinta Sang Pewaris

Dendam Cinta Sang Pewaris
Bab.50# Ancaman Calvin


__ADS_3

Di dalam mobil Calvin sama sekali tak menoleh ke belakang. Dia dengan hati hati membawa mobilnya, jangan sampai kesalahan kecil saja dia yang terkena imbasnya. Calvin tak berani menoleh ke belakang. Hingga sampai di mension, Sky turun dari mobil tanpa menunggu bodyguard membukakan pintu untuknya. 


Sky berjalan lebar masuk ke dalam mension mewahnya. Dia mengepalkan tangannya melihat pelayan membawa nampan ke kamar bawah. Itu artinya Freya ada di kamar bawah saat ini bukan di kamar atas di kamarnya. 


Sky berjalan menaiki anak tangga dengan emosi semakin memuncak saat melihat Freya ada di kamar bawah.


Sampai di kamarnya Sky membanting meja yang ada di kamarnya. 


Prang... 


Pyarr.. 


"Brengsek..."


Brakk.. 


Sky mendudukkan tubuhnya di ranjang miliknya. Freya membuatnya semakin emosi dengan tidur di kamar bawah. Freya benar-benar tak pernah menganggap dirinya sama sekali. Apa yang di pikirkan selama ini. 


"Cih brengsek..."


Umpat Sky dia seharusnya tak berharap pada Freya jika Freya akan menerimanya sebagai suami. Bukan hanya Elvira yang tak pernah menganggapnya tapi Freya juga juga tak menganggap dirinya. 


"Apa kau juga ingin lepas dari ku Freya, wanita sialan."


Sky berdiri dari duduknya dan berjalan menuju lemari besar dimana tersimpan semua jenis alkohol termahal di dunia. Sky mengambil salah satunya, membawanya keluar jendela. Sky duduk di kursi panjang, meratapi nasibnya yang selalu menyedihkan. Elvira tak memilihnya, lalu Freya juga sama tak pernah menganggap dirinya ada. 


Gluk gluk.. 


Prang... 


"Brengsek... "


Satu lagi umpatan keluar dari bibir Sky mengingat Freya yang di cium oleh karyawannya sendiri dan Freya hanya diam saja. Dia sama sekali tak menolaknya sedikitpun. 


Tak lama Sky mengangkat sudut bibirnya ke atas, dia mengambil ponsel miliknya di saku celananya. 


"Singkirkan pria itu."


Tut.. Tut.. 


Sky tersenyum miring membayangkan Freya tak bisa bertemu lagi dengan pria itu. Sky tak akan pernah membiarkan Freya dekat dengan siapapun. Freya miliknya, Sky tak akan pernah membiarkan siapapun merebut Freya darinya.


"Kau hanya milikku Freya."


*

__ADS_1


Venus bergulang guling di ranjang miliknya. Dia sangat bahagia karna sebentar lagi dia akan bertunangan dengan Sky. Pria yang sangat di cintanya, pria yang banyak di inginkan oleh semua wanita. Dan dia yang akan beruntung menjadi nyonya Luis Romanov. Impiannya menjadikan Luis suaminya akan terwujud sebentar lagi.


"Kau akan menjadi milik ku Luis."


Venus berdiri berjalan menghadap cermin. Tersenyum lebar mengingat dia akan segera bertunang dengan Luis. Satu bulan lagi, seharusnya waktu itu di percepat. Ah dia sudah tak sabar ingin mempersiapkan diri bertemu dengan Luis dan bertunangan dengannya.


"Mulai malam ini aku harus tidur lebih banyak lagi. Aku tak ingin Luis melihat kantung mataku yang menghitam."


Venus berjalan lagi menuju ranjang, membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Menjemput mimpi indahnya jika dia akan bertunangan dengan Luis. 


*


Lewat tengah malam tubuh Freya semakin menggigil kedinginan. Bibirnya bergetar dan Freya terus mengigau memanggil nama ayahnya. 


"Daddy... "


Sedangkan Sky yang ada di kamarnya. Sudah menghabiskan beberapa wine di dalam lemarinya. Sky sama sekali tak memejamkan matanya. Emosi pada Freya dan Heidher membuat Sky mabuk di dalam kamarnya sendiri. 


Tak lama Sky terkekeh mengingat Elvira, selama bersama Freya dia sama sekali tak pernah mengingat Elvira. Wanita itu pasti sudah sangat bahagia sekarang. Sedangkan dirinya, selalu di permainkan oleh wanita. Apa sebenarnya kurangnya dirinya hingga Freya tak menganggap dia suaminya. 


"Bukankah aku sangat menyedihkan."


Sky masuk ke dalam kamarnya saat angin malam semakin dingin. Dia masuk ke dalam kamar mandi mengguyur tubuh lelahnya. Lima belas menit Sky keluar dari kamar mandi. Sky menghembus nafasnya perlahan. Berjalan menuju meja di pinggir ranjang dan mengobati lukanya sendiri. Selesai mengobati tangannya Sky membaringkan tubuhnya di ranjang. 


"Ada apa.?" Tanyanya pada pelayan. 


"Nona Freya sama sekali tak membuka pintunya tuan." Jawabnya menundukan wajahnya takut.


Sky menatap datar pelayan, dia mengepalkan tangannya mendengar penuturan pelayannya jika Freya melawannya.


"Biarkan saja jangan beri dia makan."


Brak.. 


Sky menutup kencang pintunya. Dadanya kembali lagi bergemuruh menahan emosi pada Freya. 


"Aku tak akan pernah melepasmu Freya."


Setengah jam kemudian Sky keluar dari kamarnya. Berjalan lebar menuruni anak tangga. Sky berjalan membelokan kakinya masuk ke dalam dapur. Mengagetkan pelayan yang berada di dapur. 


"Tuan.."


"Jangan membuka pintu kamar Freya, apalagi memberinya makan."


Carol tersenyum mendengar jika Freya sedang di hukum oleh Sky. Tak lama dia melihat Sky meninggalkan dapur kembali. 

__ADS_1


"Kali ini aku yang akan mendapatkan tuan Sky."


*


Sky sama sekali tak bisa bekerja di perusahaannya. Dia duduk gelisah di kursi kebesarannya. Tak lama Calvin datang bersama dengan satu pria bersamanya. 


"Tuan dia pria yang akan menjadi sekertaris anda. Namanya_"


"Keluar, urus mereka jangan menggangguku."


Calvin menganggukkan kepalanya mendengar penuturan tuannya. Sedangkan pria yang bersama Calvin hanya menundukkan wajahnya takut mendengar jawaban dari Sky. Selama ini dia hanya mendengar nama Ausky Luis. Pebisnis yang di kenal kejam dan juga berkuasa. Tapi baru kali ini dia mendengar dia berbicara dengan nada dingin dan arogannya dan itu membuat dirinya takut.


Betrik yang tak tau jika dirinya akan di gantikan oleh pria yang berdiri di depannya, menatap Calvin dengan mata yang menatap sinis seperti biasanya. Tak lama dua wanita datang menghampiri Betrik. 


"Nona kami akan membantu anda."


Betrik mengerutkan keningnya mendengar penuturan mereka berdua, tak lama kemudian Betrik berteriak pada keduanya saat sadar jika mereka mengambil barangnya dan memasukkan ke dalam kardus. 


"Brengsek apa yang kalian lakukan."


"Nona Betrik anda akan di pindahkan ke bagian pemasaran, silahkan bereskan meja anda."


"Hey.. Apa maksudmu sialan, jangan macam macam denganku brengsek." Teriak Betrik pada Calvin. 


Brakk.. 


Calvin emosi mendengar wanita ini mengumpat dirinya terus. Dia menatap tajam pada Betrik dan menodongkan senjata apinya pada Betrik. 


"Keluar dari sini atau peluru ku akan menembus jantungmu nona."


Bukan hanya Betrik yang ketakutan, kedua karyawan lainnya yang akan membantu Betrik juga sama. Begitupun dengan pria di samping Calvin. Mereka tak menyangka jika Calvin akan mengeluarkan senjata api untuk mengancam Betrik. 


Tapi Betrik masih tak ingin keluar dari posisinya. Dia ingin mempertahankan kedudukannya sebagai sekretaris. Apalagi Betrik ingin bersama dengan Luis sepanjang hari. 


"Aku tak akan pergi dari sini. Kau bukan atasanku, jadi jangan coba coba menggantikanku."


Dor.. 


Mereka bergetar ketakutan mendengar Calvin benar benar melepaskan peluru panasnya. Apalagi Betrik, wajahnya pucat pasi saat peluru itu mengarah padanya. 


"Keluar dari sini atau aku akan menghabisimu nona."


.


.

__ADS_1


__ADS_2