
Sampai di mension mewahnya Sky memarkirkan mobilnya asal. Dia berlari masuk ke dalam mension dan mencari Freya.
“Freya..”
“Sayang... “ Teriak Sky untuk yang kesekian kalinya mencari keberadaan Freya.
Tak ada sahutan dari Freya dan putrinya. Jantung Sky berdetak lebih kencang dan rasa takut luar biasa seketika menguasainya. Sampai di kamar miliknya Sky menendang pintu kamarnya.
Brakk..
“Sayang..” Seru Sky saat melihat Freya berdiri di samping ranjang. Sky melangkah lebar mendekati Freya.
“Mandilah, tubuhmu bau amis.” Jawab Freya menghindari Sky.
Deg..
Dada Sky sakit mendengar nada dingin yang keluar dari bibir Freya. Sementara Freya, berjalan menuju meja rias nya. Dia tak perduli dengan tatapan mata Sky padanya.
“Sayang aku_” Sky kembali menutup bibirnya melihat Freya berbalik padanya dan menatap dirinya dingin. Entah kenapa Sky tak bisa berkata apa apa di depan Freya. Sky tau Freya marah dan kecewa padanya. Dia juga tak bisa membela dirinya sendiri. Karna Sky sadar dirinya yang memang brengsek.
Sky berbalik ke arah kamar mandi, berdiri termenung di bawah shower yang mengalir. Sky harus siap jika Freya membencinya.
Sementara Freya mengusap pipinya yang basah. Dia sebenarnya tak tega mengacuhkan suaminya. Tapi kecewa dan tak percaya seketika mmenguasainya dan membuatnya minder. Entah kenapa dia harus menjadi bagian dari Sky. Pria dengan masa lalu yang penuh dengan musuh dan wanita.
Mereka semua seperti hantu untuknya dan mengusik hidupnya. Semenjak bertemu dengan Sky lima tahun yang lalu, hidupnya terancam dan tak tenang. Tak hanya terancam, tapi banyak wanita masa lalu Sky datang silih berganti. Apalagi saat ini wanita berambut pendek yang ada di ruangan Sky kemarin juga mengakui memiliki seorang anak. .
Freya tak tau siapa dia. Dia hanya salah satu dari ribuan wanita yang pernah menjadi teman ranjang suaminya. Freya lagi lagi mengusap pipinya yang basah. Dia duduk di tepi ranjang kamar Sky.
Tak sampai lima belas menit kemudian, Sky keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono di tubuhnya.
Sky tersenyum melihat Freya duduk menunggu dirinya. Sky berjalan mendekati Freya dan mengecup keningnya.
Cup..
“Pakai bajumu Sky.” Seru Freya menatap Sky yang masih berdiri di depannya.
Sky tau Freya menghindarinya. Dia menuruti kata Freya memakai setelan miliknya yang Freya siapkan.
“Sayang apa Ara tidur.?” Tanya Sky memakai kaos miliknya.
“Iya..”
__ADS_1
Sky melirik ke arah Freya dan tersenyum lebar. Freya masih berbicara dingin padanya. Terlihat dari jawabannya padanya.
“Mari bercerai Sky.”
Sky menghentikan kakinya saat mendengar kata yang keluar dari bibir Freya. Rahangnya mengeras dan giginya gemerutuk menahan emosi. Nafasnya memburu dan tangannya terkepal erat.
Sky berbalik dan menatap Freya tajam. “Katakan sekali lagi Freya.” Desis Sky dengan kilat kemarahan terlihat jelas di matanya.
“Mari bercerai, kau dan aku tak ada kecocokan Sky. Aku bukan wanita yang siap dengan segala kemungkinannya lagi. Ara akan baik baik saja.” Seru Freya setelah sekian lama bungkum.
Mungkin ini lebih baik untuk dirinya dan juga Sky. Selain hidupnya jauh dari wanita masa lalu Sky dan musuh Sky. Dia tak ingin melihat Ara tersingkirkan saat kedatangan putra pertama Sky nanti.
Sementara Sky semakin emosi mendengarnya. Tak hanya rahang yang mengeras dsn giginya yang gemerutuk. Tapi Sky ingin menghancurkan isi kamarnya mendengar Freya dengan lantangnya mengatakan itu padanya tanpa ragu sedikitpun.
“Sampai mati aku tak akan menceraikan mu Freya. Mimpimu terlalu tinggi.” Tekan Sky melangkah lebar keluar dari kamarnya dan menutupnya kencang.
Brakk..
Freya memejamkan matanya mendengar pintu yang tertutup. Dia mengusap pipinya lagi yang basah. Dadanya sangat sakit mengingat Sky tak ingin menceritakannya.
Freya menjatuhkan dirinya di lantai dingin dan menangis. Menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya sendiri.
Brakk..
Pyarr..
Sky menghancurkan ruang kerja miliknya. Mengingat Freya ingin bercerai darinya. Ternyata Freya tak mencintai dirinya. Sky tau dirinya bukan pria yang sempurna, tapi dia ingin Freya dan putrinya ada bersamanya.
Calvin yang mendengar dari luar hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Elard sudah pergi dari tuannya dan saat ini Calvin yakin Freya juga marah dengan tuannya.
*
“Marcel.. “
Marcel menoleh mendengar namanya di panggil. Bibirnya tersenyum tipis melihat Kate berjalan mendekatinya. Marcel berbalik lagi dan meninggalkan Kate.
“Marcel tunggu.”
Kate menghadang Marcel dengan merentangkan tangannya di depan Marcel.
“Kau menghalangi jalanku nona.” Desis Marcel menatap dingin Kate yang berdiri di depannya. Sementara Kate menggigit bibir bawahnya mendengar nada dingin Marcel di telinganya.
__ADS_1
“Apa kau ingin melamar ku,” Marcel mengangkat sebelah alisnya mendengar penuturan Kate. “Kau dulu berjanji akan melamar ku dan menikahiku Marcel.” Imbuh Kate lagi.
“Maaf nona aku tak berniat sedikitpun menjadikan mu tunangan ku. Apalagi harus menjadi istriku.” Jawab Marcel berlalu pergi meninggalkan Kate.
Dan Kate mendengar ucapan Marcel mendengus dan menghentakkan kakinya. Dia baru saja memutuskan hubungannya dengan kekasihnya. Dan sepertinya Marcel adalah pria yang jauh lebih baik. Tapi sayangnya Marcel menolaknya.
“Sial..”
*
Sky masuk ke kamar miliknya dan menatap Freya yang meringkuk di ranjang miliknu6. Sky menghembuskan nafasnya perlahan berjalan mendekati Freya di ranjang miliknya.
Sky tak percaya jika Freya akan meminta cerai darinya. Sky menarik selimut dan menutupi tubuh Freya yang meringkuk di ranjang miliknya.
Cup..
Sky mengecup pipi Freya sekilas. Meski ada perasaan kecewa mendengar penuturan Freya. Tapi Sky tak bisa marah pada Freya. Wanita yang sangat dia cintai seumur hidupnya dan tak akan melepaskannya meski Freya merengek padanya sekalipun.
Elard sudah pergi darinya dan dia tak akan pernah membiarkan Freya juga pergi darinya.
Sky menarik nafasnya dalam, mengingat Elard yang sudah pergi. Sungguh Sky tak pernah bermimpi Elard akan meninggalkan dirinya dengan cara yang seperti ini. Membencinya, dan memusuhinya. Elard bahkan tak tau apa alasannya membunuh ayahnya, dan Elard sudah pergi lebih dulu darinya.
Mungkin Elard jaga seperti Freya, kecewa dan sakit hati. Mereka berdua memang wajar membencinya.
Sky menutup pintu kamarnya dan melangkah ke kamar putrinya. Sky tersenyum melihat Ara yang sudah bangun bersama dengan pengasuhnya.
“Daddy mana mommy.” Tanya Ara mengulurkan tangannya pada Sky.
“Mommy tidur sayang.. “ Ara menganggukan kepalanya mendengar jawaban ayahnya. “Mau susu dad..” rengek Ara di gendongan Sky.
Sky keluar dari kamar putrinya menuju ke lantai bawah. Sampai di sana Ara celingukan mencari keberadaan Elard.
“Mana uncle..” Sky menatap bibir mungil Ara yang mencari Elard. Sky menghembuskan nafasnya perlahan dan mengecup pipi gembul putrinya.
__ADS_1