
“Freya..” Gumam Sky mengepalkan tangannya saat mendengar suara tepuk tangan yang sangat nyaring di telinganya.
Marcel mengeraskan rahangnya mendengar suara tepuk tangan dari para tamu undangan. Dia berdecih dan tersenyum miring mengingat jika Venus adalah mantan kekasihnya. Apalagi dia pria pertama yang sudah mengoyak mahkota Venus.
Bagaimana reaksi Luis saat tau Venus adalah bekasnya. Marcel tersenyum miring mengingatnya. Kebenciannya selama ini semakin bertambah pada Luis. Selain dia adalah pewaris dari semua kekayaan Romanov karna dia juga Venus selalu menghinanya dan membandingkan nya.
Sementara Venus bibirnya tak lepas dari senyum lebar, bahkan sangat lebar di bibir wanita berusia hampir tiga puluh tahun itu. Dia melirik ke arah Sky dan melihat wajah datar pria yang baru saja menjadi suaminya. Venus menghembuskan nafasnya kasar. Dia tak ingin ambil pusing dengan semua ini. Venus yakin jika dia bisa menaklukkan Luis dengan pesonanya.
Membayangkan bagaimana malam pertamanya dengan Luis, seketika tubuh Venus terasa panas. Dia berdiri gelisah di tempatnya. Apalagi saat ini miliknya tiba-tiba saja basah dan berkedut. Venus melirik Luis di sampingnya yang masih menampilkan wajah datarnya.
“Ada apa.?”
Ha..
Sky tersenyum miring melihat Venus berjengit kaget mendengar suaranya. Sky tau apa yang ada dalam pikiran Venus kali ini. Wanita yang sangat gila menurut Sky.
“Kau akan mendapatkannya nanti.” Venus menoleh mendengar penuturan Luis di telinganya. Apa maksud Luis jika dia akan mendapatkannya nanti. Apa mereka akan langsung bercinta nanti malam. Bibir Venus tersenyum semakin lebar.
“Apa sudah selesai.” Tanya Sky datar dan dingin pada pria tua di depannya.
“Sudah tuan,” jawab pendeta.
Sky tersenyum, dia membenarkan kancing jas miliknya dan berbalik melangkah.
“Luis, kau mau kemana.?” Luis menoleh mendengar pertanyaan Venus padanya. Dia mengangkat sebelah alisnya menatap Venus.
“Setelah ini kita akan berdansa.” Cicit Venus menatap Luis penuh harap.
“Marcel bisa menggantikan ku.” Tunjuk Sky pada pria yang berdiri tak jauh darinya. Marcel bisa mendengar penuturan Luis padanya. Dia mengepalkan tangannya dan mengumpat Luis. Emosi pada Luis yang tiba tiba saja mengatakan itu.
Sky melanjutkan langkahnya kembali dan baru dua langkah kali ini Heidher yang mencegahnya.
“Jangan permalukan daddy Luis.”
Sky tersenyum dan mengeraskan rahangnya. Dia menatap ke arah tamu undangan, lalu kemudian menoleh ke arah ayahnya.
“Katakan pada mereka jika aku bukan pengangguran.” Jawab Sky melangkahkan kakinya, melewati para tamu undangan yang hadir malam ini. Sky tak perduli dengan tatapan mereka semua yang menatapnya aneh. Dia sudah menuruti semua keinginan ayahnya.
Heidher mengeraskan rahangnya mendengar jawaban putranya. Apa Luis tak bisa sehari saja tak datang ke perusahaan miliknya. Apalagi ini adalah hari pernikahannya. Heidher menghembuskan nafasnya perlahan. Setidaknya Luis sudah menikah dengan Venus hari ini.
Para tamu undangan menatap Heidher saat melihat sang mempelai pria pergi dari mension mewahnya. Mereka saling berbisik dan menatap penuh tanda tanya oada Heidher.
“Maaf putraku ada rapat mendadak, ayo silahkan cicipi hidangannya.”
__ADS_1
*
Brakk..
Luis mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Freya. Tapi tak ada satu orang pun yang terlihat baik Kikan dan Freya tak ada di dalam. Ya Sky mencari Freya di apartemen mewah Kikan. Apartemen yang di beli Kikan dari uangnya saat dia membeli Freya.
“Tuan..”
Sky menoleh mendengar bawahannya memanggilnya. Sky menatap pria paruh baya yang berdiri di samping bawahannya.
“Dimana dia.?”
“Nyonya Kikan hanya tinggal beberapa hari di sini tuan. Dia bilang membeli apartemen ini untuk cucunya nanti, itu saja yang nyonya Kikan katakan.” Jawab pria paruh baya di depan Sky dengan tubuh gemetar ketakutan.
Click..
“Aku tanya dimana dia.?” Sky menodongkan senjata api miliknya padanya. Dia mengeratkan giginya emosi saat apa yang dia inginkan tak ada di tempatnya.
“Tu_an.” Pria paruh baya itu gemetar ketakutan melihat senjata api mengarah padanya.
Dor..
“Katakan padaku dimana dia.” Desis Sky menekan ujung senjata nya oada kepala pria di depannya.
“Iya tuan, beberapa hari yang lalu, dua orang polisi menemukan mobil nyonya penghuni apartemen ini kecelakaan tunggal dan dia meninggal di tempat.”
Sky berbalik dan pergi meninggalkan pria paruh baya di depannya. Bawahan dan bodyguard serta Calvin mengikuti langkah tuannya masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Sky mengusap wajahnya kasar. Dia harus mencari kemana istrinya. Di tempat tinggal Kikan yang dulu juga sama tak ada Freya di sana. Para warga juga tak tau dimana Kikan.
“Tuan...” Sky mengunci bibirnya. Sementara Calvin menghembuskan nafasnya perlahan. Dia kembali menelpon bawahannya dan menanyakan kabar Freya tapi semua bawahannya yang dia sebar tak menemukan keberadaan Freya.
Dor..
Brukk..
Calvin berjengit dan shock melihat salah satu anak buahnya tergeletak tak bernyawa. Calvin menoleh pada Sky dengan wajah yang memerah menahan amarahnya. Tak lama kemudian Calvin melihat tuannya melayangkan tinjunya pada bodyguard dan bawahannya.
Bug.. Brakk
“Tuan..”
Bug..
__ADS_1
Brukk..
Calvin tersungkur mendapatkan sebuah tendangan dari Sky. Calvin menoleh dan menatap tak percaya pada tuannya yang membabi buta menghajar semua bawahannya membabi buta.
Wajah Sky merah padam dan terlihat seperti iblis menatap para bawahannya. Sementara bawahannya gemetar ketakutan melihat tuannya marah pada mereka.
“Tu_an.”
Dor..
Dor..
*
Venus tersenyum saat dirinya sampai di mension mewah Luis. Pria yang sudah menjadi suaminya saat ini. Bibirnya tak melepaskan senyum merah menawannya. Di mension Heidrer pesta masih berlangsung saat ini. Tapi Venus memaksa untuk pergi terlebih dahulu ke mension Luis. Dengan alasan dia ingin istirahat. Padahal alasan sebenarnya adalah ingin menemui Luis dan ingin bercinta dengan Luis.
Dia berjalan masuk ke dalam mension mewah Luis. Dan untuk pertama kalinya mereka tak mencegah Venus masuk ke dalam.
Venus tersenyum lebar, matanya mengedarkan pandangannya di seluruh mansion mewah Luis. Venus berdecak jika mension mewah ini adalah miliknya saat ini.
“Pelayan.” Teriak Venus mencari pelayan. Tapi tak ada yang mendekati Venus sama sekali. Venus mengerutkan keningnya. Dia berteriak lagi dan sama tak ada yang datang menghampirinya. Venus keluar lagi dan berteriak pada penjaga.
“Bantu aku brengsek, bawa semua koper ini di kamar suamiku.” Mereka menganggukan kepalanya mendengar perintah istri tuannya. Mereka tak ingin memiliki kesalahan sedikitpun. Mereka tidak ingin tuannya marah jika tak melayani istri dengan baik.
Venus tersenyum lebar, dia mengikuti langkah bawahan Luis menaiki anak tangga. Bibirnya tersenyum lebar saat mendapati pintu lebar di depannya.
“Biarkan aku yang membukanya,” Venus berjalan mendekati pintu kamar Luis. Di mengerutkan keningnya saat mendapati sandi dan sidik jari. Venus mengeratkan giginya emosi. Bagaimana caranya dia masuk kekamar Luis sekarang.
“Sampai kapanpun kau tak akan bisa membukanya nona.”
Venus berjengit dan menoleh ke belakang. Bibirnya tersenyum melihat pria yang menjadi suaminya berjalan mendekatinya.
“Luis, aku tak tau sandinya, aku ingin membersihkan diri. Tubuhku sangat lengket.” Pinta Venus berjalan mendekati Luis dengan senyum lebarnya.
Sett..
“Luis..” Venus kaget saat dagunya di cengkram erat oleh Luis. Dia menatap Luis tak percaya.
“Jangan bermimpi nona.” Venus masih diam, dia tak mengerti apa maksud Luis bicara seperti itu.
“Pengawal seret dia..”
“Luis..”
__ADS_1