Dendam Cinta Sang Pewaris

Dendam Cinta Sang Pewaris
Promosi novel baru


__ADS_3

(nunggu up ya bunda hehehe)


“Emily.. “


Brakkkk...


“Emily... “


Tubuh ramping Emily terpental jauh saat sebuah mobil menghantam dirinya. Callista yang shock menginjak pedal remnya sekaligus. Dia memejamkan matanya saat menyadari jika dia telah melakukan kesalahan.


“Tuhan apa yang kulakukan.” Gumam CallistaCallista, tubuhnya berkeringat dingin menyadari kebodohannya.


Xavier berlari mendekati Emily yang tergeletak di tengah aspal. Sementara semua orang yang melihat tubuh Emily tertabrak berteriak keras.


“Sayang, Emily ayo bangun.”


Teriak Xavier menepuk pipi Emily yang bersimbah darah. Bukan hanya kepalanya yang berlumuran darah, gaun putih miliknya sudah berganti warna, gaun putih gading berubah warna menjadi merah. Emily membuka matanya dan tersenyum menatap kekasihnya. Dia mengangkat tangannya dan meminta maaf pada Xavier.


“A_ku _mim_ta ma_af... “ Ucap Emily mengusap wajah Xavier dan tersenyum pada Xavier.


“Sayang...” Rintih Xavier mencium tangan Emily yang berlumur darah.


Sett..


Emily meringis merasakan sakit yang luar biasa di perutnya. Dia mencengkram erat perutnya dan merintih. Tak lama kemudian Emily memejamkan matanya untuk yang terakhir kalinya.


Xavier menggelengkan kepalanya melihat Emily menutup ke dua matanya. Dia menepuk-nepuk pipi Emily yang penuh darah segar. Xavier berteriak keras membangunkan Emily dan menggoyang Emily.

__ADS_1


Kedua orang tua Emily juga tak kalah shock melihat putrinya bersimbah darah di pangkuan Xavier. Mereka berdua juga tak kalah berteriak memanggil putrinya. Putri satu satunya yang dia punya.


Sementara di mobil, semua orang mengamuk pada pengendara mobil yang menabrak Emily. Termasuk keluarga Emily dan keluarga Xavier. Bukan hanya mereka yang mengamuk pada seseorang yang berada di dalam mobil berwarna merah menyala dengan keluaran terbaru yang sudah menabrak Emily. Tapi sebagian tamu undangan juga tak kalah ikut emosi pada seseorang yang berada di balik kemudi.


Mereka memukul mobil Callista agar dia keluar dari mobilnya dan bertanggung jawab. Bukan hanya memukul, tapi mereka juga menghancurkan mobil Callista dengan menghancurkan mobil Callista.


Callista yang shock bergetar ketakutan. Dia sama sekali tak menyangka jika dia akan berakhir di tengah masa seperti ini. Callista yang menutup matanya sebelumnya membuka matanya dan menatap ke depan. Tanpa sadar air matanya meleleh begitu saja saat menyadari jika dia baru saja menabrak wanita berpakaian pengantin.


Prang...


Prang...


Callista semakin shock dan semakin bergetar ketakutan. Menggelengkan kepalanya dan tak lama Callista memekik kaget saat kaca mobil miliknya pecah di amuk oleh masa.


Pranggg...


“Brengsek...” Umpat mereka mengamuk pada Callista.


“Keluar.. “ Teriaknya lagi,


Callista menggelengkan kepalanya mendengar mereka berteriak padanya. Tak lama kemudian Callista memekik kaget saat seseorang menarik tubuhnya keluar paksa  dari mobilnya. Callista meringis merasakan sakit lengan atasnya yang tergores kaca dan berdarah.


Semua orang yang melihat penampilan Callista berdecih. Bagaimana tidak, Callista memakai pakaian yang sangat terbuka yang menampilkan lekuk tubuhnya yang sangat menonjol. Di tambah lagi bajunya yang robek di bagian lengan kiri. Tak lama kemudian mereka semakin berdecih melihat tubuh Callista yang banyak di tempeli tanda merah. Dan bukan hanya satu tapi banyak tanda merah tersebar di tubuhnya.


“Tuan saya minta maaf.” Hiba Callista menundukkan wajahnya. Sungguh dia sama sekali tak sengaja menabraknya. Callista sama sekali tak bermimpi akan mengalami kejadian seperti ini.


Sementara Xavier yang melihat wanita yang keluar dari dalam mobilnya mengeraskan rahangnya. Xavier meletakkan kepala Emily dan berjalan menghampiri Callista.

__ADS_1


Di belakangnya orang tua Emily menangis meraung melihat putrinya yang tak bernafas dn berlumuran darah.


Plakk...


Brukk..


Xavier melayangkan tangan besarnya oada Callista. Callista tersungkur di aspal jalan saat sebuah tangan besar mendarat di pipinya. Pipi Callista terasa sangat panas dan telinganya sampai berdengung. Tak lama Callista meringis merasakan sakit di dagunya. Callista melihat mata berwarna abu kehitaman menatapnya tajam seperti iblis yang siap membunuh mangsanya.


Xavier menatap tubuh Callista yang banyak terdapat jejak tanda merah di tubuhnya. Xavier semakin mengeraskan rahangnya.


“Kau harus menggantinya dengan nyawamu.” Desis Xavier menatap Callista seperti malaikat pencabut nyawa.


“Maaf..” Hanya kata itu yang keluar dari bibir Callista.


Xavier semakin mengencangkan cengkraman tangannya dari dagu Callista saat mencium bau alkohol dari mulut Callista. Xavier mengangkat dagu Callista hingga sang empu ikut mengangkat tubuhnya berdiri.


Plakk...


Callista tersungkur kembali saat seseorang kembali lagi memukul wajahnya. Callista memejamkan matanya merasakan sakit dari sebelumnya saat di tampar oleh pria yang mencengkram dagunya.


“Brengsek, kau wanita sialan. Aku akan membunuhmu wanita ******.” Teriak Lionel.


Bruk..


Uhh...


Callista kali ini merintih merasakan sakit yang semakin luar biasa. Callista mengepalkan tangannya. Wajahnya kembali lagi di hantam oleh sepatu fantofel milik pria paruh baya di depannya.

__ADS_1


“Wanita brengsek, aku akan membunuhmu sialan. Kau sudah membunuh putriku.” Amuk Lionel menarik rambut panjang Callista. Bukan hanya menendang wajahnya, Lionel juga menarik rambut Callista. Callista hanya pasrah, matanya sudah berkunang kunang dan sakit kepalanya hampir saja menghilangkan kewarasannya.


Xavier menatap Callista yang tersungkur di aspal dan ditarik rambutnya oleh Lionel. Tak lama Xavier menarik tangan Callista dan menyeretnya. Callista yang di seret tubuhnya mendongak ke atas. Callista tersenyum tipis saat mereka semua memperlakukan dirinya seperti sampah. Menyeretnya seperti binatang setelah menyiksanya. Bukankah ada hukum, setidaknya jika dia bersalah biarkan hukum yang menjeratnya. Bukan menyiksanya seperti ini, kemudian menyeretnya tanpa belas kasih.


__ADS_2