
Sky melirik ke arah Freya, sejak semalam Freya sudah mengabaikannya. Freya sama sekali tak membiarkan dia berbicara sedikitpun padanya. Sepulang dari mension ayahnya, Freya mengunci dirinya dan tidur bersama Ara.
Dan pagi ini Freya masih tetap sama, mengabaikan dirinya dan belum bertanya sedikitpun padanya. Padahal Sky ingin Freya marah padanya dan memukulnya. Bukan mendiamkannya seperti ini dan ini sungguh sangat menyiksa dirinya.
Apalagi saat ini mereka sedang berada di sekolah Elard. Tapi Freya masih mengunci bibirnya.
“Sayang..” seru Sky dan tak mendapati respon dari Freya.
Sky mencoba memegang tangan Freya di sampingnya, tapi lagi lagi Freya menghindarinya. Sky mendesah kasar menoleh kearah Freya yang sama sekali tak menoleh ke arahnya. Sky tau kebodohannya, bagaimana dia menjelaskannya pada Freya. Freya sama sekali tak memberinya kesempatan sedikitpun.
Hingga beberapa menit kemudian, seorang hos mengumumkan nama siswa berprestasi dan dia adalah Elard, putranya.
Sky tersenyum mendengar nama Elard di sebut. Tak lama dia berdiri menghampiri Elard di atas panggung.
Sementara Freya tersenyum saat melihat Elard berdiri di atas panggung menerima penghargaan prestasinya. Dia duduk memangku Ara dan tersenyum ke arah Elard.
“Mom..” rengek Ara di pangkuan Freya.
“Sebentar lagi sayang, tunggu daddy dan uncle.” Ara menggelengkan kepalanya mendengar penuturan ibunya. Dia merengek dan meminta Freya agar membawanya pergi dari sana.
“Baiklah..” seru Freya akhirnya mengalah. Dia tahu, Ara sudah bosan duduk di sini.
Dia menoleh ke arah panggung dan menyipitkan matanya melihat wajah Elard.
“Ada apa dengannya.” Gumam Freya masih mengamati wajah Elard yang terlihat berbeda.
Entah kenapa sejak kemarin dia merasa aneh dengan Elard. Anak angkatnya sedikit pendiam dan tak terlihat seperti biasanya.
Freya menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya. Dia berdiri membawa Ara keluar dari aula dan menuju ke samping di tempat yang sedikit sepi dan sejuk. Freya tau Ara sudah bosan di dalam sana, itu sebabnya dia rewel ingin keluar dari aula.
Sementara di dalam mobil seorang pria tersenyum miring melihat wanita yang di cintainya akhirnya keluar dari aula. Dia sudah hapal dengan gadis kecil di gendongan Freya. Dia pasti akan mengajak ibunya keluar dari sana, karna Ara tak menyukai tempat yang seperti itu.
Dia menatap bodyguard Sky yang ada di pintu depan. Bibirnya semakin tersenyum miring. Dia yakin mereka tak menyadari freya keluar dari aula.
“Mundur.. “ titahnya pada pria di depannya.
__ADS_1
“Berhenti dan tunggu aku di sini.” Ucapnya turun dari mobil miliknya dan menghampiri wanita yang berdiri menggendong putrinya.
“Freya..”
Freya dan Ara menoleh bersamaan ke sumber suara. Freya shock melihat Vincent berjalan menghampirinya. Sementara Ara tersenyum lebar melihat Vincent berdiri tak jauh darinya.
Dia beringsut turun dari gendongan Freya dan berlari ke arah Vincent.
“Uncle..”
Vincent tersenyum dan langsung menggendong Ara bersamanya.
Sementara Freya kaget dan wajahnya pucat pasi melihat putrinya ada bersama Vincent. Freya tak tau dan tak sadar saat Ara berlari menghampiri Vincent. Freya masih ingat saat Vincent memberinya obat bius di apartemen Kikan.
“Ara sini sayang..” seru Freya menghampiri Vincent dan putrinya.
“Ikut bersamaku sayang.” Sahut Vincent menatap Freya penuh kerinduan. Wanita yang sangat ingin dia miliki seumur hidupnya.
“Apa maksudmu Vin, berikan Ara padaku. Jangan seperti ini.” Ucap Freya berkaca kaca melihat senyum di bibir Vincent. Freya takut Vincent melukai putrinya.
Cup..
“Hore panda, mommy ayo lihat panda.” Seru Ara dan tak lama Vincent berjalan menuju mobilnya.
“Vincent berikan Ara padaku.” Hiba Freya mengulurkan tangannya.
“Jangan berteriak Freya, ikut denganku atau aku akan membawa Ara bersamaku.” tukas Vincent menatap Freya tak berkedip.
Freya menggelengkan kepalanya mendengar ancaman Vincent padanya. Tatapan matanya tertuju pada Ara yang menatap Vincent.
“Mommy ayo kita lihat panda.” Riang Ara di gendongan Vincent.
Sementara Vincent tersenyum penuh kemenangan mengusap kepala Ara di gendongannya. Gadis kecil yang dulu sering bersamanya. Beruntungnya dia bisa memanfaatkan kepolosan Ara untuk mendapatkan Freya.
“Vin_”
__ADS_1
“Baiklah kita pergi dari sini.” Seru Vincent saat melihat Freya masih berdiri di tempatnya. sementara Vincent tak ingin Sky dan bodyguardnya tau Freya bersamanya.
Freya menggelengkan kepalanya masuk ke dalam mobil begitu saja mendengar ucapan Vincent pada pria yang duduk di kursi kemudi.
Vincent tersenyum penuh kemenangan melihat Freya masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian mobil melaju kencang meninggalkan gedung sekolah Elard.
Siapa yang tidak tau tentang Sky yang mengadopsi seorang remaja laki laki. Sebagian dari pebisnis sudah tau tentang Lionel Elard Romanov. Dan Vincent juga sudah tau hari ini adalah kelulusan sekolah Elard. Itu sebabnya dia datang mencari Freya.
*
Sky mengerutkan keningnya melihat kursi Freya kosong. Dia mengedarkan pandangannya ke sembarang arah mencari keberadaan Freya dan putrinya. Tapi sepertinya, Freya memang tak ada di antara mereka.
Sky turun dari panggung dan melangkah lebar keluar dari aula. Sementara Elard yang baru turun dari panggung menoleh ke arah Sky. Yang berjalan lebar keluar dari aula.
Elard menoleh ke kursi Freya, dahinya mengkerut saat dia juga menyadari Freya tak ada di kursinya.
“Apa mommy dan Ara pergi.” Gumam Elard keluar dari aula menyusul Sky yang keluar lebih dulu. Ada perasaan tak enak saat tak mendapati Ara dan Freya. Elard takut terjadi sesuatu dengan adiknya. Apalagi di sini jelas banyak orang asing. Bisa saja adiknya hilang dan di culik.
Bug..
Brakk..
“Temukan istriku atau aku akan membunuh kalian semua.” Desis Sky mencengkram erat kerah leher bodyguard nya.
Sky melepaskan bodyguard nya dan masuk ke dalam mobilnya. Sky merogoh ponsel di saku celananya. Rahangnya mengetat menyadari dimana freya dan putrinya berada saat ini.
Elard yang mendengar penuturan Sky juga tak kalah shock. Freya dan adiknya di culik. Elard mengepalkan tangannya mengingat Ara yang ketakutan bersama orang yang tak di kenalnya.
Sementara di dalam mobil, Sky terus menginjak pedal gasnya.
“Vincent, .....rupanya cacat tak membuatmu jera.” Gumam Sky mengepalkan tangannya. Nafasnya memburu mengingat Vincent membawa freya dan putrinya bersamanya. Apalagi saat Freya bersamanya dan dia sama sekali tak menyadari Vincent membawa Freya.
“Kali ini aku akan menghabisi mu brengsek.” Nafas Sky memburu menahan emosinya yang memuncak. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju dimana Freya dan putrinya berada. Sky tak akan membiarkan Freya dan Ara terlalu lama dengan pria brengsek itu. Sky tau apa tujuan Vincent membawa mereka. Apalagi jika bukan untuk merebut Freya darinya.
Sampai matipun Sky tak akan pernah membiarkan orang lain merebut Freya darinya.
__ADS_1