
Cup..
Bibir Sky mendarat lagi di kening Freya. Dia bisa merasakan nafas Freya yang memburu dan tersendat-sendat. Begitupun dengan dirinya, yang masih menetralkan nafasnya saat merasakan gelombang dahsyat yang baru saja meledak di dalam dirinya.
Miliknya yang masih berkedut di dalam sana terasa hangat dan basah. Sky menunduk melihat noda darah pada miliknya yang hampir mengering. Menarik perlahan miliknya pada milik Freya.
Setth...
Rintih Freya merasakan panas, perih dan sakit menjadi satu. Kakinya masih di posisi sama saat Sky melepaskan penyatuanya. Freya tak berani bergerak sedikitpun. Takut jika miliknya akan semakin robek jika dia bergerak.
Sky tersenyum saat ia melepaskan penyatuanya. Freya masih di posisi yang sama, membuka kedua pahanya. Andai dia bukan Freya Sky jelas akan menghujamnya kembali. Tapi melihat wajah kesakitan Freya, Sky tak tega. Itu sebabnya dia tak akan melakukannya lagi sebelum Freya sembuh terlebih dahulu.
Sky menggendong Freya masuk ke dalam kamar mandi. Sky menurunkan Freya di bawah shower, dan Freya hampir saja terjengkang kebelakang. Lututnya lemas bukan main. Tak hanya lututnya yang lemas, seluruh tubuhnya sakit seperti mau copot persendiannya.
Dengan sigap tangan besar Sky menahan pinggang ramping Freya saat Freya hampir terjatuh saat ia menurunkannya.
"Maaf... "
Masih tak ada sautan dari bibir Freya. Freya hanya diam saja mendengarnya. Sky menatap wajah lelah Freya, dia tau Freya sangat kesakitan tapi Sky tak pernah tidur dengan tubuh kotor. Itu sebabnya Sky juga membawa Freya langsung ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya sebelum tidur.
Tangan Sky memutar tombol air hangat, seketika air jatuh mengguyur tubuh lengket mereka berdua.
"Apa kau lelah.."
__ADS_1
Freya hanya diam, dia sama sekali tak ingin membuka mulutnya saat Sky membawanya ke dalam kamar mandi. Lututnya lemas dan pusat inti tubuhnya sangat perih luar biasa. Apalagi saat terkena air sabun. Freya memekik kaget, kedua pahanya terkatup rapat menghindari air sabun menerpa miliknya yang perih. Rasa mengganjal di area pahanya sama sekali tak nyaman. Di tambah lagi dengan, air sabun yang Sky tumpahkan di tubuhnya.
"Ada apa..?"
Sky kaget mendengar pekikan Freya dan tak lama Freya menangis lagi. Saat itu juga Sky menunduk dan berjongkok membuka paha Freya, mengintip bukit tersembunyi Freya. Sky berpikir jika milik Freya berdarah dan mungkin saja robek lagi. Tapi ternyata, semua itu tak benar saat sadar jika Freya memekik karna miliknya yang terkena sabun.
"Maaf aku lupa."
Freya menatap Sky yang masih berjongkok. Entah apa yang Freya pikirkan saat ini. Freya berjalan tertatih mengambil handuk yang tersimpan rapi di atas. Beruntungnya tak terlalu tinggi, hingga Freya bisa menjangkaunya.
Sky menoleh dan segera membersihkan dirinya saat melihat Freya berjalan keluar dari kamar mandi. Tak sampai tiga menit Sky keluar dari kamar mandi dan sudah mendapati Freya memakai kemeja miliknya yang sebelumnya Sky pakaikan di tubuh Freya saat datang kemari.
"Jangan pakai yang itu, itu sudah kotor.?"
"Tidak terima kasih."
Freya berjalan ke arah pintu, matanya terpejam merasakan sakit dan perih di pangkal pahanya. Bukan hanya perih, miliknya seperti ada yang mengganjal dan nyaman. Melihat Freya yang berjalan mendekati pintu, Sky berjalan dan menarik bahunya.
"Ada apa.?"
Kali ini Freya yang bertanya pada Sky saat Sky menarik bahunya. Sky diam, tangannya membopong tubuh kecil Freya dan membaringkan di ranjang miliknya.
"Tidurlah di sini, jangan banyak bergerak. Kau tidak mau jika dia semakin robek bukan."
__ADS_1
Hemm..
Freya menurut, dia memejamkan matanya menjemput ke alam mimpi tak perduli dengan pria yang berdiri di depannya. Tubuhnya terasa remuk dan lemas seperti jeli. Freya akan kembali saat lagi nanti. Lagipula Sky menawarinya tidur di sini.
Sedangkan Sky hanya mendesah kasar. Sebelumnya Sky tak menyangka jika Freya akan pergi dari kamar miliknya. Apa yang di pikirkan Freya sebenarnya. Hingga setengah jam kemudian Sky bisa mendengar dengkuran halus dari Freya. Sky masuk ke dalam selimut memeluk tubuh kecil Freya masuk ke dalam pelukannya.
Matanya menatap wajah lelah Freya, bibirnya yang menebal dan matanya yang bengkak karna menangis. Entah apa yang Sky pikirkan tentang Freya. Sky baru sadar sekarang saat bercinta tadi, bibirnya meracau memanggil Freya sayang. Dia juga menyesap bibirnya rakus. Bukankah dia tak pernah melakukan itu selain dengan Elvira.
Dia juga sama sekali tak mengingat nama Elvira saat bercinta dengan Freya. Sebelumnya, hanya nama Elvira yang ada di kepalanya, itu sebabnya tak ada yang istimewa saat dia bercinta dengan wanita di luar sana. Tapi dengan Freya, dia bahkan tak mengingat Elvira dan yang ada di pikirannya dia harus memuaskan Freya, bukan dia yang ingin di puaskan.
'Ada dengan diriku'
Hingga pagi menjelang, Sky sama sekali tak memejamkan matanya. Mata tajamnya menatap wajah cantik Freya tepat di depannya. Tangan Sky terulur menyentuh hidung Freya yang kecil dan turun ke bibir. Tersenyum tipis saat melihat bibir Freya yang masih bengkak.
Uhh..
Freya menggeliat saat merasakan geli di wajahnya. Tapi tak lama Freya terlelap lagi. Dia bahkan masuk menyembunyikan wajahnya di ketiak Sky, mencari posisi yang hangat dan nyaman saat ia merasa kedinginan. Hingga satu jam kemudian Sky membiarkan Freya di posisi seperti itu. Tangan besarnya bahkan memeluk Freya erat.
Tak lama ponselnya berdering. Sky mengumpat siapa saja yang menelponnya. Tangan Sky meraih ponsel di belakang Freya, dan mematikannya saat melihat Freya menggeliat di pelukannya. Tak sampai dia menit ponselnya kembali berdering lagi. Sky menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Tuan, hari ini ada investor yang ingin bertemu anda."
Tut..
__ADS_1
"Brengsek.. "