Dendam Cinta Sang Pewaris

Dendam Cinta Sang Pewaris
Bab. 89# Lionel Elard Romanov


__ADS_3

“Apa ini kutukan darimu Mark.” Kekeh Sky tertidur di ranjang yang tak terlalu besar.


Matanya memerah mengingat jika dia sangat merindukan Freya. Wanita yang sudah membuat hidupnya hancur dan hampa. Andai dia menemukan Freya atau bertemu dengannya. Sky akan bertanya pada Freya, apa dia masih membencinya apa dia sama sekali tak mencintainya dan tak menganggap dia suami. Hingga pergi tanpa kabar dan bicara lebih dulu dengannya.


Sky tau jika dia salah telah menyimpan foto masa lalunya. Tapi sebelum Freya tau tentang foto itu, Freya sama sekali tak pernah mengatakan cinta padanya.


Sky mengusap matanya yang basah. Penyesalan dan kenyataan yang pahit yang dia rasakan sungguh sangat menyiksanya. Sampai kapan di bisa seperti ini. Melupakan Freya adalah hal yang mustahil, dia wanita yang sudah membuat dunianya jungkir balik. Tak mungkin Sky akan menggantikan Freya dengan wanita lainnya.


Meski tak ada kenangan dari Freya, tapi hati Sky tetap untuk Freya. Wanita yang dia beli untuk kesenangannya sebelumnya. Dan sekarang wanita itu yang sangat dia rindukan.


“Kembalilah padaku Freya.”


Elard yang diam diam menguping merasa sedih mendengar rintihan ayahnya. Elard bisa melihat bagaimana mata itu sangat merindukan seseorang. Dan Elard hanya tau nama Freya. Selebihnya dia sama sekali tak tau siapa Freya dan apa hubungannya.


Elard kembali lagi duduk di kursi miliknya. Tak lama Elard duduk di kursi milik Sky dan membuka laptop milik ayahnya. Hingga dua jam Elard duduk di kursi ayahnya menatap layar laptop ayahnya dan kertas di atas meja.


“Elard dimana daddy mu.?” Calvin tiba-tiba saja datang mengagetkan Elard.


Sang pemilik nama mendongak mendengar namanya dipanggil.


“Daddy tidur.?” Calvin menganggukan kepalanya. Dia melirik remaja yang duduk di kursi milik tuannya. Calvin tersenyum tipis melihat kegigihan remaja di depannya. Calvin bisa melihat tampannya rupa remaja yang duduk di kursi Sky. Calvin yakin jika banyak remaja yang tergila-gila pada remaja yang menjadi putra Sky.


Hidung mancung dan matanya yang sedikit besar di hiasi bulu mata tebal dan alis yang hitam. Calvin merasa saat dia dewasa Elard akan menjadi idaman wanita. Jangankan nanti sekarang saja banyak gadis remaja menginginkan Elard.


Calvin menggelengkan kepalanya, semoga saja dia tidak seperti Luis yang hobi menjajah wanita kesana kemari.


Lionel Elard itulah nama remaja di depannya. Tapi semenjak Sky membawanya pulang dia menyematkan nama keluarga Romanov padanya. Empat tahun yang lalu saat Sky dan dirinya mencari Freya, mereka berdua menemukan Elard yang akan di bunuh oleh sekelompok orang. Bukan preman tapi sekelompok yang menginginkan nyawanya.


Padahal tuannya jelas saja tau siapa ayah dari Elard tapi entah kenapa tuannya justru membawanya pulang bersama mereka. Dan yang lebih Calvin tak tau dia mengangkatnya sebagai anak.

__ADS_1


Calvin pikir tuannya pasti mempunyai tujuan tertentu. Dan Calvin tak tau apa tujuan tuannya sebenarnya.


“Uncle.. “ Calvin berjengit dan menoleh pada Elard yang mengagetkannya.


“Ada apa.” Tanya Calvin melangkah menuju salah satu rak buku.


“Apa uncle tau siapa Freya.?” Calvin tersenyum mendengar pernyataan Elard.


Dia mendekati Elard dan mengelus kepalanya Elard. Dia tak menjawab pertanyaan Elard, Calvin justru pergi meninggalkan Elard di kursi Sky. Bukan Calvin tak ingin mengatakan siapa Freya pada Elard tapi dia tak berhak mengatakan pada Elard. Biarkan tuannya yang mengatakan pada Elard sendiri.


Elard mendengus melihat Calvin yang pergi meninggalkan nya. pria tua itu selalu pergi saat dia bertanya nama Freya. Selama ini baik ayahnya dan Calvin tak ada yang pernah menjawab siapa freya.


“Aku akan cari tau sendiri.”


Sementara Venus yang berada dalam ruangan VIP mengumpat Elard. Dia mengamuk tanpa sebab, pada pegawai miliknya. Dia menghancurkan salon kecantikan pemberian Heidher padanya. Heidher memberikan dia salon ini sebagai hadiah pernikahannya dengan Luis. Tapi satu tahun ini, salon ini berangsur bangkrut dan pelanggan juga banyak yang pergi.


“Brengsek.. Apa kalian hanya bisa menonton saja hah.” Mereka menundukkan kepalanya tak tau. Takut pada wanita yang selalu saja mengamuk hampir setiap harinya.


“Brengsek..”


*


Tak.. Tak..


Seorang wanita cantik memakai sepatu hels dua belas sentimeter berwarna merah menyala, rambut sepinggan bergelombang dan berwarna gold di ujungnya bergerak mengikuti langkah kaki sang pemilik. Memakai kaca mata hitam dan pakaian yang cukup seksi pada tubuhnya. menampilkan kaki jenjangnya yang putih mulus berjalan keluar dari bandara internasional.


Dari jauh dia bisa melihat seorang pria berdiri dan melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Bibirnya tersenyum pada pria muda berusia tiga puluh dua tahun yang berdiri menjemputnya.


“Kau semakin cantik girl.”

__ADS_1


Cup..


“Maaf apa kau menunggu lama.” Sesalnya menatap bersalah ada pria yang menjadi kekasihnya.


“Selama apapun akan aku tunggu bidadari ku.”


Vincent memeluk tubuh sintal kekasihnya yang baru saja keluar dari bandara. Dia mengambil koper di tangan kekasihnya dan berjalan masuk ke dalam mobil miliknya.


“Apa kau ingin makan terlebih dahulu girl.” Tanyanya menginjak pedal gasnya.


“Tidak, aku lelah.”


Vincent melirik dan tersenyum tipis. Dia tau pasti kekasihnya sangat lelah baru menempuh perjalanan jauh hampir dua puluh empat jam.


Dua jam kemudian Vincent memarkirkan mobilnya di salah satu apartemen termahal di kota xx. Dia tersenyum melihat wanita cantik yang duduk di sampingnya tertidur pulas. Pantas saja sedari tadi dia tak membuka mulutnya.


Vincent keluar dari dalam mobil dan berjalan ke samping membopong tubuh wanita cantik yang tertidur pulas.


“Bawakan koper miliknya.”


“Baik tuan.”


Vincent berjalan masuk ke dalam lift bersama wanita di tangannya yang tertidur pulas. Dia berdecak melihat tatapan orang yang berpapasan dengannya. Mereka pasti berbisik bisik saat melihat dia menggendong seorang wanita. Padahal dia adalah kekasihnya.


Vincent masuk ke dalam kamar apartemen dan membaringkan tubuh kekasihnya. Dia menatap penuh damba pada wanita cantik yang terbaring di atas ranjang.


Satu tahun menjalin kasih, wanita di depannya ini masih saja kaku padanya dan menjaga jarak.


Entah apa yang dia pikirkan. Tapi Vincent dengan sabar menunggu hati wanita cantik yang sudah lama mencuri hatinya. Dan alhasil dua bulan yang lalu dia bersedia bertunangan dengannya. Dan lambat laun dia tak sekaku dulu dan menerimanya. Jelas saja Vincent tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

__ADS_1


Vincent ingin menggelar pesta pertunangan mereka di sini. Dan semoga saja dia tak keberatan dengan kejutan darinya.


__ADS_2