
“Lion.” Gumam Sky menatap putranya yang menatapnya datar di depan pintu.
Freya juga tak kalah menoleh ke arah pintu. Matanya berkaca kaca melihat remaja yang berdiri mematung di depan pintu.
“Apa aku salah tuan Luis, katakan padanya, kenapa kau akan mengirimnya jauh dari sini Hemm.. Apa karna kau sudah membunuh Edwin. Itu sebabnya kau tak ingin dia tau kebusukanmu.” Ucap Devano menarik sudut bibirnya.
Sky menutup bibirnya mendengar penuturan Devano. Tangannya mengepal dan tatapan matanya melihat mata Elard yang menatapnya.
“Atau kau membunuh Edwin karna ibu Elard adalah wanitamu Luis.” Lanjutnya.
“Tutup mulut mu brengsek.”
Devano terbahak melihat wajah Sky yang merah padam.
Sementara Freya kaget mendengar lagi penuturan Devano. Benarkah , Ibu Elard adalah wanitanya Sky. Freya menggelengkan kepalanya, mengingat siapa Luis sebenarnya. Apa semua wanita pernah tidur bersama Luis. Kenapa banyak sekali wanita yang menjadi teman kencang suaminya.
Apa Luis mengadopsi Elard karna dia adalah anak dari kekasihnya dulu.? Freya tersenyum masam dengan pikiran konyolnya sendiri.
“Tutup mulutmu Devano.” Desis Sky menatap tajam pada Devano. Tak hanya Elard yang ada di sini, tapi Freya juga ada di sini. Sky tak ingin menambah sakit hati Freya. Meski dia tak ada hubungan apapun dengan Reyna, tapi sebisa mungkin Sky tak ingin menyinggung tentang wanita.
Devano terbahak mendengar ancaman Sky padanya. Dia melirik ke arah Freya yang duduk di atas ranjang.
“Asal kau tau nona, suamimu sebenarnya tak pernah mencintai mu. Dia hanya mencintai Elvira Jennifer. Dia adalah istri dari rekan bisnisnya. Suamimu sudah menghancurkan rumah tangannya dengan merebut istri Mark Horr_”
Prakk..
Bug..
Sky memukul Devano membabi buta mendengar penuturan Devano. Sedangakan Devano sendiri tak bisa berbuat apa apa. Tubuh tuanya tak bisa melawan Sky yang kuat dan juga masih muda.
Freya mematung mendengar penuturan Devano. Elvira Jennifer, apa dia wanita yang ada di foto itu. Dia istri seseorang, dan Sky ingin merebutnya.
Freya tersenyum miris membayangankannya. Ada perasaan nyeri di dada Freya mendengar penuturan Devano barusan. Dia menatap Sky yang menindih Devano dan memukulnya tanpa jeda.
Begitu juga dengan Elard, dia mematung mendengar semua penuturan Devano di telinganya. Tak lama bibirnya tersenyum sinis kemudian berbalik dan melangkah lebar.
“Uncle....” riang Ara melihat Elard yang melangkah tak jauh darinya.
Elard yang mendengar teriakan Ara menghentikan langkahnya. Rahangnya mengeras mendengar suara riang Arabelle yang berlari mendekatinya.
Brukk..
“Uncle, di sini tidak ada panda. Ala mau lihat panda, ayo antal Ala lihat panda. Uncle...”rengek Ara di kaki Elard.
Sementara Elard, masih diam saja. Tak hanya rahangnya yang mengeras, tapi tangannya juga terkepal erat mendengar suara rengekan Ara di kakinya. Rupanya Vincent membohongi Ara.
Sementara di dalam Vincent yang melihat senjata Devano beringsut mendekatinya.
Freya yang melihat Vincent mengambil sebuah senjata bangkit dari ranjang dan mengambil sesuatu dan melemparkannya pada Vincent.
Buk..
Akk..
__ADS_1
Freya kaget dan mundur melihat tatapan mata Vincent padanya. Bibir Freya bergetar meminta maaf pada Vincent.
“Vin.. “ lirih Freya bergetar dan takut bukan main melihat kepala Vincent berdarah karna terkena asbak yang dia lempar tadi. Freya menggelengkan kepalanya melihat senyum Vincent padanya.
“Kemari Freya, Ara ada bersamaku.” Ucap Vincent melambaikan tangannya pada Freya. Freya menggelengkan kepalanya pada Vincent.
Jleb..
Akk...
Freya berjengit kaget melihat Vincent yang tergeletak di lantai dengan darah segar mengalir di matanya. Sky melemparkan sebuah pisau pada Vincent dan menancap tepat di salah satu matanya.
Freya menoleh dan pandangannya bertemu dengan mata Sky yang menatapnya.
“Freya di_a pria breng_sek.”
Dor..
Freya memejamkan matanya mendengar suara tembakan di sampingnya. Tak lama Freya membuka matanya dan Sky sudah ada di depannya.
Freya menoleh kearah Vincent dan tak terasa air matanya mengalir deras. Dia tak percaya jika dia akan membunuh Vincent. Padahal Vincent dulu sangat baik padanya. Tak hanya baik padanya, dia juga sangat sayang pada Ara. Dan sekarang dia justru membunuh Vincent dengan tangannya sendiri.
“Maaf Vin.” Gumam Freya dengan bibir bergetar. Freya sangat menyayangkan semua ini.
“Sayang...”
Freya mengusap pipinya yang basah dan berbalik melangkah. Sky yang melihat freya meninggalkannya kaget dan memejamkan matanya. Dadanya berdetak kencang melihat Freya mengacuhkannya.
Sky ikut berbalik mengikuti langkah Freya. Tapi tak lama Sky menghentikan langkahnya juga melihat ke arah lain. Dada Sky semakin sakit dan berdetak lebih kencang melihat Ara yang menangis di kaki Elard dan Elard membiarkan begitu saja.
“Uncle, liat panda.”
Elard memejamkan matanya melihat tangan Ara terangkat ingin dia menggendongnya. Dan tak lama Ara menangis semakin kencang karna Elard mengabaikannya dan tak menggendongnya.
“Lion.. “
“Daddy..” Ara berbalik dan mengangkat tangannya pada Sky. Tapi Freya lebih dulu menggendongnya Ara. Sky menatap Freya yang menggendong Ara. Entah kenapa dadanya sangat sakit saat Freya seperti ini. Sky tau Freya membencinya.
“Apa yang pria tua itu katakan benar tuan Luis.”
“Lion.. “ teriak Sky mendengar panggilan Elard padanya.
Elard terkekeh mendengar suara teriakan pria yang sudah merawatnya. Dia berbalik dan menatap mata Sky tak kalah dingin.
“Rupanya anda merawat ku dengan suatu tujuan tuan.” Desis Elard masih menatap Sky dengan pandangan datar dan penuh kebencian.
“Sejak kapan kau berbicara lancang pada ayahmu Lion.” Geram Sky dingin. Dan Elard menarik sudut bibirnya mendengar penuturan Sky.
“Anda bukan ayahku tuan Luis.” Teriak Elard dan Ara yang masih merengek menghentikan tangisnya mendengar suara teriakan Elard.
Nafas Sky memburu mendengar Elard berteriak padanya. Apalagi mendengar Elard tak mengakui dirinya sebagai orang tua. Tapi tak lama Sky menghembuskan nafasnya perlahan.
“Semua yang di katakan Devano tak benar Lion. Daddy tak pernah ingin merebut perusahaan ayahmu.” Imbuh Sky menatap Elard yang tak jauh darinya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan pria yang membunuh ayahku tuan Luis. Apa itu juga tak benar, atau justru sebaliknya.”
Sky diam mengunci bibirnya mendengar pertanyaan Elard. Entah apa yang harus Sky katakan pada Elard saat ini.
Sementara Elard terkekeh kecil melihat kebungkaman Sky. Dia tak percaya jika Sky yang sudah membunuh ayahnya. Tangannya terkepal erat dan tak lama kemudian Elard merebut senjata api dari tangan bawahan Sky lalu mengarahkannya pada Sky.
“Elard..” seru Freya kaget melihat Elard menodongkan senjata api pada Sky.
Elard melirik ke arah Freya dan tatapan matanya melihat mata bening Ara yang menatap ke arahnya. Nafas Elard memburu, dan jantungnya berdetak kencang melihat mata bening itu menatap ke arahnya.
Sementara Sky hanya diam melihat Elard mengarahkan senjata api padanya. Elard memang pantas membunuhnya. Dia yang sudah membunuh orang tuanya.
“Katakan padaku sekali lagi tuan Luis, apa anda sengaja mengadopsi ku.” Teriak Elard. Ara berjengit kaget mendengar teriakan Elard. Dia kembali lagi menangis di gendongan Freya.
“Ya...Dan aku yang membunuh ayahmu Lion. “
Dor..
“Sky..” Teriak Freya kaget.
Bug...
Brukk..
Elard terhuyung kebelakang saat sebuah pukulan mengenai wajahnya dan itu dari Calvin. Elard berdecih melihat Calvin berdiri di depannya.
Calvin menghampiri Elard lagi dengan kepalan tangannya.
“Aku akan membunuhmu Elard Roberto.” Elard tertawa mendengar ancaman Calvin padanya.
“Bunuh saja aku tuan Calvin, itu lebih baik dari pada menjadi anak dari pria pembunuh seperti Luis.” Teriak Elard.
Freya menoleh ke arah Elard dan menatap Elard iba mendengar teriakan Elard. Dia tau Elard pasti sangat kecewa dengan Sky. Dan Freya sudah menduga jika Elard pasti akan sangat marah saat mendengar kebenarannya.
Tak lama kemudian Freya menoleh ke arah Sky. Dia sama sekali tak berniat membantunya. Padahal bahu kanan Sky terluka dan mengeluarkan darah segar.
Entah kenapa dia tak ingin membantu Sky yang terluka. Apa karna dia juga kecewa dan sakit hati mendengar penuturan Devano tentang Sky tadi. Entahlah Freya tak tau, saat ini dia hanya ingin memeluk Ara putrinya.
Calvin dan Elard saling memukul dan menendang satu sama lainnya. Elard yang pada dasarnya memiliki darah mafia jelas saja tak kalah menyerang Calvin. Di tambah lagi Sky yang selalu mengajarkannya bela diri saat mereka sedang libur. Meski usianya masih remaja, Elard sangat kuat dan bisa mengimbangi Calvin yang menyerangnya.
Bruk..
Elard tersungkur di tanah yang kotor saat salah satu dari mereka juga datang menyerangnya. Elard berdiri dan membalasnya hingga bawahan Sky tersungkur dengan darah segar. Tak lama kemudian Elard menghampiri Calvin dan melayangkan tendangannya. Tapi sayangnya Sky yang sudah menggantikan Calvin.
Bruk..
“Tuan..” seru Calvin melihat Sky kembali tersungkur di tanah.
Sementara freya melihat semua itu, diam mematung memeluk putrinya dan menyembunyikan wajah Ara agar tak melihat semuanya.
Elard yang melihat Sky tersungkur di tanah berbalik melangkah.
“Lion..”
__ADS_1