
Satu minggu kemudian..
“Shit.. Apa aku salah makan.” Gumam Sky keluar dari kamar mandi. Dia menggosok hidungnya yang mancung sampai sedikit merah. Rasa mual di perutnya dan hidungnya yang gatal terus menyerangnya.
Calvin yang berdiri di luar melirik ke arah tuannya yang baru ke luar dari kamar mandi. Dia tak berani mendekati tuannya yang sedang dalam keadaan emosi.
“Apa pria tua itu datang.?” Tanya Sky pada Calvin yang berdiri di sampingnya.
“Belum tuan.”
“Semoga saja pria tua itu tak datang.” Gerutu Sky mengusap dahinya yang berkeringat. Pria tua yang menjadi rekan bisnisnya sudah satu tahun lalu. Saat ini yang di inginkan Sky hanya berbaring di ranjang empuknya bersama Freya, bukan yang lainnya. Apalagi untuk membahas kerja sama perusahaan, Sky malas dan enggan.
Tak sampai sepuluh menit kemudian, sekertaris Sky memanggil Sky karna rekan bisnisnya sudah menunggu tuannya di salah satu restauran.
“Gantikan aku Calvin dan bilang padanya aku tak bisa datang.” Ucap Sky berbaring di atas sofa panjang di ruangan miliknya. Rasanya lemas dan seperti tak makan berminggu minggu. Padahal pagi tadi dia sudah sarapan roti ria tambah lagi semalam juga makan. Lalu kenapa dia lemas, apa karena muntah.
“Baik tuan.” Jawab Calvin menundukkan kepalanya dan berbalik.
“Tapi bagaimana dengan nyonya tuan.?”
Sky mengerutkan keningnya mendengar ucapan sekertarisnya. Dia menoleh ke arah sekertarisnya dan mendudukkan dirinya.
Sementara sekertaris Sky menundukkan kepalanya melihat mata tuannya yang melotot ke arahnya.
“Untuk apa istriku ada di sana,?” sembur Sky pada sekertarisnya. Tak lama kemudian Sky baru sadar mungkin saja Ara yang rewel.
“Maksudnya nyonya Freya kebetulan ada di sana tuan.” Jawabnya menundukkan kepalanya.
Tentu saja Sky bangun dari atas sofa dan seketika mualnya hilang mendengar nama Freya keluar dari mension. Apa yang di lakukan Freya di restauran itu. Restauran itu terbilang cukup jauh dari mension mewahnya dan Freya ada di sana.
Melihat tuannya keluar dari ruangannya dua bodyguard nya mengikuti langkah tuannya. Sementara Calvin yang baru sampai di parkiran mengerutkan keningnya melihat tuannya berjalan kw arahnya. Bukannya tadi tuannya sakit.
__ADS_1
“Tuan ingin pergi.”
“ Tentu saja bodoh.” Sembur Sky masuk ke dalam mobilnya. Sementara Calvin mengerutkan keningnya mendengar suara tuannya yang nyaring di telinganya. Dia menggelengkan kepalanya dan mengikuti langkah tuannya masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobilnya menuju tempat tujuan.
*
Sementara Freya yang duduk di salah satu kursi sedang menikmati makan siangnya bersama Ara.
“Mom Ala mau yang itu.”
Freya menganggukan kepalanya dan mengambil daging stek lalu memberikannya untuk Ara. Ara sendiri masih rewel dan menanyakan dimana Elard. Tapi tak sesering pertama kalinya saat Elard meninggalkannya. Dan hari ini dia rewel ingin keluar dari mension, itu sebabnya Freya mengajaknya pergi ke taman dan berakhir di sini.
Di pojokkan salah satu pria menatap Freya tak berkedip. Bibirnya tersenyum tipis melihat betapa cantiknya Freya. Rambutnya terikat sembarangan dan menyisakan helaian rambut di depan keningnya. Dan itu justru terlihat sangat cantik.
Ingin sekali dia menyingkirkan helaian rambutnya yang kadang menutupi wajah cantiknya dan menyelipkan di telinganya dengan tangannya. Tapi siapa dirinya, apalagi mereka tak saling mengenal. Andai mengenal pun, dia bukan siapa-siapa.
Pandangan matanya turun melihat leher jenjang Freya yang sangat putih dan mulus. Andai saja dia pemiliknya, dia pastikan tak akan menyia-nyiakan leher jenjang Freya. Dia akan setiap hari membuat tanda kepemilikan di sana.
Cup...
Freya kaget dan dia mendongak melihat seseorang yang tiba-tiba saja menciumnya.
“Sky..” seru Freya tak percaya melihat suaminya ada di depan matanya. Dari mana Sky tau dia dan Ara ada di sini. Sementara Ara yang melihat ayahnya mengangkat kedua tangannya sambil berseru daddy.
Sky tersenyum, dia mengangkat Ara dan dia mendudukkan bokongnya di kursi putrinya.
Cup..
“Kenapa tak mengajak daddy sayang.” Tanya Sky mengecup pipi putrinya dan melirik ke arah Freya. Sky sendiri menggerutu dalam hati, dia tahu Freya masih marah padanya mungkin itu sebabnya Freya dan Ara pergi berdua dan tak mengajaknya. Perasaan pagi tadi dia sudah tersenyum padanya, tapi kenapa sekarang dia ketus lagi.
Dia sendiri kadang bingung melihat Freya yang kadang tersenyum lebar, kadang juga ketus dan marah padanya. Padahal sudah sepuluh hari dan Freya masih terlihat acuh padanya. Entah apa yang harus Sky lakukan, dia sudah membujuk Freya agar dia tak marah. Tapi hanya sebentar Freya akan kembali marah dan ketus padanya lagi, seperti sekarang ini, perasaan pagi tadi baik baik saja.
__ADS_1
Sementara Freya tak melirik ke arah Sky, dia juga tak menjawab pertanyaan Sky yang memang di tujukan padanya.
“Tuan Luis..” Sky dan Freya menoleh ke samping, terlihat pria muda sekitar tiga puluh tahun berdiri di samping mereka.
Freya tersenyum melihat pria itu menghampirinya. Ya pria yang duduk di pojok dan tersenyum padanya sebelumnya.
Sky melirik ke arah Freya di sampingnya. Dia mengeratkan giginya emosi melihat senyum Freya pada pria di depannya. Jelas saja emosi dan cemburu, saat dia datang jangankan tersenyum padanya, melirik saja Freya enggan. Dan sekarang dia bahkan tersenyum lebar pada pria di depannya.
“Apa aku mengenalmu.” Tanyanya melingkarkan tangannya di pinggang Freya. Sky yakin pemuda di depannya akan melihatnya.
“Apa tuan lupa dengan saya, saya putra David Miller.” Sky mengerutkan keningnya mendengar penuturan pria di depannya. Tak lama kemudian Sky tersenyum kecut saat menyadari dia juga ada pertemuan di restauran ini bersama dengan David. Pria tua yang menjadi rekan bisnisnya. Dan sialnya dia mengutus putranya datang kemari.
“Heemm.” Jawab Sky acuh.
“Bolehkah saya bergabung di sini tuan. Saya sudah cukup lama menunggu anda di sana.” Tawar Dava mendudukkan bokongnya di hadapan Freya tanpa menunggu persetujuan dari Sky.
Sky semakin mengencangkan tangannya di pinggang Freya. Dadanya bergemuruh hebat melihat Freya yang terus tersenyum pada Dava.
“Kenapa tuan David tak datang. Saya lebih suka jika dia datang sendiri menemuiku.” Ketus Sky.
Sementara Freya melirik mendengar nada ketus suaminya. Ada apa dengan Sky, apa dia akan ketus saat menemui rekan bisnisnya.
“Maaf tuan, karna saya sudah menggantikannya.” Sahut Dava tak enak.
“Maaf kalau boleh tau, nona siapa, dan apa hubungan nona dengan tuan Luis. Apa kedua nona cantik ini adik kakak dan keponakan anda tuan.” Tanya Dava menatap wajah cantik Freya tak berkedip. Dia sama sekali tak menoleh ke samping, dimana wajah Sky semakin merah karna cemburu.
"Dia istriku brengsek."
*
__ADS_1