Dendam Cinta Sang Pewaris

Dendam Cinta Sang Pewaris
Bab. 138# Calon nyonya


__ADS_3

Sky mengeratkan pelukannya pada Freya. Dia berulang kali mengutuk mulutnya sendiri yang bodoh. Ya tak sembarang wanita. Karna wanita itu hanya dua, Freya dan Elvira. Hanya dua wanita yang pernah mendapatkan benihnya, meski dia seringkali bermain ranjang bersama wanita tapi Sky tak pernah membuangnya di dalam.


“Sayang maaf.. “ Rengek Sky menyadari kebodohannya sendiri sebelumnya. Dia sama sekali tak menjurus ke sana. Sky hanya mencintai Freya dan hanya Freya. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran untuknya, jika apa yang pernah dia lakukan akan kembali padanya.


Tapi sayangnya sepertinya Freya benar-benar tidur kali ini. Sky menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Freya. Dia tak ingin kehilangan Freya lagi dan cukup lima tahun dia kehilangannya.


Sky ikut memejamkan matanya yang lelah. Semalam dia hanya tidur beberapa jam saja. Memeluk Freya dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Freya.


*


Sementara Selin di dalam ruangan Sky merintih dan mengusap lehernya. Hampir saja dia kehilangan nyawanya saat Sky mencekik lehernya.


Selin berdiri dari lantai saat tubuhnya sedikit lebih baik. Tak lama Calvin masuk ek dalam ruangan Sky dan menatap datar pada Selin.


Calvin menatap Selin yang berdiri sempoyongan. Tak lama dia menunduk mengambil berkas di sampingnya.


Kemana tuan Luis, bukankah dia wanita itu, wanita yang pernah bertemu dengannya dan tuannya di Berlin. Dia juga wanita satu malamnya tuannya.


Calvin menghembuskan nafasnya perlahan. Dia baru ingat jika dia adalah sekertaris Farrel, tangan kanan Shobir Yun.


“Tapi kemana tuan Luis.” Calvin mengedarkan pandangannya mencari keberadaan tuannya. Tapi sepertinya tuannya tak ada di ruangannya. Lalu kenapa dia masih ada d ini dalam sini.


“Tunggu nona, kenapa anda masih ada di ruangan tuan Luis. Apa yang nona lakukan. Apa anda mencuri.” Selidik Calvin menyipitkan matanya. Aneh saja jika dia hanya mengantarkan berkas dari Yun, kenapa dia masih ada di sini, sementara tuannya tak ada d i ruangannya.


“Tuanmu lah yang meninggalkan aku sendiri di sini.” Jawab Selin berbalik.


Sett..


“Kau sangat mencurigakan nona, aku tak akan membiarkan mu pergi begitu saja.”


“Lepaskan aku, brengsek.” Teriak Selin melotot tajam pada Calvin. Tapi Calvin masih tak melepaskan tangan Selin dan membiarkannya begitu saja.


“Lepaskan tangan ku, atau kau tau akibatnya. Aku bisa memecat mu kapan saja saat menjadi nyonya Luis.” Desis Selin menarik tangannya dari cekalan Calvin lalu berbalik pergi meninggalkan Calvin sendiri.


Sementara Calvin masih bingung, dia tak tau apa maksud wanita itu menjadi nyonya.

__ADS_1


“Cih.. Mimpimu terlalu tinggi sepertinya nona.” Gumam Calvin mengambil ponsel miliknya menghubungi tuannya. Tapi sayangnya tuannya tak mengangkat sambungan teleponnya. Calvin menghembuskan nafasnya perlahan. Dia lalu menghubungi bawahan tuannya agar mengawasi Selin.


Calvin tak tau tindakannya ini benar atau tidak. Tapi dia tak ingin tuannya menyalahkannya. Itu sebabnya dia menghubungi salah satu bawahan Luis untuk mengawasi Selin.


 


*


Brakk..


“Brengsek..” umpatnya melemparkan ponsel di tangannya. Nafasnya memburu menahan emosi yang memuncak.


“Kau sudah menghancurkan ku dan kau juga sudah merebutnya dari ku. Aku akan mengambil semuanya darimu brengsek. Cih... Aku pasti bisa mendapatkannya lagi. Tunggu saja pembalasan ku sialan.” Serunya di dalam kamar mewah.


Dia berjalan  ke arah lemari kaca dan melihat wajahnya yang semakin membaik. Sebelumnya wajahnya tak seperti ini. Gigi dan tulang hidungnya patah karna Luis. Dia juga koma satu Minggu lamanya karna Luis.


Dan tiga minggu yang lalu dia baru saja memperbaiki hidungnya yang patah. Tak hanya hidung dan gigi yang menghilang. Tulang rahangnya pun ikut oata9 karna tendangan sepatu pantofel milik Luis.


Sudah sebulan lebih, kini dia semakin lebih baik. Dan dia akan membalas semua yang Luis lakukan padanya. Dia tak akan diam saja dan dia harus membalas semuanya dan merebut miliknya.


*


Sky berjalan masuk kembali ke kamarnya dan berteriak. Sky keluar dari kamarnya lagi dan turun ke lantai bawah. Dia lalu berteriak memanggil Freya dan Ara.


“Sayang.. Ara.”


“Freya... “ teriak Sky mencari keberadaan Freya. Kaoi ini wajah Sky benar-benar sudah pucat pasi tak mendapatkan Freya di manapun.


“Mommy dan Ara tak ada di mension dad.” Seru Elard menatap Luis datar. Hatinya masih sakit dan belum percaya jika pria di depannya ini tega melakukan semua itu padanya.


Sky menoleh ke arah Elard dan berjalan mendekatinya.


“Dimana mereka.?”


“Bersama opa.”

__ADS_1


Sky menganggukan kepalanya dan keluar dari mension mewahnya kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Elard masih berdiri di ruang tengah. Tangannya terkepal melihat punggung Sky yang sudah tak terlihat lagi. Tak lama Elard masuk ke dalam kamarnya mengambil jaket miliknya dan juga pergi, menaiki sepeda motornya seorang diri.


*


Brakk..


Sky melangkah lebar masuk ek dalam mension mewah ayahnya. Dia mengedarkan pandangannya dan memasang telinga tajamnya. Sky melangkahkan kakinya lebar menuju ke samping di mana dia mendengar suara putrinya.


Sky menghembuskan nafasnya perlahan melihat Freya dan putrinya duduk di meja makan bersama keluarganya.


“Cucu opa sangat pintar, makan sendiri.”


“Ala suka di suap sama uncle opa.” Imbuh Ara dengan pipi yang penuh.


Cup..


“Daddy.. “ seru Ara mengangkat tangannya dan Sky tau mengangkat putrinya dan duduk di kursi milik Ara.


Heidher melirik ke arah putranya, terlihat kemeja Sky kotor terkena saus, tapi Sky tak marah. Heidher tersenyum tipis, mengingat Luis yang dulu dan sekarang sangat jauh berbeda.


“Daddy sudah bangun, Ala dan bunda tinggal daddy yang tidul.” Ara terkikik mengingat dia meninggalkan Sky dan pergi kemari bersama kakeknya.


Cup..


”Kenapa gak tunggu daddy sayang.” Sahut Sky melirik ke arah Freya yang duduk di sebelahnya.


“Mommy bilang daddy masih tidul.” Jawab Ara sekenanya.


Marcel melirik ke arah kakaknya dan  Freya bergantian. Tak lama dia melanjutkan makannya. Meski ada perasaan takut saat melihat Luis ada di depannya. Tapi setidaknya ada Heidher dan Marcel yakin Luis tak akan melukainya.


Sementara Imelda juga sama, dia duduk tenang di kursi miliknya. Dia tak ingin suaminya marah besar dan mengusirnya. Setelah ketahuan dia dan Marcel berbuat curang, Heidher semakin dingin padanya dan dia tak ingin Heidher menendangnya dari mension mewah ini. Meski dia tau mension ini juga milik Luis, tapi setidaknya dalam beberapa tahun ke depan dia bisa hidup di mension mewah.


 Nyatanya sudah berulang kali dia ingin menyingkirkan Luis dan mengambil harta Heidher. Dia dan Marcel tetap tak pernah berhasil melakukannya. Dan saat ini yang bisa dia lakukan adalah pasrah, menerima apa yang Heidher berikan padanya. Mungkin saja Heidher akan memberikan sedikit untuk dirinya, dan itu entah kapan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2