
“Apa dia ibu Elard.”
Bug..
Devano terhuyung kebelakang dan tersungkur mendapatkan pukulan dari tangan Sky. Sky berjalan mendekati Devano dan mencengkram erat leher pria tua di depannya.
“Jangan pernah mengusik keluargaku tuan Devano. Aku bisa membunuhmu jika berani macam macam dengan ku.”
Devano terkekeh mendengar penuturan Sky. Dia melepaskan tangan Sky dari lehernya. Tapi Sky justru mengencangkan kerah lehernya hingga Devano sedikit sulit bernafas.
“Aku tidak pernah mengusik mu tuan Luis. Aku hanya bertanya apa dia Ibu Lion. Siapa namanya, Freya.”
Bug..
“Jangan pernah menyebut nama istriku dengan mulutmu yang brengsek itu.” Tukas Sky mencengkram erat dagu Devano.
“Lepaskan brengsek.” Teriak Devano di cengkraman Sky.
“Jangan sampai aku mengubahmu hidup hidup tuan.” Desis Sky melepaskan tangannya dari Devano dan berdiri.
Sementara Devano yang melihat Sky berdiri dan meninggalkannya terkekeh. Dia berdiri dari lantai dan menatap punggung lebar Sky yang menjauh darinya.
“Apa Lion tau jika pria yang sudah mengadopsinya adalah pembunuh orang tuanya.”
Sky menghentikan langkahnya mendengar penuturan Devano. Dia memejamkan matanya, dadanya naik turun menahan emosi yang memuncak.
Sky berbalik dan menatap Devano yang tersenyum padanya. Giginya gemerutuk menahan emosi yang memuncak.
“Ausky Luis, kau sungguh licik. Mencoba meninggalkan jejak mu dengan cara merawat Lion.”
“Bukan urusanmu tuan.” Geram Sky menatap tajam pada Devano.
Devano terkekeh mendengar jawaban Sky padanya. Sementara Sky semakin mengeraskan rahangnya melihat senyum Devano padanya. Andai dia tak berjanji pada Freya semalam dia pasti sudah membunuh Devano saat ini.
Ya semalam Freya mengatakan pada Sky agar berubah dan jangan suka membunuh. Dan Sky mengiyakan begitu saja penuturan Freya. Lagi pula, Sky tak ingin melihat Freya sedih karnanya.
“Aku tau bukan urusanku, tuan Sky. Bagaimana jika kau memberikan salah satu dari mereka padaku.” Ucap Devano menambah berang Sky.
Sky melangkah lebar mendekati Devano. Dia tak perduli dengan janjinya pada Freya semalam.
Bug..
Jelas saja Sky geram mendengar penuturan yang keluar dari bibir Devano. Dia memukul wajah Devano hingga mengeluarkan darah segar dari hidung dan mulutnya.
“Sudah ku katakan jangan mengusik ku Devano.” Tukas Sky mendekati Devano dan menginjak dada Devano dengan sepatunya.
Devano melotot melihat Sky menginjak dadanya. Dia mencoba menyingkirkan kaki Sky, tapi sayangnya Sky justru menekannya.
“Lepaskan brengsek.” Teriak Devano lirih.
__ADS_1
Tak lama kemudian melepaskan kakinya pada Devano dan berbalik lalu melangkah masuk ke dalam perusahaan miliknya. Sky masih ingat apa yang di katakan Freya semalam. Andai dia tak berjanji pada Freya, dia pasti sudah membunuh Devano saat ini.
Sementara Devano meringis merasakan sakit yang luar biasa di wajah dan dadanya. Dia bangun dari lantai dan dia hampir saja tersungkur kembali saat tubuh tuanya dan kakinya yang gemetar tak bisa menahan berat tubuhnya.
“Lihat saja aku pasti bisa menghancurkan mu Sky.”
*
Sementara Sky yang berada di ruang meeting, melamun dan sama sekali tak fokus pada meeting pagi ini. Mengingat Devano ada di sini dan apa yang akan Devano rencanakan. Yang pasti Devano ingin menghancurkannya.
“Tuan..”
Sky berjengit dan menoleh ke arah Calvin. Dia mengedarkan pandangannya melihat rekan bisnisnya yang menatap ke arahnya.
“Maaf silahkan lanjutkan.”
*
Elard duduk di kursi miliknya di ruang kelas. Tak lama kemudian temannya menghampirinya dan mengajaknya pergi. Tapi Elard sama sekali tak berminat sedikitpun.
“Kau tidak ikut, di sana ada Kezia.”
Elard menoleh dan menatap tajam pada sahabatnya. Dan sahabatnya hanya cengengesan melihat tatapan tajam Elard padanya. Dia lalu berbalik dan pergi meninggalkan Elard sendiri di dalam kelas.
Elard mendengus melihatnya, dia mengambil ponsel miliknya dan tersenyum melihat wajah cabi Ara di ponselnya. Bibirnya terkekeh, saat tangannya menggeser layar ponsel miliknya. Berbagai foto Ara tersimpan di ponsel Elard. Dari yang tertawa dan menangis semua tersedia di ponsel Elard.
Sementara dari jauh Kezia mengepalkan tangannya menatap Elard yang tertawa sedari tadi. Dia berbalik dan menghentakan kakinya. Kezia merasa jika Elard memiliki kekasih dan saat ini Elard sedang memandangi wajah kekasihnya.
“Sialan..”
*
“Kau sudah mendapatkannya.”
“Ya tuan..”
Sky menganggukan kepalanya mendengar penuturan Calvin. Sekarang tinggal menunggu, kelulusan Elard dan dia akan langsung membawa Elard pergi dari sini.
Sky tersenyum melihat ponsel miliknya bergetar. Dia menggeser layar ponsel di tangannya dan tersenyum lebar di depan kamera.
“Daddy sudah makan.” Tanya Ara pada Sky yang wajahnya memenuhi layar ponsel Sky.
“Belum sayang..” Jawab Sky terkekeh melihat bibir putrinya yang mencebik.
“Mommy belum.”
Terdengar teriakan Ara mengatakan pada Freya. Sky semakin terkekeh mendengarnya. Tak lama ponsel Sky menampilkan wajah cantik Freya di layar ponsel Sky.
“Apa aku harus ke sana sayang.” Sky menggelengkan kepalanya mendengar tawaran Freya.
__ADS_1
“Tidak Freya, aku akan makan bersama Calvin nanti.” Freya menganggukan kepalanya mengerti. Tak lama ponsel Sky berganti wajah putrinya.
“Dad , tadi Ala berenang sama mommy dan nani.” Cerocos Ara pada Sky.
Sky tersenyum mendengar penuturan putrinya. Hampir setiap hari Ara akan mengatakan aktivitas padanya.
“Ya putri daddy memang sangat pintar.”
Ara tersenyum lebar, tak lama terdengar suara Freya yang meminta Ara mematikan sambungan ponselnya. Freya takut jika Sky sedang sibuk dsn putrinya justru mengganggunya.
“Katakan sama mommy daddy akan makan nanti sayang.” Terlihat Ara menganggukan kepalanya dan tak lama ponsel Sky kembali menghitam.
Sky mendesah kasar, dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. Melihat senyum putrinya yang dan Freya sungguh hati Sky sangat bahagia. Tapi tidak mengingat Elard.
“Tuan, tuan Farrel sudah menunggu anda di restoran.” Ucap Calvin tiba-tiba mengagetkan Sky dari lamunannya.
Sky melirik ke arah calvin dan menganggukan kepalanya mengerti. Dia berdiri dari duduknya dan melangkah keluar terlebih dahulu. Dan Calvin mengikutinya dari belakang tuannya bersama dengan bodyguard tuannya di belakangnya.
*
“Selamat siang tuan Luis.”
Sky taj menjawab sapaan dari wanita yang memakai seragam yang berdiri di depannya. Tak lama Sky berjalan masuk ke dalam, dimana ruang VIP berada.
Clek..
“Silahkan tuan, tuan Farrel sudah menunggu anda.”
Sky masuk ke dalam tanpa menoleh ke kiri dan kanannya. Dia hanya menatap pria yang sedikit lebih muda darinya sudah duduk menunggunya.
Farrel tersenyum melihat Sky dia berdiri dari duduknya dan menundukkan wajahnya sedikit.
“Selamat siang tuan Luis.”
Sky hanya tersenyum tipis mendengar sapaan dari pria di depannya.
“Maaf tuan, saya perwakilan dari tuan Shobir untuk bertemu anda. Tuan Shobir sedang sakit, tuan.”
“Hemm..” jawab Sky acuh.
“Maaf ini sekertaris saya tuan.”
Sky menoleh ke samping dan alisnya bertaut saat dia sepertinya pernah melihat wajahnya.
Sementara wanita di depan Sky, meremas rok sepannya melihat Sky duduk di depannya. Apalagi saat Sky menoleh ke arahnya. Dia merasa jantungnya seperti mau lepas dari tempatnya. Pria yang dulu sudah mengoyak mahkotanya, duduk di depannya saat ini. Dan dia tak tau jika yang akan menemuinya adalah tuan Ausky Luis.
“Selamat siang tuan.”
__ADS_1