
"Lepaskan aku brengsek."
Venus berteriak saat tangannya diseret oleh Bodyguard Sky. Dia berontak dan menatap tajam pada mereka semua.
Sementara Sky sama sekali tak perduli dengan teriakan Venus yang di seret oleh bodyguardnya. Tak lama kemudian ponsel Sky berdering menampilkan nomor Heidher. Sky menyambar ponselnya dan menempelkan ponsel miliknya di telinganya.
"Luis, _"
"Jangan pernah mengusikku Heidher, aku sudah menuruti semua ke inginanmu. Kau pikir aku akan menuruti mu lagi." Potong Sky di sebrang telepon.
"Luis Ven_"
Tut.. Tut..
Heidher yang emosi saat Sky mematikan ponselnya sepihak dan tak mendengar ucapannya membanting ponsel miliknya pada tembok.
Prakk..
Heidher mengepalkan tangannya melihat Sky yang semakin membangkang padanya. Dan semua ini gara gara gadis sialan itu, wanita ****** yang dijual di tempat pelelangan. Dia tak akan pernah mau memiliki menantu sepertinya. Wanita murahan yang menjual tubuhnya demi sejumlah uang. Apalagi saat mengingat berapa Sky membelinya. Seketika emosi Heidher kembali memuncak. Heidher berteriak memanggil anak buahnya.
"Awasi dia, dan singkirkan wanita itu dari Luis."
"Baik tuan..."
Mereka pergi meninggalkan Heidher dan menjalankan tugasnya. Sementara Heidher mendengus, dia pasti bisa menyingkirkan wanita itu dari Luis. Dia tak akan pernah membiarkan wanita itu menguasai Luis. Luis adalah putra satu satunya, dia tak ingin siapapun mengendalikan Luis, apalagi hanya wanita rendahan dari tempat perjudian.
"Jangan bermimpi kau menjadi ratu nona." Dengus Heidher.
*
Di mansion Freya mengerutkan keningnya saat keluar dari kamarnya. Freya sama sekali tak melihat Carol di manapun berada. Biasanya wanita itu akan berbuat jahat padanya dan selalu menatapnya tak suka. Tapi siang ini wanita itu sama sekali tak terlihat di mata Freya.
"Kemana dia."
Freya berjalan ke arah samping. Freya heran saat siang seperti ini dia tak mendapati pelayan di dalam mension mewah Sky.
"Memangnya mereka kemana. Mereka seperti hantu, tiba tiba saja muncul dan akan hilang seperti sekarang." Gumamnya lagi.
__ADS_1
Freya berjalan mengikuti lorong sepi dan sepertinya jarang dilewati. Freya menoleh ke kiri daan kanannya, tak ada siapapun di dalam mension. Freya melangkah lagi lebih jauh, hingga dia menemukan pintu pagar besi yang di rantai. Freya memegang gembok di depannya. Kepalanya menoleh ke sembarang arah.
Bibirnya tersenyum lebar saat melihat jauh ke depan. Freya mengambil jepit rambut di kepalanya. Menoleh lagi ke belakang, takut jika penjaga akan memergokinya. Tapi sepertinya tak ada siapapun saat ini.
Dengan rasa penasaran dan ingin tau, Freya membuka gembok dengan jepit rambutnya. Bibirnya tersenyum saat gembok terbuka. Freya masuk ke dalam dengan perlahan dan menutup pintu kembali. Kepalanya celingukan ke sana kemari.
Tak ada siapapun, Freya melangkah ke depan dengan mata yang berbinar.
"Indahnya." Gumam Freya menatap ke depan. Bibirnya tersenyum melihat hamparan rumput hijau di depannya. Freya tak menyangka jika di belakang mension ada hamparan rumput liar dan hijau seperti ini. Di tambah lagi ada danau kecil di dalamnya dan tak jauh darinya.
Freya melangkahkan kakinya lagi mendekati danau yang terlihat unik di matanya. Sampai di sana Freya merentangkan tangannya menghirup udara segar yang berhembus. Bibirnya tersenyum lebar membayangkan andai saja dia bisa bebas seperti ini, Freya pasti sangat bahagia.
Freya mendudukkan bokongnya di rumput liar di depan danau kecil dan jernih. Membaringkan tubuhnya di atas rumput dan menatap langit yang sangat cerah.
"Aku seperti di alam bebas." Freya tertawa sendiri. Mengingat kata alam bebas. Bukan alam bebas, tapi penjara yang mengikatnya.
Gerr..
Freya berjengit mendengar suara asing di telinganya. Dia bangkit dari rumput dan menoleh ke sembarang arah.
Freya menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruknya. Tubuhnya seketika merinding membayangkan jika ada makhluk gaib di sini. Apalagi tak ada orang lain di sini, hanya dia dan dia mendengar suara aneh yang sangat terdengar jelas di telinganya. Freya berdiri dari rumput dan berniat pergi.
Gerr...
Freya menoleh dan shock melihat kucing besar di depannya. Tubuhnya menegang dan mematung di tempatnya. Keringat dingin bercucuran di dahi Freya. Freya beringsut mundur kebelakang saat melihat hewan besar mendekatinya.
Brukk...
Freya tersandung dan terjatuh duduk kembali di atas rumput.
"Dad.. "
Bibirnya bergetar menahan takut yang luar biasa. Freya terus beringsut mundur ke belakang. Menggelengkan kepalanya, jika kucing besar itu semakin mendekatinya. Tak mungkin dia akan berakhir di sini dan di makan kucing besar itu.
Dengan tangan yang gemetar Freya mengambil batu di sampingnya dan melemparkannya pada hewan besar di depannya.
Buk..
__ADS_1
Gerrrrr..
"Daddy..." Teriak Freya saat hewan besar itu menerjangnya.
Bug..
Brukk.
Sky menendang kucing besar miliknya. Terang saja kucing itu berjalan mundur saat melihat Sky. Sky menoleh ke arah Freya yang memejamkan matanya dan tubuhnya bergetar ketakutan.
"Freya.. "
Freya membuka matanya dan spontan memeluk tubuh tinggi Sky. Seketika itu juga tangis Freya pecah saat melihat suaminya di depannya. Melingkarkan kakinya di pinggang Sky erat dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sky, menangis segukan di pelukannya. Freya takut bukan main saat melihat hewan besar itu mendekatinya.
Sky memeluk Freya yang ketakutan kemudian berdiri dari jongkoknya dan menatap tajam pada kucing di sampingnya.
Berjalan sambil menggendong Freya seperti koala. Sky bisa merasakan tubuh Freya yang bergetar ketakutan. Tangannya mengusap punggung kecil Freya yang bergetar, sementara tangan kirinya menyangga bokong Freya.
Beruntungnya dia selalu mengecek ponsel di tangannya dan memasang cctv di seluruh mension. Saat itu juga Sky melihat Freya yang berjalan ke belakang mension dan menemukan pintu. Tanpa pikir panjang Sky meninggalkan meeting di perusahaan dan kembali pulang.
Sampai di dalam mension Sky membawa Freya masuk ke dalam dapur. Kemudian mendudukkan Freya di atas kursi. Tapi kaki Freya tak mau lepas dari pinggangnya. Sky mendesah lirih melihat Freya masih ketakutan dan memeluknya erat.
"Freya ini sudah di dapur."
Freya tetap menggelengkan kepalanya, dia masih ketakutan. Hampir saja hewan besar itu mencabik cabik tubuhnya. Membayangkan saja Freya kembali menangis.
"Baiklah jika kau tak ingin turun. Setidaknya minum terlebih dahulu." Rayu Sky pada Freya. Sky tau jika Freya pasti shock.
Sky sendiri juga shock saat melihat Freya masuk ke dalam sana. Jika dia tak pulang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi pada Freya saat ini.
Freya menjauhkan wajahnya dari dada Sky. Hidungnya memerah dan tak lama Freya kembali lagi mendekatkan wajahnya mengusak hidungnya yang gatal di dada Sky yang tertutup kemeja putihnya.
"Oh Tuhan, selain air liur dan ingus besok apalagi."
.
.
__ADS_1