
Sampai di mension mewahnya Sky masuk ke kamar lain dan membersihkan tubuhnya dari bau darah. Sementara Calvin menunggu tuannya di luar kamar. Tak sampai setengah jam Sky keluar dari kamar dan melangkah lebar menaiki anak tangga.
Sky masuk ke dalam kamar putrinya dan tersenyum melihat dua wanita yang paling di cintainya tidur nyenyak. Sky menghampiri mereka berdua dan menundukkan wajahnya.
Cup..
Cup..
Satu kecupan Sky berikan pada Freya dan Ara. Tangan besarnya mengusap kening putrinya. Sky tersenyum, melihat wajah Ara dan Freya sangat mirip. Hanya hidung Ara mungkin yang sedikit tinggi dari Freya. Dia sangat menyayangi mereka berdua. Mana mungkin dia akan melepaskan mereka berdua demi orang lain.
Sky mendesah kasar mengingat Elard kembali. Andai Elard masih di sini bersama mereka. Tapi lagi lagi Sky tersenyum masam. Elard sangat membencinya, dan dia sadar itu.
Tapi bolehkah dia berharap, suatu saat Elard akan kembali padanya dan tinggal bersamanya lagi. Dia sangat menyayangi Elard. Remaja yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri.
*
Hingga pagi, Sky sama sekali tak memejamkan matanya. Dia berbaring di ranjang di Ara. Tatapan matanya fokus tak berkedip menatap wajah cantik Freya. Tak lama Sky tersenyum melihat Freya menggeliat dan mengerjapkan matanya.
“Pagi sayang.”
Freya berjengit kaget mendengar suara di sampingnya. Dia membuka matanya perlahan dan kaget melihat wajah Sky yang sangat dekat dengannya.
Cup..
Sky lebih dulu menyambar bibir Freya sebelum dia berteriak saat dia melihatnya. Sementara Freya yang baru bangun dan nyawanya belum terkumpul gelagapan. Dia memukul dada Sky agar melepaskannya.
“Maaf sayang, aku terlalu merindukanmu.” Kata sky setelah melepaskan tautan bibirnya dari bibir Freya.
Sementara Freya masih diam mengunci bibirnya. Bagaimana dia bisa pergi dan bercerai dari Sky. Sementara Sky sendiri terus membuatnya jatuh ke dalam pesonanya.
Freya menggeser perlahan tubuhnya dan turun dari ranjang menuju kamar mandi. Sky yang melihat Freya berjalan menuju kamar mandi mengikuti Freya dari belakang.
“Ada apa sayang?” tanya Sky melihat Freya yang berbalik menatapnya.
__ADS_1
“Apa semalam kau menjemput putramu Sky.?” Tanya Freya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tak ingin memperlihatkan kekecewaan pada Sky. Lagi pula dia yang sudah memilih untuk bercerai dari Sky.
Sky menghembuskan nafasnya perlahan. Kenapa Freya harus bertanya hal bodoh dan tak ada sama sekali.
“Putra siapa yang harus ku jemput Freya. Putraku hanya dari rahimmu. Hanya kau yang akan mengandung anak anakku, bukan orang lain.”
“Kau tak menjemputnya Sky. Jangan jadikan aku wanita yang jahat di hadapan putra mu Sky.”
“Apa kau pikir aku berbohong padamu Freya.”
Freya menoleh kearah suaminya dan menatap mata Sky tak berkedip. Tak lama kemudian Freya menundukkan wajahnya. Benarkah Sky tak berbohong padanya. Lalu bagaimana dengan ucapan wanita itu padanya. Tak mungkin seorang wanita akan berbohong tentang anak kan.
“Tapi dia..”
“Aku tau aku pria brengsek Freya. Tapi percayalah hanya kau yang ku inginkan. Hanya kau yang akan menjadi ibu dari anak anakku nanti. Tidak akan ada wanita lain selain dirimu Freya.” Ucap Sky lirih.
“Maafkan aku yang brengsek ini. Tapi aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku bersamamu Freya. Bersama dengan anak anakku yang lahir dari rahimmu. Elard sudah meninggalkan aku Freya. Apa kau juga berniat meninggalkanku, jangan pisahkan aku dengan putri ku lagi freya.” Lirih Sky menatap Freya dengan mata yang berkaca kaca.
“Apa kali ini aku bisa percaya padamu Sky. Aku takut wanita masa lalumu datang silih berganti. Aku tak ingin menyakiti putri ku Sky.” Jawab Freya menundukkan wajahnya.
Pada dasarnya dia memang tak bisa melihat Ara menderita seperti dirinya dulu. Cukup dia yang merasakan bagaimana menderitanya hidup bersama dengan orang lain yang di panggilnya Ibu.
Meski sekarang Kikan sudah menebusnya dengan kasih sayang yang luar biasa. Tapi tetap saja, trauma itu masih ada dan dia tak ingin Ara seperti dirinya.
Cup..
“Aku mencintaimu Freya,” jawab Sky memeluk Freya ke dalam pelukannya. Sky tau apa yang freya takutkan selama ini, karna Sky tau bagaimana kehidupan Freya sebelumnya.
“Mommy..”
Freya dan Sky menoleh ke arah ranjang dan terlihat Ara sudah duduk di ranjang menatap ke arahnya. Freya melepaskan pelukan Sky dan mendekati Ara.
Cup..
__ADS_1
“Uncle mana.?”
Freya melirik ke arah Sky dan menghembuskan nafasnya perlahan.
"Dia membenciku Freya, maafkan aku. Aku juga ingin Elard kembali lagi ke mension ini Freya. Tapi Elard sangat membenciku, aku bisa melihatnya kebencian di matanya." Sesal Sky mendengar rengekan putrinya mencari Elard.
Freya menatap iba pada Sky, dia tau Sky menyayangi Elard tulus, seperti anak sendiri. Freya tak akan bertanya tentang Elard pada Sky meski hatinya sangat ingin tau siapa Elard dan apa hubungan Sky dengan ibu Elard.
"Aku tidak ada hubungannya dengan ibu Elard Freya." Freya terkesiap mendengar penuturan Sky. dia membuang wajahnya dan beralih pada Ara putrinya. Bagaimana bisa Sky tau apa yang dia pikirkan.
"Ya aku tau."
Sky tersenyum mendengar jawaban Freya, dia mendekati mereka berdua dan meraih putrinya kemudian merayu Ara yang masih mencari keberadaan Elard. Entah sampai kapan Ara akan mencari Elard. Semoga saja Ara akan segera melupakan Elard.
*
Elard menatap jendela kamarnya. Di luar hujan deras di sertai angin kencang. Elard mengepalkan tangannya mengingat Ara. Bagaimana dia bisa melupakan Ara. Dia sangat merindukan Ara dan Sky.
Tapi lagi lagi kebencian yang Elard rasakan, mengingat siapa Sky sebenarnya. Pria yang sudah membunuh ayahnya dan pria yang menjadi penyebab kematian ibunya.
“Tuan, semuanya sudah siap.” Elard menoleh ke arah pria paruh baya di belakangnya. Pria yang menjadi supir ayahnya dulu. Selama ini, memang hanya pria ini yang tulus dan baik padanya.
“Hemm Terima kasih paman.”
Elard tersenyum melihat pria tua itu berbalik meninggalkannya. Dia menghembuskan nafasnya perlahan dan mengedarkan pandangannya pada kamar barunya. Kamar mewah yang baru beberapa hari ini dia tempati dan mungkin akan menjadi kamarnya selamanya.
Elard tak pernah menyangka akan kembali lagi ke mension mewah ini lagi. Jika dia dulu tinggal di kamar orang tuanya di lantai bawah, kali ini dia tinggal di lantai atas kamar paling mewah.
Elard tak tau kenapa semua sangat berbeda dari yang dulu. Mereka sama sekali tak mempermasalahkan dia memilih kamar di mension ini. Elard yakin ada yang mereka inginkan darinya.
“Ara pasti senang tidur di ran_” Elard menutup bibirnya kembali, mengingat kebodohannya sendiri. Tangannya terkepal dan rahangnya mengeras, mengingat kebrengsekan Sky.
“Lupakan mereka Elard, tunjukkan kau bisa menjadi pria lebih baik dari pria brengsek itu.”
__ADS_1