Dendam Cinta Sang Pewaris

Dendam Cinta Sang Pewaris
Bab. 81# Kabur


__ADS_3

Deg...


Mata Freya memanas melihat beberapa foto tergantung di depannya. Kakinya lemas melihat berbagai macam foto wanita yang sama tergantung di dinding. Freya menyentuh dadanya yang sakit dan terduduk di lantai dingin. Freya menangis kembali membayangkan nasibnya yang malang.


Apa dia harus menjadi seperti ini. Menjadi pelampiasan pria dewasa dan menjadi boneka seksnya.


Lelah menangis hingga setengah jam kemudian Freya mendongak dan bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri meja Sky. Freya menggeledah semua laci di ruangan Sky. Tak lama kemudian Freya menemukan sebuah senjata api milik Sky.


Freya mengusap pipinya yang basah. Dia berjalan keluar dari ruangan Sky dan menutupnya kembali. Freya berlari ke kamar Sky dan mengambil sebuah tas kecil di laci milik Sky. Freya memasukkan beberapa lembar pakaian miliknya ke dalam tas dan menutupnya kembali.


Ya dia bertekad akan pergi dari mension Sky. Dia tak ingin menjadi boneka pria itu seumur hidupnya. Dia sudah lelah dan Freya tak ingin lagi berharap sesuatu yang mustahil di hidupnya. Dia juga tak ingin harga dirinya terus di hina oleh pria tua itu. Sadar jika dia dan Sky memang jauh berbeda dan dia memutuskan untuk pergi dari Sky. Lagi pula dia hanya sebuah boneka.


Freya berjalan menuju jendela dan mengintip keluar. Freya menarik kain sepry dan mengguntingnya menjadi beberapa bagian. Freya mengikatnya di pagar balkon kamar Sky. Tak lama kemudian Freya turun ke dapur dan membawa sesuatu di tangannya.


“Maaf aku mengacaukannya.”


Gumam Freya mengambil sesuatu dari arah dapur dan menyimpannya di tengah kain yang dia bawa.


Freya menyalakan api membakar kain di tangannya dan berlari kembali ke kamar Sky. Sampai di kamar Sky Freya menutup pintu kamar Sky rapat dan menguncinya.


Tak lama kemudian terdengar suara ledakan dari dapur.


Duarr..


Dan Freya yakin jika botol wine yang dia sembunyikan di dalam kain itu sudah meledak.


Freya meneteskan air matanya mendengar suara ledakan yang dia timbulkan. Tangannya yang gemetar menyaut tas dan senjata api di atas kasur. lalu memasukkan senjata api ke dalam tas kecil di tangannya.


Freya mengusap air matanya dan berlari menuju jendela. Terlihat pengawal dari sembarang arah masuk ke dalam mension.


Freya tersenyum tipis saat melihat ternyata dari balik semak pengawal Sky bersembunyi selama ini. Pantas saja tak terlihat baik siang apalagi malam. Tapi mereka jelas saja bisa melihat siapapun yang keluar masuk dari mension mewah Sky.


Freya menggelengkan kepalanya, dia harus bergegas keluar dari sini sebelum mereka menyadarinya.


Freya memejamkan matanya bergantung di kain seprey yang dia lilitkan di balkon kamar Sky.


Brukk..

__ADS_1


Freya bernafas lega saat kakinya menyentuh lantai. Tak lama kemudian Freya berlari secepat kilat tanpa menoleh ke kiri dan kanannya.


Bibirnya berdoa agar Tuhan membantunya keluar dari mension mewah Sky. Dengan kaki kecilnya, Freya terus berlari menuju arah yang dia yakini akan membawanya keluar dari sini. Freya tak menyangka jika mension dan pagar sangat jauh.


Brukk..


Freya meringis saat kakinya tersandung dan terjatuh di rerumputan. Tak lama Freya menggulingkan tubuhnya di pohon besar saat telinganya mendengar suara langkah kaki mendekatinya.


“Tuhan tolong aku.”


Jantung Freya berdetak lebih kencang saat langkah kaki mereka terdengar sangat dekat. Freya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jangan sampai dia menjerit saat melihat ular kecil menempel di kakinya. Hanya air matanya yang mengalir deras.


“Apa kau melihatnya.?”


“Aku memang melihat ada seseorang berlari ke arah sini.”


Tubuh Freya menggigil ketakutan, melihat ular itu masih di kakinya. Padahal ular itu sangat kecil, tapi Freya sangat takut. Di tambah lagi mereka masih ada di belakangnya dan sangat dekat.


“Apa yang kalian cari selamatkan mension tuan.”


Mereka berdua berlari mengikuti langkah rekannya yang lebih dulu berlari ke arah mension.


Freya bernafas lega, tangannya mengambil ranting dan menyingkirkan ular kecil di kakinya. Tak lama Freya bernafas lega, dia berdiri dan menoleh ke belakang. Lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu gerbang. Freya mundur kebelakang saat mengingat sesuatu.


Freya berbalik dan berlari kembali ke samping. Dia tak mungkin keluar melalui pintu gerbang. Mereka bisa langsung menangkapnya. Freya mendongak saat melihat tembok yang sangat tinggi di depannya.


“Bagaimana caranya aku keluar dari sini.”


Freya menyandarkan tubuh kecilnya putus asa. Benarkah dia tak bisa lepas dari Sky. Apa seumur hidupnya dia akan terkurung di dalam sini menjadi budak pria itu. Tidak, dia tak ingin menghabiskan sisa hidup nya di sini. Selamanya dia akan menjadi bayang bayang wanita itu. Dia tetap akan menjadi boneka Sky.


Menjadi boneka pria itu dan teman ranjangnya, Freya benar-benar tak mau.


Dengan tekat yang bulat Freya membuang sandal yang di pakainya dan memanjat sebuah pohon kecil lalu melompat ke tembok pagar. Tak ada cara lainnya, hanya ini satu satunya cara agar dia keluar dari mension mewah Sky.


Bug..


Uhh...

__ADS_1


Freya meringis merasakan sakit di tubuhnya yang membentur tembok. Tak lama kemudian Freya menjatuhkan tubuhnya keluar tembok.


Brukk..


“Aw.. “


Freya menutup mulutnya saat sadar berteriak. Dia menangis kembali mengingat betapa sulitnya dia keluar dari mension mewah Sky. Tubuhnya terasa sangat sakit semuanya.


“Hey.. “


Freya berjengit kaget mendengar salah satu dari mereka berteriak. Freya bangkit dan berlari secepat kilat masuk ke dalam lorong. Dengan kaki yang sakit Freya tetap melangkahkan kakinya menghindari mereka.


Freya menangis meminta bantuan pada siapapun juga. Tapi sepertinya tak ada satu orangpun yang akan membantunya. Mengingat jika saat ini dia ada di kawasan Sky. Adapun orang yang menolongnya, dia pasti bawahan Sky.


Dor..


“Daddy tolong Freya.”


Dengan tubuh yang gemetar ketakutan Freya berlari ke sembarang arah. Kakinya yang kecil dan sakit semakin sakit. Freya merintih kesakitan tak lama freya terjatuh saat tak bisa menahan kakinya yang semakin sakit.


Freya tau mereka masih mengejarnya saat ini. Freya hanya bisa pasrah andai dia tertangkap kembali. Tak ada yang bisa dia lakukan, berlari dan berdiam diri juga sama sama akan tertangkap.


“Apa usaha ku sia sia.” Desah Freya lirih.


Freya menggelengkan kepalanya, dia mengambil senjata api yang dia ambil dari ruangan Sky. Ya bukankah ini juga berguna.


“Rupanya kau disi_”


Dor...


Brukk..


Freya berjengit saat mendengar suara tembakan dari arah lainnya. Tubuhnya semakin bergetar ketakutan. Apa dia juga akan di bunuh oleh orang yang membunuh pengawal Sky. Dengan tubuh gemetar ketakutan Freya memejamkan matanya tak berani melihat orang yang mendekatinya.


Membayangkan jika ternyata dia akan berakhir di sini malam ini. Dan mungkin saja ini lebih baik, dari pada menjadi boneka Sky selamanya.


“Freya."

__ADS_1


__ADS_2