
Satu bulan berlalu...
Elard memarkirkan sepeda motornya dan berlari masuk ke dalam mension dengan senyum lebarnya. Dia mencari keberadaan adik kecilnya yang setiap hari bermain dengannya.
Elard berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar Ara. Tapi sayangnya kamar Ara kosong dan tak ada siapapun di dalam.
“kemana mereka..” gumam Elard yang tak menemukan keberadaan ayah dan ibunya, begituan dengan Ara.
Elard pergi mencari pelayan di paviliun dan bertanya kemana mereka pergi. Tapi sayangnya mereka tak tau ayah dan ibunya pergi.
“Apa mereka ke mension opa.” Elard berjalan masuk kembali ke dalam mension.
Dia masuk ke dalam kamarnya dan tersenyum melihat boneka kecil yang dia beli dari toko mainan. Dia sengaja membeli untuk Ara. Selain untuk hadiah, hari ini juga dia mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya.
“Dia pasti suka.” Kekeh Elard membayangkan pipi cabi dan bibir Ara yang suka mencebik dan menangis. Terlihat sangat lucu di matanya. Dia sudah tak sabar memberikan boneka mungil ini untuk Ara.
*
Sementara Sky dan Freya, mereka berdua membawa Ara ke tempat lego terbesar di kotanya.
Sky mengawasi Freya dan Ara yang sedang bermain lego. Sky sengaja membawa mereka berdua datang kemari. Selain dia yang tak terlalu sibuk, ini juga akhir pekan.
Tak lama ponsel Sky berdering dan Sky mengambilnya tanpa melihat siapa yang menelponnya terlebih dahulu Sky menekan tombol hijau di ponselnya.
“Ausky Luis bagaimana mana kabar mu.” Sapa seorang pria di seberang telepon.
Sky mengerutkan keningnya mendengar suara di seberang telpon. Tapi tak lama bibirnya tersenyum miring saat mengenali siapa yang menelponnya.
“Tentu saja aku lebih baik dari yang kau pikirkan Devano.” Jawab Sky tersenyum menatap Freya dan putrinya tak jauh dari nya.
Devano pria yang menjadi mantan rekan bisnis Heidher dan beberapa kali bertemu dengan Sky di kota Berlin lima tahun lalu.
Dari mana Devano tau nomor ponsel miliknya, Sky tak tau. Yang jelas Devano sedang mencari tau tentangnya.
“Bagaimana dengan Lion.”
Sky mengeraskan rahangnya mendengar Devano menyebut nama putranya. Tak lama terdengar suara kekehan Devano di telinga Sky.
“Bermimpilah.”
Tut.. Tut..
Sky memutuskan sambungan ponselnya terlebih dahulu. Giginya gemerutuk menahan emosi yang luar biasa. Devano tau tentang Elard. Apa yang Devano rencanakan saat ini.
“Aku tak akan membiarkan kau menang Devano.” Gumam Sky mengepalkan tangannya.
“Sayang..” Freya mengerutkan keningnya melihat Sky yang melamun. Freya memanggil Sky lagi hingga Sky berjengit kaget mendengar freya memanggilnya.
__ADS_1
“Ya sayang.” Sahut Sky meraih putrinya dan menggendongnya.
“Ada apa.?” Sky menoleh ke arah Freya dan mengecup bibir Freya sekilas.
Cup..
“Tak ada apa apa. Calvin baru saja menelpon, rekan bisnis ku datang dan ingin bertemu denganku lusa.” Kilah Sky melingkarkan tangannya di pinggang ramping Freya dan mengajaknya keluar dari lego.
Sky tak ingin Freya kepikiran dengan masalahnya. Lagi pula Freya tak tau apa apa tentang Elard.
Sementara Freya merasa jika Sky menyembunyikan sesuatu darinya. Terlihat jelas saat dia mengagilnya tadi.
“Mommy Ala mau pulang.”
Freya menganggukan kepalanya, mendengar penuturan putrinya. Sky membawa pulang istri dan putrinya kembali pulang. Tapi sayangnya seseorang mengarahkan senjata apinya pada Freya saat mereka berada di parkiran.
Dor..
Brukk..
“Shit..”
“Hua.. Hua..” Ara menangis berteriak ketakutan mendengar suara tembakan. Tangannya mengencangkan pelukannya di leher Sky. Apalagi Sky juga membawanya terjatuh bersama ibunya di sampingnya.
“Sayang kau tak apa apa.?” Tanya Sky khawatir melihat Freya dan putrinya. Tangannya mengelus Kepala Ara yang menangis kencang.
Freya menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan dari suaminya. Wajahnya pucat pasi mendengar suara tembakan yang mengarah padanya.
“Apa ada yang ingin membunuhku.” Tanya Freya ketakutan. Keningnya berkeringat dingin membayangkan ada seseorang yang ingin membunuhnya lagi. Apalagi saat mengingat di apartemen ibunya.
“Tidak ada seseorang yang akan melukaimu sayang.” Jawab Sky menatap wajah pucat Freya yang berkeringat dingin.
Tangannya mengepal mengumpat pria yang berani mengarahkan senjatanya pada Freya. Sky menundukkan wajahnya, mengecup kepala putrinya.
“Tidak apa sayang, itu hanya balon yang meletus.” Hibur Sky pada putrinya yang masih menangis di pelukannya. Ara mendongak, menatap wajah ayahnya yang tersenyum padanya. Tak lama Ara menghentikan tangisnya melihat senyum di bibir ayahnya.
Cup..
Sky berdiri dan menarik pinggang Freya agar mengikutinya berdiri. Tatapan matanya melirik ke arah bawahannya. Bibirnya tersenyum miring melihat pria paruh baya tersungkur. Sky tau siapa dia.
Keanu, siapa jika bukan pria tua itu yang ingin mencelakai istrinya.
“Berikan dia pada Mex.”
Calvin menganggukan kepalanya mendengar perintah tuannya. Sementara Sky masuk ke dalam mobil miliknya dan mengendarai mobilnya sendiri kembali kw mension mewahnya.
Sampai di mension Elard yang sedari tadi menunggu mereka pulang keluar dari kamarnya.
__ADS_1
“Princess dari mana.?” Tanya Elard meraih Ara dari gendongan ayahnya.
“Main lego, uncle tadi ada balon meletus.. “ Adunya sambil memonyongkan bibirnya pada Elard.
Elard terkekeh melihat bibir Ara yang maju ke depan.
Sementara Sky menatap Elard yang menggendong putrinya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini mengingat Devano yang menelponnya. Sky menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya.
“Dad aku dapat rangking.”
Sky menghentikan kakinya mendengar seruan Elard di telinganya. Dia berbalik dan menatap Elard yang juga menatapnya. Bibirnya tersenyum tipis menanggapi seruan Elard padanya. Tak lama Sky berbalik lagi dan menaiki anak tangga. Sementara Freya sendiri masuk ke dalam dapur.
Sementara Elard yang melihat ayahnya pergi meninggalkannya terasa aneh. Ayahnya tak seperti biasanya hari ini. Ada apa dengan ayahnya. Biasanya Sky akan memujinya, tapi kali ini Sky terlihat tak menanggapinya sama sekali.
Elard menggelengkan kepalanya mengusir pikiran bodohnya sendiri. Dia mengajak Ara keruang tengah, karna sedari tadi Elard sudah menunggu kedatangan Ara.
Di dapur Freya mencoba menghilangkan rasa shocknya tentang kejadian tadi. Sebenarnya dia ingin sekali bertanya pada Sky, tapi Freya tak berani bertanya apapun pada suaminya. Freya harap, semuanya akan baik baik saja seperti yang Sky katakan.
*
Malam harinya..
“Kau sudah siap berangkat, melanjutkan sekolahmu Lion.”
Elard berjengit kaget mendengar suara ayahnya di belakangnya. Apalagi mendengar penuturan Sky yang tentu saja membuat dirinya shock. Elard berbalik dan menatap ayahnya yang menatapnya juga.
“Dad..”
“Jangan membantah daddy Lion.” Elard menutup bibirnya kembali mendengar penuturan Sky padanya lagi. Ada apa dengan ayahnya. Dia seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Sky berbalik dan keluar dari kamar Elard begitu saja tanpa mengucapkan selamat malam seperti sebelumnya.
Jelas saja itu membuat Elard semakin bertanya tanya ada apa dengan ayahnya.
“Apa yang kau sembunyikan dari ku dad.”
Sementara Sky di luar kamar Elard masih bisa mendengar suara Elard. Sky menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan.
__ADS_1