Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Aku Hanya Ingin Memelukmu


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Kai segera naik ke kamar Alula. Ia melihat istrinya tengah terduduk di sebuah sofa yang ada di samping kasurnya. Alula segera mengalihkan pandangannya saat melihat Kai masuk ke dalam kamarnya.


"Kau belum tidur?" Tanya Kai kepada Alula.


"Kau lihatnya bagaimana?" Jawabnya ketus.


Kai mengerti jika Alula tengah marah kepadanya, karena sikapnya kemarin benar-benar sudah lepas kendali. Rasa cemburu benar-benar menggelapkan matanya.


Saat Alula dan Kai tengah dilanda keheningan. Ainsley dan Halbert mengetuk pintu lalu mereka masuk ke dalam kamar.


"Sayang, papa dan mama berangkat dulu," ujar Halbert.


Alula segera berdiri, lalu ia mendekat kepada kedua orang tuanya dan memeluknya.


"Hati-hati! Papa jangan ngebut di jalan," Alula berkata dengan nada yang manja.


"Iya, sayang. Kamu hati hati di rumah," Ainsley mengusap punggung putri tunggalnya.


"Kai, mama titip Alula," Ainsley menepuk punggung Kai saat ia memeluk menantunya.


"Iya, Ma."


Diam-diam Kai berharap agar ayahnya bisa segera menerima Alula dan tak menyuruhnya lagi untuk menceraikan Alula.


Mata Ainsley dan Halbert tertuju kepada leher Alula yang sudah tidak terlilit syal disana. Mereka seketika tersenyum karena tampak mengerti apa yang terjadi.


"Kalau begitu mama dan papa berangkat," pamit Ainsley. Mereka segera keluar dari kamar Alula.


Alula segera berjalan kembali ke sofa yang tadi ia duduki. Ia mengambil novel dari atas nakas yang berada di samping sofa dan membacanya.


Kai terlihat frustasi dengan sikap dingin istrinya. Ia mendekati Alula dan bersimpuh di depan sofa yang Alula duduki.


"Aku ingin minta maaf atas perbuatanku kemarin," Kai meletakan lengannya di paha Alula.


Alula tidak menjawab, ia masih fokus membaca novel yang menceritakan pesawat yang dinaiki sekelompok pemain rugby terjatuh di pegunungan Andes.


"Sayang?" Panggil Kai.


Alula tersentak mendengar kata sayang dari mulut Kai. Walaupun Kai memiliki banyak mantan kekasih, tetapi ia tidak pernah memanggil mereka dengan panggilan sayang.


Alula menyimpan novel yang ia baca di atas nakas.

__ADS_1


"Kau sudah mendapatkan yang kau mau kan? Lalu untuk apa kau kesini?" Mata Alula mulai berkaca-kaca.


"Aku kesini karena aku ingin bertemu dan bersama istriku."


"Ingin bersama istriku?" Alula tersenyum sinis.


"Apa yang salah?" Timpal Kai heran dengan senyum sinis yang diukir wajah Alula.


Alula segera berdiri dari duduknya, Kai pun ikut berdiri dari bersimpuhnya.


"Kau tidak udah berpura-pura seperti ini padaku! Bukankah kau akan menceraikanku?" Teriak Alula. Alula sudah tidak dapat mengontrol perasaanya saat ia mengingat percakapan mertua dan suaminya ketika di kantor.


"Aku tidak akan menceraikanmu!" Tampik Kai.


"Kau jangan berbohong kepadaku! Kemarin aku mengantarkan bekal makanan untukmu ke kantor, dan aku mendengar percakapanmu dengan ayahmu!" Kata Alula dengan tersedu.


Kai memejamkan matanya, ia sudah menduga jika Alula mendengar percakapannya.


"Aku berbicara seperti itu agar daddy mau keluar dari ruanganku. Aku tidak ingin ribut dengannya di area kantor," Kai mencoba menjelaskan.


"Aku tidak percaya padamu!" Alula menggelengkan kepalanya.


"Jangan sentuh aku!" Teriak Alula.


"Kamu hanya menginginkan tubuhku. Pasti kau sering melakukannya juga dengan Arabella," Alula menahan rasa sakit yang bergumul di hatinya.


"Aku tidak pernah melakukannya dengan siapapun. Aku hanya melakukannya denganmu," beber Kai.


"Diamlah! Aku tidak butuh penjelasanmu!"


Kai segera menarik Alula dalam pelukannya. Pertahanan Alula mulai runtuh, ia tersedu di bahu kekar suaminya.


"Maafkan aku!" Kai memeluk istrinya erat.


"Kau jahat, Kai! Kau sungguh jahat!" Alula mengingat kembali kemarahan Kai kepadanya malam lalu.


"Aku tidak akan menceraikanmu. Aku menginginkanmu dan sudah tidak menginginkan Bella," Kai memeluk tubuh istrinya semakin erat.


"Lepaskan aku!" Alula berontak dalam dekapan Kai.


Kai segera melepas pelukannya.

__ADS_1


"Aku ingin tidur. Kau keluarlah!"


"Kau belum memaafkanku?" Kai menatap mata Alula dengan sendu.


Alula hanya diam dan segera naik ke atas kasurnya. Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang hangat.


"Kai, apa yang kau lakukan?" Resah Alula saat Kai ikut membaringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Alula.


"Aku ingin tidur bersamamu," Kai menciumi rambut Alula.


Alula membalikan tubuhnya. Ia menatap mata berwarna cokelat yang sedang menatapnya dengan sedih.


"Aku tidak ingin tidur denganmu," Alula mendorong tubuh Kai, tetapi tidak cukup kuat untuk menggeser Kai dari sisinya.


"Aku mau tidur denganmu," Kai mengusap wajah Alula, lalu ia memeluk kembali Alula.


"Kau hentikan! Jangan lakukan lagi!" Alula tersedu.


"Aku hanya ingin memelukmu saja tidak lebih," mata Kai menatap Alula dengan kecewa.


"Aku tidak mau, aku takut padamu! Keluarlah!" Alula mengencangkan tangisnya. Kai tidak tega melihat wajah Alula yang ketakutan melihatnya. Ia pun segera turun dari atas kasur.


"Tidurlah! Aku tidak akan tidur di sisimu."


Alula segera membalikan tubuhnya lagi.


Kai mengusap kepala Alula dan menciumnya, kemudian ia berjalan ke atas sofa.


Alula berusaha memejamkan matanya, tak lama kemudian ia pun tertidur.


Kai berdiri dari duduknya. Ia melihat tembok kamar Alula yang dipenuhi dengan fotonya.


"Kau sangat cantik," Kai mengambil bingkai foto yang menampakan foto istrinya ketika memakai seragam SMP.


Tangannya mengambil bingkai foto yang lain, ia melihat foto Alula tengah SMA. Seketika pikiran dan memory Kai langsung flashback ke masa SMA. Ia teringat bagaimana ia memperlakukan Alula saat SMA dulu. Kai mengingat dirinya, Alden dan Nino pernah menyiram tubuh Alula yang tengah berada di toilet dengan air comberan. Dan sudah dapat dipastikan Cleon yang menolong Alula dengan meminjamkan baju olahraga miliknya. Kai mengusap wajahnya kasar saat ia mengingat prilaku buruknya saat SMA.


"Entah sampai kapan aku menahan rasa ini. Aku ingin mengatakan jika aku sedang menerima balasan atas perbuatanku dulu. Aku cinta kepadamu, Al. Aku begitu ingin mengutarakannya kepadamu, tetapi aku sedang menunggu waktu yang tepat," Kai menyimpan kembali bingkai foto Alula saat SMA.


Kai segera berjalan ke sofa yang ada di kamar Alula. Ia mencoba untuk terlelap disana. Lagi-lagi ia mengingat perlakuannya dulu kepada Alula saat pertama menikah. Kai mengingat dengan jelas ketika ia memaksa Alula untuk tidur di atas sofa yang berukuran kecil.


Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terimakasih šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2