
Ainsley dan Halbert baru tiba di rumah setelah mengikuti rapat mengenai peningkatan mutu universitas di kota London.
"Al?" Ainsley memanggil anaknya dari lantai bawah.
Alula memang sudah memberikan kabar jika ia sudah pulang ke kota Birmingham.
"Ke mana Alula ya?" Tanya Ainsley kepada Halbert.
"Aku rasa dia tengah di kamarnya," Halbert menimpali.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita ke kamarnya! Aku takut anak kita sedang tertekan dan menangis. Kita harus mensupportnya, karena Alula sedang mengandung," tutur Ainsley kepada suaminya.
"Baiklah ayo kita ke kamarnya!"
Ainsley dan Hablert segera melangkahkan kakinya menuju ke lantai dua.
Ainsley dan Halbert melihat pintu kamar anaknya terbuka. Saat mereka akan masuk, wajah Ainsley dan Halbert langsung bersemu merah, ketika melihat putri tunggalnya tengah berpelukan dengan Kai di atas kasur. Ainsley dan Halbert melihat Kai bertelanjang dada sedangkan tubuh Alula hanya terlihat punggung karena ia sedang memeluk tubuh Kai erat.
Ainsley dan Halbert saling pandang dan tampak canggung dengan apa yang mereka lihat.
"Ehem," Halbert berdehem. Alula dan Kai langsung terbangun dari tidurnya.
"Mama?" Alula berteriak kaget dan langsung menaikan selimutnya.
Kai pun tak kalah kaget, ia pun ikut menaikan selimutnya sampai leher.
"Lain kali tutup pintunya!" Halbert tersenyum kemudian segera turun. Ainsley pun tersenyum dan langsung mengikuti suaminya. Dalam hatinya, Ainsley lega karena Kai dan Alula sudah berbaikan.
"Ini sangat memalukan!" Alula menutupi wajahnya dengan kedua tangan miliknya.
"Biar saja. Kita kan sepasang suami istri, bukan pasangan ilegal," ucap Kai dengan wajah tanpa berdosanya.
***
Kai dan Alula sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Ainsley dan Halbert. Hari ini mereka akan pulang ke rumah Sofia dan William.
"Ma, Pa? Kai meminta izin untuk membawa Alula pulang ke rumah Daddy. Apa Mama dan papa mengizinkan?" Tanya Kai kepada kedua mertuanya.
"Kau bebas membawa istrimu ke mana pun kau pergi. Papa izinkan, asal kau jangan menyakiti putri papa lagi! Berjanjilah sebagai seorang pria!" Ucap Halbert.
"Kai berjanji tidak akan menyakiti Alula kembali, Pa. Bagaimana dengan mama?" Kai mengalihkan tatapannya kepada ibu mertuanya.
"Mama izinkan. Tolong jaga Alula dan cucu mama!" Ainsley menangis.
Kai segera berdiri dari duduknya dan langsung memeluk ibu mertuanya.
"Maafkan Kai yang sudah menyakiti putri mama! Kai berjanji tidak akan menyakitinya lagi," ucap Kai lirih.
"Mama pegang janjimu," jawab Ainsley sembari menepuk pelan punggung Kai.
Kai melepaskan pelukannya.
"Ma, Alula akan tinggal di rumah Daddy. Nanti jenguk Al di sana ya?" Gantian Alula memeluk kedua orang tuanya.
"Iya, sayang. Kami akan mengunjungimu," Ainsley menciumi wajah Alula dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, kau sedang hamil jangan terlalu sering melakukan hal itu!" Ainsley memperingati anaknya.
Wajah Alula langsung memerah bak kepiting rebus.
"Mama tenang saja! Alula sudah bertanya kepada dokter," Alula tersenyum memamerkan giginya.
__ADS_1
"Sayang, benarkah kau bertanya hal seperti itu kepada dokter? Mengapa kau menanyakannya? Kau takut kita tidak bisa melakukannya lagi?" Kai bertanya kepada istrinya.
"Kai, diamlah!" Alula membekap bibir Kai dengan tangannya. Halbert dan Ainsley hanya tertawa melihat tingkah putri dan menantunya itu.
"Ma, Pa kalau begitu Al pergi dulu. Alula akan sering mengunjungi papa dan mama ke sini. Papa dan mama pun harus sering mengunjungi Alula ke rumah Daddy," Alula dan Kai berdiri dari duduknya. Kai langsung membawa koper milik istrinya.
"Iya. Kami akan mengunjungimu," jawab Ainsley.
Alula dan Kai pun segera ke luar menuju mobil dengan diantarkan oleh Halbert dan juga Ainsley.
"Dah mama, dadah papa!" Alula melambaikan tangannya ketika mobil Kai sudah melaju. Halbert dan Ainsley pun membalas melambaikan tangan kepada putrinya.
Di dalam mobil, Alula langsung merebahkan kepalanya di bahu Kai yang tengah menyetir. Kai sesekali menciumi rambut istrinya sembari terus menyetir.
"Sayang, terima kasih! Terima kasih karena sudah mau menerimaku kembali," tutur Kai lembut.
"Sama sama," Alula tersenyum bahagia.
"Sayang, bagaimana jika kita mampir terlebih dahulu ke mall yang ada di sekitar sini?" Kai memberikan usul.
"Untuk apa?" Alula berkata dengan heran.
"Aku ingin membelikan ponsel untukmu. Ponsel terbaru."
"Bukankah ponselku ada di kamar kita?"
"Aku melemparnya ketika aku frustasi kehilangan dirimu."
"Kau ini selalu saja melempar sesuatu," Alula mencubit pinggang Kai pelan.
"Salah siapa kau kabur dari rumah."
"Aku tidak kabur tapi kau yang menyuruhku pergi."
"Baiklah, aku memaafkanmu," Alula tiba-tiba mencium pipi Kai dengan lembut.
"Mengapa kau menjadi sangat agresif seperti ini?" Kai tertawa melihat tingkah istrinya.
"Baiklah. Aku tidak akan menciummu lagi," Alula meluruskan tubuhnya dan menjauh dari bahu Kai.
"Sayang, aku hanya bercanda. Aku sangat suka kau jadi agresif."
Kai masih melihat Alula mencebikan bibirnya dengan kesal.
"Sayang, jangan marah lagi! Aku akan memberikanmu es krim yang kau mau," Kai berusaha membujuk Alula. Ia tidak mau Alula marah kembali dengannya.
"Benarkah? Kalau begitu, aku maafkan," Alula kembali menyender di bahu Kai.
"Ternyata tidak susah membujuknya," batin Kai senang.
Sesampainya di Mall, Kai segera memarkirkan mobilnya di basement.
"Ayo sayang!" Kai menuntun lengan istrinya.
"Kai, toko ponselnya ada di lantai berapa? Kakiku pegal!" Alula bernafas dengan cepat, padahal mereka baru berputar sekali di lantai dua.
"Aku lihat!" Kai berjongkok dan memperhatikan kaki Alula.
"Sayang, kakimu bengkak!" Kai mengusap kaki Alula yang membengkak dengan tangannya.
"Kita pulang saja! Aku akan menyuruh Leo untuk membelikan ponsel untukmu," Kai segera menuntun Alula untuk kembali ke basement.
__ADS_1
"Aku tidak mau. Aku ingin membelinya sekarang dan bukankah kau akan membelikanku es krim?" Alula merengek.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menggendongmu!" Kai berjongkok di depan Alula.
"Ayo naiklah!" Perintah Kai lembut.
"Aku tidak mau. Malu!" Alula memperhatikan keadaan mall yang cukup ramai.
"Sayang, ayo! Kau mau berjalan dengan kaki seperti itu?"
"Baiklah," Alula segera naik ke punggung suaminya dan mengalungkan lengannya. Kai segera berdiri dan mulai berjalan ke arah toko ponsel.
Semua orang yang melihat mereka tersenyum ketika melihat Kai menggendong Alula.
"Wangi sekali!" Alula menghirup dalam-dalam wangi tubuh suaminya.
Setelah sampai di toko ponsel, Alula segera memilih ponsel yang ia inginkan. Kai menggendongnya kembali ke arah food court untuk membeli es krim.
Kai segera memesan es krim ke stand khusus es krim yang ada di food court.
"Sayang ini!" Kai memberikan es krim rasa cokelat.
"Kai, aku sedang tidak ingin es krim cokelat," Alula menolak.
"Baiklah. Akan aku belikan yang lain. Kau ingin es krim rasa apa?" Tanya Kai dengan lembut.
"Aku ingin es krim rasa vanilla.
"Baiklah, tunggu di sini!" Kai pergi kembali ke arah stand es krim. Tak lama, ia kembali dengan membawa es krim rasa vanilla.
"Kai, aku tidak mau jika toppingnya Blueberries," Alula menolak kembali.
"Kau ingin topping apa sayang?" Tanya Kai dengan senyum manis seribu wattnya.
"Aku ingin topping granola."
"Baiklah, tunggu di sini!" Kai segera kembali ke stand es krim dan memesan es krim vanilla dengan topping Granola.
"Ini sayang!" Kai memberikan es krim itu kepada Alula.
"Aku sudah tidak berselera makan es krim. Kau makan saja es krimnya," ucap Alula dengan wajah tanpa dosanya.
"Benar kau tidak mau?" Tanya Kai meyakinkan.
"Iya. Makan saja olehmu!"
"Baiklah!" Kai segera memakan es krim itu.
Alula dan Kai segera masuk kembali ke dalam mobil untuk pulang.
"Kai, kau tidak menyisakan es krim itu untukku?" Alula bertanya kepada Kai yang tengah memasang sabuk pengamannya.
"Sudah habis, kan tadi kamu yang bilang makan saja es krimnya."
"Tetapi aku tidak menyuruhmu untuk menghabiskannya," Alula berkata dengan raut wajah yang kesal.
"Jadi, kau mau aku membeli es krim lagi? Aku akan masuk ke dalam lagi untuk membeli es krim untukmu," Kai melepaskan safety belt yang sudah melingkar di tubuhnya.
"Aku tidak mau. Aku sudah tidak berselera."
"Sabar Kai! Anggap saja ini untuk menebus kesalahanmu yang telah menyakitinya. Dan anggap saja ini untuk anakmu," batin Kai di dalam hatinya.
__ADS_1
Kai segera melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. Saat ia mengemudi, ponselnya berbunyi sebagai penanda adanya pesan masuk.
"Besok temui aku dan Chelsea di cafe Boston! -Cleon-