Dipaksa Menikahi Alula

Dipaksa Menikahi Alula
Menyuapi Istri


__ADS_3

Beverly dan Henry sampai di hotel tempat mereka menginap. Tubuh mereka kini basah kuyup karena terkena air hujan.


"Henry, turunkan aku!" Pinta Beverly kepada suaminya sesaat mereka sampai di lobby hotel.


"Aku akan menggendongmu sampai kamar," Henry tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang kini menatap pada mereka.


"Henry, aku malu!" Beverly menenggelamkan wajahnya di punggung Henry.


"Kau malu? Baiklah, akan aku percepat lajunya. Ngeng... Ngeng.." Henry menirukan suara motor sembari menggerak gerakan tangannya seperti sedang menaiki motor asli. Sementara Beverly hanya tertawa melihat tingkah konyol suaminya.


Setelah mereka masuk ke dalam kamar, Henry langsung mengambil handuk dari dalam kopernya. Ia mengelapkan handuk itu ke tubuh Beverly.


Henry menatap wajah Beverly sesaat ia sedang mengelap wajah istrinya dengan handuk. Beverly pun menatap wajah Henry yang sedang tersenyum memandanginya.


"Mengapa kau memandangiku seperti itu?" Beverly mengusap wajah Henry pelan.


"Tidak. Aku hanya ingin berkata jika kau sangat cantik," Henry masih menatap Beverly dengan tersenyum.


"Tumben sekali kau memujiku," Beverly memgerucutkan bibirnya.


"Memangnya tidak boleh memuji istri sendiri ya? Oh iya, lebih baik sekarang kau mandi. Segeralah ganti bajumu!" Suruh Henry dengan lembut.


"Baiklah. Aku mandi dulu," Beverly membawa handuk dan baju miliknya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.


15 menit kemudian Beverly segera ke luar dari kamar mandi. Kemudian Henry pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Henry segera berjalan mendekat ke arah Beverly yang sedang berbaring di atas kasur. Dengan hati-hati, Henry membaringkan tubuhnya di samping Beverly.


"Bev?" Panggil Henry dengan suara yang begitu lembut. Ia memiringkan tubuhnya dan memeluk Beverly dari belakang.


"Bev?" Panggil Henry kembali. Ia mulai menciumi rambut Beverly dari belakang.


"Bev?" Henry merasa janggal karena Beverly hanya diam. Henry pun membangunkan tubuhnya.


"Bev, kau baik-baik saja?" Tanya Henry dengan khawatir. Ia segera membalikan tubuh Beverly menghadapnya. Henry menyentuh wajah Beverly.


"Ya ampun, Bev! Tubuhmu panas sekali!" Seru Henry dengan panik saat merasakan suhu tubuh Beverly sangat panas.


"Henry!!" Panggil Beverly dengan lemah. Wajahnya tampak pias.


"Bev, maafkan aku! Aku malah membawamu hujan-hujanan," Henry merasa sangat bersalah karena sudah membuat Beverly jatuh sakit. Sementara Beverly tidak menjawab. Ia memejamkan matanya untuk mencoba menetralkan rasa pusing di kepalanya.


Henry segera mengambil air panas dan mengompres kening Beverly dengan air panas itu.


"Henry, kau mencoba membunuhku? Itu sangat panas!" Gerutu Beverly dengan suara yang lemah.

__ADS_1


"Maaf, aku pikir ini tidak panas. Bev? Kau bisa sakit juga ya ternyata?" ucap Henry sembari terus mengompres tubuh istrinya.


"Tentu saja. Kau pikir aku bukan manusia?"


"Bahkan saat sakit, kau masih begitu galak," sahut Henry dengan sedikit tawa di bibirnya.


"Bev, bagaimana rasanya sakit?" Tanya Henry kepada Beverly.


"Pertanyaanmu sungguh sangat tidak berfaedah sekali! Jika aku sehat, aku sungguh ingin menggetok kepalamu itu!" Beverly menggerutu kembali masih dengan memejamkan matanya.


"Sungguh kau ingin menggetok kepala suamimu?" Tanya Henry kembali. Beverly diam dan tidak menyahuti ucapan suaminya.


"Bev?" Henry menepuk pelan pipi istrinya.


"Bev, kau masih bernafas kan?" Henry menempelkan telinganya di dada Beverly.


"Aku masih bernafas. Kau kira aku mati?" Beverly menyahuti dengan suara yang lemah.


"Aku hanya memastikan. Aku tidak mau menjadi duda di usia muda."


Tidak ada jawaban kembali dari Beverly. Sepertinya kepalanya benar-benar sangat pusing.


"Bev, apa tidak sebaiknya kita ke dokter?" Henry berkata dengan raut wajah yang khawatir.


Beverly hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat jika ia menolak dengan ide Henry.


Sudah pukul 2 malam, tetapi mata Henry masih terjaga memandangi Beverly. Saat demam istrinya sudah turun, Henry mencoba memejamkan matanya untuk tertidur. Tak lama kemudian, Henry benar-benar terlelap dalam tidurnya.


****


Beverly mengerjap ngerjapkan matanya untuk memfokuskan pandangannya. Ia melihat Henry tengah tertidur di sampingnya sembari memeluk tubuhnya erat. Perlahan senyuman terukir di wajah Beverly. Ia bersyukur mendapatkan suami yang begitu memperhatikannya.


"Kau sudah bangun?" Henry mengucek kedua matanya.


"Kau lihatnya bagaimana? Jika mataku terbuka berarti aku sudah bangun."


"Wah berarti kau sudah sembuh sekarang soalnya kata-katamu sudah kembali pedas seperti cabe."


"Henry? Terima kasih sudah menjagaku semalaman," ucap Beverly tulus.


"Iya. Memang seharusnya begitu. Kau kan istriku. Jadi aku harus menjagamu. Kalau begitu, aku turun dulu untuk menemui petugas hotel dan meminta sarapan kita di antar ke kamar," Henry segera berjalan ke luar untuk mencari petugas hotel.


Setelah menemui petugas hotel, Henry masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Tunggulah! Petugas hotel akan mengantarkan sarapan kita ke kamar," ucap Henry. Kini keadaan Beverly sudah berangsur membaik.

__ADS_1


Tak lama petugas hotel datang dengan membawa dua porsi sarapan.


"Apakah makanan ini sudah disterilisasi?" Tanya Henry kepada petugas hotel. Ia harus memastikan bahwa makanan yang akan di makan istrinya aman dan bersih.


"Sudah, tuan. Kami juga sudah memberikan wrap untuk menghindari debu saat perjalanan ke kamar tuan," jawab petugas hotel itu.


"Baiklah. Ini tip untukmu," Henry membuka dompetnya dan memberikan tip kepada petugas hotel.


"Terima kasih, tuan," kata petugas hotel itu dengan tulus.


Henry segera membawa makanan itu ke arah istrinya. Henry mulai menyuapi Beverly dengan makanan yang ada di tangannya.


"Bukalah mulutmu!" Henry mendekatkan sendok berisi makanan kepada bibir istrinya.


Dengan canggung, Beverly membuka bibirnya. Beverly menatap Henry dengan lama, seumur hidupnya ia baru diperlakukan semanis ini oleh seorang pria.


Dulu Beverly terlalu fokus mengejar Kai sampai ia tidak mau membuka hatinya untuk pria lain. Sesudah melupakan Kai, ia pun malah menyukai Cleon, pria yang juga tidak mencintainya. Tetapi kini, suaminya memperlakukan dirinya dengan sangat baik walau pun pernikahan mereka terjadi karena kesalahan dirinya.


"Henry, apa kau menyesal menikah denganku?" Tanya Beverly dengan lirih.


"Tentu saja tidak. Untuk apa aku menyesal?"


"Kau kan tidak mencintaiku," timpal Beverly kemudian.


"Cinta? Sebenarnya cinta itu simple jika orang-orang tidak membuat rumit cinta itu sendiri."


"Maksudnya?" Beverly tampak tidak mengerti.


"Iya. Contohnya kita menikah. Karena kita sudah menikah, ya kita terima saja takdir ini dengan baik. Lalu, kita coba untuk membuka hati, dengan begitu kita bisa menjalani pernikahan dengan bahagia. Bukankah begitu?"


Beverly pun tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Kau mau membuka hati untukku?" Tanya Beverly memastikan.


"Tentu saja. Masa iya, aku harus membuka hatiku untuk Chelsea atau Alula."


Beverly tertawa mendengar ucapan suaminya.


"Makanlah lagi!" Henry kembali menyuapi Beverly dengan makanan yang ada di piring.


"Lagi, lagi! Aaaaa, pinter anak ayah!" Seru Henry ketika Beverly membuka mulutnya.


"Henry, kau ingin segera jadi ayah?" Tanya Beverly dengan tawanya.


"Iya. Bagaimana jika kita buat sekarang?" Tanya Henry yang membuat Beverly langsung tersedak.

__ADS_1


Note : Jangan lupa ya untuk membaca novel author yang satunya lagi. Yang masih bertanya kapan novel Nino rilis, awal bulan depan akan rilis ya karena author berencana untuk menamatkan novel "Dipaksa Menikahi Alula" awal bulan depan. Terima kasih kepada readers yang masih setia dengan novel ini, sudah membaca, terlebih untuk yang sudah memberikan like, komentar, rate 5 bahkan vote dan tip. Semoga hari kalian selalu menyenangkan.šŸ¤—


__ADS_2