
Pagi menyapa. Udara terasa sangat dingin karena salju terus turun dari malam hari. Kaivan membuka matanya. Ia tidak menemukan Alula di sisinya.
"Ke mana dia?" Kai segera mendudukan tubuhnya. Saat ia menyingkap selimut yang semalam membalut tubuhnya dan tubuh Alula, Kai dikagetkan dengan bercak darah yang ada di seprai kasurnya.
Kai meraba darah segar di bekas tempat Alula berbaring.
"Jadi, dia masih suci?" Kai membulatkan matanya dengan sempurna.
"Aku harus meminta penjelasan darinya," Kai segera menarik handuk yang berada di dekat ranjang untuk menutupi tubuh polosnya.
Kai segera memeriksa kamar mandi untuk mencari Alula, tetapi ia tidak menemukan istrinya. Ia pun segera turun ke bawah, tetapi Kai pun tak menemukan Alula di lantai bawah. Kai melihat bibi May yang baru masuk ke dalam rumahnya. Sepertinya ia baru datang.
"Tuan, sedang mencari Nona?" Tanya bibi May yang melihat Kai kebingungan.
"Iya, bi. Kau melihatnya?" Jawab Kai cepat.
"Tadi bibi melihatnya ketika akan naik taksi. Sepertinya Nona sedang tidak sehat. Wajahnya pucat sekali," jelas Bibi May.
"Benarkah? Ke arah mana dia pergi bi?" Tanya Kai khawatir.
"Ke arah utara, Tuan."
"Baiklah, kalau begitu aku bersiap-siap dulu," Kai berpamitan kepada bibi May.
"Iya, Tuan. Hari ini tuan ingin makan apa?"
"Tidak, aku sedang tidak bernafsu makan," tolak Kai, ia segera naik kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Kai segera masuk ke kamar mandi dan segera bersiap siap untuk mencari Alula.
"Pasti dia pergi ke rumah orang tuanya. Aku harus menyusulnya," Kai memakaikan dasi di leher jenjangnya.
Saat Kai akan masuk ke mobilnya untuk menyusul Alula. Tiba-tiba ponsenya berdering.
"Tuan, kau di mana? Satu jam lagi kita akan melakukan meeting dengan perwakilan perusahaan yang ada di Jerman," ujar Rachel, sekretaris Kai.
"Apakah tidak bisa ditunda?"
"Tidak, tuan. Ini clien yang sangat penting."
Kai memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya kasar, "Baiklah, aku akan segera kesana."
Saat sedang mengemudikan mobilnya, Kai mengingat kejadian semalam saat ia memaksa untuk bercinta dengan istrinya. Kai benar-benar gelap mata, ia bahkan tidak ingat berapa kali ia melakukannya dengan Alula. Yang pasti semalaman Kai tidak melepaskan tubuh istrinya. Semalam Kai benar-benar menikmati aktifitas yang baru pertama kali ia lakukan.
"Aku yakin dia masih suci, semalam aku begitu kesulitan menaklukan tubuhnya. Jika dia benar masih virgin, aku akan sangat bersalah karena menuduhnya wanita murahan. Tetapi, bagaimana dengan kejadian saat ia yang pergi ke apartemen dengan Cleon? Aku harus menyelidikinya," Kai berbicara sendiri di dalam mobilnya sembari menembus jalanan untuk sampai di kantornya.
Saat meeting dilaksanakan, Kai benar-benar tidak fokus. Pikirannya terbang entah kemana. Beberapa kali ia salah menjawab pertanyaan dari clien bisnisnya. Untungnya itu tidak fatal dan tidak mempengaruhi kerja sama perusahaan mereka. Setelah meeting selesai, Kai segera mendudukan dirinya di kursi kerja yang ada di ruangan pribadinya. Pikirannya melayang kepada istrinya. Kai benar-benar terhanyut dalam lamunannya sehingga tidak menyadari seseorang sudah masuk ke ruangannya.
"Kai?" Sapa Alden dan Nino yang nyelonong masuk ke ruangan sahabatnya.
"Kalian mengagetkanku!" Kai memegangi dadanya.
"Kalian sedang apa kemari?"
"Pertanyaanmu sungguh tidak enak di dengar. Tentu saja kami kesini untuk bertemu denganmu dan mengajakmu ke tempat gym. Semenjak kau menikah, kita belum pernah ngegym bersama lagi.," ucap Nino.
Kai tidak menjawab pertanyaan dari Nino. Kepalanya sedang dipenuhi oleh seorang wanita bernama Alula Claire.
"Kau sedang melamun?" Tanya Nino penasaran.
"Kai sedang memikirkan Alula, No. Kemarin Alula pergi berkencan dengan anggota dewan itu," Alden tertawa.
__ADS_1
"Kau serius? Mengapa kau baru bercerita?" Nino menyikut lengan Alden. Sementara Alden hanya terkekeh.
"Kalian diamlah! Kalian membuat kepalaku tambah pusing!" Kai memijit keningnya.
"Kau kenapa, Kai? Hanya karena Alula kau langsung uring-uringan begini," gerutu Nino yang mendudukan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan Kai.
"Aku ingin bertanya kepada kalian," Kai menatap kedua sahabatnya.
Alden dan Nino tampak menyimak dan penasaran dengan apa yang akan Kai tanyakan.
"Jika kita bercinta dengan wanita dan wanita tersebut mengeluarkan darah apa itu artinya dia benar-benar masih suci?" Kai bertanya blak-blakan kepada Nino dan Alden.
Nino dan Alden tampak terkejut dengan apa yang Kai katakan, kemudian mereka tertawa dengan sangat keras.
"Hey, mengapa kalian tertawa?" Ujar Kai dengan nada yang tinggi.
Alden dan Nino tidak menjawab, mereka masih terus tertawa sembari memegangi perutnya.
"Diamlah!!" Bentak Kai kepada kedua sahabatnya.
"Sorry, sorry. Habisnya kau benar-benar lucu," Nino mengusap air mata di sudut matanya karena terlalu lepas saat tertawa.
"Jawablah! Jangan bertele-tele!" Kai semakin emosi dengan Nino dan Alden.
"99,99% ya pasti virgin, Kai. Memang kau tidak merasakannya saat bercinta? Biasanya akan sangat susah jika bercinta dengan seorang gadis. Kau benar benar payah, hal seperti itu saja kau tidak tahu," beber Alden.
"Aku bukan tidak tahu. Aku hanya ingin memastikan. Lagi pula aku tidak berpengalaman seperti kalian," Kai berdecak kesal.
"Jadi, yang kau maksud wanita yang kau tiduri adalah istrimu atau Bella?" Tukas Nino.
"Tentu saja istriku. Aku tidak pernah tidur dengan Bella," sembur Kai kesal.
"Itu artinya kita akan segera melihat hasil dari kreatifitasmu, Kai," seru Nino dengan tawanya.
Kai langsung terdiam. Ia mengingat jika semalam ia tidak memakai pengaman apapun.
"Bagaimana jika dia hamil? Tapi bagus juga jika dia benar-benar hamil. Jika Alula hamil, dia tidak akan pernah bisa melepaskan dirinya dariku," Kai tersenyum senang.
"Kau mencintainya, Kai?" Tanya Nino dengan mimik wajah yang serius.
Kai terdiam beberapa saat.
"Ketika bersamanya aku mampu melupakan Arabella, dan entah mengapa hatiku selalu menghangat. Dulu ketika di Amerika, Bella sering menyapa teman laki-lakinya dengan sebuah ciuman di bibir, tetapi aku tidak mempermasalahkannya. Tetapi saat Alula terduduk di samping pria lain seperti saat acara Halloween, hatiku benar-benar panas dan cemburu. Aku tidak terima jika dia dekat dengan pria lain. Dengan Bella, aku tidak pernah berniat untuk tidur dengannya, tetapi dengan Alula malah aku yang memaksanya untuk tidur bersamaku."
"Jadi, kau yang memaksanya? Kau keterlaluan. Seorang gadis ketika melakukan pengalaman pertamanya harus dengan ekstra lembut karena yang ku dengar itu sangat menyakitkan," jelas Nino.
"Benar, Kai. Aku juga sering mendengar jika pengalaman pertama memang sangat sakit. Tapi entahlah, aku tidak merasakannya," Alden terkekeh.
"Diamlah atau ku sumpal mulutmu!" Nino mengambil kue yang ada di meja Kai. Sementara Alden hanya tertawa.
Setelah mendengar penjelasan dari Nino dan Alden, Kai merasa sangat bersalah karena telah melakukannya dengan kekerasan, bahkan semalam ia mencekik leher Alula.
"Pikiranku sungguh kalut. Aku harus segera menyelidiki apa yang mereka lakukan kemarin di apartemen," Kai berdiri dari duduknya dan mengambil jasnya yang berada di atas kursi.
"Hey, kau mau kemana? bagaimana dengan ngegymnya?" Alden heran melihat Kai yang akan segera bergegas pergi.
"Atur saja waktunya! Aku pergi sebentar. Ada urusan," Kai berjalan ke luar dari ruangannya.
"Pasti on the way untuk membuat dede bayi lagi kan, Kai? Aku request ya, kalau bisa anakmu jangan terlalu kaku seperti dirimu!!" Nino berteriak di dalam ruangan pribadi Kai.
****
__ADS_1
Flashback....
Alula terbangun dari tidurnya. Saat ia membuka mata ia menemukan dirinya tidak memakai sehelai kain pun dan ia tengah di dekap dengan sangat erat oleh Kai. Perlahan Alula menyingkirkan lengan kekar suaminya.
"Tubuhku sakit sekali!" Alula memejamkan matanya. Perlahan Alula berdiri dan segera mengambil handuknya dan masuk ke dalam kamar mandi. Alula berjalan dengan terseok-seok karena bagian sensitifnya terasa sakit dan perih.
Alula melepaskan handuknya di depan cermin kamar mandi. Ia melihat begitu banyak tanda merah di sekujur tubuhnya. Alula juga memegangi pergelangan tangannya yang memerah karena bekas cengkraman dari lengan Kai.
Alula segera masuk ke dalam bathub dan membaringkan tubuhnya. Air matanya menetes kembali saat ia mengingat perlakuan Kai terhadapnya. Hatinya begitu remuk saat Kai menuduhnya sebagai wanita murahan. Bahkan Kai hampir saja memukul wajahnya dengan lengan kosong.
Setelah Alula mandi ia segera bersiap. Ia tidak sanggup berdiam diri dengan Kai di dalam ruangan yang sama. Ia akan ke rumah orang tuanya untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Alula pun segera mencegat taksi dan pergi ke rumah orang tuanya.
"Al?" Ainsley tampak kaget ketika melihat Alula yang memencet bel dan sedang berdiri di depan pintu.
"Mama!" Alula segera menghambur dan memeluk ibunya.
"Kau kenapa sayang?" Ainsley kaget melihat Alula menangis.
"Tidak. Al, baik-baik saja," Alula melepaskan pelukannya dan segera menghapus air matanya.
"Kau pucat sekali sayang. Kau sakit?" Ainsley tampak khawatir melihat raut wajah Alula.
"Tidak, ma. Alula baik-baik saja," Alula tersenyum paksa.
"I know you, honey. Kau bertengkar dengan suamimu?"
Alula mengangguk.
"Tapi hanya masalah kecil, Ma. Kau tidak perlu kahwatir," Alula tidak ingin membuat Ainsley mencemaskannya.
"Baiklah, sayang. Ayo kita masuk!" Ainsley menggandeng lengan Alula ke dalam rumah.
"Papa mana, Ma?" Tanya Alula saat ia tak melihat Halbert.
"Papamu sedang ada seminar. Nanti sore pulang."
Alula hanya mengangguk.
"Sini mama simpan mantel dan syalmu!" Ainsley membantu untuk melepaskan mantel dan syal yang menempel di tubuh dan leher putrinya.
"Ti..tidak, mom. Tidak usah," Alula memegangi syal yang melingkar di lehernya. Ia tidak mau ibunya melihat tanda merah yang begitu banyak di leher miliknya.
"Baiklah, masuklah ke dalam kamarmu dan hangatkan tubuhmu!"
"Baik, ma," Alula segera naik dan masuk ke kamarnya yang ia tempati sebelum menikah.
Kira-kira begini nih wajah Kai kalau lagi melamun š¤£
Tambahan Alden dan Nino š¤š¤
Jangan lupa untuk memberikan like, vote dan rate 5 untuk mendukung Author. Terimakasih š¤
Source images:
__ADS_1